
"Bagaimana, Bik? Apa dia mati?" tanya Jesica.
"Masih hidup," jawab Liana.
Jesica membawa Bara ke dalam kamar, sementara Liana mengikat tubuh Alex dengan tali agar saat sadar dia tak kabur.
"Jes, cepat telfon polisi!" perintah Bara.
Jesica segera menghubungi Polisi, mereka menunggu kedatangan polisi sambil mengobati luka di tubuh Bara.
Saat polisi datang, Alex tersadar.
"Kalian kira aku takut, tidak," ucap Alex.
"Bu Jesica bagaimana kronologi?" tanya Polisi.
Jesica menceritakan semua kejadian yang dia alami. Bara juga memberikan bukti berupa rekaman CCTV di apartemennya.
"Kalian jahat!" teriak Alex saat polisi membawanya.
Mereka bernafas lega karena Alex sudah diamankan polisi.
Di kantor polisi Alex menghubungi pengacaranya. Dia bukan orang yang bodoh yang akan mudah masuk penjara.
"Bagaimana bisa tertangkap?" tanya Pengacara Alex.
Dia merupakan teman Alex juga dalam prostitusi.
"Aku mau kamu buat buktinya hilang," jawab Alex sambil berbisik karena dia tak mau polisi membawa bukti itu ke pengadilan.
"Baiklah, akan aku lakukan," katanya. "Kamu tidak perlu meragukan aku," kata Sang pengacara.
Benar saja pengacara itu punya kenalan polisi di sana. Dia meminta bantuan orang tersebut untuk mengambil bukti kasus milik Alex.
"Tenang saja, asal ada uang pasti beres," kata polisi itu saat bertemu pengacara Alex.
"Gampang, kamu kenal Alex kan. Dia punya banyak uang," ucapnya bangga.
"Oke," katanya lalu pergi.
Benar saja saat Bara datang ke esokannya untuk menyaksikan proses di kantor polisi. Bukti CCTV yang ada di polisi hilang. Bara kesal, dia mencoba mengambil lagi dari laptopnya. Dan dara CCTV saat kejadian pun hilang. Ada seseorang yang membobol CCTV dan laptop Bara.
"Pak Bara, bukti hilang. Itu akan menyulitkan kasus ini untuk dilanjutkan," kata polisi.
"Jadi Papa tidak akan bisa di penjara?" tanya Bara.
"Iya, Pak. Namun, Pak Alex akan membayar denda atas hal yang dia lakukan," jawab polisi.
"Bagaimana bisa? Bapak lihat sendiri bukti itu saat di apartemen saya. Papa saya mencoba memperkosa istri saya," kata Bara.
"Apa Pak Bara punya bukti lain?" tanya Polisi.
__ADS_1
"Sementara belum ada, Pak," Jawab Bara.
Bagi Alex dengan mencuri bukti saja tidak cukup. Dia harus membuat Bara dan Jesica terdesak dan mencabut tuntutannya.
Jadi Alex akan menggunakan cara lain lagi untuk membuat Bara dan Jesica mencabut tuntutannya.
***
Sebuah mobil membuntuti adik Jesica yang baru saja pulang dari kampus mengendari sepeda motornya.
Saat di tempat sepi, sebuah mobil menghadap Adik Jesica-- Jeslyn.
"Siapa kalian?" tanya Jeslyn.
Tanpa menjawab mereka mendekati Jeslyn. mereka membawa Jeslyn, Jeslyn memberontak sehingga terpaksa Jeslyn dibius.
Mereka sengaja meninggalkan sepeda motor dan tas Jeslyn di jalanan. Mereka tak mau terlacak keberadaannya melalui ponsel Jeslyn.
"Bos, sudah saya bawa anaknya. Akan kami bawa ke tempat biasa," kata Salah satu dari mereka saat menelfon.
"Oke," jawab seorang pria di seberang sana.
***
Jesica kesal saat mendengar apa yang dikatakan Bara bahwa bukti hilang dan proses tidak bisa di lanjutkan ke pengadilan.
"Bagaimana bisa sudah jelas papa salah ini? Tapi kenapa buktinya hilang?" tanya Jesica tak tenang.
"Benar kata Den Bara, Non. Apa kita pasrah saja?" tanya Liana.
"Tidak, Bik. Kalau papa tidak di penjara aku gak akan tenang," jawab Jesica.
Ponsel Jesica berdering, ada panggilan dari Helena.
"Halo, Ma. Ada apa, Ma?" tanya Jesica.
"Jes, sampai malam begini Jeslyn belum pulang. Apa dia ke rumah kamu?" tanya Helena.
"Maaf, Ma. Aku suda tidak tinggal di rumah Papa Alex lagi. Aku tinggal di apartemen sekarang. Coba nanti aku cari ke rumah papa," Jawab Jesica.
"Segera kabari ya," kata Helena.
"Iya, mama tenang saja," kata Jesica.
"Ada apa?" tanya Bara.
"Jeslyn belum pulang. Apa mungkin dia ke rumah papa Alex?" tanya Jesica.
"Bentar, biar saya telfon pembantu di sana," sahut Liana lalu menghubungi pembantu di rumah Papa Alex. "Kata mereka tidak ada," kata Liana.
Jesica merasa khawatir terhadap adiknya. Dia anak gadis takut terjadi sesuatu. Tidak berapa lama ada pesan masuk.
__ADS_1
Sebuah vidio berdurasi satu menit. Di sana terlihat Jeslyn dalam sekapan.
"Mas, Jeslyn di culik. Lihat vidio ini," kata Jesica memperlihatkan vidio yang baru saja masuk di ponselnya.
Bara merasa kesal, belum masalah Alex selesai kini Jeslyn diculik.
"Den, apa ini ulah Pak Alex?" tanya Liana.
"Lalu apa tujuannya?" tanya Bara.
Sebuah pesan masuk di ponsel Jesica.
"Jika mau adikmu selamat, kamu harus cabut tuntutanmu terhadap Alex," pesan tersebut semakin membuat mereka yakin bahwa dalang penculikan Jeslyn adalah Alex.
Jesica lalu menelfon Helena agar tidak lapor pada polisi. Jika ada Polisi yang menemukan barang Jeslyn di harap agar Helena dan Sandoro tidak buka suara semua demi keselamatan Jeslyn.
Jesica terpaksa menceritakan semua kejadian yang menimpa dia. Jadi sewaktu-waktu Helena dan Sandoro bisa waspada.
"Ya ampun! Kenapa kamu punya masalah sebesar itu baru kasih tahu mama. Kalau saja Alex tidak menculim Jeslyn, pasti kamu tidak akan cerita," kata Helena.
"Maafkan Jesica, Ma. Aku dan Mas Bara harus mengikuti apa yang papa mau. Aku harus mencabut tuntutan itu," kata Jesica.
"Setelah ini bagaimana keamanan kamu, Jes?" tanya Helena. "Nyatanya Bara saja tak bisa menjaga kamu," sambung Helena.
"Mama tenang saja, aku akan bebaskan papa tapi dengan syarat tidak akan menggangguku lagi," kata Jesica.
"Aku gak menyangka, Alex orang yang jahat dan licik," kata Helena.
Mereka tentu kecewa karena menyerahkan Jesica pada keluarga yang jahat. Bahkan bukan hanya rumah tangga yang terancam tapi nyawa juga.
"Mama menyesal menyetujui kamu menikah dengan Bara," kata Helena.
"Semua sudah terjadi, mau tidak mau kita harus hadapi," kata Jesica.
Sebenarnya Bara enggan untuk mencabut tuntutannya. Dia memikirkan keamanan Jesica. Namun, Jesica terus memohon agar Alex di bebaskan secara bersyarat.
"Aku yakin, setelah ini papa pasti akan lebih gencar lagi mendekati kamu. Bagaimana aku bisa melihat kamu di tiduri papa ku sendiri?" tanya Bara.
"Mas, kasihan Jeslyn. Dia tidak tahu apa-apa tapi harus jadi korban," jawab Jesica. "Kita tidak boleh egois, Mas. Biarkan saja dulu yang salah menang. aku yakin nanti kita pada akhirnya yang akan menang," sambung Jesica.
Bara masih berpikir, sementara Jesica terus saja membujuk Bara.
Ponsel Jesica berdering, sebuah panggilan dari nomor tak di kenal.
"Kakak...tolong Jeslyn!" teriak Jeslyn. "Jangan...sakit...!" teriak Jeslyn.
Jesica menangis hingga tak mampu mendengarkan apa yang Jeslyn katakan. Bara langsung mengambil ponsel Jesica.
"Jangan sakiti adikku! Aku akan turuti maumu," kata Bara.
Benar kata Jesica membiarkan yang salah kalah tak masalah. Dari pada egois dan mengorbankan orang lain.
__ADS_1