Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Syarat Dari Helena


__ADS_3

Mona tak menyangka Helena malah mengundang Mumun dan selingkuhannya. Padahal Mona ingin kembali mendekatkan Helena dengan sang papa.


"Apa ada yang keberatan?" tanya Helena menoleh ke arah Mona, Bara, Jeslyn dan Edwin.


"Ma, ini kan acara keluarga kita," kata Mona.


"Aku gak peduli toh kamu gak bilang kalau orang lain gak boleh ikut," kata Helena.


Helena mengantarkan Mumun dan pria itu ke kamar mereka masing-masing. Mona merasa kesal tehadap apa yang dilakukan oleh Helena.


Acara jadi berubah menegangkan, tapi Mona tak mau kalah. Dia memanfaatkan waktu yang sudah dia susun.


Sore itu mereka jalan-jalan Mona mengajak Helena dan Papanya juga tapi tidak dengan Mumun dan teman prianya yang bernama Sultan.


Sejak ada Mumun dan Sultan, sikap Helena kembali cuek pada suaminya. Hal itu membuat Mona dan Jeslyn kesal.


"Ma, jangan marahan terus sama papa. Kalian perbaiki saja semua," kata Mona.


"Gak mau, papa kamu aja udah gak peduli sama aku," kata Helena.


"Siapa yang bilang? Nyatanya papa masih mau pergi bareng kita karena papa mau memperbaiki semua," kata Jeslyn.


"Udah kalian gak tahu apa-apa mendingan diam saja," kata Helena.


Selesai jalan mereka kembali ke villa. Setelah mandi mereka makan malam bersama.


"Mama sama papa harus balikan," kata Jeslyn saat makan malam hampir selesai. Di sana juga ada Mumun dan Sultan.


"Kamu mau aku balikan sama papa kamu?" tanya Helena.


"Sayang, kamu kan janji sama aku," kata Sultan.


"Sultan, kamu diam dulu. Ini masalah keluargaku," kata Helena.


Mumun meminta Sultan untuk diam dulu.


"Iya, Ma. Kita mau mama sama papa balikan," jawab Jeslyn.


"Bisa saja tapi ada syaratnya. Apa kamu sanggup?" tanya Helena.


"Sebutkan syaratnya, Ma," kata Jeslyn.


Mona takut jika Helena meminta hal yang sangat merugikan. Mereka tak mau jika itu Lo yang dia mau.


"Yakin kamu bisa mengabulkan syarat dari mama?" tanya Helena sengaja mengulur waktu agar mereka penasaran.


"Tinggal sebutkan saja apa susahnya," kata Papa Jeslyn.


"Ternyata udah pada gak sabar," kata Helena.

__ADS_1


Helena melihat mereka satu persatu.


"Aku mau Jeslyn dan Edwin bercerai setelah Jeslyn melahirkan," ucap Helena dengan santainya.


Mona dan Bara menatap ke arah Jeslyn dan Edwin. Mereka tahu hal itu sangat berat bagi Jeslyn dan Edwin. Tapi semua ada di tangan Jeslyn dan Edwin.


"Jangan turuti apa kata dia!" larang papa Jeslyn.


"Tapi, Pa...," ucapan Jeslyn dihentikan oleh Papanya.


"Papa gak akan merusak kebahagian anak-anak papa. Lebih baik papa yang mengalah, kalau memang mamamu gak mau lagi sama papa untuk apa papa mengorbankan rumah tangga kalian," kata Papa Jeslyn.


"Wah hebat sekali kamu. Mementingkan kebahagian anak dari pada diri sendiri," kata Helena. "Sudah yakin itu pilihan kalian," kata Helena. "Bagaimana dengan kamu Edwin?" tanya Helena.


"Kalau memang mama ingin kamu berpisah, aku akan...," perkataan Edwin di sahut oleh Papa Jeslyn.


"Jangan katakan itu Edwin! Kamu akan membuat aku kecewa kalau meninggalkan Jeslyn," kata Papa Jeslyn.


"Jadi fix nih kalian memilih aku yang pergi," kata Helena memastikan.


"Kalau mau pergi, pergi saja. Aku gak peduli lagi sama kamu," kata Papa Jeslyn.


"Oke," kata Helena.


Malam itu juga Helena memilih pergi bersama Mumun dan Sultan dari Villa tersebut. Tak ada yang bisa menahan Helena.


Rencana untuk membuat mereka kembali baik malah berujung perpisahan.


**


Alex masih belum juga berani menemui Sarah. Dia memilih ke rumah Marino untuk menemui sang buah hati.


"Katanya papa mau nikah?" tanya Marino.


"Entahlah, dia sepertinya sudah gak mau sama papa karena kekurangan papa," jawab Alex sedih.


"Mungkin kalian tidak berjodoh," kata Marino. "Bagaimana kalau aku bantu papa bujuk Sarah?" tanya Marino.


Tanpa pikir panjang, Alex menyetujui usul Marino. Mungkin memang ada baiknya kalau Marino membantu Alex.


**


Amelia sangat merindukan Angel, dia sering mengintip rumah Marino hanya untuk melihat Angel dari kejauhan.


Namun, siang itu dia melihat Alex tengah mengajak Angel di teras. Ada rasa iri, tapi segera dia tepis.


"Semua salahku. Andaikan aku tak memberikan Angel pada Marino," kata Amelia.


Melihat dari kejauhan bagi Amelia sudah cukup. Jadi dia segera pergi karena tak ingin ketahuan.

__ADS_1


Tanpa Amelia ketahui, Alex melihat Amelia. Dia merasa kasihan karena Amelia memilih melihat Angel dengan cara diam-diam.


Terbesit sebuah rencana di otak Alex. Dia ingin membawa Angel untuk menginap di rumahnya semalam saja.


"Marino, bolehkan saya bawa Angel semalam saja untuk menginap di rumahku?'' tanya Alex.


"Boleh, asal Bi Liana ikut," jawab Marino.


"Iya tak masalah," kata Alex.


Siang itu Liana dan Angel berangkat ke rumah Alex.


**


Helena hidup dalam kebebasan. Dia tak lagi peduli dengan keluarganya. Padahal mereka yang menemani dia dari dulu tapi mudahnya tergantikan dengan orang lain.


"Sayang, apa kita bisa terus begini?" tanya Sultan saat berdua dengan Helena.


"Kenapa tidak," kata Helena.


"Aku takut jika kamu nanti akan kembali pada suami kamu," kata Sultan.


"Aku gak akan mau kembali pada mereka," kata Helena. "Mereka sudah memilih orang lain dibandingkan aku," sambung Helena.


Bukan mereka yang salah, tapi Helena yang mencari masalah. Apalagi saat ini Helena banyak termakan hasutan Mumun.


"Kemana Mumun tadi?" tanya Helena.


"Biarkan saja dia pergi, kita bisa bersenang-senang," jawab Sultan.


Sultan hanya mau uang dari Helena selebihnya dia gak akan peduli. Jika uang Helena sudah tak mengalir lagi padanya maka dia akan pergi jauh-jauh.


Mereka kini telah beradu dalam ranjang yang panas. Tanpa peduli dengan adanya hati yang tersakiti.


Sementara itu, Papa Jeslyn meratapi nasib rumah tangganya yang berada diujung tanduk.


"Pa, gak tidur?" tanya Edwin.


"Mana bisa papa tidur, Win," jawab Papa Jeslyn.


"Maafkan Edwin, Pa. Harusnya papa pertahankan saja rumah tangga papa dengan mama. Soal aku dan Jeslyn kami pasti bisa melaluinya," kata Edwin merasa bersalah.


"Tidak, kamu bisa bilang begitu. Tapi aku yakin Jeslyn tak akan mampu. Biarkan saja Helena yang pergi, biar dia tahu rasanya hidup di luar tanpa keluarga," kata Papa Jeslyn. "Dan kamu jangan merasa bersalah atas apa yang terjadi," sambung Papa Jeslyn.


"Terimakasih, Pa," ucap Edwin.


Edwin merasakan bahwa dia benar-benar berada dalam keluarga yang menyayangi dirinya. Bahkan dia berjanji akan melupakan dendam dan rencana jahatnya.


Tujuannya saat ini adalah membahagiakan keluarga kecilnya. Setelah melihat pengorbanan yang Papa Jeslyn lakukan pada keluarga kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2