Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Panik Mendadak


__ADS_3

Edwin langsung saja mengajak kumala untuk ke belakang sebentar agar Jeslyn tak curiga.


"Apa anak tante sudah tahu rencana ini?" tanya Edwin.


"Belum, lah," jawab Kumala. "Tapi tenang saja soal dia nanti jadi urusan aku dan Bapaknya," ucap Kumala.


"Aku mau dia juga bisa diajak kompromi. Kalau bisa sukses sampai aku nikahi dia kalian akan dapat bonus tambahan," kata Edwin.


"Oke kamu tenang saja," kata Kumala.


Mereka kembali ke depan, mereka melanjutkan acara makan malam mereka.


"Jealyn, maaf ya kalau makanannya tante seadanya. Maklum, kami orang kecil," kata Kumala merendah.


"Tidak apa-apa, Tante. Saya diterima di keluarga ini dengan baik saja saya sudah senang," ucap Jeslyn. "Oh ya anak tante kemana?" tanya Jeslyn.


"Oh dia lagi main, biasa anak muda kalau malam suka jalan-jalan sama temannya," jawab Kumala. "Udah ayo dihabiskan makanannya!" ajak Kumala.


Jeslyn melanjutkan makanannya yang masih separo. Dia senang Kumala dan Santo baik padanya. Apalagi keponakan Edwin merupakan teman satu kampus Jeslyn.


Selesai makan Jeslyn membantu Kumala membersihkan meja makan. Padahal Jeslyn tidak pernah mencuci piring di rumah tetapi di tempat Kumala dia rela cuci piring demi mengambil hati Edwin dan keluarganya.


"Wah kamu rajin juga ya meskipun anak orang berada," kata Kumala.


"Ah biasa aja, Tante," ucap Jeslyn.


Selesai membantu Kumala, Jeslyn menyusul Edwin dan Santo yang duduk di ruang tamu.


"Wah calon kamu rajin sekali, Edwin. Kira-kira kapan kamu lamar dia?" tanya Santo.


"Sebenarnya aku minder, Om. Om kan tahu kita orang kecil sementara keluarga Jeslyn orang berada," jawab Edwin.


"Edwin, kamu kan tahu keluarga aku gak pernah mempermasalahkan hal itu. Kamu jangan khawatir, mereka merestui hubungan kita," kata Jeslyn. "Kamu lihat sendiri respon mama dan papa baik banget sama kamu," sambung Jeslyn. "Kak Mona juga setuju dengan hubungan kita," kata Jeslyn.


"Tapi sepertinya Pak Bara tidak menyetujui hubungan kita," kata Edwin.


"Dia bukan siapa-siapa, dia hanya iparku bukan kakak kandungku. Asal Kak Mona setuju aku tetap lanjutin hubungan kita," kata Jeslyn.


"Nah, Jeslyn aja memperjuangkan kamu. Jadi kamu juga harus memperjuangkan dia," kata Kumala sambil membawa minuman dan makanan ke ruang tamu.


"Iya, hubungan itu harus saling memperjuangkan. Jangan salah satu nanti jomplang," sahut Santo.


"Udah ini kita nyemil dulu," kata Kumala.


***

__ADS_1


Diam-diam Bara meminta orang mengawasi Edwin. Orang suruhan Bara kini berada di dekat kediaman Kumala. Bara merasa tidak percaya dengan Edwin. Namun, dia melakukannya tanpa sepengetahuan Mona. Jika Mona tahu Bara mencurigai Edwin maka Mona akan marah.


"Bagaimana apa ada yang terlihat mencurigakan?" tanya Bara dalam panggilan telfon.


"Tidak ada, tapi kami masih di sini mengawasi," jawab orang suruhan Bara.


Setelah melakukan panggilan dengan anak buahnya Bara menyusul Mona yang ada di kamar. Mona tengah berbicara sendiri dengan perutnya yang sudah mulai buncit.


"Anak mama sedang apa?" tanya Mona. "Pasti anak mama sedang tidur ya, kok diem aja," kata Mona.


"Emang anaknya bisa jawab, kok ditanyain?" tanya Bara.


"Ya gak bisa tapi kadang nendang, Mas," jawab Mona.


"Lagi main sepak bola mungkin anaknya di dalam perut. Makanya nendang terus," canda Bara.


"Sok tahu kamu," ucap Mona. "Tidur yuk!'' ajak Mona bergelayut manja.


"Tidur apa tidur," kata Bara menggoda.


"Hehehe tahu aja kamu, Mas," kata Mona.


"Tahulah, kata orang nafsu wanita hamil lebih besar loh. Pasti kamu juga ngalamin hal itu," kata Bara.


Bara tak mungkin menolak ajakan Mona. Mereka lalu melakukan aktivitas suami istri.


***


Helena sedang mengkhawatirkan Jeslyn, dia takut Jeslyn tidak diterima oleh keluarga Edwin. Apalagi Jeslyn terkenal lebih manja dari pada Mona.


Di rumah saja dia tak pernah menyentuh pekerjaan rumah. Tapi kali ini dia masuk di keluarga sederhana yang apa-apa mesti dilakukan sendiri.


"Ngapain sih, Ma? Papa perhatikan sejak tadi mondar-mandir kagak jelas?" tanya Suami Helena.


"Aku takut, Pa. Bagaimana kalau Jeslyn tidak di terima oleh keluarga Edwin. Anak kita kan manja sekali," kata Helena.


"Biarkan saja, biar Jeslyn belajar mandiri juga. Ini kan belum menikah, kalau udah menikah pasti lebih dari ini," kata suami Helena.


"Iya sih, tapi sebagai ibu aku tetap khawatir, Pa," kata Helena.


Akhirnya Helena memutuskan untuk ke kamar.


***


Bara senang bisa membahagiakan Mona. Kehidupan yang dulu penuh dengan masalah kini sudah tentram kembali. Bahkan mereka sudah di satukan kembali dalam ikatan pernikahan.

__ADS_1


"Mas, senang ya kita udah bersama lagi," kata Mona setelah pergumulan mereka usai.


"Iya, gak nyangka sebentar lagi kita akan jadi orang tua," kata Bara. "Semoga kita bisa saling percaya dan langgeng sampe maut memisahkan," sambung Bara.


"Benar, kalau ingat waktu kita dalam masalah dulu sedih banget. Kita sempat terpisah dan harus menahan rindu," kata Mona.


"Yang sudah berlalu jangan diingat-ingat, sekarang kita nikmati saja kehidupan yang sekarang," kata Bara.


Mona memeluk Bara, dia merasa bahagia bisa bersama lagi dengan orang yang dia sayang. Bahkan sebentar lagi mereka akan punya momongan yang di amanahkan Allah pada mereka.


***


Sudah pukul 21.25 Jeslyn masih asyik mengobrol dengan Kumala.


"Wah kamu kan anak orang kaya pasti di rumah biasa hidup enak. Kalau tinggal di sini pasti nanti kaget," kata Kumala.


"Gak juga sih tante," kata Jeslyn. "Dimana pun sama saja," kata Jeslyn.


Saat mereka asyik mengobrol seorang perempuan masuk ke dalam rumah dia merupakan anak Kumala dan Santo.


"Jeslyn, ngapain kamu ke sini?" tanyanya saat melihat Jeslyn.


"Putri, aku ke sini mau bertemu orang tua kamu," jawab Jeslyn.


"Dia..." ucapan Putri terhenti karena Kumala menarik tangannya agar masuk ke dalam. "Ada apa sih, Bu?" tanya Putri. "Ngapain Jeslyn ketemu kalian?" tanya Putri.


Sementara Edwin panik sekali, dia takut Putri tidak mau diajak untuk kompromi.


"Pulang yuk!" ajak Edwin. "Udah malam, aku gak enak sama Tante Helena nanti," sambung Edwin.


"Tapi aku belum ngobrol sama Putri," kata Jeslyn. "Aku baru tahu kalau Putri saudara kamu," sambung Jeslyn.


"Udah lain kali aja, lagian Putri juga lagi capek. Pasti dia mau istirahat," kata Edwin.


"Ya udah deh, kalau gitu panggil tante Kumala," kata Jeslyn.


"Gak usah, pamit sama aku aja cukup," sahut Santo.


"Ya udah, Om. Jeslyn pamit, titip salam buat Tante Kumala dan Putri," kata Jeslyn.


Jeslyn dan Edwin keluar dari rumah Kumala.


Tiba-tiba Kumala dan Putri keluar,"Put, pulang dulu ya! Lain kali ngobrol!" ucap Jeslyn.


"Emh...," dehem Putri.

__ADS_1


__ADS_2