Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Yang Jahat Yang Menang


__ADS_3

Esoknya, Bara dan Jesica mendatangi kantor polisi lagi. Mereka sudah ikhlas jika harus mencabut tuntutan itu.


"Pak polisi, kami mau mencabut tuntutan atas Bapak Alexio," kata Bara.


"Apa Pak Bara yakin?" tanya polisi.


"Sangat yakin, Pak," jawab Bara. "Namun, pihak Pak Alex harus menandatangani surat yang saya buat," kata Bara.


"Baiklah," ucap polisi.


Polisi memanggil Alex untuk berbicara dengan Bara. Bara menyuruh Alex menandatangi surat yang Bara bawa.


"Papa harus lepaskan Jeslyn sekarang juga. Antarkan dia pulang dengan selamat," kata Bara.


"Kamu tenang saja," kata Alex menandatangani surat tersebut.


Alex sekarang sudah bebas, dan Jeslyn sudah pulang ke rumahnya. Jesica merasa lega, tapi Jeslyn sedikit mendapatkan penyiksaan.


***


Amelia sudah ke luar dari rumah sakit. Dia kembali ke rumah Alex. Selain itu juga Amelia tetap melayani panggilan.


Kini Alex mempunyai Maura dan Amelia. Namun, Amelia tak bisa berbuat apa-apa. Sudah diizinkan tinggal di rumah Alex saja dia sudah bersyukur.


"Amelia, malam ini ada tamu buat kamu," kata Alex. "Kamu harus main dengan hati-hati jangan sampai janin kamu kenapa-napa," sambung Alex.


"Baik, Pa," ucap Amelia.


Perceraiannya dengan Marino berjalan lancar. Mereka telah resmi bercerai. Jadi Amelia bukan tanggung jawab Marino lagi.


"Kamu harus nurut denganku, sekarang kamu milikku," kata Alex.


Amelia hanya terdiam, dia tak berani berbuat apa-apa.


***


Alex menemui seseorang, dia adalah orang yang melakukan penculikan terhadap Jeslyn.


"Ada tugas lagi, bos?" tanya Pria itu.


"Aku mau kamu bantu aku menculik seseorang," jawab Alex. "Tapi aku mau agar dibuat seperti dia hilang, bukan di culik," kata Alex.


"Baiklah, kirim saja fotonya," ucap Pria itu tersenyum.


"Jangan lakukan sekarang, nunggu suasana kondusif dulu. Biarkan mereka lengah dulu," kata Alex.


"Ok bos," kata Pria itu.


Alex tidak akan pernah jera, dia bukan orang yang mudah menyerah. Sekali gagal dia justru akan semakin tertantang untuk melakukannya lagi.


***


Bara dan Jesica berharap Alex menepati janjinya. Namun, mereka harus tetap waspada. Alex bisa saja kembali melakukannya lagi.

__ADS_1


"Mas, apa sebaiknya kita pindah saja?" tanya Jesica.


"Pindah ke mana? Kita tak mungkin tinggal dengan orang tua kamu," ucap Bara.


"Kita pindah ke luar kota," kata Jesica.


"Kita lihat saja nanti. Jika situasinya kembali memanas kita pindah," kata Bara.


Jesica takut keluarganya akan dilibatkan lagi. Dia tidak mau jika itu terjadi lagi.


***


Sementara ini kemenangan di pegang oleh Alex dengan segala kejahatan dan kelicikannya.


"Aku akan dapatkan kamu Jesica," ucap Alex tersenyum di dalam kamarnya. Di pandangi foto Jesica. "Ini kalau fotonya agak terbuka dikit lebih bagus," sambungnya.


Alex mencium Jesica di ponselnya. Dia seperti seorang pria yang lama tidak mendapatkan kasih sayang wanitanya.


Tok tok tok


"Siapa sih ganggu aja," kata Alex meletakkan ponselnya lalu segera bangkit dan membuka pintu. "Maura," ucap Alex.


"Om, butuh aku gak? Mumpung free hari ini," kata Maura.


Maura datang ke kamar Alex hanya menggunakan lingery yang sangat terbuka dan bahannya tipis.


Di dekat almari, Amelia melihat Maura sedang di depan kamar Alex.


"Bagaimana, Om? Gratis loh." Tangan Maura sudah menggerayangi paha Alex.


Alex yang sedari tadi sudah menahan hasrat tentu tak menolaknya. Dia langsung menarik Maura masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya Amelia ingin mencegah mereka namun dia sadar itu akan membuat Alex marah.


Amelia memilih kembali ke kamarnya. Dia merasa sedih karena anaknya akan lahir tanpa papa.


"Andaikan aku tidak teledor pasti tidak akan hamil seperti ini," kata Amelia.


Amelia tak bisa meminta bantuan siapapun. Bara dan Jesica sudah membencinya.


***


Jesica dan Bara menikmati waktu berdua. Mereka sedang merencanakan untuk berlibur berdua. Tentu semua itu dalam masa honeymoon. Sejak mereka menikah, tak pernah mereka pergi berlibur.


"Sayang, bagaimana kalau kita pergi mendaki?" tanya Bara.


"Mendaki, hanya berdua?" tanya Jesica.


Bara dulu sering mendaki bersama temannya. Bahkan dia sudah menjelajahi beberapa tempat pendakian.


"Iya, pasti akan lebih seru," kata Bara.


"Okelah, aku ikut kamu saja," kata Jesica.


Mereka memilih tempat pendakian terdekat saja. Mereka tidak punya banyak waktu untuk mendaki.

__ADS_1


***


Selama ini Bara dan Jesica selalu di awasi dari jarak jauh. Namun, mereka tak pernah menyadari hal itu.


"Mas, kalau pulang jangan lupa belanja," kata Jesica.


Murni dan Liana jarang sekali ke luar rumah. Mereka masih dalam kondisi waspada.


"Non, aku dengar kalian akan mendaki?" tanya Liana.


"Benar, Bik. Mas Bara mengajak aku mendaki, dia kan sudah lama tidak mendaki," jawab Jesica.


"Andiakan aku masih muda, pasti aku ikut," kata Liana.


"Ngapain kamu ikut? Yang ada ganggu Den Bara dan Non Jesica," sahut Murni.


"Apa kamu gak tahu, aku ini dulu suka mendaki. Bahkan aku pernah mendaki bersama si brengsek itu," jawab Liana.


"Maksud kamu Pak Alex?" tanya Murni.


Liana mengangguk," Dulu aku kan kekasih dia, kamu gak tahu kan," kata Liana.


"Ya ampun! Jadi selama ini kamu kerja dengan mantan kekasih kamu. Jangan-jangan kamu juga sering melayani dia," kata Murni tanpa merasa sungkan berbicara di depan Jesica.


"Kalau itu jangan di tanya. Hanya saja aku sakit hati saat dia punya hubungan dengan Non Amelia," kata Liana.


"Kamu kalah muda, Li. Sadar diri dong," sahut Murni.


"Udah ah kalian ini malah," tegur Jesica.


"Aku tiba-tiba rindu sama Den Marino," kata Liana.


"Kata Mas Bara, Kak Marino sekarang jualan di pasar," kata Jesica.


"Pasar? Apa gak salah?" tanya Liana


"Ya, katanya akses dia masuk perusahaan manapun sudah diblokir papa. Jadi dia gak bisa lagi kerja di perusahaan. Akhirnya dia buka usaha di pasar," jawab Jesica.


"Alex jahat sekali. Dia tega sekali dengan putranya," kata Liana. "Bu Sonya pasti sedih di alam sana. Lihat kelakuan suami yang dia banggakan kelakuannya kayak hewan," sambung Liana.


"Oh ya, Bik. Gimana kalau sore nanti kita ajak Mas Bara ke makam mama. Aku ke sana baru sekali sebelum nikah sama Mas Bara," kata Jesica.


"Ide bagus itu," ucap Liana.


***


Marino memulai semua dari nol. Memang tak mudah tinggal di lingkungan yang jauh dari kata mewah. Biasa tidur di kasur empuk kini hanya tidur di kasur busa. Biasa bawa mobil sekarang hanya bisa memakai sepeda motor.


Jualan di pasar juga tak begitu laku. Persaingan antar pedagang pasti ada. Apalagi Marino tergolong pengusaha baru yang belum punya banyak pelanggan.


"Marino...," panggil seseorang.


Marino menolak, seorang wanita mendekati dia. Wanita yang dulu selalu menemani dia kemana dia pergi. Kini terlihat menjauh setelah Marino memutuskan hubungan dengannya.

__ADS_1


__ADS_2