Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Patah Hati


__ADS_3

Marino sebenarnya takut untuk menghadiri pernikahan Khadijah. Dia takut tak kuasa menahan amarahnya.


"Aku harus tetap hadir," ucap Marino. "Aku gak mau mengecewakan Khadijah," kata Marino.


Marino pergi membeli hadiah untuk Khadijah dan suami. Dia sengaja memberikan tiket bulan madu untuk mereka.


"Semoga ini bermanfaat," kata Marino setelah mendapatkan tiket bulan madu untuk Khadijah dan Umar.


**


Hari pernikahan Khadijah pun tiba. Marino sengaja datang bersama dengan Bara dan Mona. Dia tak mungkin berani sendiri.


"Kamu yakin kuat," kata Bara.


"Kuatlah," ucap Marino berusaha tegar meskipun sebenarnya hatinya sangat sakit.


Marino sengaja membungkus kado untuk Khadijah. Semoga Khadijah mau menerimanya.


Marino berjalan mendekati pelaminan. Semakin dekat, semakin dekat makin terlihat Khadijah yang tampil begitu cantik sedang berdiri di pelaminan.


Acara ijab qobul akan dilangsungkan sebentar lagi. Jadi Marino ingin menemui Khadijah dulu.


"Selamat menempuh hidup baru, Khadijah," ucap Marino lancar namun terasa berat.


"Terima kasih, Pak," ucap Khadijah.


Marino memberikan kado pada Khadijah, Khadijah menerimanya.


Setelah menyalami kedua orang tua Khadijah, Marino turun dari pelaminan. Hatinya seperti dicabik-cabik karena melihat orang yang dia sayang duduk di pelaminan dengan pria lain.


Ijab qobul dimulai, Umar mengucapkan ijab qobul dengan lancar. Air mata Marino tak terbendung lagi, perlahan menetes dengan sendirinya.


"Kamu baik-baik saja, Kak?'' tanya Mona saat melihat Marino mengusap air matanya.


"Ya aku baik-baik saja. Hanya sedikit terharu saja," jawab Marino.


Kini Umar dan Khadijah duduk di pelaminan. Dari kejauhan Khadijah melihat ke arah Marino.


Hal yang paling menyakitkan adalah melihat orang yang kita cinta menikah dengan orang lain. Meskipun Marino bilang dia baik-baik saja namun Mona tahu jika hatinya sakit.


"Bara, aku duluan ya," ucap Marino ke luar dari gedung tempat pernikahan Khadijah.


"Ya ampun! Sekuat itu kamu Marino," ucap Saskia. "Dari pada patah hati terlalu lama mendingan kamu lamar aku saja," Dengan percaya diri Saskia menawarkan dirinya sendiri.


"Lebih baik aku sendiri seumur hidup dari pada menikah dengan kamu," balas Marino.


Marino meninggalkan gedung dia pergi entah kemana. Dia tak punya tujuan untuk pergi saat ini. Dia hanya tak ingin melihat Khadijah di pelaminan dengan Umar.

__ADS_1


**


Sementara itu, di gedung tempat Khadijah menikah. Suasana suka cita terlihat dari wajah dua mempelai. Meskipun Khadijah tak mencintai Umar, tapi dia tetap menghargai Umar karena saat ini dia adalah suaminya.


"Khadijah, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Umar.


"Iya, kamu tenang saja," jawab Khadijah.


Khadijah mengedarkan pandangan mencari keberadaan Marino tapi tak ada.


"Kemana Pak Marino?" tanya Khadijah dalam hati.


Umar seperti mengerti apa yang sedang Khadijah cari. Dia terlihat sangat cemas dengan Khadijah. Namun, dia berusaha untuk tidak memperlihatkan pada Khadijah.


Umar tahu jika Khadijah tidak mencintainya. Namun, dia tetap mau menikah dengan Umar.


Kini Bara dan Mona naik ke pelaminan mengucapkan selamat pada Khadijah dan Umar.


"Selamat ya, semoga kalian bahagia," ucap Mona menyalami Khadijah lalu memeluknya.


"Terima kasih, Pak Bara, Bu Mona sudah hadir," ucap Khadijah. "semoga nanti lahirannya lancar ya, Bu," kata Khadijah.


"Aamiin," ucap Mona.


Mona dan Bara sekalian pamit karena mereka sudah datang sejak tadi.


**


"Marino, " Maura mendekati Marino.


"Maura, kamu kerja di sini," kata Marino.


"Iya, dulu juga Amelia kerja di sini. Tapi sekarang udah pensiun," kata Maura. "Dia buka usaha jualan baju di mall," lanjut Maura.


Marino tak merespon saat Maura menceritakan Amelia. Dia tak peduli lagi dengan kehidupan wanita yang telah tega meninggalkan anaknya di rumah sakit.


"Mau aku temani," kata Maura.


"No, kamu pergi aja. Aku mau sendiri," tolak Marino.


Maura lalu pergi karena tak ada gunanya dia di dekat Marino. Marino terus saja minum hingga dia tak mendengar ada panggilan di ponselnya.


Bara tengah mengkhawatirkan Marino. Namun, di telfon malah tak di angkat.


"Ke mana Marino?" tanya Bara.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Mona yang bagus aja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Nelfon Kak Marino gak diangkat. Aku taku kalau dia kenapa-napa. Kamu kan tahu sendiri dia sedang patah hati," jawab Bara khawatir.


"Paling dia cari hiburan," kata Mona.


"Aku yakin dia ke bar untuk minum. Kebiasaan dari dulu kalau ada masalah dia pasti larinya ke bar," kata Bara.


"Udah malam tidur aja," kata Mona. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Iya, dia udah besar pasti bisa jaga diri," kata Bara menyusul Mona yang sudah siap untuk tidur.


Mereka akhirnya memilih tidur dari pada memikirkan Marino.


**


Marino sudah mabuk, dia langsung pulang ke rumah. Dia mengendarai mobilnya seorang diri. Walau kepalanya sudah terasa pusing, dia harus tetap pulang.


"Kenapa aku seperti ini? Kalau Khadijah tahu pasti aku malu," kata Marino. "Dia pasti akan marah karena aku menyentuh barang haram itu," sambung Marino.


Marino terus melajukan mobilnya agar cepat sampai. Namun, tiba-tiba ada mobil dari arah lain yang juga sama cepatnya dengan mobil Marino.


Marino yang mabuk menjadi sulit untuk mengendalikan mobilnya. Dia langsung saja banting stir ke kiri karena menghindari mobil dari arah lain.


Brakk


Mobil Marino menabrak pohon di pinggir jalan. Marino berusaha turun dari mobil dengan keadaan sempoyongan.


"Beruntung aku masih selamat," ucap Marino setelah berhasil keluar dari dalam mobil. Marino menjauh dari mobilnya dan segera menghubungi Bara. Dia juga tak lupa untuk menghubungi pihak bengkel.


Namun, Bara tak bisa ditelpon. Jadi Marino di sana menunggu mobil lewat. Karena sudah malam, tak ada orang yang lewat. Marino terpaksa tidur di bawah pohon.


Bengkel yang Marino telfon, datang saat pukul 06.00 karena semalam banyak karyawan yang sudah pulang.


Marino terpaksa pulang dengan keadaan berantakan. Liana yang melihat hal itu merasa kasihan pada Marino. Patah hati membuat dia mabuk-mabukan hingga kecelakaan.


"Apa aden baik -baik saja?" tanya Liana.


"Iya, Bi. Hanya saja semalam aku kecelakaan beruntung hanya mobilku saja yang rusak," jawab Marino.


"Makanya Den, kalau ada masalah jangan mabuk-mabukan. Aden bukan lagi anak kecil loh ya. Kalau sampai Khadijah tahu Aden kaya gini, dia malah semakin benci dengan Aden," tutur Liana.


"Maafkan aku, Bi. Aku gak sanggup lihat Liana menikah dengan pria lain. Aku sangat mencintai dia. Tapi semua sudah terlambat aku merusak kepercayaan Khadijah," sesal Marino.


Menyesalpun tak akan merubah kenyataan. Kini Khadijah sudah resmi menjadi istrinya Umar. Kini tinggal rasa sesal yang tiada guna. Marino memilih untuk menutup diri setelah ini. Dia akan fokus untuk membesarkan Angel.


Tok tok tok


Liana membuka pintu, dia terkejut saat pintu terbuka.

__ADS_1


"Kamu...ngapain ke sini?" tanya Liana.


Marino ikut ke depan, dia terkejut melihat kedatangan wanita yang pernah singgah dihatinya itu.


__ADS_2