
Marino tak bisa membalas pukulan Bara. Sarah meminta Marino agar segera pergi dari sana.
Bara kesal dan kecewa dengan apa yang mereka lakukan. Mereka melepaskan tanggung jawab sebagai orang tua.
"Aku gak menyangka Sarah Setega itu sama Ikbal," ucap Mona.
"Aku gak nyangka mereka berubah jadi monster," sahut Bara.
Tangi Kaisar membuat mereka segera berlari ke kamar. Namun, mereka terhenti karena mendengar Kaisar berhenti menangis.
"Om Bara, maaf saya lancang masuk ke kamar Om. Saya hanya ingin bantu agar Kaisar tidak menangis," kata Ikbal.
"Oh tak apa, terimakasih sudah bantu Tante," kata Mona.
"Ibu gak mau jemput aku ya," kata Ikbal. "Ikbal sudah dengar kalau ibu minta Ikbal dijadikan pembantu saja di sini," kata Ikbal.
"Ikbal, tidak akan ada yang jadikan Ikbal pembantu di sini. Om sama Tante akan tetap anggap kamu adalah saudara," kata Bara.
"Terimakasih, Om," ucap Ikbal memeluk Bara.
Ikbal merasa senang karena tidak akan dijadikan pembantu. Namun, dia masih kecewa terhadap Sarah. Sebagai seorang ibu dia terlalu berani meninggalkan kewajibannya sebagai ibu.
Tak hanya Ikbal yang kehilangan sosok ibu tetapi juga Angel. Kini Angel dan Liana pindah ke rumah Alex. Sebelum Alex meminta bantuan pada Bara, Bara terlebih dahulu membantu Alex.
Dua hari tinggal di rumah Alex, Angel butuh penyesuaian. Walaupun dia masih kecil tapi dia tetap harus menyesuaikan dengan lingkungan.
Di tempat Alex, Liana di bantu oleh pembantu Alex untuk menjaga Angel.
Ponsel Alex berdering keras sekali saat dia baru saja bangun tidur. Panggilan dari nomor Amelia.
"Halo, Mel. Ada apa, Mel?" tanya Alex.
"Halo, Pak Alex. Ini saya perawat yang membantu Bu Amelia dinrumah sakit. Bu Amelia ingin bertemu dengan putrinya, bisakah bapak bawa dia kemari? Soalnya keadaan Bu Amelia semakin parah," tutur Perawat itu panjang lebar.
"Baik, Sus," ucap Alex.
Alex segera memberitahu Liana agar bersiap mengajak Angel ke rumah sakit pagi ini.
Sampai di rumah sakit, Angel di tidurkan di samping Amelia.
"Sayang, maafkan ibu. Ibu tidak bisa membahagiakan kamu. Waktu ibu sudah habis, semoga kelak kamu jadi anak Solehah. Jangan pernah merasa minder karena kekurangan kamu yang penting hatiku baik," kata Amelia.
Amelia memberikan sebuah map berwarna merah pada Liana.
__ADS_1
"Bi, tolong jaga ini! Kasihkan pada Angel saat dia sudah mampu mengelolanya," kata Amelia.
Liana menerima map itu dan segera melihat isinya. Ternyata itu sertifikat rumah dan toko atas nama Amelia. Serta ada surat wasiat di dalamnya jika dua sertifikat milik Amelia itu sudah di wariskan pada Angel.
Amelia memeluk Angel dengan penuh kasih sayang. Beberapa kali di ciumnya sang buah hati.
Sesaat setelah memeluk Angel, Amelia menghembuskan nafas terakhirnya.
Dokter memeriksanya, namun Allah lebih menyayangi Amelia.
"Bagaimana, Dok?" tanya Liana.
Dokter menggelengkan kepala, Amelia sudah tak bernyawa.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucap Liana dan Alex serentak.
Alex langsung memberi tahu Bara.l, sehingga Bara dan Mona langsung ke rumah sakit. Karena Amelia tak punya keluarga jadi pemakaman akan dilakukan di tempat Alex.
Keluarga Jeslyn juga hadir di sana, mereka mengucapkan bela sungkawa pada Alex.
"Kasihan sekali Amelia, dia mati muda," kata Jeslyn.
"Iya, bahkan dia belum melihat Angel dewasa," kata Edwin.
"Kasihan sekali Angel, dia sudah kehilangan ibunya sajak kecil," kata Mona.
Alex juga mendengarkan cerita Bara soal Sarah dan Marino. Semua orang yang mendengar cerita Bara merasa kesal dengan Sarah dan Marino.
"Ya ampun, ternyata Ikbal nasibnya lebih tragis. Ibunya masih hidup tapi tak mau merawatnya," kata Jeslyn. "Aku jadi ingat mama," sambung Jeslyn.
Edwin merengkuh pundak Jeslyn, dia tahu jika Jeslyn merindukan sang mama. Sejak bercerai dari sang papa, mamanya tak pernah menemui Jeslyn.
Setelah kepulangan orang-orang, kini tinggal Alex dan Liana saja. Mereka membicarakan apa yang Amelia tinggalkan untuk Angel.
Setelah tujuh hari kematian Amelia, Liana mulai menemui karyawan kepercayaan Amelia. Mereka sudah tahu jika toko akan di serahkan pada Angel.
**
Sarah dan Marino telah menikah. Namun, mereka tak mengundang siapapun. Bahkan Bara sendiri tahu dari salah satu karyawan yang diundang sebagai saksi. Dia merupakan orang kepercayaan Marino di kantor.
Bara yang tahu hal itu langsung mendatangi rumah Marino. Sayangnya, saat dia ke sana Marino tak ada. Yang ada di rumah hanya Sarah.
"Kenapa kalian menikah tapi aku tak tahu?" tanya Bara.
__ADS_1
"Aku gak tahu, semua yang atur Mas Marino," jawab Sarah. "Lebih baik kamu tanyakan saja sama dia," ucap Sarah.
"Kamu kan istrinya harusnya kamu tahu," bantah Bara.
"Sudahlah aku malas meladeni kamu," ucap Sarah. "Oh ya, Ikbal gak nakalkan?'' tanya Sarah.
"Peduli apa kamu dengan Ikbal? Kamu bukan lagi ibunya Ikbal," jawab Bara.
Tidak berapa lama Sarah melempar uang ke arah Bara.
"Tuh uang berikan pada Ikbal, suruh dia pergi dari rumahmu," kata Sarah.
Dulu Sarah terlihat lembut dan penyayang tapi semua itu tak bertahan lama. Bara menyesal datang ke rumah Marino.
Dia hendak pergi tapi Sarah tiba-tiba menjatuhkan diri di dekat uang yang berserakan. Aku mendekat hendak menolong.
"Bara...," teriak Marino.
Marino tanpa komando langsung memukul Bara dengan keras.
"Kamu apakan istriku?" tanya Marino.
"Mas, dia mendorongku," jawab Sarah.
Mendengar jawaban Sarah, Bara semakin geram. Ingin membela diri tapi rasanya Marino tak akan percaya lagi padanya.
"Dia memberiku uang, dan meminta agar meninggalkan kamu, Mas," ucap Sarah yang kini sudah berdiri di bantu Marino. "Aku gak mau, tapi dia malah kasar padaku," sambungnya.
Bara menggeram ingin menampar wajah Sarah. Namun, dia masih bisa menahan diri.
"Jangan pernah ikut campur urusan rumah tanggaku! Aku tidak butuh kamu, Bara," bentak Marino. "Kamu bukan lagi saudaraku," kata Marino.
"Oke, aku juga tidak masalah. Asal kamu tahu, kamu akan menyesal Marino," ucap Bara lalu meninggalkan rumah Marino.
Marino memeluk Sarah, sekatika Sarah tersenyum penuh kemenangan. Sarah sudah berhasil membuat Marino menjauh dari Alex dan Bara.
"Lihat saja nanti, Marino pasti ada dalam kendaliku," batin Sarah.
"Mas, apa tidak sebaiknya kamu kembali kerja di kantor peninggalan mama kalian? Aku rasa Bara punya rencana untuk menguasai semua harta peninggalan mamamu sendiri. Soalnya Bara tadi bilang bahwa dia akan merebut semua hak milikmu," kata Sarah.
Sarah benar-benar licik, padahal Bara tak pernah mengatakan hal itu pada Sarah.
"Baiklah, aku akan kembali ke perusahaan lagi. Kali ini aku yang akan merebut milik Bara," kata Marino berapi-api.
__ADS_1