
Jesica dan Bara mencari keberadaan Dewi. Namun, mereka tak menemukan Dewi sama sekali padahal hari sudah hampir petang.
"Mas, udah mau magrib. Apa kita balik aja ke tenda?" tanya Jesica.
"Iya, kita balik aja dulu," jawab Bara.
Mereka kembali ternyata Firdaus dan Imron juga sudah kembali.
"Bagaimana apa Dewi ketemu?" tanya Bara.
"Belum, Kak. Malam ini kita cari lagi. Kalau kakak mau istirahat tidak apa-apa, biar kami berdua yang cari," jawab Firdaus.
"Janganlah! Kami akan bangun sampai Dewi ketemu," kata Bara.
Setelah makan mereka kembali mencari Dewi. Mereka kali ini tidak berpencar.
"Dewi...," teriak Firdaus.
Mereka telah sampai di tempat orang yang mendaki kemarin. Firdaus menanyakan pada mereka namun mereka juga tak melihat Dewi.
Mereka memutuskan untuk membantu mencari Dewi. Semakin banyak yang mencari maka Dewi akan semakin mudah di temukan.
Tidak berapa lama, Dewi di temukan terjatuh di semak-semak yang agak miring. Sepertinya dia terpeleset di sana.
"Dewi," kata Firdaus lalu membopong Dewi dibantu oleh Bara dan juga yang lainnya.
Mereka berjalan menuju tenda. Sampai di tenda Dewi diberi obat dan sadar.
"Dewi, bagaimana keadaan kamu?" tanya Jesica.
"Kepalaku pusing, sepertinya saat aku terjatuh tadi kepalaku terbentur batu,, jawab Dewi.
"Mas Bara, malam ini biar aku tidur bersama Dewi kasihan kalau dia tidur sendiri," kata Jesica. "Firdaus sebaiknya besok kalian juga pulang, Dewi perlu diperiksa oleh Dokter," kata Jesica pada Firdaus.
"Baik, Kak," jawab Firdaus.
Jesica tidur bersama Dewi. Saat mereka terlelap tiba-tiba saja Jesica kebelet dia ingin buang air.
Saat iti Firdaus yang jaga," Mau kemana, Kak?" tanya Firdaus.
"Mau buang air," jawab Jesica.
"Perlu aku bangunkan Kak Bara biar diantar?" tanya Firdaus.
"Tidak usah, aku berani sendiri," jawab Jesica sambil mengambil air di botol untuk cebok.
Akhirnya Firdaus membiarkan Jesica pergi sendiri. Lima menit kemudian, Firdaus gantian jaga dengan Imron. Dia lupa memberitahu Imron kalau Jesica pergi buang air.
***
Dewi terkejut saat dia bangun Jesica tak ada di sampingnya.
"Mungkin Kak Jesica nyusul ke tenda Kak Bara," kata Dewi.
Dewi ke luar tenda, dia melihat Firdaus, Imron dan Bara tengah mengobrol.
"Kak Bara, apa Kak Jesica di tenda kamu?" tanya Dewi.
"Tidak ada tuh, bukannya dari semalam dia sama kamu," jawab Bara.
"Ya ampun aku lupa, semalam Kak Jesica izin untuk buang air. Aku udah tawarin untuk bangunin Kak Bara tapi dia gak mau. Apa semalam belum balik?" tanya Firdaus.
"Semalam aku gak lihat Kak Jesica balik," sahut Imron.
"Jangan...jangan...," ucap Firdaus dan Imron bersamaan.
"Jangan-jangan apa?" tanya Bara.
"Kak Jesica hilang," jawab Imron.
Mereka berempat mencari Jesica. Mereka hanya menemukan botol air milik Jesica. Namun, orangnya tidak ditemukan di sekitar tempat itu.
"Kemana Jesica pergi?" tanya Bara.
"Sabar, Kak. Kita bantu cari," jawab Firdaus.
Namun, saat mereka mencari tiba-tiba Dewi jatuh pingsan. Mereka harus membawa Dewi ke rumah sakit karena dia kembali sakit.
__ADS_1
"Kak, Dewi butuh penanganan Dokter, kami harus pulang," kata Firdaus.
"Tolong nanti sampai di bawah kasih tahu pengelola tempat ini. Aku butuh bantuan untuk mencari Jesica," kata Bara.
"Baik, Kak," ucap Firdaus.
Firdaus menggendong Dewi turun pendakian. Sementara Bara masih menunggu bantuan. Namun, dia mencoba mencari Jesica di sekitar tenda.
Sekitar dua jam pengelola pendakian menemui Bara. Mereka yang terdiri sekitar lima orang membantu Bara mencari Jesica. Namun, hasilnya nihil. Sampai sore mereka tidak menemukan Jesica. Pihak pengelola juga sudah menghubungi tim SAR.
"Pak Bara, tim kami sudah mencari tapi bel di temukan. Besok kami akan cari kembali, kalau bisa Pak Bara pulang dulu jika ada kabar tentang Bu Jesica kami akan hubungi bapak," kata ketua tim SAR.
Besok Bara harus kembali bekerja, dia tak mungkin terus menunggu pencarian Jesica.
Akhirnya Bara memutuskan untuk pulang.
Esoknya Tim SAR menemukan baju yang di pakai Jesica di sungai dekat pendakian.
"Pak Bara, kami menemukan baju Bu Jesica di sungai. Kami juga sudah menyusuri sungai tapi tak menemukan Bu Jesica. Kemungkinan besar beliau sudah terseret arus," kata Tim SAR.
Bara ke tempat di temukannya baju Jesica. Ternyata benar itu baju Jesica namun tidak ditemukan Jesica di sekitar sungai.
Tim SAR menyatakan pasrah atas hilangnya Jesica. Mereka sudah tak sanggup mencari lagi.
Dua hari kemudian, ditemukan mayat seorang perempuan di sungai. Pihak tim SAR mengklaim bahwa itu adalah Jesica.
Jenazah itu sudah membusuk sehingga tak mungkin dilakukan pemeriksaan. Bara dan keluarga Jesica mencoba ikhlas walau sebenarnya berat.
Akhirnya jenazah itu di makamkan. Bara sedih sekali karena harus kehilangan orang yang dia sayang.
***
Alex sangat senang mendengar kabar bahwa Jesica telah tiada. Dia tersenyum bahagia karena rencana dia berhasil.
"Papa, malam ini saya ada tamu tidak?" tanya Amelia.
"Tidak ada," jawab Alex. "Amelia, aku mau kamu awasi Maura, Papa akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis," ucap Alex.
"Baik, Pa," ucap Amelia.
Kehamilan Amelia sudah semakin terlihat, dia merindukan saat bersama Marino. Dulu dia sangat di manja Marino namun semua sirna karena dia telah main belakang dengan Alex.
"Tidak, Pa," jawab Amelia.
Sedih rasanya karena hamil tanpa suami. Padahal biasanya orang hamil itu selalu ingin dimana. Tapi saat ini Amelia justru melewatinya seorang diri.
***
Di saat semua orang menganggap Jesica telah tiada. Ternyata Jesica berada dalam sekapan. Dia masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.
"Di mana aku? Kenapa aku di sini?" tanya Jesica.
Malam itu, Jesica sempat melakukan perlawanan saat ada dua pria mendekati dirinya. Dia terjatuh ke jurang dan sempat tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Dan saat tersadar dia sudah berada di sebuah rumah mewah.
"Non, apa perlu sesuatu?" tanya seorang pembantu.
"Siapa yang punya rumah ini?" tanya Jesica.
"Saya tidak tahu, Non. Saya hanya di peringkat oleh orang yang jaga di sini," jawab wanita paruh baya itu.
Di luar banyak sekali orang berjaga. Termasuk dua pria yang malam itu mengganggu Jesica.
"Aku ingin minum jus jeruk sama rujak," kata Jesica.
"Baik, saya akan buatkan rujak dan jus," kata pembantu itu lalu ke belakang.
Tidak berapa lama, Jesica dihidangkan dengan rujak buatan pembantu itu.
Entah mengapa akhir-akhir ini Jesica ingin sekali makan rujak. Terutama makan mangga muda.
Ketika seorang pria masuk, Jesica menyempatkan diri untuk bertanya.
"Siapa bos kalian? Apa tujuan kalian menculikku?" tanya Jesica.
"Bos kami dalam waktu dekat akan berkunjung, silahkan anda tanya sendiri ke dia," jawabnya.
Hampir setiap hari Jesica selalu menginginkan makanan yang aneh-aneh. Dan semua yang dia mau selalu di turuti.
__ADS_1
"Sepertinya Non senang sekali makan rujak. Hampir setiap hari makan rujak tapi tidak pernah bosan," kata pembantu.
"Entah, rasanya aku ingin sekali," kata Jesica.
Sebenarnya Jesica kangen sekali dengan Bara. Namun, di rumah itu sama sekali tidak ada ponsel dan telfon. Hanya ada televisi saja. Pembantu saja tidak diperbolehkan membawa ponsel.
"Bik, aku bosan. Apa boleh aku keliling sekitar rumah ini saja," kata Jesica.
"Maaf, Non. Non hanya diperbolehkan keliling di area rumah ini. Kalau mau saya temani," kata pembantu.
Akhirnya mereka keliling, sesekali para penjaga mengawasi Jesica.
Jesica merasa rindunya pada Bara semakin besar. Apalagi dia sudah satu minggu di rumah itu.
"Sedang apa kamu,Mas?" tanya Jesica saat duduk seorang diri di ayunan.
Jesica ingin kabur tapi sulit karena dijaga ketat. Dia tak mungkin bisa menghubungi Bara.
"Bik, ini kita di mana?" tanya Jesica.
"Di bandung, Non," jawab pembantu.
"Hah bandung, jadi aku udah tidak di Jakarta," batin Jesica.
Saat asyik jalan tiba-tiba Jesica merasa pusing dan mual. Akhirnya dia kembali ke kamar dan istirahat.
Akhir-akhir ini Jesica sering mual. Dia merasa tidak enak badan.
"Non, sarapan dulu," ucap Pembantu.
Jesica hendak makan, namun setelah melihat nasi dia justru mual dan muntah. Jesica segera berlari ke kamar mandi.
Pembantu itu berinisiatif untuk memijat tengkuk kepala Jesica.
"Non, sudah menikah?" tanya pembantu.
"Sudah, Bik. Kenapa ya?" tanya Jesica.
"Kapan terakhir datang bulan?" tanya Pembantu malah balik tanya.
Jesica mengingat, ternyata dia sudah telah dua minggu. Apa artinya dia hamil. Jesica masih belum yakin.
"Bik, minta sama penjaga suruh belikan tespack," kata Jesica.
"Baik, Non," ucap pembantu.
Akhirnya pembantu yang bernama Susi itu meminta tolong pada penjaga untuk beli tespack.
"Non, butuh tespack. Tolong belikan ke apotik segera!" perintah Susi.
"Buat apa tespack?" tanya Si botak.
"Mana aku tahu udah belikan saja," jawab Susi.
Akhirnya mereka membelikan Jesica tespack. Setelah mendapatkan tespack tersebut Jesica segera melakukan tes.
Jesica merasa takut jika benar-benar hamil. Apalagi saat ini dia jauh dari Bara. Dia tak mungkin bisa melewati semua sendiri.
"Bik, apa mungkin aku hamil ya?" tanya Jesica.
"Bisa jadi, soalnya kemarin-kemarin Non suka makan yang asem-asem," jawab Susi.
"Aku kangen suamiku, Bik. Pengen banget aku ketemu dia," kata Jesica.
"Non, sepertinya hasil tesnya udah bisa di lihat," kata Susi mengingatkan.
Jesica beranjak ke kamar mandi untuk mengambil tespack yang sudan dia gunakan tadi.
Di ambilnya tespack itu dari dalam wadah urine lalu bekas urine dibuang dan dicuci bersih.
Jesica deg-degan saat melihat hasilnya. Dia takut jika benar-benar hamil dan tidak ada Bara di sampingnya. Perlahan Jesica melihat ke arah tespack tersebut. Dia terkejut melihat hasil yang dia lihat.
"Non, bagaimana hasilnya?" tanya Susi mengetuk pintu kamar mandi.
Jesica ke luar dari kamar mandi dan memperlihatkan tespack tersebut kepada Susi.Susi ikut terkejut saat melihat hasilnya.
Jesica tiba-tiba saja jatuh pingsan. Susi meminta bantuan pada penjaga untuk membawa Jesica ke atas tempat tidur.
__ADS_1
"Dia kenapa, Bik?" tanya ketua penjaga.
"Non ternyata....," ucapan Susi terhenti karena ada panggilan masuk di ponsel ketua penjaga.