
"Sok tahu kamu," kilah Amelia.
"Aku dengar pembicaraan kamu dengan Kiki. Wajar sih kalau kalian lakukan itu supaya laris manis," kata Edwin.
"Ngaco kamu," Amelia meninggalkan Edwin.
Amelia kesal dengan Edwin, dia tak mau Edwin terus membahas masalah susuk padanya. Kiki yang tahu Amelia kesal teru saja menggodanya.
"Kenapa marah? Dia gak mau booking kamu?" tanya Kiki.
"Dia tahu kalau kita pakai susuk," bisik Amelia di telinga Kiki.
"Udah biarkan aja jangan terlalu di pikirkan," ucap Kiki.
Mereka kembali bekerja, sementara Edwin memilih untuk pulang. Ternyata Alex sudah menunggu Edwin pulang.
"Edwin, pertemukan aku dengan Amelia," kata Alex.
"Untuk apa?" tanya Edwin.
"Aku mau memastikan di mana keberadaan anaknya," jawab Alex.
"Om udahlah gak usah cari anak itu lagi. Om aja apa-apa bergantung pada orang lain pakai mau cari anak itu," bantah Edwin.
"Diam kamu Edwin, turuti saja mauku," bentak Alex.
"Oke besok aku antar ke bar. Tapi aku gak mau kalau sampai Amelia tahu siapa aku," kata Edwin.
"Baiklah," ucap Alex.
Edwin kesal karena Alex masih mengharapkan anak cacat itu. Padahal dia ingin menikmati harta bagian Alex sendiri.
***
Sesuai janjinya Edwin membawa Alex ke bar. Di sana Alex melihat Amelia.
"Amelia, aku mau bicara," kata Alex.
"Bicara aja," kata Amelia.
"Di mana anak itu?" tanya Alex.
"Aku gak tahu, aku belum menemukan dia," jawab Amelia.
"Temukan segera dan langsung saja lakukan Tes DNA jika sudah ketemu," ucap Alex.
"Kenapa kamu ingin sekali tahu apa dia anakmu atau bukan? Dulu saja kamu gak pernah mau bertanggung jawab," bantah Amelia.
"Aku hanya ingin memberikan haknya," ucap Alex.
"Harta 15% itu hanya sedikit Alex, lagian dia masih kecil," ucap Amelia.
"Kan bisa aku berikan padamu," kata Alex.
"Baiklah, kalau dia terbukti anakmu maka kamu harus tanggung jawab," kata Amelia.
Edwin kesal Alex malah akan memberikan hartanya pada anak cacat itu. Padahal selama ini Edwin yang telah merawat Alex.
Alex pulang, di tempat parkir dia langsung naik ke mobil di bantu Edwin.
Sampai di rumah Edwin marah besar.
"Aku yang merawat kamu aja gak dapat apa-apa,tapi anak cacat itu yang gak tahu apa-apa dapat jatah," bentak Edwin.
"Itu kan kalau dia terbukti anakku, kalau bukan kamu bisa memilikinya," ucap Alex.
"Oke, aku harap dia bukan anakmu," kata Edwin.
Edwin sejak awal merawat Alex hanya karena mengincar hartanya. Namun, dia gak akan mau kalah dengan anak bayi itu.
***
Kehamilan Mona sudah mulai terlihat, dia selalu menyidam berbagai makana. Namun, Bara selalu siaga dengan apa yang Mona mau.
"Mas, makan lontong," kata Mona pagi itu.
Bara langsung mencari penjual lontong. Beruntung banyak penjual lontong di pagi hari.
Setelah makan lontong, Mona santai saja di depan televisi. Bara pamit untuk berangkat kerja.
"Mas, jangan lembur ya!" pinta Mona.
"Iya sayang," ucap Bara mencium kening Mona.
Kehamilan membuat berat badan Mona naik drastis. Bagaimana tidak setiap apa yang Mona mau, pasti selalu dituruti Bara.
"Bosan di rumah mau jalan-jalan," kata Mona.
Mona segera mandi, dia jalan-jalan ke mall. Tanpa sengaja Mona menabrak sorang pemuda.
"Maaf ya, Mas," ucap Mona.
Pria itu tak lain adalah Edwin. Edwin terkejut bertemu Mona namun dia sadar Mona tak mengenalnya karena waktu itu dia menyamar.
"Loh bukannya Mas yang waktu itu cari kerja ya?" tanya Mona masih ingat saat Edwin melamar kerjaan di rumahnya namun di tolak.
"Oh iya, Mbak. Sayangnya Mbak gak butuh tenang saya," jawab Edwin. "Mbak mau belanja?" tanya Edwin.
"Iya, aku mau belanja. Kenalkan aku Mona, kamu siapa?" tanya Mona.
"Aku Edwin, Mbak," jawab Edwin.
"Panggil aja Mona," ucap Mona.
"Aku ini lagi hamil, sepertinya aku butuh supir. Kamu masih butuh kerjaan gak?" tanya Mona.
"Masih, Mbak," jawab Edwin.
Tentu saja Edwin mau, dia ingin tahu bagaimana rumah tangga Bara dan Mona sakarang.
Edwin menemani Mona belanja, dia tampak akrab dengan Mona.
***
__ADS_1
Malam itu Mona mengatakan pada Bara jika dia butuh supir.
"Mas, aku butuh supir. Gimana kalau aku cari supir biar aku gak nyetir sendiri?" tanya Mona.
"Boleh, mau cari sendiri apa aku carikan?" tanya Bara.
"Biar aku cari sendiri saja, Mas," jawab Mona.
Mona yang sudah meminta nomor ponsel Edwin lalu mengirim pesan agar besok pagi Edwin datang ke rumahnya. Mona tahu Edwin butuh pekerjaan itu. Bagi Mona tak ada salahnya membantu orang lain.
"Mas, aku udah dapat orangnya. Besok pagi dia akan ke sini," kata Mona.
"Oke kamu atur saja," ucap Bara.
Sudah larut malam, Mona mengajak Bara untuk segera tidur.
***
Hati Edwin berbunga-bunga saat mendapat pesan dari Mona. Dia dulu sering memperhatikan Mona, dia bahkan menaruh hati pada Mona secara diam-diam.
"Akhirnya Mona masuk dalam perangkap. Aku harus manfaatnya situasi ini," kata Edwin.
Alex yang melihat Edwin senyum-senyum sendiri merasa aneh.Bagaimana tidak Edwin seperti orang yang sedang jatuh cinta.
"Ngapain kamu senyum-senyum gitu? Baru dapat lotre?" tanya Alex.
"Bukan, Om. Aku dapat kerjaan jadi supir. Jadi mulai besok aku gak akan nganggur lagi," jawab Alex.
"Syukurlah! Semoga kamu betah," ucap Alex. "Kamu kerja di mana?" tanya Alex.
Edwin terdiam, dia tak mungkin memberitahu Alex kalau akan kerja di rumah Mona.
"Oh itu jadi supir yang antar paket pakai mobil," jawab Edwin asal.
"Kerja yang rajin biar bisa jadi kebanggaan almarhum papamu," kata Alex.
"Iya, Om," jawab Edwin.
Malam itu Edwin menyiapkan baju yang akan dia pakai besok. Dia ingin tampil cakep di depan Mona. Dia tidak mau kalah dengan Bara.
***
Pagi pukul 06.20 Edwin sudah sampai di rumah Mona.
"Mas, ini namanya Edwin. Dia yang akan menjadi supirku," kata Mona.
Bara melihat Edwin, dia mendadak khawatir karena supir yang dibawa Mona masih muda. Bahkan usianya dibawah Bara.
"Kamu sudah pernah bekerja?" tanya Bara.
"Sudah , tapi saya dipecat karena saya terlalu muda," jawab Edwin. "Kata majikan saya, dia takut istrinya naksir saya," sindir Edwin padahal itu hanya cerita yang dibuat sendiri.
"Hahahah emang kamu doyan jadi simpenan tante-tante?" tanya Mona.
"Ya kan Tante-tantenya yang ngajakin, Bu. Udah nolak tapi diancam terus," jawab Edwin.
"Kamu di sini tenang aja, aku gak akan kaya gitu. Lagi pula aku sayang banget sama Mas Bara," ucap Mona.
"Tunggu aja Mona! Aku akan rebut kamu dari Bara," kata Edwin dalam hati.
Bara memilih diam jika Mona sudah berkata seperti itu. Dia percaya Mona tak akan berhianat.
"Sayang, aku berangkat dulu! Kamu hati-hati ya di rumah!" kata Bara.
"Sayang, aku mau ke rumah mama. Gak apa-apa, kan?" tanya Mona.
"Iya, kalau sampai sana kabari aku," jawab Bara.
Setelah bersiap, Mona mengajak Edwin ke rumah Helena. Helena menyambut baik kedatangan Mona.
"Mona, siapa dia?" tanya Helena.
"Kenalkan, Ma. Dia Edwin, supir barunya Mona," jawab Mona.
"Salam kenal ya saya Helena mamanya Mona," ucap Helena.
"Salam kenal kembali, Bu," balas Edwin.
Jeslyn libur kuliah, melihat Edwin mendadak hatinya berbunga-bunga.
"Siapa dia, Kak?" tanya Jeslyn yang baru saja keluar.
"Supir baruku, namanya Edwin," jawab Mona.
"Udah ngobrol aja sama Edwin, aku mau ngobrol berdua sama mama," kata Mona meninggalkan Edwin dengan Jeslyn.
"Kenalin aku Jeslyn, aku adiknya Kak Mona," ucap Jeslyn.
"Salam kenal kembali," jawab Edwin.
Mereka duduk di teras dan mengobrol banyak sekali. Jeslyn merasa kagum dengan Edwin namun Edwin dekat dengan Jeslyn hanya untuk mencari simpati saja.
***
Bara bercerita pada Marino jika Mona punya supir baru dan masih muda. Marino menggoda Bara.
"Hati-hati entar Mona diembat sama supirnya," kata Marino.
"Jangan bikin takut dong. Aku yakin Mona gak kaya Amelia," kata Bara. "Oh ya mengenai tes DNA Angel dan Alex sudah saya urus. Beruntung aku masih menyimpan sisir milik Alex di rumah. Lumayan aku bisa menemukan bekas rambutnya," kata Bara.
"Bagaimana kalau dia memang anak Alex?" tanya Marino.
"Itu artinya dia berhak atas bagian 15% milik Alex," jawab Bara.
"Aku mulai galau," kata Marino.
"Udah tenang saja," kata Bara.
Khadijah masuk ke ruangan Marino, dia mengatakan bahwa siang ini ada rapat. Jadi Marino di suruh segera bersiap.
"Khadijah, kamu temani aku rapat ya," kata Marino.
"Baik, Pak," jawab Khadijah lala pamit undur diri.
__ADS_1
Bara yang melihat sejak tadi Marino menatap Khadijah dengan pandangan aneh.
"Cantik juga ya Khadijah. Udah gitu dia menutup aurat," kata Bara.
"Iya, bagus itu," kata Marino.
"Kakak gak naksir Khadijah?" tanya Bara.
"Aku sadar kekuranganku, Bara. Jadi aku gak mau berharap lebih karena aku punya kekurangan," jawab Marino. "Kalau orangnya terima kita apa adanya sih oke, kalau tidak yang ada sakit hati," sambung Marino.
Apa yang dikatakan Marino benar. Meskipun Marino punya kekurangan tetap saja dia berhak mendapatkan kebahagiaan.
"Mona bilang, dia akan jodohkan kamu dengan Khadijah," kata Bara.
"Apa? Ngawur aja istrimu," kata Marino. "Aku bukan anak kecil atau remaja jadi gak perlu di jodohkan," bantah Marino.
Tidak berapa lama Khadijah datang, dia sudah siap menemani Marino rapat.
"Khadijah, kamu sudah kerja dimana saja?" tanya Marino.
"Oh ya biasanya kerja jadi admin di salah satu perusahaan, Pak. Hanya saja saya sudah gak cocok di sana," jawab Khadijah.
Marino tersenyum mendengar suara Khadijah yang lembut. Dia tak pernah melihat wanita selambut Khadijah.
"Kamu kenapa belum menikah?" tanya Marino.
"Belum ada yang cocok, Pak," jawab Khadijah.
"Semoga lekas ketemu jodohnya," ucap Marino.
Khadijah hanya membalas ucapan Marino dengan senyuman. Dia merasa grogi kalau dekat dengan Marino.
***
Mona mengajak Jeslyn dan Helena untuk makan siang di luar. Mona meminta Edwin untuk makan bersama mereka.
"Edwin, Jeslyn itu jomblo loh," kata Mona.
"Masa sih, Bu. Cewek secantik Jeslyn jomblo, gak percaya aku!" ucap Edwin memuji Jeslyn.
Jeslyn serasa terbang ke awan mendapat pujian dari Edwin.
"Benaran aku jomblo," kata Jeslyn.
"Kode tuh," kata Mona.
"Udah jangan ngobrol terus, kita makan aja," tegur Helena.
Mereka berempat makan bersama. Edwin sudah dianggap teman oleh Mona jadi dia mengajak Edwin makan satu meja.
Selesai makan,Mona mengajak Helena untuk singgah ke sebuah pusat yoga ibu hamil. Mona akan daftar Yona di sana. Semantara Edwin dan Jeslyn menunggu di mobil.
"Kamu emang jomblo ya," kara Edwin.
"Iyalah, masa aku kelihatan bohong," kata Jeslyn.
"Gak ada sih," kata Edwin. "Jadi ada temannya jomblo," kata Edwin.
"Kamu juga jomblo?" tanya Jeslyn antusias.
"Iya, aku pernah pacaran tapi diputusin karena aku miskin," jawab Edwin.
"Mantan kamu pasti nyesel mutusin kamu," kata Jeslyn.
"Semoga saja aku dapat penggantinya yang bisa terima aku apa adanya," kata Edwin.
Jeslyn benar-benar kagum dengan sosok Edwin. Dia ingin sekali mendampingi Edwin.
Tidak berapa lama Mona dan Helena kembali. Mereka mengantar Helena san Jeslyn pulang. Setelah itu Mona minta pulang karena ingin istirahat.
"Edwin, menurut kamu Jeslyn bagaimana?" tanya Mona.
"Dia cantik, baik dan juga ramah," jawab Edwin.
"Aku ingin dia segera berjodoh, kasihan kalau jomblo melulu. Kan dia bentar lagi jadi tante," kata Mona. "Mau gak aku jodohin dengan Jeslyn?" tanya Mona.
Edwin terkejut, dia gak menyangka Mona menawarkan adiknya. Edwin pikir tak apa dapat adiknya dulu sebelum kakaknya.
"Kalau dia mau terima aku apa adanya tidak masalah, Bu," jawab Edwin.
"Nanti aku bicarakan sama dia. Aku lihat kalian cocok dan serasi," ucap Mona.
"Masa sih, Bu," kata Edwin tak percaya.
Sampai di rumah Mona langsung istirahat. jam kerja Edwin selesai jadi dia pamit pulang pada Bik Murni karena Mona masih di kamar.
Malam itu Mona mengatakan pada Bara maksudnya untuk mendekatkan Edwin dan Jeslyn.
"Mas, aku mau Jeslyn dekat dangn Edwin. Menurut kamu bagaimana?" tanya Bara.
"Kamu yakin, apa tidak sebaiknya kamu selidiki dulu siapa Edwin. Dia baru sehari kerja di sini, masa iya kamu udah mau jodohkan dia sama Jeslyn," jawab Bara.
"Tapi mereka cocok, Mas. Aku lihat Jeslyn suka sama Edwin. Apa salahnya sih?" tanya Mona ngotot.
"Terserah kamu salalah. Tapi itu saranku tadi jangan lupa," kata Bara.
Mona kesal karena Bara tak setuju Mona menjodohkan Edwin dengan Jeslyn. Tapi Mona tetap ingin mereka dekat.
"Sejak kapan kamu jadi mak comblang? " tanya Bara. "Kemarin Kak Marino sama Khadijah, sekarang Jeslyn dan Edwin. Lama-lama nanti suamimu yang kamu jodohkan," kata Bara.
"Mas Bara kok gitu sih," protes Mona. "Mana mungkin aku jodohkan kamu, ngawur aja kalau ngomong," omel Mona.
"Habisnya kamu suka banget jodoh-jodohin orang," kata Bara.
"Ya aku tuh senang kalau lihat mereka bahagia," kata Mona.
"Ya kalau bahagia kalau sebaliknya apa kamu gak nyesel?" tanya Bara.
"Ih Mas Bara gak asyik banget," geruru Mona.
Dia langsung menarik selimut hingga menutup kepalanya karena kesal dengan Bara.
"Minta saran, di kasih saran gak terima. Dasar wanita," omel Bara.
__ADS_1