
"I...itu..," Mumun bingung harus jawab apa.
Tiba-tiba saja Alex datang.
"Min, udah sore. Pulang saja dulu. Ini udah dicari istrimu," kata Alex.
"Iya, Pak," jawab Paimin. "Ayo pulang, Bu!" ajak Paimin.
Mereka pulang, sementara Mumun masuk ke dalam rumah.
Alex tahu jika Mumun habis melakukannya dengan Paimin tapi dia tak bisa melarang Mumun.
***
"Baru pulang, Jes?" tanya Helena.
"I...iya, Ma," jawab Jeslyn.
Helena melihat Jeslyn dengan seksama. Dia melihat ada tanda merah di leher Jeslyn.
"Jes, leher kamu kenapa?" tanya Helena.
"Emang leherku kenapa, Ma?" tanya Jeslyn.
Jeslyn segera mengambil kaca di tasnya. Dia terkejut saat melihat ada bekas merah di lehernya.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Helena. "Apa Edwin? Kamu membohongi Mama?" tanya Helena.
Jeslyn tak menjawab, dia langsung saja masuk ke dalam kamar.
"Jes, jawab pertanyaan mama," teriak Helena.
"Ada apa, Ma?" tanya Suami Helena.
"Tadi mama melihat tanda merah si leher Jeslyn, Pa. Aku takut kalau dia melakukannya dengan Edwin," jawab Helena.
"Apa? Bagaimana bisa Jeslyn seceroboh itu?" tanya Suami Helena.
"Entah, dia tak menjawab ku," jawab Helena.
Sementara itu, Jeslyn panik. Dia takut papanya marah karena hal itu. Helena di luar tengah menelfon Mona dia menceritakan pada Mona.
"Apa? Kenapa Jeslyn melakukan itu?" tanya Mona tak percaya.
"Entah, dia tak mau jawab pertanyaan mama," jawab Helena.
Malam itu Mona mengajak Bara ke rumah Helena. Dia ingin bertanya pada jeslyn.
"Jes, buka pintunya!" pinta Mona di depan pintu kamar Jeslyn.
Jeslyn membuka pintu, setelah Mona masuk pintu di tutup kembali.
"Dek, siapa yang melakukannya?" tanya Mona. "Mama sudah bercerita," kata Mona.
Jeslyn malah menangis, dia tak bisa menjawab pertanyaan Mona.
__ADS_1
"Jawab, Dek. Apa itu ulah Edwin?" tanya Mona.
Jeslyn menganggukkan kepala.
"Kenapa kamu melakukan itu, Dek? Kamu kan tahu kalau dia keponakan Alex," kata Mona.
"Jangan salahkan aku terus, Kak. Kalian yang salah, apalagi kamu udah menjodohkan aku dengan Edwin. Jangan salahku aku kalau ini terjadi," bantah Jeslyn.
"Dia punya niat jahat sama keluarga kita, Dek. Makanya kakak sama mama minta kamu jauhi dia," kata Mona.
"Kakak kira mudah? Aku terlanjur jatuh cinta tapi kakak malah meminta aku melupakan dia," Jeslyn sangat kesal dengan Mona. "Kakak jahat," kata Jeslyn.
"Kakak sayang sama kamu. Kakak gak mau kamu di sakiti," kata Mona.
"Aku gak peduli, aku harus tetap menikah dengan Edwin. Kalaupun kalian tidak setuju," bantah Jeslyn.
"Dek, jangan dek. Dia gak baik buat kamu. Nyatanya dia melakukan ini sama kamu," kata Mona.
"Pergi dari sini aku gak mau lihat kamu," kata Jeslyn mendorong Mona.
Mona terhuyung, Helena yang melihat kelakuan Jeslyn langsung marah.
"Jeslyn, kakakmu sedang hamil. Kenapa kamu dorong?" tanya Helena. "Edwin sudah membawa pengaruh buruk buat kamu," kata Helena.
"Jangan salahku Edwin! Aku benci kalian semua. Aku akan tetap menikah dengan Edwin," bantah Jeslyn.
"Kalau kamu nekat nikah sama Edwin, papa gak akan anggap kamu anak lagi," kata Papa Jeslyn.
"Kalian jahat, aku benci kalian," kata Jeslyn.
"Anak itu keterlaluan," kata Helena.
"Dia lagi emosi, Ma. Biarkan dia sendiri dulu," kata Mona.
Mona tak menyangka Edwin melakukan itu pada Jeslyn. Mona ingin melabrak Edwin tapi dia tak tahu dimana Edwin tinggal.
***
Mona sedih karena dia, Jeslyn mengalami hal ini. Awalnya Mona hanya ingin Jeslyn bahagia tapi ternyata dia salah memilih orang.
"Mas, aku ingin datangi Edwin," kata Mona.
"Jangan, Sayang! Aku takut dia melakukan hal buruk padamu," cegah Bara.
Mereka kini dalam perjalanan pulang, Mona tak tahan melihat Jeslyn di sakiti.
"Mas, bagaimana kalau Jeslyn nekat menikah dengan Bara?" tanya Mona.
"Kita beri Jeslyn pengertian sedikit demi sedikit. Aku yakin dia nanti akan faham," jawab Bara.
"Kalau sampai dia hamil bagaimana? Mereka udah melakukannya," kata Mona.
Bara tak bisa komentar apa-apa jika mereka telah melampaui batas. Dia hanya berharap Jeslyn tidak hamil agar pernikahan bisa dibatalkan.
***
__ADS_1
Edwin tengah merayakan kesuksesan rencananya dengan Putri. Mereka tengah makan enak di rumah Kumala.
"Aku yakin keluarga Jeslyn sedang marah. Mereka kira aku akan menyerah begitu saja," kata Edwin.
"Semoga aja Jeslyn hamil, biar kalian jadi menikah," kata Putri. "Kalau dia gagal nikah pasti malu sama teman kampus," ucap Putri.
Edwin tengah bersenang-senang di atas penderitaan Jeslyn.
Jeslyn hanya bisa menangis di dalam kamar. Dia tak bisa keluar kamar untuk berkumpul dengan orang tuanya. Dia takut papanya semakin marah.
"Jes, makan!" panggil Helena.
Jeslyn keluar dan makan bersama kedua orang tuanya.
"Papa kecewa sama kamu," kata Papa Jeslyn saat mereka makan. "Kenapa kamu mudah sekali percaya dengan Edwin? Karena kalian sudah tunangan?" tanya Papa Jeslyn.
"Kami melakukan itu sebelum kalian memberitahuku kalau dia keponakan Alex," jawab Jeslyn.
"Lalu kemarin kalian mengulanginya lagi, kan?" tanya Helena.
"Aku malas kalau kalian selalu menyudutkan aku. Kalian juga salah karena pernah percaya pada Edwin," bantuan Jeslyn. "Jangan salahkan aku kalau aku tetap mau menikah dengan dia," kata Jeslyn.
Dia tak menghabiskan makanannya. Dia kembali ke kamar dan mengurung diri.
Kabar pernikahan Jeslyn yang gagal sudah menyebar ke kampus. Semua teman Jeslyn membicarakan Jeslyn. Tentu saja Jeslyn semakin malu dan terpuruk.
"Aku harus bagaimana? Apa aku harus melanggar perintah papa?" tanya Jeslyn. "Bagaimana kalau aku hamil?" tanya Jeslyn bingung.
Menyesal jelas, tapi semua sudah terlambat. Sementara Jeslyn akan menghindari Edwin agar mereka tak melakukan hal itu lagi. Dia tidak mau suasana semakin keruh.
***
Siang itu Mona makan di luar bersama Bara. Dia melihat Edwin juga makan di sana bersama Putri.
"Edwin, tega ya kamu menyakiti Jeslyn," kata Mona.
"Salah siapa kalian mau batalkan pernikahan kami. Aku jelas tidak rela," kata Edwin. "Ingat aku gak akan menyerah, Jeslyn akan tetap menikah denganku," kata Edwin.
"Gak akan, aku gak akan rela Jeslyn bersama pria brengsek seperti kamu," bantah Mona.
"Sayang, sudah jangan lagi dengarkan dia. Mendingan kita pergi," kata Bara.
"Gak, Mas. Aku harus kasih dia pelajaran," kata Mona.
Tangan Mona hendak menampar Edwin tetapi di tepis oleh Edwin.
"Kamu gak akan bisa menyakiti aku, Mona," kata Edwin. "Sebenarnya tujuan utamaku justru mendekati kamu, tapi malah kamu jodohkan aku dengan adikmu, jadi aku ikuti saja apa mau kamu. Namun, setelah aku dekat dengan adikmu kamu tega mau memisahkan kita," kata Edwin.
Dugaan Bara benar, Edwin punya niat jahat pada keluarganya. Tapi Mona selalu membela Edwin waktu itu.
"Dasar gila," umpat Mona.
Mona merasakan perutnya keram karena emosimya terlalu tinggi.
"Auuu sakit," ucap Mona.
__ADS_1
Bara lalu membawa Mona pergi dari sana. Dia tak mau terjadi sesuatu pada kandungan Mona.