
Marino melihat Saskia mendekatinya. Dia tak tahu mengapa Saskia datang ke tempat seperti ini.
"Ada apa kamu ke mari?" tanya Marino.
"Aku hanya memastikan kamu baik-baik saja," jawab Saskia. "Aku dengar hidupmu memprihatinkan, tapi memang benar adanya," kata Saskia.
"Kalau kamu datang hanya untuk menertawakan aku, lebih baik kamu pulang. Tempat ini tidak cocok untukmu," kata Marino.
"Oke bye," kata Saskia meninggalkan Marino.
Saskia melenggang pergi tanpa menolah kembali ke belakang.
***
Sore itu Jesica, Bara dan Liana ke makam Sonya.
"Mama di sana jangan sedih, yakinlah semua akan baik-baik saja," kata Jesica.
"Maafkan Bara, Ma. Bara tak bisa membuat papa sadar," kata Bara.
Suasana haru di depan makam Sonya. Seorang pria memperhatikan mereka dari kejauhan sambil menelfon.
"Mereka datang ke makam Bu Sonya," kata pria itu.
Setelah ke makam, Bara mampir ke minimarket. Mereka akan membeli keperluan untuk pendakian besok.
"Sayang, beli makanan buat besok pendakian ya. Kalau alat seperti kompor dan yang lain di rumah sudah ada," kata Bara.
Jesica memilah-milah beberapa makanan untuk mereka besok. Setelah selesai belanja mereka pulang.
***
Paginya mereka berangkat mendaki membawa mobil. Sampai di tempat tujuan mereka menitipkan mobil di tempat penitipan.
"Sayang, ayo kita naik!" ucap Bara.
Mereka mulai mendaki, ternyata pendakian kali ini lumayan sepi. Mungkin karena bukan waktu liburan kampus jadi jarang ada yang mendaki.
Bara dan Jesica menikmati pendakian mereka. Bara membawa tas berisi tenda dan peralatan masak. Sementara tas yang dibawa Jesica berisi makanan dan baju ganti.
Perjalanan pendakian kali ini lebih menyenangkan bagi Bara. Dia melakukannya bersama orang yang dia cintai.
"Masih lama ya," kata Jesica setelah hampir dua jam berjalan.
"Sebentar lagi sampai, apa kamu capek?" tanya Bara.
"Oh tidak," jawab Jesica.
Benar saja sekitar lima belas menit mereka telah sampai. Mereka istirahat sebentar lalu mendirikan tenda.
Tidak berapa lama setelah mereka mendirikan tenda datang tiga orang. Satu perempuan dua laki-laki.
"Halo, Kak. Salam kenal saya Firdaus," sapa seorang laki-laki bernama Firdaus pada Bara.
"Halo, salam kenal kembali. Saya Bara dan ini istri saya Jesica," balas Bara.
"Wah aku kira tadi kalian masih pacaran ternyata sudah menikah," kata Firdaus. "Aku pasang tenda dulu ya kak," kata Firdaus sedikit menjauh dari kami.
Kedua temannya sudah memasang tenda masing-masing.
Bara mengajak Jesica untuk jalan-jalan ke area pendakian. Ada pemandangan bagus yanv wajib Jesica lihat.
"Sayang, lihat pemandangan di sana," ucap Bara.
"Wah, bagus sekali sayang," kata Jesica. "Pantas kamu suka mendaki ternyata pemandangannya sangat bagus," sambung Jesica.
Bara memeluk Jesica dari belakang. Mereka menikmati pemandangan alam sekitar dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Kamu suka kan aku ajak mendaki?" tanya Bara.
"Suka sekali,kamu kan tahu aku suka pemandangan bagus kaya gini," jawab Jesica. "Di sini ada air terjun gak, sayang?" tanya Jesica.
"Ada, kamu mau ke sana?" tanya Bara.
"Tentu," jawab Jesica tersenyum.
Bara mengantarkan tuan putri ke tempat air terjun. Jesica tersenyum kembali saat melihat pancuran air terjun.
"Mau mandi di sana?" tanya Bara.
"Aku kan gak bawa baju ganti," jawab Jesica. "Airnya juga sangat dingin mana aku betah," sambungnya.
"Entar malam aku hangatin," kata Bara.
"Ih apaan sih. Emang boleh gituan di hutan kaya gini?" tanya Jesica. Maklum dia baru pertama mendaki pasti parno.
"Boleh, asal lakinya di tenda. Jangan di sembarang tempat," jawab Bara.
Jesica main air di temani oleh Bara. Tidak berapa lama datang Firdaus dan kedua temannya.
"Wah aku udah keduluan kakak nih," kata Firdaus.
__ADS_1
"Kenapa baru ke sini?" tanya Bara.
"Tuh tadi si Dewi merengek minta balik," jawab Firdaus. "Maklum gak pernah mendaki katanya takut," sambung Firdaus.
Jesica mendekati Dewi, "Hai kenalkan aku Jesica," kata Jesica.
"Aku Dewi, kakak udah sering mendaki?" tanya Dewi.
"Tidak, aku baru pertama kali," jawab Jesica. "Jangan takut, kan ada kami," sambung Jesica.
Dewi hanya tersenyum saja lalu bermain air.
Mereka kembali ke tenda karena hari sudah sore. Tadi mereka juga sudah sekalian mandi. Dan akhirnya Jesica kedinginan.
Bara dan Firdaus segera membuat api unggun. Dia tak ingin Dewi dan Jesica semakin kedinginan karena habis mandi di air terjun.
Mereka juga memasak mie instan dan beberapa makanan. Jesica membawa sosis dan makanan lain sebagai pendamping.
"Mau di sini berapa hari, Kak?" tanya Firdaus.
"Mungkin dua hari saja," jawab Bara.
"Wah, kalau kami sih pulang kalau udah bosan," kata Firdaus.
"Kalian sepertinya tidak membawa banyak persediaan makanan," kata Bara.
"Iya, kami hanya membawa seperlunya saja," kata Firdaus.
Terlihat Jesica dab Dewi tengah berbincang-bincang. Entah apa yang mereka bicarakan namun tampak asyik.
"Kak Jesica udah nikah berapa lama?" tanya Dewi.
"Baru beberapa bulan," jawab Jesica.
"Wah pengantin baru dong. Apa ke sini dalam rangka bulan madu?" tanya Dewi.
"Ya begitulah," jawab Jesica. "Kalian masih kuliah atau tidak?" tanya Jesica.
"Kami teman kerja, udah gak kuliah," jawab Dewi.
Dewi menceritakan pengalaman waktu kecil bersama ayahnya. Ternyata ayahnya juga suka mendaki dan Dewi pernah di ajak sekali sewaktu kecil. Namun, Dewi punya pengalaman pahit saat mendaki, dia digigit ular.
"Sekarang sepertinya lebih aman, tempat-tempat pendakian banyak yang udah terawat," kata Jesica.
"Iya, beda waktu dulu saat aku dan ayah mendaki masih banyak rerumputan dan bukit-bukit bersemak. Pantas jika banyak ular," kata Dewi.
Mereka mengobrol hingga pukul 9 malam. Dewi dan Jesica sudah mengantuk, jadi mereka tidur lebih awal.
"Kak, istrinya udah masuk tenda itu. Itu kode loh," kata Firdaus.
"Meskipun belum nikah tapi aku tuh peka sama perempuan," kata Firdaus.
"Ya sudah, aku nyusul Jesica. Kalian jangan bergadang malam-malam," kata Bara lalu masuk ke tenda.
"Kirain masih mau ngobrol," kata Jesica saat Bara masuk tenda.
"Kata Firdaus kamu udah ngode," ucap Bara.
"Sok tahu bangets sih Firdaus," kata Jesica malu.
"Kok malu-malu, jadi bener dong," kata Bara.
Akhirnya mereka melakukan ritual suami istri dengan hati-hati. Mereka tak mau Firdaus dan temannya dengar. Bahaya jika mereka mendengar karena bisa jadi mereka besok akan digoda.
"Enak tuh kalau udah nikah," kata Firdaus.
"Makanya nikah lalu kaya Kak Bara istrinya ajak honeymoon ke tempat pendakian," kata Imron.
"Dewi udah ngorok ya," kata Firdaus.
"Udah kali, nyatanya gak ada," kata Imron. "Kamu beneran naksir Dewi?" tanya Imron.
"Kenapa memang? Dia baik," jawab Firdaus.
"Iya sih baik, tapi sedikit manja," jawab Imron.
"Biasa perempuan emang gitu," kata Firdaus.
Saat tengah mengobrol, Firdaus seperti melihat seseorang sedang mengintai mereka dari balik pohon.
Firdaus mencari keberadaan orang itu namun tak ada.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Imron.
"Kaya lihat orang tadi aku," jawab Firdaus. "Tapi ternyata gak ada," sambungnya.
"Kamu halu kali," kata Imron. "udah malam, aku mau tidur duluan," kata Imron.
"Oke tidur aja dua jam entar gantian," kata Firdaus.
Mereka berdua tidur bergantian, sementara Dewi, Bara dan Jesica tidur dengan nyenyak sekali.
__ADS_1
***
"Firdaus mata kamu kok merah," kata Jesica.
"Maklum Kak, semalam kurang tidur. Aku gantian jaga sama Imron," kata Firdaus.
"Nih kopi," kata Dewi menyodorkan segelas kopi pada Firdaus.
Setelah sarapan, mereka ke sungai untuk mandi. Jesica dan Dewi mandi secara bergantian. Setelah itu mereka berpisah. Bara dan Jesica memilih jalan berdua.
"Mas, kamu yakin mereka semalam gak dengar kita?" tanya Jesica.
"Sepertinya tidak, lagian mereka pasti tahulah," jawab Bara.
"Aku kok jadi malu," kata Jesica.
"Udah ayo kita jalan," kata Bara. "Besok kita udah balik jadi kita nikmati saja pendakian cinta kita," sambung Bara.
Mereka berjalan, ternyata ada juga pendaki lain. Tapi mereka mendirikan tenda di tempat lain.
"Ternyata di sini lebih ramai yang mendaki," kata Jesica.
"Enakan yang sepi loh," goda Bara.
"Ah kamu mesum," kata Jesica.
Jesica merasa ada yang mengikuti mereka. Namun, saat Jesica menoleh ke belakang dia tak melihat siapapun.
"Ada apa?" tanya Bara.
"Kaya ada yang ngikutin kita," jawab Jesica.
"Mungkin Firdau Dkk," kata Bara tersenyum.
Bara dan Jesica terlihat sangat bahagia. Waktu bersama yang sangat indah untuk di kenang.
"Mas, apa kamu yakin kita akan bersama terus?" tanya Jesica.
"Tentu," jawab Bara. "Kita tetap bersama dalam suka maupun duka," kata Bara.
"Aku merasa seperti akan berpisah dengan kamu dalam waktu yang cukup lama," kata Jesica tiba-tiba sedih.
"Sudah jangan sedih. Kamu akan tetap di samping aku," kata Bara.
Mereka kembali menikmati pemandangan, setelah siang mereka kembali ke tenda. Ternyata Firdaus dan Imron sudah memasak.
"Makan,Kak!" tawar Imron.
"Duluan aja," jawab Bara.
Bara dan Jesica masak bersama, lalu menawarkan sosis dan makanan lain pada Firdaus Dkk.
"Kak, udah ke kebun teh?" tanya Firdaus.
"Belum,emang ada ?" tanya Bara. Dulu dia ke sini belum ada kebun teh.
"Ada, nanti kami kau ke sana. Bagaimana kalau kalian ikut?" tanya Firdaus.
"Oke kita ikut," sahut Jesica.
Mereka berjalan ke kebun teh, ternyata jaraknya cukup jauh. Namun, sampai sana mereka senang melihat pemandangan kebun teh yang sangat luas.
Firdaus mengajak Dewi untuk berpisah dari Jesica dan yang lain.
"Imron, kamu gak ikut mereka?" tanya Bara.
"Gak, Kak. Sepertinya Firdaus mau menyatakan cintanya sama Dewi. Biarkan aja mereka berdua," jawab Imron.
"Jadi Firdaus suka sama Dewi?" tanya Jesica.
"Iya, dia naksir Dewi udah lama," jawab Imron.
Mereka bertiga jalan kembali. Karena sudah sore,mereka kembali ke tenda. Ternyata Firdaus dan Dewi sudah kembali duluan.
"Gimana sukses?" tanya Bara pada Firdaus.
"Heheheh begitulah," jawab Firdaus tertawa.
Jesica tidak melihat Dewi, jadi dia datang ke tenda Dewi.
"Dewi...Dewi..," panggil Jesica.
Tak ada sahutan, Jesica membuka tenda Dewi namun kosong.
"Firdaus, Dewi mana?" tanya Jesica.
"Bukannya tadi mau istirahat di dalam tenda. Tadi aku lihat dia masuk tenda sebelum kalian datang," jawab Firdaus.
"Gak ada," kata Jesica mendekati Firdaus.
Firdaus terlihat panik, Dewi tidak hafal jalanan di sini jadi dia tak mungkin kemana-mana sendiri.
__ADS_1
"Kita cari Dewi," kata Firdaus.
Bara dan Jesica mencari Dewi begitu juga dengan Imron dan Firdaus.