Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Mona Pendarahan


__ADS_3

"Mas, sakit," ucap Mona.


"Sabar sayang, kita ke rumah sakit," kata Bara.


Bara melajukan mobilnya dengan cepat. Dia tak ingin terjadi sesuatu pada Mona dan janinnya.


"Sakit, Mas," kata Mona.


Sampai di rumah sakit, Bara langsung menurunkan Mona dan membawanya menggunakan kursi roda yang ada di depan.


"Sus, tolong istri saya!" pinta Bara.


Perawat segera membawa Mona untuk di lakukan pemeriksaan. Bara menunggu di luar dengan cemas.


Sudah beberapa jam Mona di dalam, Perawat belum ada yang keluar.


"Dengan keluarga Bu Mona," kata Dokter.


"Iya, Dok. Saya suaminya," kata Bara.


"Bu Mona mengalami pendarahan, namun janinnya baik-baik saja. Sekarang siap dipindahkan ke ruang rawat. Jadi bapak silahkan urus administrasinya," kata Dokter.


Bara langsung mengurus administrasinya. Dan Mona di pindahkan ke ruangan VIP.


"Mas apa kata Dokter?" tanya Mona.


"Kamu pendarahan, tapi janinnya tidak apa-apa," jawab Bara.


"Sus, apa penyebab istri saya pendarahan ya?" tanya Bara.


"Biasanya faktor banyak pikiran, Pak. Kalau bisa Bu Mona biarkan istirahat total dulu. Jangan terlalu banyak aktivitas," jawab perawat.


"Baik, Dok," ucap Bara.


Bara tahu Mona pasti memikirkan Jeslyn. Dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Jeslyn saat ini.


Bara tidak lupa memberi kabar pada Helena. Tidak berapa lama Helena dan suaminya datang. Mereka tampak khawatir dengan Mona.


"Bara, Mona bagaimana?" tanya Helena.


"Mona pendarahan, kata perawat karena banyak pikiran, Ma," jawab Bara. "Aku tahu dia pasti merasa bersalah pada Jeslyn," sambung Bara.


Mereka masuk ke ruangan Mona. Helena langsung memeluk Mona.


"Sayang, kamu jangan banyak pikiran. Soal Jeslyn dan Edwin biar mama dan papa yang urus," kata Helana.


"Iya, kamu fokus saja kehamilan kamu," sahut Papa Mona.


"Maafkan aku, Ma. Semua salahku Jeslyn jadi seperti ini," kata Mona.


"Sudah jangan menyalahkan dirimu. Soal ini kami juga salah karena mudah percaya dengan Edwin," kata Helena. "Sekarang kamu istirahat saja," sambung Helana.


***


Hubungan Alex dan Mumun makin panas. Mereka sering melakukaannya di rumah. Tak peduli lagi jika ada Paimin di sana.


Sementara Paimin tak mau lagi tergoda dengan Mumun. Dia takut dengan istrinya yang galak.


"Min, kamu ngapain?" tanya Mumun menggoda.

__ADS_1


"Mun, jangan seperti itu lagi. Aku takut kalau istriku tahu. mendingan kamu cari orang lain saja," jawab Paimin.


"Ya sudah, dikasih enak-enak malah gak mau," kata Mumun.


Saat itu Edwin datang ke rumah Alex. Dia menagih janji Alex karena Alex tak kunjung mentransfernya.


"Om, mana uang yang Om janjikan?" tanya Edwin.


"Oh ya aku lupa," kata Alex lalu mengambil ponselnya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Edwin.


Setelah mendapatkan uang, Edwin segera keluar dari rumah Alex. Di depan, Edwin dicegah Mumun.


"Mas Edwin, mau gak temani saya," kata Mumun.


"Maksudnya?" tanya Edwin.


Mumun segera memberi kode pada Edwin. Edwin tak menyia-nyiakan barang gratis yang ditawarkan Mumun.


Mereka diam-diam melakukannya di taman belakang.


***


Jeslyn masih terpuruk, dia menutup diri dari keluarga dan teman-temannya. Namun, dia tetap melakukan skripsinya. Dia ingin cepat lulus.


"Jes, apa kabar?" tanya Putri.


"Baik," jawab Putri singkat.


Baginya jika dia ingin menjauhi Edwin, maka dia juga harus menjauhi Putri.


"Jes, maaf ya. Karena aku kamu disakiti Edwin. Aku gak nyangka Edwin sejahat itu," kata Putri.


Jeslyn melihat Edwin ada di kampusnya. Dia tahu Edwin pasti mencarinya karena Jeslyn tak membalas pesannya.


"Jes, kamu kenapa?" tanya Edwin.


"Maaf Win kita gak bisa bersama lagi," jawab Jeslyn.


"Kamu yakin? Katanya kamu cinta sama aku. Mana buktinya? Baru begini aja kamu udah nyerah," kata Edwin. "Aku kecewa sama kamu," ucap Edwin kesal.


Jeslyn tak menghiraukan Edwin dia pergi begitu saja. Edwin semakin kesal karena Jeslyn mulai menjauhinya.


"Aku gak boleh gagal dapatkan dia," kata Edwin.


Edwin selalu ada rencana untuk membuat Jeslyn berlutut padanya.


***


Mona harus banyak istirahat, dia dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Mona mulai bosan, beberapa temannya datang menjenguk.


"Wah udah jadian ya," kata Mona saat melihat Marino dan Khadijah sayang bersama dengan membawa Angel.


Marino tak pernah malu menampilkan Angel di depan publik.


"Susah menaklukkan Khadijah," kata Marino.


"Kak Marino aja yang kurang semangat," kata Bara.


"Iya nih, kurang apa lagi sih emangnya?'' tanya Mona.

__ADS_1


"Udah jangan dibahas ah," jawab Marino.


Bara dan Mona terdiam. Mona tak mau menjodoh-jodohkan mereka. Takut nanti kejadiannya akan seperti Jeslyn dan Edwin.


Angel betah sekali dalam gendongan Khadijah. sebenarnya Mona ingin mengendong Angel tetapi di larang oleh Bara. Bara gak mau Mona kecapean.


Mona senang Bara setia mendampingi dia di saat susah maupun senang. Karena sudah sore Marino dan Khadijah pamit.


***


Kehipuan Amelia berubah, dia sudah punya rumah dan mobil baru. Dia juga sudah punya usaha baru.


Amelia ingin nanti di saat dia sudah bosan dengan dunia gelap yang dia jalani, dia bisa melakukan usaha.


"Mel, aku dengar kamu buka usaha jual baju?" tanya Kiki.


"Iya, aku tahu gak selamanya aku akan kerja kaya gini. Jadi aku akan membuat usaha, jadi setelah aku keluar dari pekerjaan ini aku masih punya penghasilan," jawab Amelia.


"Kamu di tanyakan sama Mbah Cakep," kata Kiki. "Suruh datang ke sana," kata Kiki.


"Gak ah, Ki. Aku gak mau lagi berurusan dengan Mbah Cakep," tolak Amelia.


"Yakin? Bukannya sekarang kamu suka berkat susuk Mbah Cakep?" tanya Kiki.


"Iya, tapi aku gak mau nemui dia lagi," jawab Amelia.


"Jangan bikin Mbah Cakep marah, entar kamu diteluh baru tahu rasa," kata Kiki.


Akhirnya Amelia mau datang ke tempat Mbak Cakep.


***


Sepanjang perjalanan pulang, Marino dan Khadijah saling diam. Sesekali Khadijah bercanda dengan Angel.


"Khadijah, kamu belum punya pacar, kan?" tanya Marino.


"Belum, Pak," jawab Khadijah.


"Kamu udah siap nikah belum?" tanya Marino.


Khadijah hanya tersenyum saja tanpa menjawab.


"Khadijah, bagaimana kalau kita pacaran?" tanya Marino.


"Maaf, Pak saya tidak bisa," jawab Khadijah.


Dalam kamus Khadijah tak ada kata pacaran. Jika ada pria yang serius dengannya maka harus langsung menemui abahnya.


Sayangnya, Khadijah belum yakin dengan perasaannya pada Marino.


Mendengar penolakan Khadijah, Marinio sedikit kecewa. Namun, Marino tetap sabar untuk menunggu sampai Khadijah mau dengan dirinya.


"Jika Pak Marino serius dengan saya langsung temui abah saja," kata Khadijah.


Marino mendadak bahagia, tetapi dia takut jika abah Khadijah menolak Marino. Apalagi keadaan Marino mandul dan membawa anak bayi.


"Maaf Khadijah aku belum berani, aku takut abahmu menolakku," ucap Marino sehingga membuat Khadijah kecewa.


Khadijah menganggap Marino tidak serius padanya.

__ADS_1


__ADS_2