
Edwin selalu mendapat pembelaan dari Jeslyn. Bahkan Jeslyn tak pernah meminta apa-apa. Edwin jadi dilema karena harus meneruskan niatnya atau berubah memperbaiki semua.
"Kamu kenapa?" tanya Jeslyn.
"Oh tidak apa-apa," jawab Edwin.
Sampai di rumah mereka istirahat. Selama menikah dengan Edwin, Jeslyn belum pernah melakukannya dengan Edwin. Bukan karena Jeslyn tak mau tapi Edwin tak pernah meminta haknya.
"Jes, kamu ngelamunin apa? Katanya ngajak istirahat," kata Edwin.
"Oh gak, aku hanya mikir Kak Mona," jawab Jeslyn bohong. Padahal dia memikirkan Edwin.
Edwin mulai terlelap, Jeslyn memperhatikan Edwin.
"Apa kamu tak pernah mencintaiku?" tanya Jeslyn.
Jeslyn memilih untuk ikut tidur karena merasa capek sekali.
**
"Ma, sepertinya Jeslyn dan Edwin baik-baik saja," kata Mona.
"Ya begitulah, semoga saja Edwin berubah," kata Helena.
Helena lalu pamit pulang, dia juga ingin segera istirahat.
Sampai di rumah, Helena masuk ke kamar. Sementara suaminya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ponsel Helena berdering ada panggilan dari seseorang. Helena segera keluar dari kamar. Dia seperti menyembunyikan sesuatu.
Beberapa hari lagi Jeslyn dan Edwin akan pindah. Jadi Helena mencarikan pembantu baru untuk Jeslyn. Dia tak mau Jeslyn mengerjakan pekerjaan rumah.
Saat makan malam, mereka membahas kepindahan Jeslyn.
"Mama udah carikan pembantu buat kamu, Jes. Mama gak mau kamu capek ngurus rumah," kata Helena.
"Harusnya gak perlu, Jeslyn kan bisa cari sendiri," kata Jeslyn.
"Gak apa, Mama udah dapat," kata Helena. "Mama gak mau kamu kecapean, kamu itu hamil," kata Helena.
"Iya, Ma," hanya itu jawaban Jeslyn.
Sementara Edwin memelilih diam. Dia Mala bicara dengan Helena karena pasti ujung-ujungnya bikin emosi.
"Aku kok pengen bakso ya," kata Jeslyn.
"Edwin, sana carikan bakso buat Jeslyn. Jadi suami itu yang siaga," kata Helena.
Tak mau membantah, Edwin pergi mencari bakso. Edwin melihat Mumun dengan seorang pri tapi bukan Alex.
"Mumun...," Panggil Edwin.
"Mas Edwin, sejak Mas Edwin nikah udah lupa sama aku ya," kata Mumun. "Apa udah lupa sama janji Mas Edwin?" tanya Mumun.
Edwin melihat pria di sebelah Mumun.
"Dia siapa?" Tanya Edwin.
__ADS_1
"Dia pacar baruku, soalnya Mas Edwin gak bisa diandalkan lagi. Bilangnya gak suka sama Jeslyn eh Mala nikah dan gak temui Mumun lagi," kata Mumun.
"Maaf, Mun. Aku gak bisa," kata Edwin.
Entah mengapa Edwin merasa kasihan pada Jeslyn, meskipun Jeslyn tahu hubungan Edwin dengan Mumun.
"Mas Edwin jatah, kalau Mas Edwin sayang Jeslyn berarti aku patah hati," kata Mumun.
"Bukannya kamu sudah sama dia?" tanya Edwin.
"Aku maunya Mas Edwin, kita pergi sebentar ya, Mas," ajak Mumun.
Edwin galau, dia sebenarnya kangen dengan tubuh Mumun. Apalagi sejak menikah dengan Jeslyn, dia belum pernah melakukannya. Namun, tiba-tiba saja dia ragu ada rasa kasihan pada Jeslyn.
"Ayo dong, Mas!" ajak Mumun.
Edwin ikut Mumun, sementara pria bersama Mumun sudah siap suruh pergi. Mumun sengaja mentewa kamar kos untuk mereka bersenang-senang.
Mumun sudah melepas bajunya dan siap mendapatkan serangan dari Edwin. Namun, Edwin mengurungkan niatnya. Dia menjauhi Mumun.
"Kenapa, Mas?" tanya Mumun kesal.
"Maaf, Mun aku gak bisa," kata Edwin ka langsung keluar dari kamar kos tersebut.
Edwin segera pulang, dia sampai lupa bakso pesanan Jeslyn.
"Win, mama baksonya?" tanya Jeslyn.
"Maaf Jes aku lupa," jawab Edwin.
"Gimana sih kamu, cari bakso aja gak bisa. Kamu tuh lama perginya kok gak beli bakso malah," todong Helena. "Jangan -jangan kamu pergi buat menemui wanita lain," kata Helena.
"Udah, Ma. Jangan dibahas. Udah malam aku mau istirahat," Jeslyn berjalan ke kamarnya diikuti oleh Edwin.
Sampai di kamar Edwin meminta maaf namun Jeslyn hanya diam saja dan memilih untuk tidur.
**
Edwin mendadak galau karena Jeslyn mendiaminya. Bahkan Jeslyn sama sekali tak mau diajak bicara.
"Jes, maafkan aku!'' ucap Edwin.
Jeslyn hanya memoles wajahnya dengan meke up. Dia tak peduli dengan ucapan Edwin.
"Jes, yuk kita pergi!" ajak Helena.
Sementara itu Edwin berangkat kerja menggunakan mobil barunya. Dia merasa tak enak hati atas kejadian semalam.
"Kenapa aku galau didaliami Jeslyn? Harusnya aku senang," kata Edwin.
"Edwin...Edwin..," panggil Papa Jeslyn.
Edwin segera mendekati sang mertua.
"Ada apa, Pa?" tanya Edwin.
"Aku mau kamu urus proyek ini, kamu akan di dampingi Pak Soni," jawab papa Jeslyn.
__ADS_1
"Baik, Pa," ucap Edwin.
Edwin mulai berdiskusi dengan Pak Soni. Tiba-tiba saja dia teringat dengan Jeslyn. Dia ingin menanyakan keberadaan Jeslyn tapi gengsi.
"Biarkan saja, toh dia pergi sama mamanya," kata Edwin.
Edwin lebih memilih fokus pada proyek yang akan dia kerjakan dengan Pak Soni.
**
Helena mengajak Jeslyn belanja. Dia tak mau kalau Jeslyn sampai stres karena menikah dengan Edwin.
"Harusnya gak perlu belanja sebanyak ini, Ma," kata Jeslyn.
"Kenapa? Lagian kalau kamu nanti udah punya anak gak akan sebebas ini," kata Helena. "Aku yakin Edwin akan melarang kamu ini itu," sambung Helena.
"Ma, jangan terlalu memojokkan Edwin," kata Jeslyn.
"Hah memojokkan? Dia kan jahat Jeslyn, dia bukan suami yang baik buat kamu. Kalau bukan karena kamu hamil duluan, aku gak akan restui kalian," kata Helena.
"Aku capek, Ma. Kita pulang saja!" ajak Jeslyn.
Mereka pulang, Jeslyn berharap Edwin mengirim pesan untuknya. Tapi satupun tak ada pesan dari Edwin.
"Ah aku lupa, aku dan dia kan gak saling suka," kata Jeslyn.
Jeslyn memilih istirahat karena kakinya merasa capek habis belanja banyak. Bagi Jeslyn Helena terlalu memanjakannya. Jadi dia senang saat Edwin mengajak dia bedw rumah dengan Helena. Helena tidak akan bisa mengatur apa yang Jeslyn lakukan.
**
Alex melihat Mumun, dia sudah tak pernah memakai jasa servis Mumun lagi.
"Mun, aku mau ada pembantu baru lagi," kata Alex.
"Loh kan ada saya, Pak. Kalau ada pembantu baru bagaimana dengan saya?" Tanya Mumun terkejut.
"Kalian bisa bagi kerjaan," jawab Alex. "Lagi pula aku lihat kamu sering keluyuran. Pasti kamu cari pria lain di luar sana," kata Alex.
"Emang kenapa kalau saya cari pria lain? Pak Alex kan gak bisa memuaskan aku," bantah Mumun.
"Terserah apa katamu. Tapi aku gak suka, kamu sering lalai dengan tanggung jawabku," kata Alex.
"Alah...sok-sokan," ucap Mumun.
Alex mengabaikan Mumun dan memilih ke kamarnya. Dia mencari alamat yayasan untuk mencari pembantu. Saat dia membuka laci dia melihat amplop coklat. Dia ingat itu amplop yang ditemukan Mumun di kamar Edwin.
"Amplop apa ini?" tanya Alex.
Alex penasaran dengan isinya, dia buka dan baca isi surat itu. Dia menganga tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Edwin, tega sekali kamu," kata Alex penuh amarah. "Aku gak akan maafkan kamu," ucap Alex.
Alex bahkan menggebrak meja di depannya, rasa marahnya tak terbendung lagi.
"Paimin...Paimin!" Panggil Alex.
"Iya, Pak," ucap Paimin.
__ADS_1
"Antar aku ke rumah Jeslyn!" Perintah Alex.
Paimin dengan sigap membantu Alex ke rumah Jeslyn. Paimin merasa kalau Alex sedang marah tapi entah dengan siapa dirinya marah