Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Pertengkaran Mumun dan Helena


__ADS_3

Sejak saat itu, setiap kali Sarah datang Mona hanya mendengarkan keluh kesahnya tanpa mempercayainya.


Walaupun Sarah sering datang ke rumah Mona, nyatanya dia sama sekali tak pernah menemui Ikbal. Padahal putranya itu tinggal di rumah Mona.


"Kamu gak mau ketemu Ikbal, Mbak?" tanya Mona.


"Gak ah,aku tahu Ikbal pasti takut kalau lihat aku. Yang penting aku tahu dia baik-baik saja sudah cukup," jawabnya.


Mona hanya mengiyakan saja, padahal dalam hati dia kesal dengan Sarah.


**


Hubungan Mumun dan Helena merenggang. Helena yang merasa bahwa Mumun hanya memanfaatkan dirinya itu tak pernah memberi uang pada Mumun lagi. Sehingga Mumun marah dan mengumpat Helena.


"Uang itu gak dibawa mati, apa salahnya berbagi sama teman sendiri," kata Mumun.


"Apa selama ini aku tidak berbagi dengan kamu? Kamu numpang di rumahku aku gak masalah. Bahkan tiap hari aku yang mencukupi kebutuhan kamu. Apa itu kurang cukup?" tanya Helena.


"Katanya teman, ya gak boleh perhitungan," kata Mumun.


"Lebih baik aku gak punya teman, dari pada punya teman seperti kamu. Aku jualan juga gak terlalu ramai tapi uangku habis buat kebutuhan kamu," bantah Helena.


Helena sangat menyesal pisah dengan suaminya. Namun, untuk kembali pada suaminya dia sudah malu.


"Oke kalau begitu kita bubar saja bertemannya. Setelah ini aku yakin akan dapat teman yang mau membiayai aku dan gak pelit seperti kamu," kata Mumun.


Pertengkaran itu berlanjut, karena Helena mau Mumun mengembalikan semua uang yang telah dia gunakan.


"Kembalikan uangku yang kamu gunakan! Aku gak mau kalau sampai kamu pergi begitu saja," cegah Helena saat Mumun mengemasi barangnya.


"Uangmu sudah jadi kotoran, kamu mau ambil? Ambil saja kotoranku," kata Mumun.


Helena terpaksa mengambil barang-barang mahal yang selama ini dia belikan untuk Mumun. Dia gak mau Mumun memerasnya terus.


"Jangan ambil! Itu milikku!" teriak Mumun merebut tas dan sepatu yang dulu Helena berikan.


Helena tak mau kalah, dia mendorong Mumun dengan kasar. Lalu dia menarik tangan Mumun dan koper berisi baju Mumun ke luar kamar.


"Pergi dari rumahku! Menyesal aku berteman dengan kamu! Kamu yang menghasut aku supaya bercerai dengan suamiku," bentak Helena.


Mumun kini sudah berada di luar rumah, dia terpaksa pergi dari rumah Helena saat itu juga. Dia tak akan mengemis lagi pada Helena. Hingga terbesit dendam di hati Mumun.


"Awas saja akan ku balas sakit hatiku," ucap Mumun.


**

__ADS_1


Helena harus menjual barang-barang bekas Mumun itu. Setidaknya lumayan untuk tabungannya. Dia menawarkan barang itu lewat media sosial.


Jeslyn yang selalu mengikuti media sosial Helena tahu jika Helena menjual barang bekas. Jeslyn meminta temannya untuk membeli salah satu barang jualan Helena. Tujuannya agar Jeslyn bisa bertemu dengan Helena.


Benar saja saat mengambil barang di toko Helena, Jeslyn dan temannya bisa bertemu Helena.


"Jeslyn, dia temanmu?" tanya Helena.


"Iya, Ma. Kenapa mama gak pernah datang ke tempat Jeslyn lagi?" tanya Jeslyn.


"Mama malu sama kamu dan Edwin," jawab Helena. "Mama sadar mama salah," kata Helena.


"Sekarang jangan menghindar lagi, Ma. Mama jangan jauhi Jeslyn sama Kak Mona. Kita tetap anak mama walaupun mama sudah tidak bersama papa lagi," kata Jeslyn.


Jeslyn dan Helena saling berpelukan, mereka melepas rindu yang sudah lama tak bertemu. Kehamilan Jeslyn juga sudah besar.


**


Mumun terpaksa ngekos lagi, dia juga harus mencari pekerjaan lagi. Terpaksa jadi pembantu lagi, namun Mumun punya tujuan utama.


"Aku harus dapat majikan yang bodoh biar bisa aku akalin," kata Mumun.


Mumun mendapat lowongan pekerjaan dari media sosial. Dia mencoba melamar di sana. Beruntung Mumun langsung di terima saat melamar kerja. Jadi dia tak perlu kos lagi. Padahal kos baru saja di tempati beberapa hari saja.


Target Mumun selalu orang-orang kaya yang sibuk dengan pekerjaan mereka.


**


Helena sudah tak berteman lagi dengan teman-teman sosialitanya. Dia sudah tak mampu mengimbangi gaya hidup mereka.


"Semua memang salahku, aku terlalu percaya pada orang lain," kata Helena.


Terkadang Helena merasa kesepian, tapi dia berusaha fokus dengan pekerjaannya. Dia sekarang bukanlah seorang nyonya lagi.


Ponsel Helena berdering, ada panggilan dari Jeslyn. Mereka akan mengatur pertemuan dengan Mona di rumah Jeslyn. Jeslyn berharap Helena mau datang.


"Mama tenang saja, gak ada papa kok," kata Jeslyn.


Setelah meyakinkan Helena, Jeslyn senang karena Helena mau datang. Mona yang tahu akan bertemu dengan sang mama pun senang sekali.


**


"Sayang, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Edwin.


"Besok mama akan ke sini. Aku udah atur biar aku sama Kak Mona bertemu mama di sini," jawab Jeslyn.

__ADS_1


"Papa gak ikut, kan?" tanya Edwin.


"Ya gaklah, lagian papa pasti di kantor," jawab Jeslyn karena memang itu hari kerja.


"Baiklah," kata Edwin.


Edwin berharap Helena sudah mau menerima dia sebagai menantunya. Besok Edwin akan izin cuti.


Esoknya Jeslyn di bantu Edwin menyiapkan beberapa makanan. Tidak berapa lama Bara dan Mona datang.


"Jes, kamu yakin mama akan datang, kan?" tanya Mona.


"Iya, Kak. Dia udah janji," jawab Jeslyn.


Edwin dan pembantunya mengeluarkan beberapa camilan dan minuman tidak berapa lama Helena datang. Helena membawakan mainan untuk Kaisar.


"Cucunya Oma, maafkan Oma ya jarang nengok kamu," kata Helena.


"Gak apa-apa, Ma. Mama sekarang ada di sini saja kami sudah bahagia," ucap Mona.


Helena memangku Kaisar, dia bercerita soal Mumun yang sudah dia usir. Dia juga meminta maaf pada Jeslyn dan Edwin. Tentu saja mereka memaafkan Helena.


"Kaya gini kan enak, sudah saling memaafkan," ucap Jeslyn.


"Tapi sepertinya papamu tak akan memaafkan mama," kata Helena.


"Mama mau minta maaf sama Papa?" tanya Mona.


"Jika diberi kesempatan," jawab Helena. "Tapi aku malu ketemu papa kalian," sambung Helena.


Helena malu karena sudah membuat mantan suaminya sakit hati. Dia yang sudah menyulut api berceraian.


"Mona yakin, papa akan maafkan mama," kata Mona.


Mereka asyik mengobrol, perasaan mereka bahagia tak terkira bisa berkumpul.


Karena asyik mengobrol, Edwin sampai lupa tidak membawa ponselnya. Dia malah tetap asyik mengobrol. Padahal Papa Jeslyn menghubungi Edwin tapi tak diangkat.


"Mama masih sayang papa gak?" tanya Jeslyn.


Seketika semua orang menoleh ke arah Jeslyn. Jeslyn hanya nyengir kuda karena tahu salah bertanya.


"Udah, Ma. Jangan pikirkan ucapan Jeslyn," kata Edwin.


Tiba-tiba pintu rumah Jeslyn terbuka, papa Jeslyn berdiri di depan pintu. Helena yang melihat sang mantan suami langsung tertunduk. Dia benar-benar malu dengan mantan suaminya. Dia takut jika mantan suaminya itu masih membencinya.

__ADS_1


"Helena," panggil Papa Jeslyn.


Helena perlahan mendongakkan kepala. Dia melihat mantan suaminya itu berdiri di dekatnya.


__ADS_2