Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Mumun Si Pelakor


__ADS_3

"Mumun...lepaskan!" ucap Edwin mendorong pelan tubuh Mumun. "Ngapain kamu ke sini sih?" tanya Edwin.


Edwin tentu takut hubungan dia dan Jeslyn yang baru mulai membaik menjadi kacau lagi.


"Aku merindukan kamu," kata Mumun.


Jeslyn mendekati Mumun, "Sayang, kamu usir saja dia," kata Jeslyn.


"Pergi, Mun! Jangan ganggu kamu!" Bentak Edwin.


"Mas Edwin lupa, kita pernah tidur bersama," kata Mumun.


"Eh pelakor itu dulu. Sekarang suamiku gak butuh orang kaya kamu lagi," kata Jeslyn. "Dasar pembantu sekaligus pelakor," kata Jeslyn kesal.


Edwin senang Jeslyn tak mudah percaya begitu saja dengan Mumun.


"Cepat pergi pelakor!" Bentak Jeslyn.


Mumun tak mau kalah dia mendorong Jeslyn. Dengan sigap Edwin menolong Jeslyn sehingga tak terjatuh.


"Mun, jangan kasar sama Jeslyn! Dia istriku," kata Edwin.


"Aku tahu tapi aku tak peduli soal itu," bantah Mumun. "dia sudah merebut kamu dariku," ucap Mumun.


"Jaga mulutmu! Aku gak pernah merebut Edwin dari kamu. Kamu itu hanya wanita murahan yang menjadi tempat pelampiasan Edwin saat dia putus sama aku," bantah Jeslyn.


Edwin mengajak Jeslyn masuk, dia segera menutup pintu. Sayangnya, Mumun berhasil ikut masuk.


"Pergi sekarang juga!" Teriak Edwin.


Mumun yang keras kepala malah nyelonong masuk ke dalam. Pembantu Jeslyn tak lupa melaporkan kejadian ini pada Helena.


Tujuan Helena mencarikan Jeslyn pembantu memang untuk jadi mata-mata. Karena dia takut Edwin menyakiti Jeslyn.


Edwin menarik tangan Mumun dengan kasar. Lalu mendorongnya keluar dari dalam rumah. Edwin langsung saja menutup pintu rapat dan menguncinya.


"Jes, maafkan aku!" Ucap Edwin.


"Tak masalah, aku akan hadapi semua," kata Jeslyn.


Akhirnya Mumun marah dan terus menggedor rumah Jeslyn. Dia berteriak tak karuan di depan rumah Jeslyn.


Tak kunjung mendapat respon, akhirnya Mumun pulang dengan perasaan kecewa.


"Aku gak akan berhenti," kata Mumun kesal.


Walaupun Edwin sudah menolak Mumun, tapi dia tak akan putus asa. Baginya Edwin harus dia rebut dari Jeslyn.


***

__ADS_1


Helena marah saat tahu Mumun mengganggu Jeslyn. Namun, terbesit sebuah rencana untuk Edwin.


Helena segera mencari tahu keberadaan Mumun melalui orang suruhannya. Dia ingin merencanakan sesuatu dengan datangnya Mumun.


Jeslyn menceritakan semua soal Mumun pada Mona. Dia tak mau jika Edwin terus diganggu Mumun.


"Kamu yang sabar, hadapi dengan otak jangan otot," kata Mona. "Pelakor itu gak akan kapok," sambung Mona.


"Kamu benar, Kak. Pasti nanti dia akan kembali lagi," kata Jeslyn.


Edwin tak keberatan jika Jeslyn menceritakan apapun pada Mona. Dari pada Jeslyn cerita pada Helena yang ada masalah tambah panjang.


"Dulu aku memang ada hubungan dengan Mumun. Tapi aku sekarang berusaha untuk menjauhi dia," kata Edwin.


"Ya aku faham itu. Terima kasih, kamu udah mau ninggalin dia," kata Jeslyn.


"Iya, aku lakukan demi kamu," kata Edwin.


Jeslyn tersipu malu saat mendengar apa yang Edwin katakan. Dia merasa Edwin adalah orang yang tepat menjadi suaminya.


Edwin memeluk Jeslyn, dia tak mau jika rumah tangga yang baru seumur jagung itu harus kandas begitu saja. Apalagi jika masalahnya hanya orang ketiga yang sudah tak dibutuhkan lagi.


***


Belum ada satu hari, Helena sudah mendapatkan tempat tinggal Mumun. Dia mendatangi kontrakan Mumun.


"Halo, Mun. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Helena.


Mumun mengajak Helena masuk. Helena langsung mengutarakan tujuan dia datang ke rumah Mumun. Mumun senang karena Helena mengajak Mumun untuk bekerja sama. Bahkan dia akan mendapatkan uang dari setiap rencana yang mereka susun.


"Kamu mau, kan?" tanya Helena.


"Tentu, apalagi kalau bisa dapat uang. Jadi aku gak perlu susah-susah cari kerja lagi," jawab Mumun.


Mumun dan Helena berjabat tangan. Mereka sudah sepakat dengan rencana mereka.


***


Sementara itu Jesly berharap masalah Mumun bisa cepat selesai. Namun, dia dikejutkan dengan sebuah Vidio kiriman orang tak dikenal.


Vidio itu memperlihatkan kemesraan Mumun saat masih bersama Edwin. Sengaja Mumu. Mengirim Vidio itu agar Jeslyn marah pada Edwin. Sayangnya, semua itu tak membuat Jeslyn mudah percaya.


"Ini pasti ulah Mumun,'' kata Jeslyn sambil menghapus Vidio tersebut.


Jeslyn bukan orang yang mudah terpengaruh dengan hasutan orang lain. Kecuali dia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Non, apa siang ini Den Edwin pulang lagi?" tanya Pembantu Jeslyn.


"Gak, Bi. Kamu akan makan di luar," jawab Jeslyn.

__ADS_1


Mereka sudah merencanakan akan makan siang di luar. Jeslyn bosan makan di rumah terus.


Tiba-tiba ponsel Jeslyn berdering, panggilan dari Edwin. Edwin tidak bisa menjemput jadi dia akan langsung ke cafe. Jeslyn di minta naik taxi dan pulangnya baru diantar Edwin.


Jam makan siang sebentar lagi. Jadi Jeslyn segera bersiap untuk ke cafe tempat mereka janjian.


Siang itu agak macet, jadi Jeslyn mengabarkan pada Edwin kalau dia akan sedikit telat. Namun, tak ada balasan dari Edwin.


Sepuluh menit berlalu Jeslyn sampai di cafe. Jeslyn segera turun dan mencari keberadaan Edwin.


Jeslyn melihat Edwin duduk bersama seorang wanita.


"Mumun," ucap Jeslyn melihat siapa wanita yang bersama Edwin. "Oh kamu sengaja ke sini ya, karena tadi tak berhasil menghasut aku dengan Vidio yang kamu kirim," kata Jeslyn.


"Vidio apa? Aku gak ngirim video," bantah Mumun.


"Sayang, kita pindah meja ya. Kamu belum pesan kan?" tanya Jeslyn.


"Iya, belum pesan," jawab Edwin lalu menggandeng Jeslyn dan pindah. Mumun tak mau kalah, dia mengikuti mereka.


"Eh pelakor, ngapain sih ngikutin kita. Mau jadi obat nyamuk kamu?" tanya Jeslyn kesal.


"Mun, pergi saja. Jangan bikin masalah," kata Edwin.


"Aku gak akan nyerah, Win," kata Mumun dengan percaya diri. "aku yakin akan dapatkan kamu kembali," kata Mumun.


"Ya ampun aku rasa kamu mimpi," kata Edwin. "Kamu itu hanya pelampiasan ku saat aku putus sama Jeslyn, jadi jangan bangga," bantah Edwin.


"Kamu akan menyesal membuat masalah denganku," kata Mumun. "Aku gak akan menyerah begitu saja sebelum kamu mau kembali padaku," ucap Mumun.


Jeslyn mengambil bekas minum orang san langsung menyiramkan ke wajah Mumun. Mumun yang tak siap terkejut dan tak bisa mengelak. Rambut dan sebagian bajunya basah.


"Brengsek!" umpat Mumun. Dia mendorong kasar Jeslyn hingga Jeslyn terjengkang. Namun, beruntung tidak sampai ke lantai.


Edwin menarik tangan Mumun dan membawanya keluar dari cafe.


"Kanapa kamu nekat? Apa kamu gak takut aku laporkan kamu ke polisi?" tanya Edwin.


"Gak aku gak akan takut," jawab Mumun. "Aku sangat terobsesi dengan kamu," kata Mumun memeluk Edwin.


Edwin berusaha melepaskan Mumun. Jeslyn yang melihat langsung membantu Edwin melepaskan pelukan Mumun.


Tapi Mumun tak mau mengalah, dia gak mau melepaskan pelukannya.


Jeslyn yang kesal langsung saja menarik rambut panjang Mumun. Hingga dia kesakitan dan melepaskan pelukannya pada Edwin.


"Pelakor gila," kata Jeslyn menghempaskan Mumun begitu saja.


Acara makan siang Edwin dan Jeslyn gagal. Jeslyn tak lagi mood untuk makan siang. Akhirnya dia minta diantar pulang oleh Edwin.

__ADS_1


__ADS_2