
Marino tak berani karena ditolak. Auto bikin Khadijah makin ragu pada Marino.
Setelah mengantar Angel pulang, Marinio mengantar Khadijah pulang. Tadi saat menjemput, Abah Khadijah sedang pergi. Tapi kali ini sudah pulang.
"Gak mampir dulu, Pak?" tawar Khadijah berharap Marino mau mampir dan ngobrol sama abahnya.
"Gak, abah kamu di rumah. Aku gak enak," jawab Marino.
Khadijah langsung masuk ke dalam tanpa menoleh ke arah Marino.
"Kenapa bos kamu gak diajak mampir?" tanya Abah Marwan abahnya Khadijah.
Khadijah terkejut karena tiba-tiba mendengar suara abahnya.
"Masih ada urusan, Bah. Jadi dia langsung balik," jawab Khadijah bohong.
"Oh gitu," kata Abang Marwan.
Khadijah lalu masuk ke kamarnya. Dia gak bisa mengharapkan Marino jika Marino saja tak mau berjuang.
***
Edwin setiap malam membayangkan Mumun si pembantu semok yang aduhai bahkan goyangnny sangat lihai.
"Gak kaya Jeslyn yang kaku," kata Edwin. "Lihat aja Jeslyn kalau kamu hamil pasti cari aku minta dinikahin," kata Edwin dengan percaya diri.
Malam itu Edwin sengaja janjian dengan Mumun di taman dekat rumah Alex. Mumun pergi secara diam-diam setelah memberi obat tidur pada Alex.
"Mun, gimana aman?" tanya Edwin.
"Aman, kita ke rumah saja ya," jawab Mumun.
Akhirnya mereka ke rumah Alex. Mereka masuk ke kamar Mumun secara diam-diam.
***
Paimin sedang bersama istrinya menonton televisi. Sementara kedu anaknya sudah tidur di kamar masing-masing.
"Mas, Mumun sekarang makin cantik ya. Aku jadi curiga kalau dia jadi cemceman Pak Alex," kata Istri Paimin.
"Jangan nuduh, Dek. Kalau salah nanti jadi fitnah," kata Paimin. "Terserah mereka kalau ada hubungan toh sama-sama single," sambung Paimin.
"Awas aja kamu tergoda sama Mumun," ancam istrinya.
"Gak, Dek. Aku takut nyakitin kamu," kata Paimin.
Padahal dalam hati Paimin takut istrinya tahu kalau dia pernah main sama Mumun.
***
"Mun, kamu mau gak bantu aku?" tanya Edwin.
"Bantu apa, Mas?" tanya Mumun.
"Goda Alex buat dia cinta mati sama kamu. Lalu kamu ambil hartanya," jawab Edwin. "Nanti aku bantu kamu," kata Edwin.
"Aku mau, asal Mas Edwin selalu puasin Mumun," kata Mumun.
__ADS_1
"Oke soal itu," kata Edwin.
Edwin keluar dari kamar Mumun lalu meninggalkan rumah Alex.
Pagi sekali Alex terbangun, dia merasa kepalanya sangat pusing.
"Mun, semalam aku tidur kesorean ya," kata Alex pada Mumun yang lagi masak.
"Iya, Pak," jawab Mumun.
Mumun menyiapakan sarapan untuk Alex. Tiba-tiba Paimin datang, dia tidak sendiri melainkan sama istrinya.
"Min, ngapain kerja bawa istri?" tanya Alex. "Di tinggal di rumah kan bisa," tegur Alex.
"Istri saya ada perlu sama Mumun, Pak," kata Paimin.
Istri Paimin lalu mengajak Mumun keluar sebentar.
"Ada apa sih, Mbak?" tanya Mumun.
"Mun, kamu jadi cenceman Pak Alex ya?" tanya Istri Paimin.
"Apa salahnya sih, Mbak. Lagian aku dapat untung banyak," jawab Mumun. "Jangan sampai Pak Alex tahu ya," kata Mumun.
"Beres tapi sekali-kali kamu traktir aku makan di restoran gitu loh," kata istri Paimin.
"Iya nanti malam ya kita makan berdua di restoran," kata Mumun.
Mumun kembali ke dalam melanjutkan pekerjaannya.
***
Orang tua Jeslyn sedikit lega karena Edwin tak agi datang ke rumahnya. mereka bergharap Edwin dan Jeslyn bisa move on.
"Pa, bagaimana kalau kita temui keluarga Edwin. Kita balikin cincin tunangan Jeslyn dan Edwin," kata Helena.
"Boleh saja, nanti malam kita ke rumahnya," kata suami Helena.
Sementara Jeslyn sedang sibuk di kamar. Dia tengah menyelesaikan skripsinya.
***
Malam ini Mumun izin sama Alex kalau akan makan di restoran dengan istri Paimin. Dia ingin mentraktir istri Paimin karena sudah memberinya pekerjaan di tempat Alex.
"Kamu boleh pergi tapi biar diantar Paimin. Ajak juga Paimin makan," kata Alex lalu memberikan sejumlah uang pada Mumun.
"Saya gak usah ngajak Paimin, Pak. Ini guh acara perempuan," tolak Mumun.
"Ya udah hati-hati," kata Alex.
Mumun pergi naik taxi, dia menjemput Istri Paimin dulu. Ternyata dia sudah menunggu di depan rumah. Paimin terlihat khawatir saat melihat istrinya pergi berdua dengan Mumun. Takut jika Mumun keceplosan kalau dia dan Mumun pernah ***-***.
Sampai di restoran mereka makan sampai kenyang.
"Mbak, aku ke toilet dulu ya," kata Mumun.
Dia ternyata pergi menelfon Edwin. Dia ingin bertemu Edwin malam ini juga untuk menyalurkan hasratnya.
__ADS_1
Setelah itu dia kembali ke mejanya.
"Mbak, nanti Mbak pulang duluan ya. Aku masih ada acara. Ini uang buat ongkos naik taxi," kata Mumun.
"Wah banyak banget, Mun. Mau ketemu cemceman siapa lagi kamu?" tanya Istri Paimin yang langsung faham.
"Ada deh rahasia," jawab Mumun.
Istri Paimin pulang, Edwin datang menjemput Mumun. Mereka ke kos Edwin dan indehoy di sana.
***
Helena dan Suaminya mendatangi rumah santo.
"Pak Santo, ini saya kembalikan cincin dan barang-barang yang kalian bawa saat lamar. Mulai saat ini kami putuskan bahwa pernikahan Edwin dan Jeslyn batal," kata Suami Helena.
"Gak bisa begitu dong, Pak," bantah Kumala. "Ini namanya kalian mempermalukan kami," kata Kumala.
"Kami tahu kalian bukan saudara Edwin yang sebenarnya. Apa kalian di bayar oleh Edwin?" tanya Helena.
Santo dan Kumala terdiam. Mereka tidak mungkin mengaku.
"Siapa bilang kita bukan keluarga Edwin? Kalian salah. Edwin itu memang keponakan kami," sanggah Santo.
"Mendingan kalian ngaku, atau mau kami laporkan kalian ke kantor polisi," ancam Helena.
Mereka berdua takut jika harus mendekam di penjara.
"I..iya kami dibayar Edwin untuk menjadi keluarga palsunya," jawab Kumala. "Kami mohon jangan dilaporkan ke polisi!" kata Kumala.
Helena sudah merekam pembicaraan mereka secara diam-diam. Setelah mereka mengaku Helena dan suaminya pamit.
Kumala dan Santo menelfon Edwin. Tapi ponsel Edwin tidak aktif.
Padahal Edwin sedang indehoy di kamar kos dengan Mumun. Mereka saling mencumbu satu sama lain.
"Kamu membuatku ketagihan ," kata Edwin.
"Aku juga sama," kata Mumun.
Suara-suara menjijikan terdengar dari mulut mereka. Hingga bunyi ponsel Mumun membuat mereka terganggu.
Mumun melihat siapa yang menelfon ternyata Alex. Jadi dia matikan saja ponselnya agar tidak terganggu. Dia melanjutkan permainan dengan Edwin.
Mereka sudah selesai bermain. Mereka masih tiduran tanpa busana.
"Edwin...Edwin...," panggil Putri.
Tak ada suara, tapi Putri melihat sepeda motor Edwin di luar itu tandanya Edwin ada di dalam.
"Win, ada kabar penting!" teriak Putri.
Edwin segera memakai bajunya dan meminta Mumun segera memakai baju namun tetap di dalam kamar.
"Ada apa, Put?" tanya Edwin setelah pintu dia buka.
"Mama dan papanya Jeslyn tadi ke rumah. Ibu dan bapak terpaksa mengaku karena diancam di laporkan polisi," jawab Putri.
__ADS_1
"Sial!" umpat Edwin memukul pintu.