Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Ending


__ADS_3

Lima tahun Kemudian


Bertahun-tahun berlaku, kini adalah waktu kebebasan Marino. Hal yang pertama dia lakukan adalah mengunjungi rumah Alex. Dia ingin menemui putrinya.


"Angel..," panggil Marino.


Angel yang sedang bermain di halaman rumah menoleh ke arah Marino.


"Mama siapa dia?" tanya Angel pada Liana.


"Oh dia Kakaknya Angel," jawab Liana.


"Angel, ini papa datang," kata Marino.


Angel diam saja tak mau mendekat," dia tahunya kamu itu kakaknya," kata Liana. "Kapan kamu bebas?" tanya Liana.


"Baru hari ini," jawab Marino. "Semua salahku, andai aku gak menyia-nyiakan dia, pasti dia tahu aku papanya," kata Marino.


"Sudahlah lupakan saja, papamu ada di dalam," kata Liana.


Alex ke luar karena mendengar suara yang asing. Melihat Marino datang dia langsung tersenyum.


"Pa, maafkan Marino," ucap Marino.


"Papa udah maafkan kamu," kata Alex.


Alex mengajak Marino untuk segera masuk ke dalam rumah.


**


Mona tengah bersiap akan ke rumah Alex karena mendapat kabar dari Liana jika Marino sekarang berada di rumahnya.


"Mas, ayo berangkat!" Ajak Mona.


Mereka pergi ke rumah Alex dengan Kaisar dengan anak bayinya. Mona hamil lagi saat usia Kaisar tiga tahun. Kini Mona sudah punya dua anak.


Sampai di rumah Alex, Bara menghampiri Marino. Mereka saling berpelukan melepas rindu. Marino meminta maaf pada Bara atas semua kesalahannya.


"Udah ayo kita makan siang!" Ajak Liana.


Mereka pergi ke ruang makan. Makan bersama yang selalu mereka rindukan. Kini hal semacam itu tak akan bisa terulang. Apalagi sudah fokus pada keluarga masing-masing.


**


Jeslyn tengah mengandung buah hatinya yang ke dua. Hamil kedua ini, Jeslyn merasa berat sekali. Dia susah tidur dan makan juga tak nafsu. Namun, Edwin selalu memaksanya untuk makan.


"Sayang, makan ya. Beberapa suap tak apa yang penting makan," kata Edwin.


Bujukan Edwin tak mempan, hingga akhirnya Helena turun tangan.


"Sini makan sama mama," kata Helena.


Sementara Edwin mengajak Mario anak pertamanya. Dengan Helena, Jeslyn mau makan. Walaupun itu hanya beberapa suap saja.


"Nah gini kan enak. Ingat kamu tuh hamil, harus makan," kata Helena.

__ADS_1


Sepanjang makan, Helena menasehati Jeslyn banyak hal. Mulai dari cara menjaga kandungannya dan yang lain.


"Assalamualaikum," Papa Jeslyn datang.


Papa Jeslyn sudah menikah lagi dengan wanita yang usianya lebih muda dari papa Jeslyn. Namun, hubungan mereka dengan Helena masih baik.


"Waalaikumsalam," jawab mereka kompak.


"Nah gitu makan, jangan malas makan kasihan bayimu," kata Papa Jeslyn.


"Mama Sinta mana, Pa?" tanya Jeslyn.


"Dia gak mau ikut, lagi mabuk kalau naik mobil," jawab Papa Jeslyn.


"Kok bisa, kenapa?" tanya Jeslyn.


"Kamu bakal punya adik," jawab Papa Jeslyn.


"Mama Sinta Hamil?" tanya Jeslyn.


Papanya hanya mengangguk, Helena diam. Dia sebenarnya merasa cemburu jika melihat mantan suaminya dengan sang istri baru namun dia berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Selamat ya, Mas," ucap Helena lalu pergi ke belakang untuk menaruh piring bekas makan Jeslyn.


"Mama kamu kenapa?" tanya Papa Jeslyn.


"Gak kenapa-napa," jawab Jeslyn.


Papa Jelsyn tahu jika Helena cemburu hanya saja dia masa bodoh terhadap perasaan Helena.


**


"Semua salahku, andai aku tak menyia-nyiakan dia pasti tak akan begini," kata Helena sedih.


Helena menangis, dia merasa cemburu dengan istri baru mantan suaminya.


"Mama...mama di kamar?" tanya Jeslyn.


"Iya, ada apa?" tanya Helena segera menghapus air matanya.


Jeslyn masuk ke kamar Helena.


"Mama menangis? Memang ada masalah apa?" tanya Jeslyn.


"Oh gak apa-apa," jawab Helena bohong.


Jeslyn mengajak Helena berkumpul di ruang keluarga. Walaupun dia merasa cemburu tapi Helena tak mau sampai Jeslyn tahu.


Kini mereka tengah bercengkrama di ruang keluarga.


**


Mona dan Bara sudah pulang dari rumah Alex. Mereka bahagia karena Marino sudah berubah.


"Sayang, besok kita diundang sama Ikbal untuk melihat pameran lukisannya," kata Bara.

__ADS_1


"Oh ya aku sampai lupa," kata Mona.


Ikbal sudah menjadi pelukis yang hebat, dia banyak menghasilkan karya sehingga menjadi kebanggan Sarah.


**


Esoknya Bara dan Mona menghadiri pameran lukisan Ikbal. Banyak sekali lukisan hasil karya Ikbal di sana.


"Om Bara dan Tante Mona, terimakasih semua atas dukungan kalian," ucap Ikbal.


"Terimakasih, kalian udah menunjukkan bakat anakku," kata Sarah.


"Oh sama-samq, Ikbal memang anak yang berbakat," kata Mona.


Tidak berapa datang Marino, melihat ada Marino Ikbal menunduk.


"Sarah, maafkan aku," ucap Marino. "Aku juga minta maaf sama kamu Ikbal, Om sudah pernah memisahkan kalian," ucap Marino.


Ikbal melihat ke arah Marino lalu berganti ke Sarah. Sarah mengisyaratkan agar Ikbal memaafkan Marino.


"Iya, Om. Ikbal udah maafkan Om Marino," kata Ikbal.


"Maaf ya, aku yang udah ngasih tahu Kak Marino soal pameran ini," kata Bara.


"Gak apa-apa, siapa saja berhak datang," kata Sarah.


Mereka melihat-lihat hasil lukisan Ikbal. Banyak orang yang berminat membeli lukisan Ikbal. Sarah sangat bangga punya anak seperti Ikbal.


"Mama, Kaisar juga mau jadi pelukis," kata Kaisar.


"Oh ya, boleh deh. Kalau gitu Kaisar harus belajar dari Kak Ikbal ya," kata Mona.


"Iya dong. Kak Ikbal mau kan ajari Kaisar," kata Kaisar.


"Mau dong, Kaisar kan adiknya kakak," kata Ikbal.


Sebenarnya Marino ingin mengajak Sarah rujuk. Namun, dia minder dan memilih untuk menyimpan perasaannya. Lagi pula dia sudah melihat Sarah bahagia walau hanya berdua dengan Ikbal.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Sarah.


"Oh tidak apa-apa," jawab Marino. "Yuk kita lanjut lihat lukisan yang lain!' ajak Marino.


"Sarah, maaf aku datang telat," kata seorang pria.


"Oh gak apa-apa, Mas," kata Sarah.


Sarah dan pria itu berjalan beriringan meninggalkan Marino yang terdiam melihat kedekatan mereka. Ada rasa menyesal dalam hati Marino, namun dia akan rela melepas Sarah jika Sarah mencintai orang lain.


Marino mengikuti Sarah dan pria itu.


"Pak Agna, bapak di sini juga," kata Bara.


Ternyata Agna adalah guru les lukis Ikbal dulu. Pantas jika Bara mengenalnya.


Mereka lalu kembali menonton lukisan bersama. Melihat kedekatan Agna dan Sarah, Marino memilih mundur perlahan. Bukan karena menyerah, tapi dia sadar akan kekurangannya.

__ADS_1


Melihat orang lain bahagia itu sudah cukup bagi Marino. Karena dia juga belum tentu bisa membahagiakan Sarah.


TAMAT


__ADS_2