
Mona berbicara pada Jeslyn soal Edwin. Jeslyn bersorak kegirangan mendengar Mona akan menjodohkannya dengan Edwin.
"Kakak yakin mau jodohin Jeslyn sama Edwin?" tanya Jeslyn.
"Benar, tapi semalam aku ngambek sama Bara. Dia bilang aku harus cari tahu dulu seluk beluk Edwin," kata Mona.
"Alah Kak Bara gak asyik," ucap Jeslyn.
Bagi Jeslyn tak apa jika Bara tak setuju. Baginya yang terpenting Mona sudah setuju.
Kedekatan Edwin dan Jeslyn pun terjalin. Mereka sering ke luat rumah bersama.
"Edwin, kamu tinggal di mana?" tanya Jeslyn.
"Aku ikut om ku, mama papa ku udaj tiada," jawab Edwin.
"Maaf ya aku gak tahu," kata Jeslyn tak enak hati.
Setiap mereka keluar Edwin selalu membuat hati Jeslyn senang. Begitu juga pada Helena dan papaku Jeslyn.
"Om, ini ada martabak," kata Edwin.
Edwin terpaksa sok baik agar bisa mengambil hati keluarga Jeslyn. Mereka yang tak tahu tujuan utama Edwinpun merasa senang karena Edwin pria yang baik.
"Terima kasih, Edwin," ucap papa Jeslyn.
Setelah itu Edwin pamit pulang karena sudah malam. Helena selalu membanggakan Edwin di depan siapa saja. Meskipun mereka belum resmi berpacaran tetapi Edwin sudah dapat lampu hijau.
***
Hari itu Helena membuat acara anniversary di rumahnya. Bara dan Mona datang, ternyata Edwin juga diundang.
"Om, Tante selamat anniversary ya!" ucap Edwin.
Edwin memberikan kado pada Helena. Sepertinya itu tas mahal karena terlihat dari paper bagnya.
"Terima kasih, Edwin," ucap Helena. "Kamu memang calon menantu idaman," puji Helena.
Mendapatkan pujian dari Helena membuat Edwin berada di atas angin. Dia berhasil mengambil hati Helena.
Bara yang melihat sedikit kesal karena Edwin terkesan sok baik pada keluarga Mona.
Bara sendiri memberikan kado sebuah kalung untuk Helena dan jam tangan untuk papa mertuanya.
"Ah tante bisa aja," ucap Edwin.
Mona senang melihat keluarganya bahagia. Dia yakin Edwin bisa membahagiakan Jeslyn.
"Tuh Mas Edwin baik kan," kata Mona pada Bara.
__ADS_1
"Ya baik, dia kan lagi mengambil hati kalian," ucap Bara. "Tapi bagiku tetap aja perlu waspada, lagi pula kita gak tahu seluk beluk keluarga dia," kata Bara.
"Meskipun kita gak tahu tapi dia baik, gak kaya kamu tahu keluarganya tapi bejat," sindir Mona.
Bara malas meladeni omongan Mona, dia tidak mau berdebat di depan keluarga Mona. Apalagi ini adalah haru bahagia mereka.
Mona masih saja sering mengungkit kesalahan Alex sehingga membuat Bara merasa sedih.
Para tamu undangan sudah datang, Helena mengajak mereka untuk memulai acara. Setelah acara pemotongan kue, semua tamu dipersilahkan untuk makan hidangan yang sudah disiapkan.
Helena terus saja memuji kebaikan Edwin. Sehingga membuat anak itu berada di atas angin. Padahal Bara yang sudah jadi menantunya saja tak pernah di puji seperti itu di depan keluarga.
"Ngapain kamu di sini saja, Mas?" tanya Mona."Sana gabung sama Edwin dan yang lain. Edwin aja udah membaur dengan para tamu yang lain," kata Mona.
Bara paling tidak suka karena Mona sepertinya sangat mendukung hubungan Jeslyn dan Edwin. Bahkan saran dia untuk mencari tahu keluarga Edwin tak diindahkan.
Bara menyusul yang lain, mereka mengobrolkan masalah bisnis dan sebagainya.
"Sepertinya saya tidak cocok bersanding dengan Jeslyn. Saya hanya seorang sopir bukan seperti Pak Bara yang seorang pengusaha," kata Edwin merendahkan diri.
Bara menoleh mendengar namanya di sebut.
"Jangan begitu? Keluarga kami tak pernah memandang status," kata papa Jeslyn. "Bagi kami yang penting kamu selalu membahagiakan Jeslyn. Kalau soal pekerjaan setelah menikah kamu bisa kerja di tempat saya," tuturnya.
"Wah saya malah semakin minder, Om," ucap Edwin.
"Sok-sokan nolak," batin Bara.
"Tapi ingat, kamu harus membuat Jeslyn bahagia," kata Helena.
"Tentu, Tante," ucap Edwin dengan percaya diri. "Hanya saja saat ini biarkan kami melakukan pendekatan dulu agar tahu karakter masing-masing. Lagi pula saya takut kalau pihak keluarga Jeslyn ada yang merasa ragu dengan saya," kata Edwin.
Kalimat itu sebagai sindiran untuk Bara. Namun, Bara berusaha bersikap biasa saja.
"Edwin, tenang aja. Kita percaya sama kamu," sahut Mona.
"Terima kasih, Bu," ucap Edwin.
Bara semakin kesal melihat keakraban Mona dan Edwin. Entah karena cemburu atau memang dia tak suka dengan keberadaan Edwin saat ini.
"Kamu lihatin apa, Mas?" tanya Mona.
"Oh gak," jawab Bara. "Kita menginap sini apa pulang, Sayang?" tanya Bara.
"Kita nginep aja ya, lagi udah malam," jawab Mona.
"Oke kalau giti," kata Bara.
Malam semakin larut, para tamu mulai pamit satu persatu hingga giliran Edwin.
__ADS_1
"Edwin, makasih banget hadiahnya. Tante suka sekali," kata Helena.
"Itu hanya hadiah kecil, Tante. Pasti gak sebanding dengan hadiah yang Pak Bara dan Bu Mona berikan," kata Edwin.
"Ah gak juga," kata Helena.
"Pamit ya Tante, udah malam ini," kata Edwin sambil mencium tangan Helena lalu papanya Jeslyn.
"Hati-hati ya, Win," kata papanya Jeslyn.
Sementara Jeslyn mengantar Edwin ke depan. Dia senang Edwin di sambut baik oleh keluarganya.
"Makasih ya udah datang. Aku senang kedekatan kita disetujui semua orang," kata Jeslyn.
"Iya sama-sama, tidur sana udah malam," kata Edwin melambaikan tangan.
Jeslyn masuk ke dalam rumah, dia melihat Bara masih di sana.
"Kak Bara, kenapa kakak gak suka dengan Edwin?" tanya Jeslyn.
"Siapa bilang kakak gak suka sama Edwin. Hanya saja Kakak perlu tahu seluk beluk keluarga dia. Apa selama kamu pernah dikenalkan dengan keluarga dia?" tanya Bara.
"Belum sih, lagi lupa kami juga baru pendekatan," jawab Jeslyn.
"Udah jangan dengarkan omongan Mas Bara. Tidur aja sana! Kamu besok kan kuliah," sahut Mona.
Jeslyn masuk ke dalam kamar, sementara Mona dan Bara masih di ruang tamu.
"Jangan merusak kebahagiaan Jeslyn, Mas!" larang Mona. "Dia adikku, aku tahu mana yang terbaik buat dia. Soal keluarga Edwin, kita bisa mengenal dia secara pelan-pelan. Jadi jangan suka curiga sama orang," kata Mona.
"Maafkan aku, Sayang," kata Bara mengalah.
"Ya udah ayo ke kamar!" ajak Mona menarik tangan Bara.
Setelah membersihkan diri, mereka segera tidur. Sebelum tidur seperti biasa Mona meminta Bara untuk mengelus perut buncitnya.
"Anaknya papa yang pintar, nanti kalau udah besar jangan suka ngambekan kaya mama ya," kata Bara.
"Ih apaan sih kamu," kata Mona makin kesal.
Bara langsung mencium bibir Mona yang sudah dikuncir. Seketika Mona terdiam. Akhirnya mereka saling mencium dan berakhir pada permainan ranjang yang panas.
***
"Kamu itu tahu aja kesukaan Tante," kata Helena.
Bara yang baru keluar dari kamar penasaran siapa yang bicara dengan Helena sepagi ini.
"Ternyata Edwin, si pencari muka," kata Bara.
__ADS_1
"Siapa yang cari muka?" tanya Jeslyn. "Aku gak suka kalau Kak Bara menjelekkan Edwin," sambung Jeslyn.
Bara terdiam dia tak mau berdebat dengan Jeslyn. Nanti malah bikin tak enak hati dengan sang mertua.