
Edwin benar-benar sudah membuat keluarga Mona mempercayainya. Namun, tidak dengan Bara yang belum yakin akan Edwin.
Bara kembali ke kamar lalu mandi. Sementara Mona masih di atas ranjang.
Tiba waktunya sarapan, ternyata makanan yang dibawa Edwin banyak sekali cukup untuk satu keluarga.
"Edwin, kamu harusnya gak perlu repot bawa makanan," kata Mona.
"Gak apa-apa, Bu," kata Edwin.
Mereka menikmati makanan yang Edwin bawa. Sesekali Bara melihat ke arah Edwin yang tampak bahagia.
***
Liana sangat membutuhkan popok untuk Angel tetapi Bara dan Marino tak bisa dihubungi.
"Bagaimana ini? Padahal ini sudah mau habis," kata Liana.
Akhirnya Liana memutuskan untuk memesan popok secara online. Meskipun Liana sudah tua tetapi dia tahu cara belanja online.
Selang satu jam kemudian, pesanan datang. Liana merasa tenang. Sejam kemudian Marino datang, Liana izin keluar karena ada keperluan.
Marino mengizinkan Liana untuk pergi sebentar.
Liana pergi ke atm, dia akan mengirim uang untuk saudaranya.
"Liana...Liana...," teriak seseorang.
Liana menoleh, dia melihat Amelia mendekatinya. Dia langsung saja pergu karena sudah selesai transfer. Amelia mengejar Liana, Liana panik sekali dia bersembunyi di balik mobil orang.
"Kemana dia? Dia kan yang bawa anakku," kata Amelia.
Ponsel Amelia berdering, ada panggilan dari anak buahnya.
"Ada apa?" tanya Amelia.
"Bos kami sudah tahu di mana wanita itu berada. Dia ternyata dekat dengan seseorang," jawab orang suruhan Liana.
"Oke kirim alamatnya padaku," kata Amelia.
Saat Amelia tengah fokus dengan panggilan telfonnya Liana segera melarikan diri. Dia segera ke apartemen Marino.
"Bibik kenapa?" tanya Marino.
"Aku bertemu Amelia," jawab Liana. "Dia mengejar aku," sambung Liana.
"Apa dia mengejar sampai kemari?" tanya Marino.
"Tidak, tapi sepertinya dia sudah tahu keberadaanku," jawab Liana.
"Wah kita harus segera lari," kata Marino.
Liana segera bersiap dibantu dengan Marino. lima belas menit kemudian mereka sudah keluar dari apartemen Bara.
***
Liana mendapat pesan dari orang suruhannya. Dia terkejut saat melihat alamat yang dikirim.
__ADS_1
"Ini kan alamat apartemen Bara. Apa semua ada kaitanya dengan Bara dan Mona?" tanya Amelia.
Amelia segera ke apartemen Bara, dia yakin jika Bara terlibat dalam hal ini. Sampai di apartemen Bara, ternyata apartemen itu kosong.
"Sial, mereka sudah pergi," ucap Amelia.
Amelia ke lobi, dia bertanya pada resepsionis.
"Mbak, apa benar di apartemen Pak Bara ada tinggal bayi?" tanya Amelia.
"Wah kalau ada bayi saya tidak tahu, Bu. Tapi saya pernah melihat Pak Bara membawa popok bayi ke dalam," jawab resepsionis.
"Ya udah, Mbak. Makasih infonya," kata Amelia lalu pergi.
***
Bara sedang rapat, Marino tidak bisa ikut rapat karena harus mengunjungi Angel.
Bara yang baru selesai rapat melihat pesan dari Marino.
"Amelia sudah menemukan keberadaan Bik Liana. Kami terpaksa pindah lagi," kata Marino.
"Kira-kira kemana mereka pindah," kata Bara.
Bara sedang melanjutkan pekerjaannya. Dia ingin pulang awal hari ini.
***
Edwin tengah mengobrol dengan Mona. Mereka membicarakan kedatangan Edwin dengan Jeslyn.
"Sepertinya Pak Bara tidak menyukai saya, Bu," kata Edwin.
"Baik, Bu," ucap Edwin. "Apa ibu tidak merasa kesepian kalau Pak Bara kerja?" tanya Edwin.
"Gaklah, paling juga nanti Mas Bara cepat pulang. Sejak aku hamil, dia jarang ke kantor," jawab Mona.
"Oh begitu, Syukurlah," kata Edwin. "Pak Bara sayang sekali sama ibu, dia juga sangat perhatian," kata Edwin.
"Emang begitulah, apalagi aku sedang hamil jadi selalu butuh Mas Bara," kata Mona.
Ponsel Edwin berdering, ada panggilan dari Alex.
"Siapa yang telfon? Angkat sana siapa tahu penting," kata Mona karena Edwin tak kunjung mengangkat panggilan tersebut.
"Saya keluar dulu, Bu," kata Edwin lalu keluar rumah.
Dia mengangkat panggilan dari Alex.
"Ada apa, Om?" tanya Edwin.
"Kamu di mana? Om sudah tahu alamat orang yang membawa anak Amelia. Bisakah kamu antar Om kesana?" tanya Alex.
"Maaf, Om. Saya masih kerja. Saya tidak bisa mengantar Om kalau hari ini," tolak Edwin.
"Ya sudah kalau gitu," kata Alex mengakhiri panggilannya.
Edwin kembali menyusul Mona.
__ADS_1
"Siapa kayaknya penting?" tanya Mona.
"Om aku minta di antar keluar. Tapi aku gak bisa, kan ini jam kerja," jawab Edwin.
"Kenapa gak kamu antar sebentar?" tanya Mona.
"Gaklah, nanti aja setelah jam kerja selesai," jawab Edwin.
Mona akhirnya ke kamar untuk istirahat.
***
Marino mencari kontrakan untuk Liana dan Angel. Sebenarnya Marino bosan jika harus berpindah-pindah tempat. Dia juga merasa kasihan pada Liana dan Angel.
"Bagaimana kontrakan ini bibik suka tidak?" tanya Marino.
"Saya sih ngikut aja, Den. Yang penting itu tempatnya aman," jawab Liana.
"Ya udah, Bik. Kalian di sini saja. Sambil kita nunggu hasil tes DNA," kata Marino.
Mereka lalu istirahat sebentar. Tidak berapa lama ada panggilan dari Bara.
"Halo, Bar. Aku udah dapat kontrakan baru," kata Marino.
"Ya sudah semoga Amelia tidak menemukan kalian," kata Bara.
"Iya, aku harap Amelia tidak menemukan kami," kata Marino. "Hanya saja sepertinya dia sudah tahu kalau kamu terlibat," kata Marino.
"Biarkan saja, nanti akan aku atasi," kata Bara.
Setelah melakukan panggilan dengan Marino. Di luar terdengar suara gaduh.
"Bara...keluar Bara!" teriak Amelia.
Bara segera keluar dari ruangannya. Dia melihat Amelia marah-marah di depan.
"Bara, di mana kamu sembunyikan anakku?" tanya Amelia. "Aku tahu dia baru saja keluar dari apartemen kamu bersama Liana. Di mana kamu sembunyikan dia?" tanya Amelia.
"Aku tidak menyembunyikan dia," sanggah Bara. "Sejak pagi aku di kantor," kata Bara.
"Kembalikan anakku!" teriak Amelia.
"Bagaimana aku mengembalikannya? Aku saja tidak tahu diman dia berada," kata Bara.
"Kamu bohong, kamu pasti terlibat," bantah Amelia.
Saskia langsung saja mengirim pesan pada Marino. Dia memberitahu jika Amelia marah di kantor dan menuduh Bara menyembunyikan anaknya.
"Bagaimana aku terlibat? Aku dari pagi di kantor rapat tidak kemana-mana," kata Bara. "Kalau tidak percaya tanyakan pada semua orang di sini," kata Bara.
"Alah, pasti kamu menyuruh istrimu. Kembalikan! Kalau tidak aku akan laporkan ke polisi," ancam Amelia.
"Laporkan saja! Lagi pula aku tidak tahu dimana anak kamu sekarang," kata Bara. "Justru aku yang akan laporkan balik kamu, karena kamu sudah meninggalkan anakmu di rumah sakit," ancam balik Bara.
"Dasar penjahat!" teriak Amelia marah.
"Terserah, lebih baik kamu pergi. Jangan bikin keributan!" kata Bara. "Pak Satpam, usir dia!" perintah Bara.
__ADS_1
Amelia segera diusir dari kantor Bara. Dia marah sekali dan terus mengumpat.