Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Rencana Helena


__ADS_3

Jeslyn ke rumah sang mama, dia pergi naik taxi karena Edwin tak mau mengantar. Apalagi kehadirannya tidak diharapkan.


"Ma, ada apa?" tanya Jeslyn.


"Oh mama mau kamu bercerai dengan Edwin setelah anak kamu lahir," jawab Helena. "Mama gak mau kamu hidup dengan dia selamanya.," kata Helena.


"Ma, jangan asal deh. Bagaimana mama bisa menyuruh anaknya bercerai?" tanya Jeslyn.


"Dia itu pasti akan nyakitin kamu, mama gak mau kalau kamu menderita bersama dia," jawab Helena.


"Tapi gak dengan meminta aku bercerai, Ma. Apa gak ada cara lain," kata Jeslyn.


"Gak ada, mama sudah merencanakan ini," kata Mama. "Biarkan aja rumah dan mobil jadi milik Edwin. Asal dia gak kerja lagi di perusahaan papa," kata Helena.


Jeslyn pulang, dia merasa kecewa atas apa yang Helena lakukan. Dia gak mau bercerai dari Edwin meskipun Edwin tak pernah menghargai dia. Dia yakin suatu saat Edwin akan terbuka pintu hatinya.


Sampai di rumah, Edwin baru saja selesai makan malam. Jeslyn tadi tak sempat makan malam di rumah mamanya jadi dia bergegas untuk makan.


"Ngapain di sana? Pasti mama kamu menghasut kamu," kata Edwin.


"Gak ngapa-ngapain," jawab Jeslyn. Dia segera makan karena perutnya sudah minta diisi.


Edwin yang sudah selesai makan langsung saja ke kamar. Dia mengabaikan Jeslyn yang masih makan.


"Sabar, Jes. Kamu pasti bisa," kata Jeslyn memberi semangat pada dirinya sendiri.


Kalau bukan dirinya sendiri yang menyemangati lalu siapa lagi? Helena bahkan tak mau memberi semangat. Dia malah ingin Jeslyn bercerai dengan Edwin.


Salah satu orang yang selalu mendengarkan curhatan Jeslyn adalah Mona. Jadi setelah makan malam, Jeslyn menelfon Mona.


***


"Mas, makan yang banyak," ucap Mona.


"Iya, ini udah banyak," kata Bara.


Mereka tengah makan, jadi saat Jeslyn menelfon, Mona tak tahu. Ponselnya ada di dalam kamar.


Selesai makan, Mona bermanja dengan Bara di ruang keluarga sambil menonton sinetron.


"Mas, nanti anak kita di kasih nama siapa?" tanya Mona.


"Lihat aja nanti pas udah lahir. Kita kan gak tahu dia laki-laki atau perempuan," jawab Bara.


"Ya kita siapin dua nama, Sayang. Satu nama laki-laki satu nama perempuan," kata Mona.


"Oke deh," kata Bara.


Mereka lalu mencari nama yang tepat untuk buah hatinya nanti.


***


Alex sering ikut pengajian bersama Paimin. Entah sejak kapan dia mulai ikut acara pengajian. Namun, perkembangannya saat ini pasti dia lebih baik.


"Min, lihat wanita itu dia cantik sekali ya," ucap Alex saat melihat seorang wanita berhijab merah.


"Wah, bapak ini ternyata pengajian sekalian cari cewek ya," goda Paimin.


"Gak apalah, Min. Kan sambil menyelam minum air," ucap Alex.


Mata Alex tak henti menatap wanita itu. Hingga wanita itu menyadari jika Alex melihat ke arahnya.


Wanita itu langsung menunduk, dia terlihat malu ada pria yang menatapnya seperti itu.

__ADS_1


"Pak, udah jangan lihat ke sana. Ceweknya malu tuh," tegur Paimin.


"Kamu itu, Min. Merusak suasana," kata Alex lalu pandangannya beralih ke Paimin.


Meskipun cacat Marino memang masih tampan. Dia juga masih punya hasrat untuk menikah lagi.


Selesai pengajian, Alex meminta agar Paimin mengantarkan ke wanita yang tadi dia lihat.


"Assalamualaikum, Mbak," ucap Alex.


"Waalaikumsalam," balas wanita itu tersenyum.


"Perkenalkan nama saya Alex. Kalau boleh tahu nama Mbak siapa?" tanya Alex.


Belum sempat menjawab, seorang pria mendekati wanita itu.


"Sayang, ayo kita pulang!" ajak pria itu menggandeng lengan wanitanya.


Seketika Alex merasa malu, ternyata wanita itu sudah punya suami.


"Maaf, Mas. Kami duluan ya," kata suami wanita itu lalu pergi bersama istrinya.


"Aduh...ada yang patah hati," ledek Paimin.


"Udahlah, wanita masih banyak, Min." Alex sok tegar padahal dia meras sakit hati.


"Udah ah ayo pulang, Pak!" Ajak Paimin.


Paimin baru mendorong Alex, tiba-tiba seorang wanita menabrak kursi roda Alex.


"Maaf, Mas. Saya buru-buru," kata wanita itu.


"Iya, Mbak. Gak apa-apa," kata Alex.


Wanita itu cantik, dia terlihat seumuran dengan Mona. Alex menatap wanita yang telah pergi itu tanpa berkedip.


"Iya, dia pasti belum punya pasangan," kata Alex.


Secara diam-diam, Alex menyelidiki tempat tinggal wanita bernama Sarah itu. Dia seorang janda beranak satu. Anaknya sudah kelas satu SMP.


"Kesempatan bagus," kata Alex.


Alex mendekati Sarah mulai dari anaknya dulu.


Saat itu anak Sarah yang bernama Ikbal ke sekolah dengan berjalan kaki. Alex meminta untuk menawarkan tumpangan pada Ikbal. Awalnya Ikbal takut diculik tapi melihat Alex yang cacat dia jadi mau.


"Kalau boleh tahu nama kamu siapa?" tanya Alex.


"Namaku Ikbal, Om," jawab Ikbal.


"Kenapa gak diantar sekolah sama papa atau mamamu?" tanya Alex.


"Papaku udah meninggal, Om. Kalau mama sibuk kerja kalau jam segini," jawab Ikbal.


Dari Ikbal, Alex dapat mengorek informasi soal Sarah.


***


Jeslyn terus kepikiran dengan rencana Helena. Dia benar-benar tak siap jika harus menjadi janda. Menjadi single parent bukan hal mudah. Apalagi Jeslyn masih muda dan belum pengalaman punya anak.


"Kamu kenapa?" tanya Edwin malam itu.


"Mama, minta kita cerai setelah aku melahirkan," jawab Jeslyn.

__ADS_1


"Lalu kamu mau?" tanya Edwin.


Meskipun Edwin terus bersikap sinis dan ketus tak membuat Jeslyn marah.


"Tidak, aku gak siap jadi janda," jawab Jeslyn.


"Kenapa? Bukannya kamu gak suka sama aku. Kenapa gak mau cerai?" tanya Edwin.


"Aku yakin kamu akan berubah dan jadi papa yang baik buat anak kita. Sebelum keinginan aku merubah kamu berhasil, aku gak akan menyerah," jawab Jeslyn.


Edwin terdiam, hatinya lagi-lagi tersentil dengan ucapan Jeslyn.


"Maafkan aku tak bisa membuat kamu bahagia," kata Edwin.


"Gak apa-apa," kata Jeslyn.


Jeslyn tidur membelakangi Edwin. Tiba-tiba sebuah tangan memeluk Jeslyn dari belakang. Dia tahu itu tangan Edwin.


"Maafkan aku sekali lagi," ucap Edwin.


Edwin ingin mengambil tangannya tapi ditarik kembali oleh Jeslyn. Jeslyn berbalik arah, kini mereka saling berhadapan. Mata Jeslyn melihat ke arah Edwin.


Jeslyn memberanikan diri mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Edwin.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di bibir Edwin.


"Maafkan aku," kata Jeslyn kembali berbalik arah membelakangi Edwin.


Edwin turun dari ranjang dan keluar kamar. Jeslyn seketika menangis karena di abaikan lagi.


Sementara itu, Edwin merasa bersalah pada Jeslyn. Dia terlalu kejam menjadi seorang suami.


"Aku tak layak mendapatkan Jeslyn," ucap Edwin.


Baru kali ini Edwin merasa bersalah. Mungkin saja hatinya sudah tersentuh oleh perlakuan Jeslyn.


Edwin mengusap kasar wajahnya. Dia kembali ke kamar, dan melihat Jeslyn menangis.


Edwin langsung naik ke atas ranjang dan memeluk Jeslyn kembali dari belakang.


"Maafkan aku, aku tak bermaksud menyakitimu," kata Edwin.


Jeslyn berbalik, masih ada sisa air mata di wajahnya. Edwin mengusap air mata Jeslyn dengan jarinya.


"Kita akan berjuang bersama melewati rintangan yang ada," kata Edwin.


Cup


Edwin mengecup bibir Jeslyn. Lalu dari kecupan kecil menjadi ciuman yang sangat panas. Malam itu mereka pertama kalinya melakukan kewajiban suami istri setelah menikah.


Jeslyn bersyukur, usahanya menaklukkan hati Edwin mulai berhasil. Apalagi kini mereka telah melakukan hubungan suami istri pada umumnya.


Pagi sekali Jeslyn bangun dan mandi. Lalu dia menyiapkan sarapan untuk Edwin. Edwin makan, walau kadang sikapnya masih dingin.


"Kamu makan yang banyak. Tuh lihat badanmu kurusan," kata Edwin sambil menyuapi Jeslyn.


Jeslyn menerima suapan Edwin dengan senyum merekah.


Helena kesal melihat kiriman pembantu Jeslyn. Pembantu Jeslyn mengirimkan foto saat Jeslyn di suapi Edwin.


"Bisa gagal rencanaku," ucap Helena kesal.

__ADS_1


"Rencana apa?" tanya Suami Helena.


Helan diam tak menjawab, dia takut kalau suaminya tahu rencana dia.


__ADS_2