Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Khadijah Dilamar


__ADS_3

Jeslyn memang belum datang bulan, tetapi dia berusaha menutupi dari Mona.


"Masa sih ini hanya sakit biasa," kilah Jeslyn.


"Kamu yakin?" tanya Mona khawatir.


"Iya, Kak," jawab Jeslyn.


***


Marino mendadak merasakan was-was. Dia ingin memiliki Khadijah. Namun, rasa takutnya belum juga hilang.


"Jangan bingung, temui saja abahnya Khadijah," kata Bara.


"Tapi bagaimana kalau ditolak?" tanya Marino.


"Kalau ditolak dan kamu memang serius ya cari tahu bagaimana cara mengambil hati anaknya Khadijah dong, Kak. Mas gitu aja harus aku ajarin," jawab Bara.


"Aku akan coba, tapi aku harus menata hati," kata Marino.


Sementara itu Khadijah mendapat panggilan dari rumah. Abahnya meminta dia nanti pulang lebih awal. Karena akan ada tamu.


"Ada apa ya? Kenapa abah gak cerita sama aku?" tanya Khadijah.


Saat itu Marino mendatangi ruangan Khadijah.


"Khadijah, aku akan datangi abahmu," kata Marino.


"Benarkah?" tanya Khadijah tak percaya.


"Iya tapi tidak dalam waktu dekat ini," jawab Marino.


Khadijah faham bahwa Marino perlu mempersiapkan mental untuk bertemu abahnya.


Sore itu Khadijah segera pulang. Sampai di rumah dia melihat ibunya memasak banyak sekali.


"Khadijah, sini abah mau bicara!" panggil abahnya.


Khadijah mengikuti Abahnya ke kursi.


"Khadijah, nanti malam teman abah ada yang kemari. Mereka bermaksud melamar kamu untuk anaknya," kata abah Khadijah.


"Tapi, Bah. Pak Marino juga akan datang temui Abah," kata Khadijah.


"Kalau memang begitu abah kasih waktu bos kamu itu sampai dua hari dari sekarang. Kalau dia tidak juga datang, maka abah terpaksa menerima lamaran teman abah," kata Abah Khadijah.


"Dua hari apa tidak bisa kalau satu minggu, Bah," kata Khadijah mencoba bernegosiasi.


"Tidak, dua hari saja. Kalau memang dia serius pasti datang kemari. Ingat Khadijah lebih baik di cintai dari pada mencintai," kata abah Khadijah.


"Baik, Bah," ucap Khadijah.


Khadijah belum yakin, apa dua hari Marino udah berani datangi abahnya atau tidak. Namun, dia berusaha agar Marino mau segera datang.


Khadijah sangat mengharapkan Marino, tapi jika dalam dua hari Marino tak datang, maka dia juga harus siap menikah dengan orang lain.


"Usia abah tak lagi muda. Abah mau sebelum abah dipanggil Allah, kamu sudah berjodoh," kata abah Khadijah.

__ADS_1


***


Malam itu, keluarga teman Abah Khadijah mereka hanya bertiga dengan anaknya.


"Bah Marwan, abah sudah tahu kan maksud kedatangan kami ke sini. Kami ingin melamar Khadijah untuk Umar," kata abahnya Umar.


"Iya saya tahu, Bah," kata abah Marwan. "Begini saya sudah bicarakan dengan Khadijah, dia meminta waktu dua hari. Ini kan masalah untuk seumur hidup jadi dia perlu berpikir matang. Lagi pula antara Umar dan Khadijah belum saling kenal," kata Abah Marwan.


Khadijah datang bersama ibunya, mereka membawa makanan dan minuman untuk tamu mereka.


"Saya mengerti, Bah," jawab abahnya Umar.


Mereka lalu memperkenalkan Umar pada Khadijah. Umar merupakan guru di salah satu pondok pesantren.


"Silahkan di minum!" Abah Marwan mempersilahkan tamunya.


Setelah mengobrol banyak hal, mereka lalu makan malam.


***


Marino tengah berpikir bagaimana cara agar dia dapay restu dari abahnya Khadijah. Tiba-tiba ponselnya bergetar ada pesan dari Khadijah.


"Abah memberi kamu waktu dua hari. Kalau kamu tidak segera datang, maka aku terpaksa menerima lamaran orang lain," pesan Khadijah.


Marino semakin pusing, dadanya bergemuruh tak karuan. Dia mendadak down mendengar Khadijah akan menerima lamaran orang lain. Padahal Marino belum bisa menghilangkan rasa takutnya.


***


Jeslyn semakin membaik, dia bisa menjalani aktivitas lagi. Hari ini dia sedang sidang skripsi di temani oleh Firza.


"Kamu pasti bisa," kata Firza.


Putri melihat mereka dari kejauhan. Dia mengambil gambar mereka dan mengirimkannya pada Edwin.


Edwin kesal saat melihat mereka terus lengket. Edwin merasa bahwa Jeslyn harus mendapatkan apa yang dia rasakan saat ini.


***


Mona tengah fokus pada kehamilannya, dia semakin rutin mengikuti kelas ibu hamil.


"Mas Bara, kamu gak kerja kan?" tanya Mona.


"Gaklah, katanya aku harus ikut kelas ibu hamil," jawab Bara.


"Ya udah kamu bersiap, kita berangkat!" ajak Mona.


Mereka berangkat ke tempat yoga.


Ponsel Bara berdering setelah dia sampai di lobi tempat yoga.


"Halo, Kak. Ada apa?" tanya Bara. Yang menelfon dia adalah Marino.


"Itu Bara, Khadijah dan abahnya memberi aku waktu dua hari. Kalau aku tidak datang terpaksa Khadijah menerima lamaran orang lain," jawab Marino.


"Keputusan ada ditangan kakak, kalau emang cinta sama Khadijah ya lakukan saja apa mau mereka," kata Marino.


"Tapi aku belum berani," kata Marino.

__ADS_1


"Sayang, kelasnya udah mau mulai," kata Mona.


"Udah dulu, Kak. Aku mau ikut kelas ibu hamil dulu," kata Bara memutus panggilan Marino.


Marino semakin gundah gulana. Dia takut jika nanti Khadijah di lamar orang lain.


***


Dua hari berlalu, Khadijah tengah menunggu Marino datang.


"Bagaimana apa dia akan datang?" tanya Abah Marwan.


"Kita tunggu saja, Bah," jawab Khadijah.


Di rumah, Marino tengah bingung harus memakai baju apa. Dia sudah berganti baju mendadak dia takut lagi. Dia kembali duduk.


Saat yang tidak tepat, Saskia datang ke rumah Marino.


"Pak Marino, kamu berkeringat dingin. Aku buatkan minum ya," kata Saskia.


Kini Marino duduk di sofa ruang keluarga. Saskia ke dapur membuat minum untuk Marino.


"Ini, Pak. Jus kesukaan bapak," kata Saskia.


Banyak berpikir membuat Marino haus tanpa berpikir panjang Marino menghabiskan jus buatan Saskia.


Di rumah Khadijah, dia sedang menunggu kedatangan Marino sudah setengah sembilan malam tapi Marino belum datang.


"Udah gak usah ditunggu, sepertinya dia gak serius sama kamu," kata abah Marwan.


"Bah, masih ada waktu," kata Khadijah masih mengharapkan Marino.


Sementara Marino merasa pusing setelah meminum jus tadi. Dia tiba-tiba merasakan panas di tubuhnya, nafsunya mendadak meningkat. Marino yang melihat Saskia langsung saja menciumi Saskia.


Saskia tersenyum senang karena dia berhasil menjebak Marino. Dia sengaja mencampur obat perangsang diminuman Marino.


Mereka ke kamar untuk melakukan hubungan terlarang.


***


Sudah pukul 10 malam, Abah Marwan sudah mengantuk.


"Abah mau tidur, capek nunggu orang yang gak pasti. Besok abah datang ke rumah Umar untuk menerima lamaran mereka," kata Abah Marwan.


Abah Marwan berdiri lalu berjalan ke kamarnya. Khadijah langsung menangis dan masuk ke dalam kamar. Orang yang dia cintai dan harapkan akan menjadi suaminya malah memberikan harapan Palsu.


Khadijah kecewa terhadap Marino.


Ponsel Khadijah bergetar ada pesan masuk.


Saskia mengirim pesan pada Khadijah.


"Dia milikku,"


Ada beberapa foto Saskia dan Marino dalam keadaan telanjang dada dan berada dalam satu selimut.


Khadijah tahu mereka sudah pasti melakukan hubungan terlarang. Khadijah memantapkan diri untuk memilih Umar menjadi suaminya.

__ADS_1


Khadijah kembali menangis sesegukan. Dia rak mau abahnya tahu foto-foto itu. Dia segera menghapus dari ponselnya.


"Harapan palsu," ucap Khadijah meremas bantalnya kuat-kuat. Dia hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


__ADS_2