
Sarah sudah mulai mengendalikan Marino, bahkan Marino mulai melakukan apa yang Sarah inginkan. Kembali ke perusahaan untuk merebut milik Bara.
"Sayang, aku berangkat!" ucap Marino saat pamit berangkat kerja pada Sarah.
"Ingat sayang, kamu jangan mau di manfaatkan oleh Bara. Dia itu gak pantas memimpin perusahaan, yang pantas hanya kamu," kata Sarah.
"Tenang saja, aku akan kuasai semua milik Bara," kata Marino.
Marino lupa bagaimana dulu Mona dan Bara yang merebut kembali milik Sonya dari Alex. Tapi dia kini malah terhasut oleh Sarah.
Marino sampai di kantor, Bara sama sekali tak menyapanya. Marino membuat peraturan baru bahwa semua urusan perusahaan akan kembali di atasi dia. Bara tak pernah melarang hal itu, asal Marino tidak keterlaluan.
"Pak Bara, Pak Marino kembali. Dia meminta beberapa dana perusahaan," kata bagian keuangan.
"Untuk apa? Dan berapa jumlahnya?" tanya Bara.
"Satu milyar, katanya untuk proyek dia yang baru. Tapi kamu belum cek proyek yang dia katakan," jawab bagian keuangan.
"Cek saja dulu, jika memang dia menangani proyek pasti aku tahu," kata Bara. "Nyatanya sampai saat ini aku tak tahu," kata Bara.
Hari ke dua Marino kembali ke perusahaan, Sarah datang membawakan makan siang Marino. Dia tentu bertemu dengan Saskia.
"Oh ini istrinya Marino yang katanya janda lupa anaknya," ejek Saskia.
"Heh jaga mulut kamu. Aku tuh istri bos kamu. Kamu mau di pecat," bentak Sarah.
"Kalau emang niat di pecat pasti udah dari dulu, nyatanya gak tuh," ucap Saskia.
Sarah tak mau meladeni Saskia, dia langsung menuju ke ruangan Marino. Namun, di depan ruangan Marino, dia sengaja membuat penampilan dia berantakan.
"Sayang,...huuuuhuuu," Sarah menangis dengan penuh drama.
"Kamu kenapa? Rambutmu berantakan," kata Marino khawatir.
"Itu karyawan kamu yang namanya Saskia menyerang aku," jawab Sarah masih menangis.
Marino langsung saja memanggil Saskia lewat panggilan telfon. Saskia datang ke ruangan Marino.
"Saskia, maksud mu apa menyerang istriku," bentak Marino. "Kamu yang sudah membuat dia seperti ini," sambung Marino.
"Hah..gak lah. Ngapain juga aku nyerang dia," bantah Saskia.
Karena Saskia tak mau mengaku, akhirnya Saskia di skorsing selama satu Minggu. Saskia tak terima dengan perlakuan Marino.
__ADS_1
Sarah yang merasa berhasil tersenyum senang. Dia tak akan membiarkan orang lain mengendalikan Marino.
Bara tahu hal itu tapi memilih diam. Sayangnya, Sarah justru membuat Bara geram. Dia mendatangi ruangan Bara dan bilang pada Bara kalau Marino membentaknya.
"Bara, kakakmu itu kasar sekali ya," kata Sarah. "Masak aku dibentak-bentak," kata Sarah.
"Udah tahu suaminya kerja ngapain juga di samperin," bantah Bara.
Tak berhasil menghasut Bara, Sarah mulai mencari haluan. Dia memberitahu Bara kalau Marino akan mengambil alih semua perusahaan. Namun, Bara masih cuek sehingga Sarah pergi.
"Sulit juga menghasut Bara, gak kaya menghasut Marino," omel Sarah.
Sarah tak habis cara, dia mendatangi Mona di rumahnya. Dia membuat drama yang membuat Mona prihatin padanya.
"Mona...Mona...tolongin aku!" teriak Sarah.
Mona membuka pintu, dia terkejut melihat Sarah datang dengan penampilan berantakan sekali.
"Kamu kenapa?" tanya Mona.
"Mas Marino...dia kasar sama aku," jawab Sarah. "Tapi aku mohon, kamu jangan bicara sama Bara atau Mas Marino kalau aku ke sini. Aku hanya ingin curhat sama kamu saja," kata Sarah.
Mona mengajak Sarah masuk, waktu itu hanya Mona di rumah dengan baby sitternya. Ikbal masih sekolah.
Sarah mengaku kalau soal Ikbal yang dia serahkan itu adalah permintaan Marino. Marino tak mau kalau Ikbal mengganggu dia dan Sarah. Padahal dia tak ingin berpisah dari Ikbal.
Mona merasa prihatin dengan perlakuan Marino terhadap Sarah. Namun, dia juga tak bisa ikut campur urusan mereka.
Sarah senang saat Mona mengatakan tidak akan memberitahu siapapun. Sarah pulang sebelum Ikbal pulang ke rumah.
**
Sampai di rumah Sarah tiduran sambil memainkan ponselnya. Dia serasa menjadi nyonya besar. Sudah tak mau mengerjakan pekerjaan rumah. Semua di urus oleh pembantu yang di dipekerjakan Marino.
Pembantu Marino hanya datang dari pukul enam pagi hingga jam lima sore.
"Enaknya jadi orang kaya, mau ini itu tinggal minta sama suami," kata Sarah. "Bodoh sekali Mas Marino, dia mau aja aku hasit," sambung Sarah.
Sementara itu Marino berusaha membuat laporan proyek palsu untuk mengelabuhi Bara dan karyawan lain agar dana satu milyar bisa di keluarkan perusahaan.
"Kak Marino, kapan proyek baru yang kamu tangani akan berjalan?" tanya Bara yang muncul di depan Marino.
"Secepatnya, itu kan hanya proyek kecil. Jadi serahkan saja padaku," Jawab Marino.
__ADS_1
"Baiklah," kata Bara lalu keluar lagi dari ruangan Marino.
Sebenarnya Bara tak begitu yakin dengan proyek yang dikatakan Marino. Hanya saja dia tak mau memperkeruh keadaan. Hubungan dia dan Marino sudah merenggang, dia tak mau jika tambah masalah hanya karena urusan proyek.
**
Bara pulang sore itu, dia melihat Ikbal sedang melukis.
"Wah gambarnya bagus sekali," puji Bara.
Sebuah gambar pemandangan yang sangat indah. Baru beberapa bulan les melukis, Ikbal sudah pandai melukis. Bara yakin, Ikbal akan jadi pelukis terkenal.
"Sayang, kamu sudah pulang," ucap Mona yang baru keluar dari kamar menidurkan Kaisar setelah mandi.
"Iya nih, sini lihat lukisan Ikbal. Lukisannya bagus sekali," ucap Bara.
Mona mendekat, dia melihat lukisan yang sangat bagus.
"Teruskan bakatmu," kata Mona mengusap kepala Ikbal.
Bara segera mandi, sementara Mona ke dapur membantu Bi Murni memasak. Dia tak pernah membiarkan pembantunya itu masak seorang diri. Apalagi sekarang Kaisar sudah punya teman Ikbal dan babysisternya.
Selagi memasak, Mona bercerita pada Bi Murni kalau Sarah datang. Tapi Bi Murni merasa ada yang aneh dari cerita Mona.
"Apa Non Mona percaya sama Sarah?" tanya Bi Murni.
"Entahlah, Bi. Tapi jika samua yang dia ceritakan benar, berarti dia bodoh. Demi seorang pria dia ninggalin anaknya," jawab Mona.
"Aku rasa itu akal-akalan Sarah saja, Non," kata Bi Murni. "Kalau memang dia sayang Ikbal, ke sini pasti ingin bertemu Ikbal nyatanya dia hanya mengadu saja soal Marino," kata Bu Murni.
"Benar juga sih," kata Mona.
"Siapa yang kalian bicarakan?" tanya Bara.
Moda dan Bi Murni kompak diam. Mereka tak menjawab pertanyaan Bara.
"Apa kalian membicarakan Kak Marino dan Sarah?" tanya Bara. "Mona, jangan diam saja. Saranku kamu jangan terlalu percaya Sarah. Dia itu wanita bermuka dua," sambung Bara.
Bara lalu menceritakan saat dia mendatangi rumah Marino.
"Apa Sarah menghasut Kak Marino?" tanya Mona.
"Ya begitulah, jadi jangan percaya dengan dia," jawab Bara.
__ADS_1
Mona tak menyangka kalau ternyata Sarah bermuka dua.