
"Hah...kenapa mereka tidak menikah?" tanya Sarah.
"Kak Marino tidak mau melamar Khadijah. Abahnya Khadijah seorang ustadz jadi Kak Marino merasa takut di tolak. Karena hal itu Khadijah dijodohkan," jawab Mona.
"Apa Mas Marino masih mencintai dia?" tanya Sarah.
"Soal itu aku gak tahu," jawab Mona.
Sarah lalu pulang ke rumah, dia mencari sesuatu di rumahnya untuk mendapatkan petunjuk. Jika memang Marino masih mencintai Khadijah, untuk apa dia menikah Sarah.
Sampai Marino pulang, Khadijah tak kunjung dapat petunjuk.
"Cari apa kamu di tempat kerjaku?" tanya Marino.
"Mas apa kamu masih mencintai Khadijah?" tanya Sarah.
"Oh jadi kamu sudah tahu soal Khadijah, ya aku masih mencintai dia," jawab Marino.
"Lalu kenapa kamu nikahi aku?" tanya Sarah.
"Kamu tanya karena apa? Karena kamu mirip dengan Khadijah. Tapi sayang setelah aku menikah sama kamu, Khadijah malah kembali muncul," jawab Marino. "Jangan harap aku mencintaimu dengan tulus," kata Marino.
Ada rasa sakit saat sang suami mengatakan hal itu. Namun, Sarah sudah terlanjur mencintai Marino. Dia tak akan melepaskan Marino sebelum mendapat apapun.
Sarah harus bertindak baik lagi dengan Marino. Dia tak mau Marino lepas begitu saja.
"Mas, maafkan aku ya. Aku gak masalah kalau kamu masih cinta sama Khadijah," kata Sarah.
"Kamu yakin?" tanya Marino.
"Iya, Mas. Cintamu boleh saja untuk orang lain, yang penting saat ini kamu adalah suamiku," jawab Sarah.
Marino senang karena Sarah tak marah. Bagi Marino Sarah terlalu bodoh karena mau aja dengan pria yang tidak mencintainya.
Berbeda dengan Sarah, dia senang karena bisa mengambil hati Marino. Dia akan gunakan kesempatan ini untuk mendapatkan semua yang dia inginkan. Dia sudah rela jauh dari Ikbal, jadi dia harus tetap pada tujuan awalnya yaitu menguras harta Marino.
**
Jeslyn dan Edwin kehidupannya semakin bahagia. Namun, berbeda dengan Helena. Usahanya terancam bangkrut. Ternyata Mumun membuat usaha Helena semakin sepi.
Mumun yang sekarang menjadi simpanan orang kaya, mendadak menjual baju juga di area yang sama dengan tempat Helena jualan. Bahkan harga yang dia berikan lebih murah sehingga banyak pelanggan Helena yang ke toko Mumun.
"Helena, kamu sudah jatuh tempo. Hutangmu harus kamu bayar," kata seorang pria.
Pembagian harta gono-gini tak cukup untuk Helena. Dia mengajukan pinjaman ke rentenir atas saran Mumun. Namun, kini dia malah tidak bisa membayar hutangnya.
"Maaf, beri saya waktu," kata Helena.
Mumun tiba-tiba datang," Berapa hutang dia yang belum dibayar?" tanya Mumun.
__ADS_1
"100 juta," jawab pria itu.
"Helena, bagaimana kalau aku bayar hutangmu? Dengan syarat kamu serahkan toko kamu ke aku," kata Mumun.
Helena awalnya menolak, tapi beberapa hari setelahnya dia menemui Mumun. Dia menyepakati bantuan Mumun. Helena harus kehilangan usahanya.
**
Berita tentang toko Helena yang dibeli Mumun belum sampai ke telinga Jeslyn dan Mona. Helena merahasiakan hal itu dari mereka. Helena tidak mau menyusahkan kedua anaknya itu.
"Mama, mama gak ke toko?" tanya Mona saat Helena berkunjung ke rumah Mona siang itu.
"Tutup sebentar gak masalah, lagi pula aku mau ketemu cucuku," jawab Helena bohong.
"Oh gitu," ucap Mona.
Helena terlalu pandai menyimpan semua sendiri. Jadi Mona tidak merasa janggal pada ucapan Helena.
**
Sarah menunggu kepulangan Marino namun hingga pukul 9 malam Marino tak kunjung pulang. Di telfon juga tak diangkat, Sarah mulai resah.
"Mendingan aku cari aja sertifikat rumah ini," kata Sarah.
Sarah masuk ke ruang kerja Marino, tetapi tak menemukan sertifikat rumah.
Sarah akhirnya memutuskan untuk tidur saja. Berada di rumah seorang diri sangat membosankan.
Pagi hari Sarah bangun, Marino sudah ada di dekatnya.
Sarah menyiapkan sarapan untuk Marino. Dan ketika Marino bangun sarapan sudah siap.
"Mas, aku boleh minta sesuatu gak?" tanya Sarah.
"Minta apa? Tas, sepatu baju kan udah banyak yang masih baru," jawab Marino.
"Aku bosan di rumah terus, belikan aku tempat usaha," kata Sarah. "Aku kan udah izinkan kamu cinta sama Khadijah," rayu Sarah.
"Boleh aja, asal kamu mau aku madu dengan Khadijah," kata Marino.
Sarah awalnya terkejut, namun dia berusaha untuk mengikuti alur.
"Ya gak apa-apa asal kamu belikan aku tempat usaha dan rumah," kata Sarah.
"Untuk apa rumah?" tanya Marino.
"Kalau Mas Marino punya dua istri, aku gak mau satu rumah sama kamu dan Khadijah. Jadi aku minta belikan rumah," jawab Sarah.
"Oh gitu boleh, nanti aku carikan tempat usaha. Emang mau usaha apa?" tanya Marino.
__ADS_1
"Usaha laundry," jawab Sarah.
Marino berpikir tak masalah membelikan tempat usaha dan rumah untuk Sarah yang penting dia dapat izin menikah lagi. Pasalnya Marino sudah berhasil merayu Khadijah. Bahkan Khadijah sudah janji akan cerai dengan Umar dan menikah dengan Marino.
Setelah Marino pergi ke kantor, Sarah pergi ke rumah Mona.
"Mona, kamu tahu gak katanya Mas Marino mau memaduku dengan Khadijah. Apa mungkin Khadijah mau ceraikan suaminya?" tanya Mona.
"Soal itu aku gak tahu ya, mendingan kamu selidiki sendiri," jawab Mona. "Aku gak mau ngurusin rumah tangga orang lain," kata Mona.
Akhirnya Sarah pulang dari rumah Mona. Dia pergi jalan sebentar. Namun, di jalan dia melihat Khadijah. Meskipun Sarah hanya melihat foto Khadijah di ponsel Marino tapi dia yakin wanita di depannya adalah Khadijah.
"Mas, hentikan kebohongan kamu," kata Khadijah.
"Biarkan saja, aku hanya ingin memberikan pelajaran untuk dia," kata pria itu yang tak lain adalah Umar.
Sarah penasaran sekali siapa yang mereka bicarakan. Sehingga dia pindah tempat ke tempat yang sedikit dekat dengan mereka.
"Dia berani ganggu kamu, itu resikonya," kata Umar.
"Tapi kamu membohongi dia, Mas," kata Khadijah.
"Sudahlah, jangan bahas dia lagi. Kamu sedang hamil jadi jangan memikirkan pria lain selain suamimu," kata Umar.
Sarah menerka-nerka jika yang mereka bicarakan adalah Marino. Sarah yakin mereka merencanakan sesuatu untuk Marino. Ternyata rencana mereka cukup menguntungkan untuk Sarah.
"Mbak, mau pesan apa?" tanya seorang karyawan.
Sarah mengambil buku menu, dia lalu memesan buku makanan.
Tidak berapa lama pesanan Sarah datang.
"Aku heran dengan istrinya, mau aja dimadu. Bodoh banget wanita itu," kata Umar.
"Mungkin karena terlalu cinta sama suaminya," kata Khadijah.
"Bagiku bukan cinta tapi bodoh. Mana ada wanita mau dimadu," kata Umar.
Sarah yang mendengar seketika langsung tersedat.
"Uhuk...uhuk..," Sarah terbatuk-batuk dan segera minum.
Khadijah dan Umar menoleh ke arah Sarah. Mereka merasa aneh dengan sikap Sarah yang tiba-tiba terbatuk-batuk.
Sarah tak berani menoleh ke arah mereka.
"Kamu kenal dia?" tanya Umar.
Khadijah menggeleng, lalu mereka melanjutkan acara makan mereka. Sarah merasa lega.
__ADS_1