
Jesica berusaha menghindar, pria itu justru semakin mendekat.
"Pak Alex, jangan terlalu agresif. Takutnya dia malah semakin takut dengan anda," ucap penjaga.
Alex ya, dia adalah dalang penculikan Jesica di pendakian waktu itu.
"Kamu benar," ucap Alex. "Apa kamu masih berharap bertemu Bara?" tanya Alex pada Jesica. Alex duduk di kursi yang jauh dari Jesica.
"Tentu, di suamiku," jawab Jesica.
"Suami? Tapi bagi dia dan keluarga kamu, kamu sudah mati," jawab Alex.
"Maksudnya apa?" tanya Jesica.
"Eros, bawakan surat kabar itu!" perintah Alex.
Penjaga bernama Eros membawa koran dan memberikannya pada Alex.
"Bacalah! Di sini dinyatakan bahwa kamu telah tiada," jawab Alex.
Jesica mengambil koran itu dan membaca berita tentang pendaki yang hilang dan di temukan dalam keadaan tidak bernyawa. Jesica terkejut saat jasad itu di klaim atas namanya.
"Tidak...ini tidak mungkin," teriak Jesica melempar koran itu.
"Tapi itu kenyataannya, kamu harus tahu bahwa Bara tidak tahu kamu masih hidup," kata Alex.
"Semua pasti rencana kamu, kamu jahat. Kamu bukan manusia," teriak Jesica.
"Hahahah, pandai sekali kamu," ucap Alex. "Ayo kita makan malam saja!" ajak Alex.
Jesica tak mau makan, Susi yang tahu Jesica tak mau makan segera membujuknya.
"Non, makanlah!" perintah Susi. "Ingatlah, bayi Non yang ada di perut butuh makanan," kata Susi.
"Bayi?" tanya Alex menghentikan makannya.
"Iya, tuan. Non Jesica hamil," jawab Susi.
"Dia hamil cucuku, oh tidak mungkin," bantah Alex. "Kamu tidak boleh hamil anak Bara," kata Alex.
Jesica marah, dia berlari ke kamar. Tak peduli jika Alex marah padanya.
Tidak berapa lama Alex masuk membawa makanan.
"Makanlah! Kalau tidak makan maka akan aku sentuh tubuh mulutmu itu," ancam Alex.
"Tidak mau, aku lebih baik mati," bantah Jesica.
"Cepat makan! Jangan buat kesabaran ku habis dan akhirnya memperkosamu," bentak Alex.
Jesica melihat amarah di mata Alex. Terpaksa dia makan karena tak mau Alex menyentuhnya. Dia akan jijik jika Alex menyentuh tubuhnya.
Alex memperhatikan Jesica makan. Dia tersenyum melihat Jesica yang makan dengan ketakutan.
"Turuti apa mauku kalau kamu sayang dengan Bara," kata Alex. "Kalau tidak mau aku akan bunuh dia," ancam Alex.
Mendadak nafsu makan Jesica hilang. Dia sekarang sedang berhadapan dengan serigala yang sangat buas.
"Kamu ingin melihat Bara, bukan? Maka ikutilah mauku," ucap Alex. "Layani aku dengan ikhlas, aku akan perlihatkan Bara padamu," kata Alex.
Jesica di lema, dia tak bisa langsung memutuskan. Alex tak mungkin semudah itu mengembalikan dirinya pada Bara.
"Ku tunggu jawabanmu besok malam," ucap Alex lalu beranjak meninggalkan Jesica sendiri di kamar.
Jesica hanya bisa menangis mengingat bahwa dirinya dinyatakan tiada oleh pihak polisi.
"Mas Bara, aku masih hidup. Tolong aku,Ma!" ucap Jesica sedih.
Sehari Jesica memikirkan apa keputusan yang dia ambil. Sampai akhirnya kembali malam dan Alex menagih jawaban Jesica.
"Bagaimana kamu mau melayaniku dengan ikhlas?" tanya Alex.
"Tidak, aku tidak mau," tolak Jesica. "Lebih baik aku memilih mati," kata Jesica.
"Bajingan," bentak Alex menampar Jesica.
Jesica sampai tertidur di ranjang karena tamparan yang terlalu keras. Pipinya memerah bekas tangan Alex.
"Aku tidak sudi melayani kamu. Bunuh saja aku," tantang Jesica.
"Tidak akan aku bunuh kamu sebelum semua kemauan ku terpenuhi," kata Alex.
Alex menyeringai saat melihat tubuh Jesica.
"Jika kamu tidak mau menyerahkannya dengan ikhlas, maka aku akan melakukannya secara paksa," ucap Alex.
__ADS_1
Jesica segera beranjak hendak berlari tetapi tangan Alex menarik lengan Jesica.
"Kamu tidak akan bisa lari," kata Alex.
Alex menghempaskan tubuh Jesica ke atas ranjang. Lalu di tindihnya tubuh Jesica. Tangan kiri Alex memegangi kedua tangan Jesica sementara tangan kanannya menggerayangi tubuh Jesica.
"Lepaskan! Jangan lakukan itu!" teriak Jesica.
Alex mengambil kain yang ada di dekat nakas, dia gunakan untuk menyumpal mulut Jesica.
"Malam ini kamu akan jadi milikku," kata Alex.
Jesica tak bisa bersuara lagi. dia berusaha melepaskan tangannya namun sudah.
"Eros...bawakan aku tali!" teriak Alex.
Eros datang membawa tali. Dia membantu Alex mengikat kedua tangan Jesica yang diikat ke tiang tempat tidur.
"Keluarlah! Jangan ganggu kami!" perintah Alex pada Eros.
Eros ke luar, dia tidak lupa mengunci pintu kamar dari luar.
Alex sengaja tidak mengikat kedua kaki Jesica. Dia mulai menyingkap baju Jesica dan melepaskan semua pakaian yang Jesica pakai.
Dalam sekejap saja Jesica sudah polos tanpa busana karena pakaiannya di robek Alex.
"Nikmati semua Jesica," ucap Alex masih menindih kaki Jesica.
Alex mulai menjilat bagian tubuh Jesica. Bahkan Alex mulai memainkan kedua gunung kembar milik Jesica.
"Nikmat sekali," kata Alex.
Setelah dari gunung kembar, Alex berpindah ke paha Jesica. Dia menikmati setiap inti tubuh Jesica.
Jesica hanya bisa menangis tanpa suara. Dia tak bisa menahan amarah saat Alex berhasil menerobos miliknya secara paksa.
Bukan kenikmatan yang Jesica rasakan namun sakit hati dan dendam yang tumbuh di hati Jesica.
"Aahh..aahh..," Suara menjijikkan yang di keluarkan Alex membuat Jesica muak.
Air mata Jesica membasahi bantal yang Jesica gunakan.
Setelah melakukan pelepasannya Alex tertidur di samping Jesica. Dia masih membiarkan tubuh Jesica polos.
Saat terlelap, Jesica merasa ada sesuatu yang menerobos lubangnya. Dia membuka mata di lihatnya Alex sudah berada di atasnya kembali.
"Tidurlah sayang, nikmati permainan ranjangku," kata Alex.
Ternyata Alex tidak hanya melakukannya dua kali pelepasan. Namun, empat kali sehingga Jesica merasakan ada sesuatu merembes di antara pahanya.
Rasa sakit, perih dan mata berkurang-kunang. Hingga dia tak sadarkan diri.
***
Saat Jesica kembali membuka mata, dia melihat ruangan serba putih. Di sana tidak ada siapapun.
"Di mana aku?" tanya Jesica.
Seseorang membuka pintu, ternyata Susi yang datang.
"Bik, di mana aku?" tanya Jesica.
"Non Jesica ada di rumah sakit. Semalam Non Jesica pingsan," jawab Susi.
Jesica merasa ada sesuatu yang aneh di area ***********. Dia merasa sakit dan nyeri sekali.
"Bik, apa yang terjadi padaku?" tanya Jesica.
"Kata Dokter, Non Jesica mengalami keguguran," jawab Susi.
Jesica menangis, dia telah gagal menjaga anak dia dan Bara. Semua terjadi karena ulah Alex, dia telah membunuh cucunya sendiri.
Pintu kembali terbuka, Alex masuk dan Susi ke luar dari ruangan Jesica.
"Apa yang kamu tangisi?" tanya Alex.
"Semua karena kamu, aku kehilangan anakku," jawab Jesica.
"Sudahlah, kita nanti buat lagi. Anak kita berdua saja Jesica," kata Alex.
"Tidak, aku tidak sudi mengandung anakmu," bantah Jesica.
"Ayolah, terima saja kalau kamu sudah jadi milikku!" ucap Alex.
Jesica benar-benar benci pada Alex. Dia sudah bukan manusia lagi. Jesica berjanji akan membalaskan semua rasa sakit hatinya.
__ADS_1
***
Hampir satu minggu Jesica berada di rumah sakit. Keadaan dia kembali pulih, namun mental dia masih saja down.
"Non, makan ya," kata Susi membujuk Jesica.
"Tidak, Bik. Aku mau mati saja dari pada menjadi budak nafsu Alex," kata Jesica.
"Jangan begitu! Non Jesica harus bertahan. Ingat suami Non masih hidup dia pasti merindukan, Non," bujuk Susi.
Tubuh Jesica semakin kurus. Dia makan hanya semaunya saja. Sementara Alex telah kembali ke Jakarta.
Penjagaan semakin ketat tak bisa untuk melarikan diri. Jesica terus berpikir bagaimana dia bisa lari dari Alex.
Jesica mencoba melarikan diri tapi gagal karena Eros memergokinya.
"Non jangan kabur! Pak Alex pasti akan semakin marah," kata Eros.
"Aku bosan di sini. Aku mau ketemu suamiku," kata Jesica.
Jesica menangis di depan Etos, dia menceritakan semua keluh kesahnya. Tiba-tiba Eros merasa iba.
"Bagaimana kalau Non Jesica pura-pura lupa ingatan?" tanya Eros.
"Maksud kamu apa?" tanya Jesica.
Eros membisikkan sesuatu di telinga Jesica. Sepintas senyum mengembang di bibir Jesica.
"Eros, kenapa kamu mau membantuku?" tanya Jesica.
"Aku merasa iba dengan Non Jesica. setelah melihat kelakuan Pak Alex malam itu pada Non Jesica. Aku punya anak perempuan, aku jadi takut andai anakku ada di posisi Non Jesica," jawab Eros.
Entah apa yang di rencanakan Eros dan Jesica. Tapi nampak Jesica setuju dengan rencana Eros.
***
Pagi itu Jesica hendak kembali melahirkan diri saat Eros pergi ke luar. penjaga yang lain memergoki Jesica.
"Non, jangan kabur!" pinta penjaga.
Jesica memaksa berlari, tiba-tiba saja dia tersandung batu dan jatuh. Kepalanya membentur batu.
Penjaga khawatir saat melihat kepala Jesica berdarah. Dia langsung memberitahu Eros.
Mereka membawa Jesica ke rumah sakit terdekat. Alex yang diberitahu Eros langsung saja ke Bandung.
Jesica tersadar, saat itu Alex sudah berada di ruangan Jesica.
Alex mendekati Jesica,"Siapa kamu? Jangan mendekat!" ucap Jesica.
"Jesica, kamu kenapa?" tanya Alex.
"Pak Alex, Bu Jesica mengalami amnesia karena benturan di kepalanya yang sangat keras," jawab Dokter.
Bukan sedih karena Jesica lupa ingata. Alex justru tersenyum.
"Mona, aku Alex suami kamu," jawab Alex.
"Suami, kamu suamiku," kata Jesica alias Mona.
Ya, Alex punya rencana mengganti nama Jesica menjadi mona.
Mona merasakan sakit kepala, dia masih perlu banyak istirahat.
"Eros, kamu jaga Mona. Aku mau setelah dia ke luar dari rumah sakit, kita bawa dia ke luar negeri untuk operasi wajah. Aku ingin membawa dia ke Jakarta," kata Alex.
"Baik, tuan," kata Eros.
Sementara Mona mencoba mengingat semua namun semakin diingat kepalanya semakin sakit.
"Au...sakit," pekik Mona.
Susi yang sudah dapat wejangan dari Alex pun memanggil Jesica dengan sebutan Mona.
"Non Mona, jangan dipaksa ya. Nanti pasti Non sembuh," kata Susi.
Dalam hati Susi kasihan pada Jesica karena Alex mengubah identitas Jesica menjadi Mona.
"Bik, apa benar orang bernama Alex itu suamiku?" tanya Mona.
"Be...benar, Non," jawab Susi gemetar.
"Mona aku suamimu, lihatlah ini foto pernikahan kita," sahut Alex yang datang membawa foto pernikahan dia dan Mona.
Mona mengernyitkan dahi mercon mengingat semua namun kepalanya sakit lagi.
__ADS_1