
Sarah tentu tak akan membongkar rencana Khadijah dan Umar. Dia memilih menyimpan semua itu rapat-rapat.
"Aku sudah carikan kamu tempat usaha," kata Marino. "Rumah juga sudah aku siapkan," kata Marino.
"Aku mau semua atas namaku, jadi ketika nanti kamu sudah sah menjadi suami Khadijah aku janji tak akan mengganggumu, walaupun aku masih istrimu," kata Sarah.
"Kenapa kamu mau di madu?" tanya Marino.
"Simple saja, jika kamu tidak mencintai aku maka aku harus rela kamu dengan orang yang kamu cintai," jawab Sarah. "Sekalipun kamu ceraikan aku juga tak masalah. Asal tempat usaha dan rumah sudah atas namaku," kata Sarah.
"Dasar matre," ucap Marino.
Sarah tak marah dikatakan matre karena memang dirinya matre. Dia hanya mengincar harta milik Marino. Setidaknya dia gak akan rugi karena sudah dapat usaha dan rumah.
Marino hari-harinya tampak bahagia, sementara setelah mendapat tempat usaha dan rumah atas nama dirinya Sarah hanya fokus pada usahanya.
Sarah mulai aktif mengelola usaha Laundry yang baru dia rintis. Dia juga sering mendatangi Ikbal. Jika dia biasa datang ke rumah Mona untuk curhat kali ini dia datang untuk Ikbal.
"Ikbal, maafkan ibu. Ibu akan jemput kamu setelah urusan Ibu selesai," kata Sarah mendekati Ikbal.
Ikbal justru menjauh dari Sarah, dia takut kalau Sarah hanya berbohong padanya.
"Sarah, kalau kamu emang punya niat baik lakukan buktikan pada Ikbal kalau kamu masih sayang dia," kata Mona.
"Baiklah, sepertinya aku akan cerai sama Mas Marino," kata Sarah.
Mona tak mau ikut campur dengan urusan Sarah. Bagi Mona yang penting Ikbal bisa bahagia dan Sarah segera sadar itu saja.
**
Sarah kembali ke tempat usahanya, hari-hari ini cukup ramai. Sarah yang sudah punya beberapa karyawan merasa kewalahan.
"Bu, laundry kita makin ramai apa ibu tidak akan menambah karyawan baru?" tanya salah satu karyawan Sarah.
"Nanti aku Carikan orang," kata Sarah.
Akhirnya Sarah menghubungi saudaranya, awalnya mereka menolak setelah apa yang Sarah perbuat terhadap Ikbal. Tetapi Sarah berhasil meyakinkan mereka kalau Sarah akan mengambil Ikbal kembali.
Ketika Sarah sibuk dengan usahanya, justru Marino tengah bahagia. Siang ini dia akan berjumpa dengan Khadijah.
"Mau kemana?" tanya Bara saat melihat Marino dandan rapi dan wangi.
"Mau bertemu pujaan hati," jawab Marino lalu pergi.
Marino menunggu Khadijah di salah satu restoran besar. Marino sudah memesan beberapa makanan.
"Aku gak sabar ketemu Khadijah," kata Marino.
__ADS_1
Pintu terbuka, Marino tersenyum saat melihat Khadijah datang. Marino menyambut Khadijah dan memberinya bunga.
"Terimakasih," ucap Khadijah.
"Khadijah, kapan kita bisa menikah?" tanya Marino.
"Sabar dulu, lebih baik kita makan dulu," jawab Khadijah.
Mereka lalu makan, Khadijah tak makan banyak karena sejak hamil trisemester pertama dia jarang makan banyak.
Selesai makan, Khadijah meletakkan sendoknya. Mereka berbicara pada intinya.
**
Sementara itu Umar di ruangan lain tengah mendengarkan percakapan antara Khadijah dan Marino.
"Apa kamu yakin jadikan aku yang ke dua?" tanya Khadijah.
"Ya tapi kalau kamu gak mau, aku bisa ceraikan istriku," jawab Marino.
"Aku mau kamu ceraikan istriku," kata Khadijah. "Aku ingin bukti, bukan hanya sekedar janji," kata Khadijah.
Padahal dalam hati Khadijah sangat kesal dengan Marino yang dengan mudah mempermainkan wanita.
"Tenang saja aku akan segera ceraikan dia," kata Marino.
Umar kesal dengan kelakuan Marino, namun dia harus membuat pria itu jera.
"Soal itu kamu tenang saja," jawab Khadijah.
Mereka lalu berbicara soal pernikahan.
**
Sarah tak peduli jika dia kembali menjadi janda. Dia sudah mencari syarat untuk mengajukan cerai.
Siang itu juga Sarah mengajukan gugatan cerai. Gugatannya mudah di terima karena alasannya adalah Marino mandul.
"Aku pasti akan menjemputmu, Nak," kata Sarah. "Aku gak mau kalau aku diperbudak cinta lagi," sambung Sarah keluar dari pengadilan agama.
Sarah kembali ke tempat Laundry, dia akan pulang ke rumahnya yang dibeli oleh Marino.
Sampai di rumah barunya, Sarah senang. Rumah itu besar dan bagus ada kolam renang juga di sana.
Sarah memperkerjakan seseorang untuk membersihkan rumahnya.
**
__ADS_1
Wajah Marino tampak kusut saat keluar dari ruang VIP yang dia sewa untuk pertemuan dengan Khadijah. Bahkan wajahnya lebam di beberapa area.
"Aku kira dia tulus, ternyata aku hanya dijebak," kata Marino.
Saat dia tengah mengobrol dengan Khadijah tadi, tiba-tiba Umar datang. Dia langsung menyerang Marino karena Marino berusaha menganggu Khadijah. Marino hampir saja mencium Khadijah sehingga Umar marah.
"Khadijah ceraikan suami kamu ini," kata Marino.
"Maaf aku gak akan bercerai dengan pria sebaik dia. Hanya demi sampah sepertimu," kata Khadijah.
Mendengar dirinya dihina dengan ucapan sampah Marino marah. Dia mendorong Khadijah hingga terjatuh. Namun, hal yang membuat Marino terkejut adalah Khadijah ternyata dalam keadaan hamil. Akibat dorongan Marino Khadijah mengalami sakit perut. Umar marah besar dan mengancam Marino.
Marino pulang, tapi bukan ke rumahnya melainkan ke rumah Sarah.
"Sarah...Sarah...bukakan pintu," kata Marino.
Sarah membuka dan melihat Marino dengan wajah bonyoknya.
"Maaf, Mas. Aku udah ajukan gugatan cerai, jadi jangan masuk rumah ini," kata Sarah.
"Dasar wanita jahat! Kamu sengaja menipu ku sama seperti Khadijah dan suaminya," kata Marino.
Sarah tak terkejut karena sebelumnya dia sudah tahu.
"Jadi kamu sudah tahu ya kalau Khadijah dan suaminya udah nipu kamu," kata Sarah.
"Kok kamu tahu," kata Marino.
"Ya aku tahu karena aku pernah mendengar mereka sedang membicarakan kamu. Ya itu akibatnya kalau kamu sudah bermain hati," kata Sarah.
Marino kalap, dia mendorong Sarah. Marino mencekik leher Sarah.
"Lepaskan, Mas! Lepaskan!" Teriak Sarah.
Sarah merasakan nafasnya mulai tersengal, pembantu Sarah yang tahu dengan situasi yang bahaya langsung menelfon polisi. Dia tak mungkin menghadapinya sendiri.
"Kamu harus mati!" bentak Marino.
"Apa kamu puas kalau aku mati," ucap Sarah terbata karena lehernya masih di cekik.
Sarah di baringkan di sofa, Marino masih mencekik leher Sarah dengan kendor. Tapi karena Sarah tak mau diam Marino mengencangkan cekikannya.
"Lepaskan! Anda kami kepung," kata seorang polisi.
Ada beberapa polisi masuk mendekati Marino. Marino melepaskan Sarah, namun dia bersuara melarikan diri. Sayangnya, dia tak bisa karena rumah sudah di kepung. Marino terus melawan dan mengeluarkan senjata tajam jadi polisi terpaksa melumpuhkannya.
Dor
__ADS_1
Satu tembakan mengenai salah satu kaki Marino. Dia tak bisa jalan dan kesempatan itu polisi gunakan untuk menangkap Marino.
Sarah tak pernah menyesal kalaupun Marino di penjara. Dia pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya.