
Sejak Edwin memutuskan meninggalkan Alex, dia tak bisa apa-apa. Alex mencari pembantu baru lewat yayasan. Beruntung tangan Alex sudah bisa memegang sesuatu jadi dia bisa menggunakan ponsel.
Tak kunjung mendapatkan pembantu baru membuat Alex harus melakukan apapun sendiri. Semua sangat berat bagi Alex, tapi bagaimana lagi dia gak mau berurusan dengan Bara.
Malam itu terasa sunyi sekali. Terlebih lagi Alex hanya bisa menonton televisi. Tak ada Edwin membuat Alex merasa kesepian dan ingin meminta Edwin kembali.
"Apa aku minta Edwin kembali dan mendukung rencananya?" tanya Alex. "Edwin pasti tidak mau," ucap Alex.
Tinggal seorang diri di rumah tak enak. Apalagi dengan kondisi Alex yang lumpuh itu.
Saat haus Alex ingin mengambil air minum tapi dia sangat kesusahan.
pyar
Gelasnya terjatuh dan pecah berserakan.
"Ya ampun aku tak bisa apa-apa tanpa orang lain," kata Alex sedih. "Semua balasan atas kesalahanku dulu," ucapnya.
Tanpa terasa air mata Alex menetes, dia menyesal atas apa yang dulu dia lakukan pada Jesica. Sehingga Jesica dendam dan membalasnya lebih kejam.
***
Mona dan Edwin seperti biasa pergi ke tempat yoga. Kali ini ditemani oleh Jeslyn juga.
"Edwin, kapan-kapan aku boleh ke rumah Om kamu kan?" tanya Jeslyn.
"Boleh, tapi lebih baik sama aku. Soalnya Om sama Tante takutnya pas gak di rumah," jawab Edwin.
"Putri kenapa ya, di kampus kok jutek banget sama aku. Apalagi kalau aku tanya soal kamu dia selalu jawab gak tahu bukan urusan aku," kata Jeslyn.
"Ya dia emang gitu. Mendingan jangan dekat sama dia kamu," kata Edwin.
"Loh kok gitu, dia kan saudara kamu," ucap Jeslyn.
"Dari pada kamu di cuekin entar sakit hati," kata Edwin.
Edwin senang Putri bisa diajak kompromi. Namun, tetap saja dia harus waspada.
Mona sudah selesai yoga, dia mengajak Edwin dan Jeslyn makan bersama. Mereka makan di dekat tempat Yoga.
Saat mereka masuk, Mona melihat Alex sedang makan di sana.
"Alex..," panggil Mona.
"Mona...," ucap Alex.
"Pak Jalal mana kok kamu sendiri?" tanya Mona.
"Jalal sudah mengundurkan diri. Saya tidak punya pengasuh lagi, mau cari tapi belum dapat," jawab Alex.
"Kasihan sekali," ucap Mona. "Yuk kita makan di sana!" ajak Mona pada Jeslyn dan Edwin.
Edwin merasa tenang karena Alex tidak membongkar identitasnya.
"Siapa orang tadi?" tanya Edwin pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Dia Alex, papanya Mas Bara. Dia orang yang sudah jahat sama keluarga aku. Kamu tahu dia lumpuh karena aku yang balas dendam," jawab Mona. "Aku terlalu sakit hati karena dia aku keguguran," kata Mona.
Padahal Edwin sudah tahu semua namun dia pura-pura tanya.
Mereka makan, saat makan Edwin mendapat pesan dari Alex untuk bertemu di toilet. Edwin minta izin pada Mona ke toilet.
"Edwin, kenapa kamu masih bersama mereka?" tanya Alex setelah Edwin sampai di toilet.
"Aku kerja jadi sopir Mona selama ini," jawab Edwin. "Aku harap kamu tetap diam seperti tadi. Jangan sampai ada yang tahu kalau kita saudara," ucap Edwin.
"Edwin, aku kesepian. Bisakah kamu sesekali menjengukku?" tanya Alex.
"Maaf aku gak punya waktu mengurus orang cacat seperti kamu," jawab Edwin.
Sedih sekali Alex mendengar jawaban Edwin. Dia yang saudara saja tak peduli padanya apalagi orang lain.
"Jangan pernah sapa aku jika kita bertemu. Apalagi sampai ada niatan untuk menggagalkan rencanaku," kata Edwin meninggalkan Alex.
Alex memilih pasrah, dia akan berusaha untuk mandiri.
Saat tengah membayar Alex membayar dengan kartu ATM yang diberikan Bara.
"Maaf, Pak. Saldonya tidak cukup," jawab kasir.
"Masa sih, Mbak. Anak saya setiap bulan mentransfer ke rekening itu," kata Alex.
"Benar, Pak," ucap Kasir.
Mona akan membayar, dia melihat Alex di kasir.
"Itu, saldonya tidak cukup, Mbak," jawab kasir.
"Alex, bukannya setiap bulan Bara memberimu bagi hasil? Kenapa kamu tak punya uang?" tanya Mona.
"Aku tidak tahu, selama ini yang memegang ATM itu Jalal," jawab Alex. "Mungkin Jalal sudah mengambil uangnya," ucap Alex.
Alex bingung harus membayar dengan apa makanannya. Mau nyuci piring juga dia gak mampu.
"Mbak, punya dia sekalian saya yang bayar," kata Mona.
"Terima kasih, Mona," kata Alex.
Mona mendorong kursi roda Alex ke luar restoran.
"Kamu pulang bagaimana?" tanya Mona.
"Naik taxi," jawab Alex.
"Masih punya uang?" tanya Mona.
Alex menggeleng,"Ya sudah aku antar," kata Mona. "Edwin! Tolong bantu Alex! Kita antarkan dia pulang," perintah Mona.
Edwin kesal karena akan bersama Alex semobil.
"Kak, ngapain sih orang jahat kaya dia ditolongin," protes Jeslyn. "Mendingan biarkan aja dia naik taxi, toh dia bukan mertua kakak lagi," kata Jeslyn.
__ADS_1
"Dia gak punya ongkos. Udah jangan protes," kata Mona.
Edwin dengan terpaksa membantu Alex naik ke mobil. Alex berada di depan bersama Edwin.
"Sial ngapain si cacat ini malah satu mobil denganku," batin Edwin.
"Eh Alex, awas aja ya kamu masih berani jahat sama kita. Kak Mona pasti akan bikin kamu mati," kata Jeslyn.
Sementara Mona diam saja, dia melihat dari kaca raut wajah Edwin berubah.
"Edwin kamu kenapa?" tanya Mona.
"Tidak kenapa-kenapa, Bu," jawab Edwin.
"Kamu seperti menahan kesal. Apa kamu tidak suka aku menolong Alex?" tanya Mona.
"Bukan, Bu. Saya hanya sopir, kalau yang punya mau menolong siapa saja ya aku ngikut aja," jawab Edwin.
Alex menunjukkan rumahnya pada Edwin. Sampai di sana Edwin menurunkan Alex dan mengantarnya hingga ke teras. Mona dan Jeslyn tidak ikut turun.
"Awas saja kalau kamu bocor," ancam Edwin.
"Edwin, kamu hati-hati," kata Alex. "Terima kasih sudah menolongku," kata Alex. "Oh ya apa kamu ambil semua uang yang ada di ATM?" tanya Alex.
"Kalau iya kenapa? Anggap aja itu upahku mengurus kamu selama ini," jawab Edwin lalu pergi.
Sampai di mobil, Jeslyn kesal karena Edwin lama sekali.
"Ngobrol apa sih kalian?" tanya Jeslyn.
"Dia hanya mengucapkan terima kasih pada kita," jawab Edwin lalu melakukan mobil menjauhi rumah Alex.
Ini baru pertengahan bulan, sementara masih ada beberapa hari lagi sementara Alex hanya memegang uang cash sedikit. Dia berharap Bara akan mentransfernya lagi tiap bulan.
Sampai di rumah ternyata Bara sudah pulang. Mona menceritakan semua soal Alex tadi.
"Mas, uang Alex dibawa kabur Pak Jalal," kata Mona.
"Kok kami tahu," ucap Bara.
"Tadi aku ajak Jeslyn dan Edwin makan siang. Ternyata di sana ada Alex, dia mau bayar pakai kartu ATM dari kamu tapi saldonya kosong," jawab Mona.
"Kamu sama Edwin, jadi Edwin ketemu Alex?" tanya Bara penasaran.
"Iya mereka bertemu. Bahkan kita antar Alex pulang," jawab Mona.
"Apa tidak ada hal aneh dari Alex maupun Edwin?" tanya Bara.
"Gak sih, hanya aja Edwin kayaknya gak suka sama Alex. Mungkin karena aku pernah cerita kalau Alex dulu jahat," jawab Mona.
"Sebenarnya bukan karna itu, Mona. Tapi mereka...," Ucapan Bara terhenti karena ponsel Mona berdering.
Mona langsung mengambil ponselnya dan menerima telfon.
"Apa harus aku katakan siapa Edwin sekarang?" batin Bara.
__ADS_1