Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Jangan Menuduh, Mas!


__ADS_3

Setelah menerima panggilan, Mona kembali menemui Bara.


"Mas tadi kamu mau bicara apa?" tanya Mona.


"Mona, aku harap kamu jangan marah," kata Bara.


"Iya katakan saja," ucap Mona penasaran.


"Sebenarnya Alex kenal dengan Edwin," ucap Bara.


"Jangan ngaco, Mas! Tadi aja Edwin gak kenal Alex begitu juga dengan Alex," sanggah Mona. "Kalau kamu gak suka dengan Edwin, oke gak masalah tapi jangan nuduh Edwin kenal Alex. Aku lihat sendiri mereka tidak saling kenal," kata Mona.


"Mona, aku diam-diam menyuruh orang membuntuti Edwin. Edwin itu keponakan Alex, dia tinggal sama Alex," ucap Bara.


"Gak, Mas. Aku gak percaya! Jeslyn sudah kenal om dan tante Edwin, dia bukan Alex. Malahan anaknya om dan tante Edwin teman kampusnya Jeslyn," bantah Mona.


"Aku sudah membuktikannya," kata Bara.


"Mana buktinya," kata Mona.


Bara memperlihatkan foto yang dikirim orang suruhan Bara. Saat Edwin masuk ke rumah Alex.


"Kamu lihat kan itu Edwin dan masuk ke rumah Alex. Sudah jelas kalau mereka saling kenal," kata Bara.


"Mas, jangan menuduh orang!" ucap Mona. "Aku tidak suka, jang karena kamu tidak ingin Jeslyn menikah dengan Edwin kamu mencari-cari kesalahan Edwin," sambung Mona.


"Terserah kamu kalau tidak percaya. Yang penting aku sudah kasih tahu kamu," kata Bara.


"Aku kecewa sama kamu, Mas. Kamu tidak bisa percaya sama pilihanku," kata Mona meninggalkan Bara di dalam kamar.


Sejak perdebatan itu, Mona memilih untuk tidur di kamar lain. Dia masih kesal terhadap Bara.


Makan malam tiba, Mona tak menyapa Bara sama sekali. Bara jadi merasa bersalah. Selesai makan Mona langsung masuk ke kamar yang lain.


Tok tok tok


"Mona, aku mau bicara," ucap Bara. "Maafkan aku, Mona! Beri waktu padaku untuk berbicara," kata Bara.


Tak ada jawaban, Bara masih menunggu di depan pintu kamar Mona. Tidak berapa lama Mona keluar.


"Mau bicara apa?" tanya Mona sinis.


"Aku tidak meminta kamu untuk percaya. Tapi aku mohon maafkan aku!" ucap Bara.


"Aku gak suka dengan caramu, Mas. Kamu selalu menganggap Edwin gak pantas buat Jeslyn," kata Mona.


"Sekarang terserah kamu, aku gak akan ikut campur lagi," kata Bara.


"Ya ada baiknya seperti itu karena kamu hanya menantu dalam keluargaku," kata Mona. "Aku maafkan kamu tapi aku masih malas tidur satu kamar denganmu," kata Mona lalu menutup pintu kembali.

__ADS_1


Esoknya Bi Murni merasa aneh karena saat sarapan Bara dan Mona sama sekali tidak berbicara. Murni tak mau ikut campur dia memilih diam.


Edwin datang, Mona langsung mengajak Edwin ke rumah Helena. Monapun tak berpamitan pada Bara. Dia pergi begitu saja.


"Apa kalian sedang ada masalah, Den?" tanya Murni.


"Iya, Bi. Aku tahu kalau Edwin adalah keponakan Alex. Tentu aku tak setuju kalau Mona dekatkan Edwin dan Jeslyn apalagi sampai menikah. Tapi Mona tak percaya dan bilang aku menuduh Edwin yang tidak-tidak," jawab Bara.


"Yang sabar, Den. Semoga nanti Non Mona terbuka pintu hatinya," kata Murni.


Bara pamit ke kantor pada Murni. Dia meminta Murni untuk mengawasi Edwin saat di rumah.


***


Mona masih kesal dengan Bara. Dia sengaja tak berpamitan dengan Bara. Dia ingin Bara benar-benar menyesali kesalahannya.


"Bu Mona kenapa? Aku lihat sedang kesal sejak tadi di rumah. Bahkan aku lihat tadi tidak pamit pada Pak Bara?" tanya Edwin kepo.


"Aku kesal sama Mas Bara. Dia mencurigai...," Mona tak melanjutkan ucapannya.


"Mencurigai siapa, Bu?" tanya Edwin.


"Mencurigai aku," jawab Mona.


"Maksudnya Pak Bara mencurigai Bu Mona selingkuh atau apa?" tanya Edwin.


"Ya begitulah," jawab Mona bohong.


"Wah Pak Bara kok gitu ya, Bu. Padahal Bu Mona kan istri setia," kata Edwin.


"Udah biarkan aja. Mungkin dia lagi banyak kerjaan jadi kepalanya pusing," ucap Mona.


Sampai di rumah Helena, Mona mengobrol dengan Helena di kamar. Sementara Edwin di ruang keluarga bersama Jeslyn.


"Kamu kenapa?" tanya Helena.


"Aku sebel sama Mas Bara. Masa dia nuduh kalau Edwin itu keponakan Alex," jawab Mona.


"Bara punya bukti tidak, apa asal nuduh saja," kata Helena.


"Dia diam-diam mengawasi Edwin, Ma. Dia mendapat info Edwin masuk rumah Alex," kata Mona. "Orang masuk rumahnya belum tentu saudara bisa aja mertamu. Padahal kemarin mereka bertemu juga tidak saling kenal," kata Mona.


"Itulah yang aku gak suka sama Bara. Dia terlalu sok tahu dan ikut campur urusan kita," kata Helena.


"Makanya aku kesal, dia sih udah minta maaf dan janji gak akan ikut campur, Ma," kata Mona.


"Ya kita lihat saja. Mana mungkin sih Edwin yang baik banget keponakan Alex yang jahat itu," ucap Helena tak percaya. "Oh ya jangan sampai papa dan Jeslyn tahu soal ini nanti mereka malah marah sama Bara," kata Helena.


"Iya, Ma," ucap Mona. "Ma, aku nginep di sini beberapa malam ya," kata Mona.

__ADS_1


"Boleh, mama senang. Tapi kamu bilang dulu sama Bara. Biar bagaimanapun dia suami kamu," kata Helena.


Mona hanya mengangguk, tapi dia malas menghubungi Bara. Jadi dia hanya mengirim pesan saja.


***


Bara mendapat pesan dari Mona kalau Mona akan menghina beberapa malam di rumah Helena.


"Iya nanti Mas susul," balas Bara.


"Gak usah, aku malas lihat kamu," balas Mona.


"Ya ampun dia bilang udah maafkan aku tapi masih ngembek," kata Bara.


Bara melanjutkan pekerjaannya, dia tak mau terus kepikiran masalah dengan Mona. Dia yakin Mona akan kembali padanya.


***


Hubungan Marino dan Khadijah semakin dekat. Khadijah juga sering ke rumah Marino.


"Pak, ini jadwal acara besok," kata Khadijah menyerahkan jadwal Marino.


"Khadijah, boleh aku meminta tolong?" tanya Marino.


"Boleh, Pak. Mau minta tolong apa?" tanya Khadijah.


"Aku mau keluar kota beberapa hari. Apa kamu bisa menginap di rumah temani Bi Liana menjaga Angel?" tanya Marino.


"Bisa, Pak," jawab Khadijah.


Khadijah memang menyukai anak kecil. Dia pernah membantu abahnya mengurus panti asuhan selama satu tahun.


"Ada keperluan lagi gak, Pak? Kalau gak ada saya balik ke meja saya," kata Khadijah.


"Khadijah, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Marino.


"Maaf sepertinya gak etis kalau di kantor membahas masalah pribadi, Pak. Saya permisi, Pak," jawab Khadijah lalu keluar dari ruangan Marino.


Marino tersenyum, "beda dari yang lain," kata Marino.


Khadijah hanya bisa senyum-senyum sendiri setelah keluar dari ruangan Marino.


"Khadijah, kamu stres?" tanya Saskia. "Tiap keluar dari ruangan Marino senyum-senyum gak jelas," kata Saskia.


"Gak, Mbak. Saya baik-baik saja," jawab Khadijah.


"Awas ya! Marino itu milikku!" ancam Saskia.


"Kita lihat saja, siapa yang akan dipilih Pak Marino," kata Khadijah berlalu meninggalkan Saskia.

__ADS_1


Saskia kira Khadijah orang yang lemah dan mudah ditindas. Nyatanya malah dia menantang.


__ADS_2