Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Solusi Untuk Edwin


__ADS_3

Edwin tengah pusing memikirkan cara agar bisa melamar Jeslyn segera. Dia mendatangi rumah Kumala.


"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Santo.


"Itu Om, Jeslyn minta aku segera melamarnya. Tapi Om kan tahu aku gak punya banyak uang untuk melamar," jawab Edwin.


"Om punya solusinya," kata Santo.


Santo lalu membisikkan sebuah kalimat di telinga Edwin. Edwin manggut-manggut tanda setuju.


"Bagus, Om. Tapi apa gak berat?" tanya Edwin ragu.


"Tenang saja, Om sudah kenal baik orangnya," jawab Santo.


"Emang bapak ngasih solusi apa ke Edwin?" tanya Kumala.


"Aku suruh dia hutang ke Bang Roma," jawab Santo.


"Hah...mau hutang berapa?" tanya Kumala.


"Ya sekiranya cukup buat acara resepsi dan lainnya, Te," jawab Edwin.


"Mau ambil berapa tahun?" tanya Kumala.


"Tiga tahun, tapi ya aku akan tetap bayar cicilan biar gak berat," jawab Edwin.


"Terserah kamu sajalah, lagi pula kalau kamu sudah menikah dengan Jeslyn pasti akan jadi orang sukses. Kerja di kantor papanya Jeslyn," kata Kumala.


"Ingat bagian kami," kata Santo.


"Itu pasti," kata Edwin.


"Lagi ngobrol apa sih," kata Putri yang baru saja pulang dari kampus. "Eh tukang kibul, kamu yakin mau nikah sama Jeslyn?" tanya Putri.


"Iya, emang kenapa?" tanya Edwin.


"Dia itu kan manja,masak aja gak bisa," jawab Putri. "Kamu pasti nanti di suruh ikut di rumah dia. Yang ada kamu gak bisa leluasa ngelakuin rencana kamu," sambung Putri.


"Ah itu bisa diatur, ingat kamu jangan sampai bocor pada Jeslyn," kata Edwin memperingatkan Putri.


"Asal bayarannya oke," kata Putri. "Oh ya aku butuh uang buat beli ponsel baru, minta dong kalau kamu mau aku tutup mulut," kata Putri langsung memalak Edwin.


"Entar kalau pinjamanku dari Bang Roma cair," kata Edwin.


"Awas bohong," ancam Putri.


Edwin ke rumah Bang Roma bersama Santo. Pinjam uang di tempat Bang Roma mudah tidak perlu jaminan hanya saja bunganya cukup besar. Bagi orang yang tidak kepepet pasti malas pinjam uang di sana.


"Edwin, tanda tangani surat ini," kata Bang Roma.


Edwin membaca surat tersebut lalu membubuhkan tanda tangan di atasnya.


Dalam hitungan jam, Edwin sudah berhasil mendapatkan uang. Dia segera memberi kabar pada Jeslyn kalau besok akan datang melamar Jeslyn.


Jeslyn senang sekali, dia segera memberitahu papanya.


***


Mona mendapat kabar jika besok Edwin akan melamar Jeslyn dia sangat senang sekali.

__ADS_1


"Mas, Edwin besok malam mau datang melamar Jeslyn," kata Mona.


"Oh ya bukannya dia bilang sama Jeslyn kalau belum punya biaya?" tanya Bara.


"Namanya juga cinta, Mas. Pasti Edwin usaha, Mas," jawab Mona.


"Ikut senang dengarnya kalau mereka jadi menikah," ucap Bara.


"Tumben ngedukung, biasanya kok gak setuju," kata Mona.


"Bukannya aku sudah janji sama kamu untuk tidak ikut campur," kata Bara.


"Oh ya lupa," kata Mona. "Sore ini kita periksa, Mas," kata Mona.


"Siap, Bos," kata Bara.


***


Edwin membeli beberapa barang yang akan dia bawa ke rumah Jeslyn. Dia juga tak lupa mengajak Jeslyn membeli cincin tunangan.


"Sayang, bukannya kamu kemarin bilang belum ada biaya? Kenapa sekarang mendadak kamu melamarku?" tanya Jeslyn.


"Aku hanya ingin membuktikan pada keluarga kamu kalau aku serius menikahi kamu, Sayang," jawab Edwin. "Apapun akan aku lakukan asal kita bersama," ucapnya.


Jeslyn merasa terharu, namun tidak dengan Edwin. Dia tidak akan puas jika rencananya belum sepenuhnya berhasil.


Dia juga harus memikirkan cicilan hutang pada Bang Roma. Dia tak mau jika rencananya gagal.


Setelah memberi barang untuk keperluan lamaran. Mereka pulang karena sudah sore.


Kumala, Putri dan Santo menyiapkan acara lamaran ke rumah Jeslyn layaknya keluarga Edwin sungguhan. Edwin juga menyewa beberapa orang untuk ikut ke rumah Jeslyn.


***


Sementara itu, Khadijah justru menikmati kebersamaan bersama Angel.


Amelia diam-diam mengawasi mereka yang tengah bermain di teras.


"Semoga anak itu bahagia," kata Amelia. "Aku gak akan sanggup membesarkan dia. Aku bukan orang yang tabah jika dihadapi dengan hinaan orang," sambung Amelia.


Dia juga mengambil berapa foto Angel bersama Khadijah.


"Kalian sejak tadi di sini," kata Liana.


"Iya ini main sama Angel, Bi," kata Khadijah.


Liana melihat sekeliling, dia melihat ada Amelia di dekat rumah Marino.


"Khadijah, bawa Angel ke dalam. Kalian sedang di awasi," kata Liana.


"Siapa yang ngawasi, Bi?" tanya Khadijah.


"Nanti aku jelaskan di dalam," jawab Liana.


Khadijah segera ke dalam mengikuti Liana.


"Tadi aku lihat mamanya Angel memperhatikan kalian," kata Liana.


"Maksudnya mantan istri Pak Marino?" tanya Khadijah.

__ADS_1


"Iya, tapi sebenarnya Angel bukan anak mereka. Tapi Angel anak hasil hubungan gelap Amelia. Pak Marino mandul jadi tidak mungkin jika Angel putrinya," jawab Liana.


Khadijah baru tahu jika Marino mandul dan Angel bukan anaknya. Dia kira Angel anaknya Marino dengan Amelia mantan istrinya.


Amelia segera pergi dari depan rumah Marino karena tahu Liana tahu keberadaannya. Amelia terkadang merasa sepi, hanya dunia malam tempat dia berlabuh.


***


Putri senang bukan main, dia dapat ponsel mahal dari Edwin.


"Edwin terima kasih ponselnya. Ini ponsel impianku," kata Putri.


"Awas aja kamu ingkar janji," ucap Edwin.


"Tenang saja semua pasti aman," kata Putri. "Oh ya kamu gak beli baju yang bagus apa buat kita besok ke rumah Jeslyn?" tanya Putri.


"Emang perlu ya," jawab Edwin.


"Ya terserah kamu sih kalau kamu mau tampil biasa aja. Yang punya rencana kan kamu, aku sama orang tuaku hanya bantu aja," kata Putri.


Edwin mempertimbangkan ucapan Putri. Akhirnya dia menyuruh Putri dan orang tuanya belanja baju untuk di pakai besok.


Edwin memberikan sejumlah uang untuk Kumala membeli baju.


"Putri, kamu memang pinter. Kita bisa manfaatin Edwin," kata Kumala saat mereka dalam perjalanan ke butik.


"Ya iyalah, Bu. Kalau renacana dia berhasil kan dia juga untung banyak," kata Putri.


"Kamu memang anak kebanggaan kami," kata Kumala.


Mereka belanja baju yang bagus karena ingin tampil baik di depan keluarga Jeslyn.


***


Edwin bertemu dengan Alex saat dia membeli baju.


"Kamu belanja?" tanya Alex.


"Iya, besok aku akan melamar Jeslyn," jawab Edwin.


"Kenapa kamu tidak mau percaya sama aku, Win. Aku gak mau kamu masuk keluarga mereka," kata Alex.


"Ya aku kan juga ingin menikmati kekayaan orang. Aku ingin kalau keluarga Jeslyn mempercayakan perusahaan papanya ke aku," kata Edwin.


"Gak akan mudah," kata Alex.


"Sudahlah, aku malas bahas ini sama kamu," kata Edwin lalu segera ke kasir.


"Edwin, kamu belanja juga?" tanya Helena.


Helena baru saja masuk ke butik itu. Edwin takut jika nanti Helena melihat Alex juga ada dibutik ini.


"Iya, tante," jawab Edwin.


Terdengar kursi roda di dorong mendekati kasir.


"Alex...," ucap Helena.


Edwin menoleh, "Siapa dia, Te?" tanya Edwin.

__ADS_1


"Penjahat yang sudah merusak rumah tangga Mona dan Bara," jawab Helena.


Sementara itu Alex membayar lalu segera pergi dari butik itu. Dia tak mau berurusan dengan Helena dan Edwin.


__ADS_2