Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Syukuran Tujuh Bulanan


__ADS_3

Edwin tak menjawab apa-apa dengan perkataan Jeslyn.


"Kita memang suami istri, tapi aku tak pernah membatasi kamu," kata Jeslyn.


Jeslyn keluar dari kamar, dia duduk di dekat kolam renang.


Sementara itu Mona dan Helena pergi karena akan mempersiapkan acara tujuh bulanan Mona.


"Ma, apa Jeslyn akan baik-baik saja?" tanya Mona khawatir.


"Ya harapan kita begitu, tapi kita harus tetap waspada," jawab Helena.


Mereka memesan catering langganan Helena. Acaranya akan diadakan dua hari lagi.


Bara yang mengantar mereka ikut memilih menu apa yang akan mereka pesan.


Hampir dua jam di tempat catering, akhirnya mereka pulang. Bara harus ke kantor karena ada rapat siang.


"Sayang, aku kerja ya. Kamu di sini aja dulu. Nanti sore aku jemput," kata Bara.


Bara tak lupa mencium kening Mona. Jeslyn yang melihat hal itu merasa iri.


"Mana suami kamu?" tanya Helena setelah Bara pergi.


"Di kamar, Ma," jawab Jeslyn.


"Dia besok itu kerja di kantor papa, ajak dia belanja. Jangan malu-maluin keluarga," kata Helena.


Jeslyn masuk ke kamar dan menyampaikan pesan sang mama. Mereka akhirnya pergi belanja.


"Ini bawa mobil, Jeslyn hamil gak bisa naik motor," kata Helena melempar kunci mobil ke arah Edwin.


Beruntung Edwin segera menangkapnya. Edwin tak masalah jika diperlakukan begitu. Dia akan membalasnya nanti.


***


Mona sebenarnya kasihan melihat Edwin diperlakukan Helana seperti tadi. Namun, dia tak mau ikut campur.


"Mona, siapa aja yang akan kamu undang?" tanya Helena.


"Tidak banyak, Ma. Aku hanya mengundang para tetangga dan sanak saudara saja," jawab Mona.


"Baguslah, kamu jangan sampai kecapean loh ya," kata Helana.


"Iya, Ma," kata Mona.


***


Edwin jarang sekali meminta jatah pada Mumun. Dia juga jarang memberi uang pada Mumun.


"Pak, saya butuh uang. Bagaimana kalau bapak kasih saya uang lagi?" tanya Mumun.

__ADS_1


"Aku tidak minta dilayani, jadi untuk apa aku beri kamu uang," jawab Alex.


"Apa bapak melakukan ini karena hubungan aku dan Mas Edwin?" tanya Mumun.


"Tidak, aku melakukannya karena udah bosan berbuap dosa. Mungkin umurku tak akan lama jadi aku kan gunakan uangku untuk beramal saja," jawab Alex.


Mumun kecewa dengan jawaban Alex. Dia tak bisa memanfaatkan Alex kembali.


***


"Edwin, maafkan sikap mama," ucap Jeslyn.


"Iya tak masalah," kata Edwin. "kenapa kamu tak seperti mereka?" tanya Edwin.


"Apa kamu mau aku seperti mereka?" tanya Jeslyn. Edwin hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Aku harap kamu bisa buktikan ke mereka kalau kamu pantas menjadi menantu keluargaku," kata Jeslyn.


Edwin hanya diam saja. Dia tak boleh luluh dengan sikap baik Jeslyn. Dia harus ingat tujuan utama masuk ke dalam keluarga Jeslyn.


Mereka telah sampai di mall, Edwin mengajak Jeslyn membeli beberapa celana kerja baju lainnya.


Hampir dua jam mereka memilih Jeslyn tampak kelelahan. Jadi Edwin meminta agar Jeslyn duduk saja. Edwin melakukannya bukan karena perhatian pada Jeslyn melainkan dia gak mau disalahkan jika Jeslyn sakit lagi.


Selesai belanja, mereka makan. Beruntung Edwin masih menyimpan uangnya.


***


Esoknya Jeslyn membantu Edwin memakai dasi. Lalu mereka makan bersama. Edwin berangkat bersama papa Jeslyn. Mereka juga akan pergi membeli mobil dan rumah untuk Jsslyn dan Edwin.


Edwin hanya diam saja, dia tak mau menjawab apapun.


Edwin memilih rumah yang cukup mewah untuk ukuran pengantin baru. Mobil yang dipilih juga harganya lumayan mahal. Bagi papa Jeslyn itu tak seberapa yang penting Jeslyn dan cucunya nanti di perlakukan dengan baik.


***


Acara tujuh bulanan Mona tiba, para pelayan sedang menyiapkan semua. Mona mengundang beberapa anak yatim piatu juga.


Acara itu juga diisi tausiah seorang ustadz di komplek perumahan Bara.


Senyum anak-anak yatim itu membuat Mona dan Bara bahagia. Dia bisa berbagi dengan yang membutuhkan.


"Selamat ya, Bu Mona!" ucap Khadijah yang hadir bersama Umar.


Marino tampak murung melihat mereka selalu dekat. Bahkan Umar memperlakukan Khadijah sangat baik sekali.


"Iya, kamu juga lekas menikah dan punya momongan," kata Mona.


"Bu Mona, doakan saya juga dong," kata Saskia.


"Emang kamu mau nikah sama siapa?" tanya Bara.


"Siapa lagi kalau bukan Pak Marino," jawab Saskia.

__ADS_1


"Maaf aku gak mau," ucap Marino sinis hingga membuat Saskia malu.


Beberapa hari ini Saskia selalu mendapat pesan aneh. Banyak pria yang bilang akan memesan dirinya. Padahal dia tidak melakukan open BO.


Seperti malam itu saat di acara Mona. Dia juga mendapatkan pesan. Saskia yakin ada orang yang sudah membuat akun palsu atas nama dirinya.


Dia mencoba membuka aplikasi hijau dan benar saja fotonya terpampang sangat sexy dan melakukan open BO.


"Sial!" umpat Saskia kesal.


Beberapa orang yang mendengar melihat ke arah Saskia. Karena kepalang malu, Saskia akhirnya pamit lebih awal.


Umar akhirnya tahu kalau Marino punya anak. Karena saat itu Marino mengajak Angel yang sedang rewel.


"Khadijah, apa dia anak Pak Marino?" tanya Umar.


"Bukan, itu anak mantan istrinya dengan Pak Marino. Pak Marino mandik jadi dia tak bisa punya anak," jawab Khadijah. "Ibu bayi itu gak mau merawatnya karena cacat, jadi Pak Marino mengadopsinya," sambung Khadijah.


Sebagai sesama pria, Umar merasa prihatin atas apa yang menimpa Marino. Dia berharap nantinya dia dan Khadijah akan di karuniai anak yang soleh salehah.


Acara sudah selesai jadi beberapa tamu undangan sudah pulang. Tinggal Mona dan keluarganya saja.


"Aku kok kasihan lihat Kak Marino," kata Bara.


"Ya biarkan ajalah, Mas. Resiko dia itu, nanti dia juga ketemu jodohnya," kata Mona.


"Ya gak gitu, dia lihat Khadijah terus tiap hari loh, mana bisa cepat move on?" tanya Bara.


"Lalu kamu mau pecat Khadijah? Gak jelas banget sih," kata Mona.


"Ya gak gitu," ucap Bara merasa serba salah.


Mona ke kamar untuk istirahat. Kakinya sudah pegal-pegal karena sejak tadi berdiri. Bi Murni selalu siaga memijit Mona.


Sementara Bara di luar mendekati Edwin.


"Gimana kerja di kantor papa?" tanya Bara.


"Ya begitulah, aku harus menyesuaikan diri," jawab Edwin.


"Semoga kamu gak mengecewakan papa," kata Bara menepuk pundak Edwin.


"Win, pulang yuk!" ajak Jeslyn.


Mereka pulang duluan sementara mama dan papa Jeslyn masih di rumah Mona.


"Tumben banget Bara baik sama aku tadi," kata Edwin.


"Namanya orang juga bisa berubah, apa kamu juga gak ingin berubah?" tanya Jeslyn.


Edwin diam saja, dia merasa kalau Jeslyn mau dia berubah jadi baik. Padahal Edwin tidak ada niatan ke situ.

__ADS_1


"Apa kalau aku berubah baik, keluarga kamu akan terima aku?" tanya Edwin. "Belum tentu, kan," sambung Edwin sinis.


__ADS_2