
Setelah membuat perjanjian, papa Jeslyn kembali menemui Edwin bersama Helena.
"Jangan sampai kamu sakiti anakku," kata Helena.
"Gampang itu," kata Edwin.
Edwin membaca surat perjanjian itu dan menandatanganinya.
"Pernikahan akan dilakukan seminggu lagi. Tidak ada acara resepsi atau apapun. Tapi kamu harus memberikan mas kawin sesuai di perjanjian," kata Helena.
"Oke," kata Edwin.
Edwin senang, dia akan menjadi bagian dari keluarga Jeslyn.
Sementara Jeslyn masih merasa bersalah pada Firza. Dia berharap Firza memaafkannya. Jeslyn juga ingin pernikahan dia dan Edwin nanti akan baik-baik saja.
"Jes, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Mona.
Dia tentu khawatir dengan sang adik. Karena Edwin pasti tak akan membiarkan Jeslyn bahagia.
"Kakak jangan takut! Aku bukan istri yang lemah," jawab Jeslyn.
Persiapan pernikahan hanya sederhana saja. Apalagi waktu satu minggu tidaklah lama. Tak banyak juga tamu yang diundang hanya beberapa tetangga dan teman.
Jeslyn sama sekali tak mengundang teman kampusnya. Namun, beberapa orang tahu jika Jeslyn akan kembali menikah dengan Edwin.
***
Saskia tak punya bukti untuk kembali mengancam Marino. Ponselnya di temukan oleh seorang pemulung.
"Aku harus berbuat sesuatu agar Marino mau menikahi aku," kata Saskia.
Dia berusaha agar Marino kembali padanya. Dia harus menjadi istri Marino.
Sementara itu Khadijah tengah mempersiapkan pernikahannya. Beberapa kali dia diantar jemput oleh Umar.
Seperti sore itu, Umar menjemput Khadijah bersamaan dengan Marino yang keluar dari lobi kantor.
"Sayang, dia bos kamu, kan?" tanya Umar.
"Iya, ada apa?" tanya Khadijah.
"Aku dengar dia pernah suka sama kamu. Pasti saat ini dia tengah sakit hati," jawab Umar.
"Udah biarkan saja, itu salahnya sendiri," kata Khadijah.
Saat mereka akan naik mobil, Marino justru memanggil Khadijah sehingga mereka urung naik mobil.
"Khadijah, apa dia calon suami kamu?" tanya Marino.
"Ya, saya Umar calon suami Khadijah. Ada apa ya, Mas?" tanya Umar setelah memperkenalkan diri.
"Semoga kalian bahagia," ucap Marino.
Hanya itu yang dia katakan lau masuk ke dalam mobilnya. Dalam hati Marino merasakan sakit melihat kedekatan mereka.
__ADS_1
"Semua memang salahku yang telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Khadijah. Sekarang menyesal pun tak ada artinya," ucap Marino lalu menjalankan mobilnya.
Tidak berapa lama Umar juga meninggalkan kantor bersama dengan Khadijah.
***
Hari pernikahan Jeslyn dan Edwin pun tiba. Edwin diwalii oleh Alex.
Acaranya hanya lamaran sederhana dan ijab qobul yang dilakukan di rumah Jeslyn.
"Aku tidak menyangka kita jadi besan lagi," kata Alex pada papa Jeslyn.
"Kami sebenarnya malas besanan sama kamu. Kamu kan penjahat," kata Helena.
"Tapi nyatanya semua terjadi. Aku berharap besanan kali baik-baik saja," kata Alex.
"Apa kamu bisa jamin keponakan kamu tidak bikin ulah? rasanya kamu tidak akan bisa," bantah papa Jeslyn. "Dulu saja kamu tega menyakiti Jesica," kata papa Jeslyn.
"Soal itu aku tak tahu, lagi pula dia masuk ke keluarga ini keinginannya sendiri. Jika aku boleh memilih ku suruh dia menikah dengan orang lain saja," kata Alex.
Beberapa tamu telah pulang, kini tinggal keluarga Jeslyn dan Edwin. Alex sudah pulang sejak tadi, Mumun merasa cemburu karena Edwin sudah menikah. Dia tak akan bisa mendekatinya lagi.
"Aku mau besok mobil dan rumah sudah ada. Jadi kita bisa pindah segera," kata Edwin.
"Tidak, aku mau kalian di sini satu bulan dulu," bantah Helena.
"Tidak mau, satu minggu saja," kata Edwin bernegosiasi. Mana mungkin dia betah tinggal di keluarga Jeslyn.
"Baiklah satu minggu," ucap Helena.
"Kamu kenapa murung? Apa kamu tidak suka menikah dengan ku? Bukanya kamu dulu sangat mencintai ku?" tanya Edwin.
"Sudah malam aku mau tidur," jawab Jeslyn segera ganti baju dan naik ke atas tempat tidur.
"Dasar munafik," ucap Edwin.
Mereka tidur dalam satu ranjang namun saling membelakangi.
***
Dalam perjalanan pulang Mumun cemberut. Hal itu membuat Alex merasa aneh.
"Kenapa kamu, Mun?" tanya Alex.
"Mas Edwin udah nikah. Pasti dia akan jarang ke rumah bapak," jawab Mumun.
"Biarkan saja," ucap Alex. "Dia kan masih muda pantas jika dia menikah. Lagi pula kamu bukan siapa-siapa dia tapi kenapa kamu tampak keberatan?" tanya Alex.
Paimin yang mendengar hanya diam saja. Dia tak mau ikut campur dengan urusan majikan.
"Apa kamu suka dengan Edwin?" tanya Alex. "Aku lihat kalian sangat dekat," sambung Alex.
"Bu...bukan, kami dekat hanya karena Mas Edwin sering curhat aja saat patah hati dengan Jeslyn," jawab Mumun gugup.
"Jangan bohong, Mun! Aku tahu kamu ada hubungan dengan Edwin, Mun," ucap Alex.
__ADS_1
"Jadi selama ini bapak tahu semua?" tanya Mumun.
"Tentu saja tapi aku diam saja. Namun, aku minta sekarang jangan ganggu dia lagi. Dia sudah punya keluarga baru," jawab Alex. "Jangan sampai kamu jadi pelakor!" ucap Alex.
Mumun terdiam, padahal dia sangat ingin bersama Edwin. Bahkan dia memimpikan menikah dengan Edwin setelah merebut harta Alex bersama.
***
Pagi itu, Edwin bangun. Dia sudah taj melihat Jeslyn di tempat tidur. Dia mendengar Jeslyn muntah di kamar mandi.
"Apa setiap pagi kamu mual?" tanya Edwin.
"Begitulah," jawab Jeslyn lalu segera keluar kamar.
Sementara Edwin mandi karena dia baru bangun.
Mona dan Bara semalam menginap jadi kini mereka makan bersama.
"Bagaimana Jes, apa Edwin memperlakukan kamu tidak baik di kamar?" tanya Mona.
"Gak sih, dia biasa aja," jawab Jeslyn.
Tidak berapa lama Edwin ikut bergabung. Helena langsung menodong dengan sindiran.
"Jadi menantu keluarga kami itu harus rajin bangun pagi seperti Bara," kata Helana. "Istri hamil ya dibuatkan susu, gak malah bangun siang kaya kamu," ucap Helena ketus.
Edwin acuh saja dengan apa yang dikatakan oleh Helena. Namun, Jeslyn menegur Helena.
"Ma, jangan begitu! Kalau mama ingin aku diperlakukan Edwin dengan baik, maka perlakukan dia dengan baik pula," tegur Jeslyn.
"Jeslyn dia gak pantas kamu bela," kata Helana.
"Udahlah, jangan ribut ini masih pagi," kata Papa Jeslyn menengahi. Dia malas mendengar keributan dari istrinya.
Edwin menoleh ke arah Jeslyn, sementara Jeslyn hanya tersenyum saja.
Setelah sarapan mereka kembali ke kamar. Edwin belum di perbolehkan kerja di kantor Papanya Jeslyn. Baru besok dia akan kerja di sana.
Ponsel Edwin bergetar, ada pesan dari seseorang. Saat itu Edwin tengah berada di kamar mandi.
Jeslyn melihat pesan itu, dia melihat pesan dari Mumun.
"Sayang, kapan main ke sini? Aku kangen."
Jeslyn lalu meletakkan kembali ponsel Edwin.
"Ada pesan dari pacar kamu," kata Jeslyn ketika Edwin keluar kamar mandi.
Edwin segera melihat pesan itu.
"Jes, kamu sudah baca?" tanya Edwin.
"Ya, kenapa?" tanya Jeslyn.
"Apa kamu cemburu?" tanya Edwin.
__ADS_1
"Terserah kamu mau selingkuh. Asal satu jangan sakiti aku dan anak-anakku," jawab Jeslyn.