Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Antara Bahagia Dan Sedih


__ADS_3

Jesica tak bisa membendung kebahagiaan yang tengah dia alami. Bagaimana tidak, dia hamil anak Bara. Namun, dia juga sedih karena tidak bisa bersama Bara.


"Non, kenapa murung?" tanya Susi.


"Aku sedih, Bik. Saat aku hamil tidak berada di samping suamiku," jawab Jesica.


"Sabar, semoga lekas bertemu suami, Non," ucap Susi.


Jesica menahan rindu pada sang suami. Sementara Bara jauh di sana mencoba move on dari Jesica. Namun, semua terasa sulit.


"Jesica, aku gak menyangka kamu meninggalkan aku lebih dulu," kata Bara sedih di depan makam Jesica. "Jujur sulit untuk melupakan kamu, Jes," sambung Bara.


Bara sangat terpukul sejak Jesica dinyatakan tiada. Dia setiap hari datang ke makam Jesica. Dia berharap Jesica masih hidup dan segera pulang.


"Untuk apa kamu menangisi orang yang sudah mati," kata Maura yang tiba-tiba muncul di makam Jesica.


"Bukan urusan kamu," bantah Bara. "untuk apa kamu ke sini? Mau menertawakan aku?" tanya Bara kesal.


"Bara, sudah waktunya kamu lupakan yang telah tiada. Kamu harus bangkit kembali," kata Maura.


"Tidak, aku yakin Jesica masih hidup," bantah Bara.


Melihat Bara marah, Maura langsung pergi. Dia tidak mau melihat kemarahan Bara.


"Ya ampun, udah mati aja masih menyusahkan," omel Maura.


Maura berusaha untuk mendekati Bara kembali meskipun dia tahu Bara tak akan mau dengannya.


***


Marino menjalani hari-harinya hanya dengan berjualan di pasar. Mendengar kabar Jesica tiada, dia berniat untuk mendatangi Bara. Dia tahu Bara pasti terpukul karena kehilangan orang yang dia sayang.


Sore itu Marino datang ke apartemen Bara. Dia membawakan makanan kesukaan Bara.


"Bara, maafkan kakak baru sempat berkunjung," kata Marino.


"Tidak apa, Kak," kata Bara.


"Mungkin ini jalan terbaik dari pada kalian terus diteror oleh Papa. Mungkin dengan Jesica tiada, Papa akan berhenti mengganggu kamu," kata Marino.


"Kenapa harus Jesica yang pergi, aku belum ikhlas, Kak," kata Bara.


"Kita tidak akan pernah tahu kehendak Tuhan, Bara," kata Marino.


Setelah Marino pulang, Bara kembali termenung. Dia selalu mengingat kenangan bersama Jesica.


***


Alex tengah bersiap, besok dia akan ke luar kota. Dia menugaskan beberapa orang untuk mengawasi Amelia dan Maura.


"Om, berapa hari di luar kota," kata Maura bergelayut manja di lengan Alex.


"Belum tahu, kamu baik-baik di rumah," kata Alex. "Orang-orang di depan mengawasi kalian," sambung Alex.


"Aku gak perlu di awasi, Om. Yang perlu di awasi itu Amelia," kata Maura.


Alex menyuruh Maura untuk ke luar dari kamarnya. Dia ingin menelfon seseorang.


Maura merasa jengkel karena Alex tidak memperdulikan dia lagi. Alex sedikit berubah sejak Jesica dinyatakan tiada.


***


Jesica merasa sedih, seenak apapun masakan yang Susi hidangkan dia malah semakin teringat dengan Bara. Dia selalu menyiapkan masakan untuk Bara. Makan bersama dan tidur berdua di kamar mereka.


"Non, kenapa belum di makan? Nanti keburu dingin makanannya," kata Susi.


"Aku gak pengen makan, Bik. Aku ingin pulang," kata Jesica.


"Non harus tetap makan, janin yang ada di perut Non Jesica butuh asupan makanan," tutur Susi.


Susi mengambilkan Jesica makanan tapi hanya di sentuh sedikit saja. Rasa rindu membuat Jesica enggan untuk makan.

__ADS_1


"Sudah, Bik. Aku mau istirahat," kata Jesica.


Jesica hendak melangkah ke kamar. Samar-samar Jesica mendengar suara ketua penjaga sedang berbicara dengan seseorang.


"Kapan bos datang? Non Jesica penasaran dengan Bos," katanya.


"Besok aku berangkat, jaga dia baik-baik," kata pria di seberang sana.


Jesica tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Namun, setahu Jesica orang yang menyekap dirinya akan datang.


***


Hal yang sama terjadi pada Bara. Murni telah menyiapkan makanan untuk makan malam. Namun, tak ada satupun yang Bara sentuh.


"Den, makanlah sedikit saja," kata Liana. "Den Bara harus kuat untuk melanjutkan hidup meskipun tanpa Non Jesica," sambung Liana.


"Tidak, Bik. Aku gak bisa hidup tanpa Jesica. Tanpa Jesica hidupku tidak ada artinya," kata Bara.


"Kalau Den Bara terus menyiksa diri, nanti Non Jesica di alam sana juga ikut sedih," kata Liana. "Jadi aku mohon Den Bara harus kuat dan melanjutkan hidup Den Bara lagi," ucap Liana.


Bara tak menjawab, dia malah masuk ke dalam kamar dan mengunci diri di dalam kamar.


Sama dengan Bara, keluarga Jesica juga mengalami kesedihan yang mendalam. Mereka tidak menyangka Jesica pergi secepat itu.


"Ma, Udahlah ini waktunya kita melanjutkan hidup kita. Aku yakin Kak Jesica akan sedih kalau lihat kalian kaya gini," kata Jeslyn.


Helena bahkan sempat masuk rumah sakit beberapa hari setelah kematian Jesica. Dia terpukul atas meninggalkannya Jesica.


"Tidak Jeslyn, Mama merasa bahwa Jesica masih ada. Dia tidak mati Jes," bantah Helena.


"Tapi pada kenyataannya jenazah Kak Jesica udah dimakamkan, Ma," kata Jeslyn.


"Tidak, Jesica masih hidup," bantah Helena lalu masuk ke dalam kamar.


Bagi Helena Jesica masih hidup, dia tidak percaya jika jasad yang dimakamkan adalah jasad Jesica.


***


Kehamilan adalah hal yang membahagiakan. Namun, kebahagian itu juga di sertai rasa sedih. Hamil pertama tanpa suami bagi Jesica sangat berat.


"Apa aku tidak bisa pulang?" tanya Jesica. "Aku merindukan suamiku," kata Jesica.


"Masalah itu bicarakan saja dengan Bos nanti saat bertemu," ucap penjaga.


Jesica sarapan hanya sedikit saja. Selain merindukan Bara, dia juga merindukan. Helena.


"Mama, sedang apa di sana? Jesica merindukan kalian," kata Jesica sedih."mama akan jadi nenek, Ma." Jesica mengelus perutnya yang masih rata.


Selesai sarapan Jesica duduk di tepi kolam. Dia baru saja merasakan kebahagian dengan mendaki bersama Bara. Tapi kenapa setelah itu kebahagiaan itu berubah jadi duka.


Dia sangat kecewa dengan bos yang menculiknya. Karena dia Jesica jauh dari Bara. Dan anak yang dia kandung saat ini harus jauh dari sang papa.


Jesica kembali mengingat kenangan dia bersama Bara. Di mana mereka mendaki berdua, menikmati pemandangan indah bersama.


"Sayang, maafkan mama. Kita harus berjauhan dengan papa. Mama akan usahakan agar kita kembali sama papa," kata Jesica sedih.


Jesica mengusap air matanya. Biasanya di saat dia sedih selalu ada Bara yang menghapus air matanya. Namun, kali ini dia sendiri yang mengisi air mata kesedihan itu.


"Sayang, beri mama kekuatan untuk bertahan. Mama janji akan bawa kamu ketemu papa," kata Jesica.


Jesica terus mengelus perutnya, dia berusaha kuat demi janin yang ada dalam perutnya.


***


Alex akan segera berangkat, Maura masih saja manja dengan Alex. Sementara Amelia bersikap biasa saja. Dia sudah biasa di tinggal Alex pergi.


"Om, jangan lupa oleh-oleh ya," kata Maura.


"Aku kan bukan pergi jalan-jalan, mendingan kamu beli saja sendiri," ucap Alex. Di cuekin membuat Maura muram. "Amelia, jaga janin kamu baik-baik. Jangan berusaha kabur dari sini," kata Alex.


"Iya, Pa," kata Amelia.

__ADS_1


Alex pergi, dia akan melakukan penerbangan pukul 09.15. Sementara ini masih pukul 08.30.


Alex terlihat sangat bahagia walau dia meninggalkan Amelia dan Maura di rumah.


***


Hati Jesica tak karuan karena nanti malam dia akan tahu orang yang telah menculiknya. Rasa kesal, marah dan kecewa campur jadi satu.


"Rasanya ingin ku bunuh orang itu, andai aku gak takut masuk penjara," kata Jesica. "Dia sudah memisahkan aku dengan Mas Bara," sambungnya.


Jesica ingin tidur siang, tapi tidak bisa. Susi mengetuk pintu. Dia membawa sesuatu untuk Jesica.


"Non, ini ada titipan dari penjaga. Katanya suruh pakai nanti malam," kata Susi.


"Kenapa harus pakai baju baru sih? Malas aku," kata Jesica.


"Turuti saja, Non. Siapa tahu kalau Non nurut bisa dibalikin lagi ke suami non," kata Susi.


"Sepertinya gak akan, Bik. Kalau dia niat balikin aku sama suamiku pasti udah dari kemarin, dan aku gal dikurung kaya gini," bantah Jesica.


Jesica terpaksa menerima baju itu. Walau dalam hati dia merasa dongkol.


Sorenya Susi di sibukkam dengan urusan dapur. Makan malam istimewa sehingga tuannya meminta menu istimewa.


"Bik, masak banyak buat apa? Bukannya yang datang hanya satu orang?" tanya Jesica.


"Iya, Non. Tapi mau gimana lagi permintaan tuan katanya," jawab Susi.


Jesica jadi teringat saat dia memasak untuk Bara. Setiap pagi dia membantu Murni memasak.


"Non ke kamar aja, mandi lalu dandan yang cantik," kata Susi.


"Gak ah malas," ucap Jesica.


"Non, ini perintah tuan. Non harus segera mandi karena perias ini akan mendandani, Non," kata penjaga.


"Hah pakai ngundang perias saja. Emang ini mau tunangan apa kok harus tampil bagus," sungut Jesica.


"Nurut saja, Non," kata Susi.


Akhirnya Jesica mandi. Setelah magrib dia di rias oleh perias yang dibawa penjaga. Dia tak menyangka dia terlihat sangat cantik dengan gaun yang diberikan orang itu.


"Kamu cantik sekali, pasti dia akan jatuh hati sama kamu," kata perias itu.


Jesica masih tak percaya dengan penampilannya sekarang. Bahkan dia berkhayal bahwa yang datang adalah Bara.


"Hanya mimpi belaka," ucap Jesica.


Di luar terdengar suara mobil, saat itu perias sudah pergi dari kamar Jesica.


"Non, sudah siap?" tanya Susi. "Tuan meminta Non datang ke meja makan," kata Susi.


Jesica mengkuti Susi menuju meja makan. Di sana tidak ada siapapun.


"Di mana orangnya?" tanya Jesica.


"Non duduk saja dulu!" perintah Susi.


Jesica duduk, dadanya deg-degan sekali. Dia tak sabar untuk melihat siapa pria yang menyekapnya selama ini.


"Apa kabar Jesica?" tanya seorang pria.


Suara itu sangat Jesica kenali, dia menoleh dan terkejut saat melihat siapa pria yang berdiri di dekatnya.


"Kamu...jadi selama ini kamu yang menculikku?" tanya Jesica.


"Bagaimana apa kamu bahagia tinggal di sini?" Bukan menjawab pertanyaan Jesica dia malah balik bertanya.


Seketika wajah Jesica berubah jadi murah.


"Jangan sedih Jesica, Sayang!" ucapnya mendekati Jesica.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" teriak Jesica.


Pria itu justru tertawa melihat Jesica tampak ketakutan melihat dirinya.


__ADS_2