Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Kedekatan Marino Dan Sarah


__ADS_3

Alex tak menyangka, orang yang selama ini dekat dengan Sarah ternyata Marino putranya sendiri.


"Aku kira kamu tulus mau membantuku, tapi nyatanya kamu malah merebut hati Sarah dariku," kata Alex kesal.


"Mas, kita sudah tak ada hubungan apa-apa. Jadi sekarang aku bebas dekat dengan siapa saja termasuk Marino," ucap Sarah.


"Papa harusnya sadar, mana ada wanita yang mau dengan papa kalau papa aja gak bisa apa-apa," kata Marino.


Alex memang tak bisa apa-apa, tapi seharusnya mereka tidak berhianat.


"Kamu menolakku pasti karena dia," ucap Alex menunjuk wajah Marino.


"Terserah apa katamu, Mas. Yang jelas aku lebih memilih Marino dari pada kamu," kata Sarah.


Alex sedih mendengar ucapan Sarah kali ini. Tak mau terus dihina, Alex memilih pergi. Paimin merasa kasihan melihat Alex yang dikhianati anaknya sendiri.


"Min, apa ini karma ya. Dulu aku diam-diam selingkuh sama Amelia saat dia menjadi istri Marino. Dan sekarang Marino mengambil Sarah dariku," kata Alex sedih.


"Bisa jadi, Pak. Tapi setidaknya Pak Alex masih beruntung dari pada mereka berkhianat setelah kalian menikah itu lebih sakit," kata Paimin.


Apa yang dikatakan Paimin benar juga. Dia harus membuang jauh pikiran negatif, kali ini dia fokus untuk kesembuhannya.


**


Hubungan Marino dan Sarah diresmikan. Mereka sudah berstatus pacaran. Mona yang tahu hal itu merasa kasihan pada Alex. Namun, dia juga berpikir kalau mungkin semua adalah karma. Padahal sebenarnya Marino sengaja mendekati Sarah.


"Mas, kamu udah dengar belum kalau Sarah menolak lamaran Papa dan menjalin hubungan dengan Kak Marino?" tanya Mona.


"Hah, kamu tahu dari siapa?" tanya Bara.


"Loh, banyak kok yang udah tahu. Bahkan Bi Liana aja ngobrolin itu sama Bi Murni," jawab Mona.


"Kok bisa gitu ya, apa Kak Marino sengaja untuk balas dendam," kata Bara.


"Ah menurutku itu semua adalah karma," ucap Mona.


Kaisar menangis, Mona segera menyusui Kaisar. Tidak berapa lama Kaisar tertidur pulas.


**


Sarah sebenarnya merasa tak enak dengan Alex. Namun, dia tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia lebih menyukai Marino dari pada Alex.

__ADS_1


"Ibu kenapa?" tanya Ikbal. "Mama kapan nikah sama Om Marino? Ikbal ingin punya papa," kata Ikbal.


"Sabar ya, semua butuh proses," ucap Sarah.


"Bu, apa Om Alex marah sama kita?" tanya Ikbal. "Kita sudah membohongi dia," kata Ikbal.


Sarah hanya diam saja, dia justru meminta Ikbal untuk istirahat saja.


Sementara itu Marino sedang bahagia. Dia berhasil mendapatkan Sarah. Dia yakin jika Sarah akan menjadi miliknya dan Alex tidak akan berani mengganggu.


"Ini adalah balasan atas apa yang dulu kamu lakukan padaku," kata Marino.


Senyum bahagia mengembang di bibirnya, dia tak akan menyia-nyiakan semua. Selain dia bisa mendapatkan wanita yang hampir mirip dengan Khadijah dia juga bisa membalas rasa sakit hatinya pada Alex.


"Den Marino, apa aden sengaja melakukan ini untuk balas dendam?" tanya Liana.


"Sudahlah, Bi. Jangan ikut campur! Tugas bibi hanya merawat Angel. Bukan untuk mengurusi masalah pribadiku," kata Marino.


Liana ingin menasehati Marino tapi urung karena Marino melakukan panggilan bersama Sarah. Liana hanya bisa berdoa agar Alex tidak menuntut sakit hatinya.


**


Helena tengah terpuruk, dia membeli rumah kecil di sebuah gang. Dia tak lagi mengendarai mobil.


Sultan, tak lagi menampakkan batang hidungnya. Apalagi melihat keadaan Helena yang berubah seratus persen.


"Mun, apa kamu akan ninggalin aku seperti Sultan?" tanya Helena.


"Tentu tidak," jawab Mumun. "Asal kamu bantu aku memisahkan Jeslyn dengan Edwin," kata Mumun.


"Udahlah, Mun. Mendingan kamu cari pria lain selain Edwin," kata Helena.


"Aku maunya Edwin, Helena. kalau orang lain mending buat kamu aja. Kan kamu juga sekarang jadi janda," kata Mumun.


Mumun bersikeras untuk tetap mengganggu rumah tangga Edwin. Dia tidak tahu saja kalau Papa Jeslyn sudah pasang badan untuk rumah tangga mereka.


Mumun masih saja bergantung pada Helena. Helena membuka usaha jualan baju, dia punya satu ruko yang cukup besar.


Dulu bersama Papa Jeslyn dia hanya duduk santai di rumah. Terima uang dari suaminya lalu bisa nyalon dan shoping sekarang dia harus kerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup.


"Helena, minta uang," kata Mumun.

__ADS_1


"Bukannya aku kemarin udah kasih kamu satu juta? Masa sudah habis," kata Helena.


"Udah jangan pelit, katanya kita sahabat," kata Mumun.


Helena kembali memberikan uang lima ratus ribu pada Mumun. Mumun tersenyum senang. Mumun tak lagi tinggal di kontrakan karena Helena meminta Mumun untuk tinggal bersama dia. Sayangnya, Mumun tak tahu diri sudah numpang tapi masih saja minta uang pada Helena.


"Apa benar kata Edwin, Mumun hanya manfaatkan aku," kata Helena. "Nyatanya dia hanya meminta uang dan uang tanpa mau membantuku bekerja," sambung Helena setelah Mumun pergi.


Helena menyesal telah meninggalkan keluarganya. Namun, semua tiada guna karena sudah terlanjur hancur.


"Maafkan Mama," ucap Helena sedih.


Setiap hari Helena bekerja tapi Mumun hanya ongkang-ongkang kaki dan meminta uang saja kerjaannya. Helena geram tapi dia tak mungkin mengusir Mumun. Mumun satu-aatunya teman yang masih bertahan dengannya sampai saat ini.


Toko yang dimiliki Helena menjauh pakaian wanita dan pria. Sekarang wanita datang mengunjungi toko Helena.


"Wah baju itu bagus sekali," kata wanita cantik itu sembari melihat sebuah mimpi dres.


"Siang, Mbak. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Helena.


Wanita itu menoleh, dia melihat Helena dari atas sampai bawah.


"Kumala," kata Helena.


"Aku udah dengar dari Edwin, katanya kamu udah pisah sama suami kamu," kata Kumala.


"Ya begitulah," ucap Helena.


"Kamu pasti menyesal udah cerai sama dia. Bagaimana tidak hidup mu yang biasa bergelimang harta kini harus kerja sendiri," kata Kumala. "Edwin beruntung bisa mengambil hati papanya Jeslyn," kata Kumala.


Helena sejenak suudhon pada Edwin lagi. Dia yakin Edwin ingin menguasai harta papa Jeslyn.


"Beri tahu Edwin, jangan macam-macam dengan Jeslyn," kata Helena.


"Ya ampun, terserah dia aja sih. Lagian kamu hanya mantan mertuanya Edwin," bantah Kumala.


Kumala ingin melihat betapa sakitnya Helena kehilangan suaminya.


"Bagaimana kalau aku goda mantan suami kamu?" tanya Kumala. "Pasti seru dong," kata Kumala.


"Dasar wanita gila," teriak Helena hingga pengunjung yang lain melihat ke arah dirinya.

__ADS_1


Helena merasa malu karena bicara terlalu lantang. Apalagi yang dia bicarakan masalah pribadi.


Helena sebenarnya bisa saja mengamuk. Tapi dia tak mau ambil resiko. Dia lebih baik mengalah saja.


__ADS_2