
Marino sudah tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menjalani hukumannya saja.
Sementara itu, Jeslyn sudah merasakan kontraksi palsu beberapa kali. Dia hanya bersama Edwin di rumah. Helena belum di temukan.
"Kamu kenapa?" tanya Edwin.
"Aku kepikiran mama," jawab Jeslyn.
"Sabar, semoga nanti saat kamu lahiran mama sudah ketemu," kata Edwin.
Kehamilan yang semakin besar dan sudah masuk waktu HPL Jeslyn tak pernah pergi kemana-mana. Dia hanya menunggu saat lahiran saja. Dia berharap lahirannya nanti berjalan lancar.
Semua wanita hamil pasti ingin ditunggui sang mama saat melahirkan begitu juga dengan Jeslyn. Namun, dia tak bisa memaksa jika Helena belum bisa ditemukan.
**
Mona yang tahu adiknya sudah mendekati HPL hampir tiap hari datang ke rumah Jeslyn. Namun, dia pulang saat sore karena tak bisa menginap.
"Gimana dek udah berasa belum?" tanya Mona.
"Kemarin malam kak, sempat kontraksi palsu," jawab Jeslyn. "Sepertinya lahiran aku gak bakal ditemani mama deh," kata Jeslyn.
"Sabar, kan ada kakak. Suamimu juga selalu siaga tuh," kata Mona melihat ke arah Edwin yang sedang menyiapkan makanan.
Mereka punya pembantu tapi Edwin masih suka repot kalau soal makanan untuk Jeslyn.
"Aku beruntung punya suami Edwin," ucap Jeslyn.
Mereka lalu makan siang bersama, baru makan beberapa suap Jeslyn merasakan sakit perut. Jeslyn yakin kali ini dia sudah waktunya melahirkan.
"Kak sepertinya aku mau lahiran, perutku sakit lagi," kata Jeslyn.
Mona segera menyiapkan barang-barang Jeslyn yang akan dibawa ke rumah sakit. Selesai makan mereka segera membawa Jeslyn ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Dokter segera mengecek Jeslyn. Ternyata sudah bukaan lengkap karena sejak tadi di mobil dia sudah merasakan ingin melahirkan.
Edwin dengan sigap menemani Jeslyn di ruang persalinan. Sementara Mona di luar tengah memberi kabar papanya dan juga Bara.
Selang satu jam, terdengar tangis bayi. Mereka yang menunggu merasa bahagia.
"Selamat ya, Nak. Kamu sudah jadi mama," ucap Papa Jeslyn mencium kening sang putri.
__ADS_1
Edwin sudah mengadzani putranya sejak tadi. Bara baru sampai di rumah sakit karena tadi saat Mona telfon dia sedang ada rapat.
"Maaf ya aku baru bisa datang," ucap Bara. "Wah keponakan aku, bakal jadi teman Kaisar main bola nih," kata Bara ketika melihat bayi yang di gendong Edwin.
"Pa, apa mama belum ketemu?" tanya Jeslyn.
"Belum, kamu sabar ya. Nanti mama pasti ketemu," jawab Papa Jeslyn.
Sementara itu Helena mendadak ingin bertemu dengan Jeslyn. Dia tahu kalau Jeslyn sudah waktunya melahirkan. Hanya saja, dia tak punya cukup uang untuk menjenguk putrinya.
"Pasti Jeslyn sudah mau lahiran, aku juga sudah rindu dengan Kaisar," ucap Helena sedih.
Helena hanya bisa mendoakan agar persalinan Jeslyn lancar.
**
Jeslyn sudah dibawa pulang, dia sangat berharap kedatangan Helena. Namun, semua sia-sia karena Helena belum di temukan.
Bayi Jeslyn diberi nama Mario, kini tengah menangis. Sementara Jeslyn malah melamun. Edwin yang melihat hal itu langsung saja menggendong putranya.
"Sayang, jangan melamun!" tegur Edwin. "Ini Mario menangis, kamu susui dulu," kata Edwin.
Mendengar perkataan Edwin, Jeslyn baru sadar dari lamunannya.
Jeslyn menyusui Mario, dia merasa bersalah karena sudah membiarkan putranya menangis.
Saat itu Papa Jeslyn datang. Dia membawa kabar bahagia, Helana telah ditemukan.
"Mamamu baik-baik saja. Hanya saja keadaannya lebih memprihatinkan dari sebelumnya. Dia tinggal di gang sempit dan jualan makanan di sana," kata Papa Jeslyn.
"Pa, ajak mama pulang. Biar dia di sini tinggal sama aku," kata Jeslyn. "Aku butuh mana buat bantu aku jaga Mario. Dia pasti ingin bertemu juga dengan cucunya," sambung Jeslyn.
"Akan papa coba, tapi aku gak bisa memaksa kalau dia gak mau," kata Papa Jeslyn.
Mario sudah tidur pulas. Jadi Jeslyn menidurkannya di box.
**
Hari yang berat di lalui Marino di dalam sel. Di sana dia bertemu dengan orang-orang yang lebih kejam. Teman-temannya merupakan tersangka pembunuhan.
"Woy...kamu ngapain diam aja. Pijitin aku!" perintah seorang pria berbadan kekar.
__ADS_1
Marino tak ingin mencari perkara, jadi dia terpaksa mengikuti apa mau orang itu.
"Nah gitu kan enak," kata pria itu setelah merasakan pijitan Marino.
Marino sebenarnya ingin membantah, tetapi dia tak berani. Dia takut kalau akan dicelakai pasalnya mereka bukan pembunuh biasa. Mereka sudah terbiasa membunuh orang dengan keji.
**
Khadijah kembali mendapatkan kabar bahagia. Setelah mengalami keguguran, tiga bulan kemudian dia kembali diberi amanah oleh Allah. Kehamilannya kali ini benar-benar dia jaga. Dia tak mau kehilangan untuk kedua kalinya.
"Alhamdulillah, kita diberi amanah kembali sama Allah," ucap Umar. "Aku janji akan jaga kamu lebih ekstra," sambung Umar.
"Terima kasih, Mas. Semoga saja bayi kita sehat sampai lahiran," kata Khadijah sambil mengelus perutnya yang masih rata.
**
Papa Jeslyn menemui Helena, dia menyampaikan apa yang menjadi keinginan Jeslyn. Dia datang di temani Mona dan Kaisar.
"Helena, aku mohon kamu mau tinggal bersama Jeslyn. Dia sudah melahirkan, anaknya laki-laki," kata Papa Jeslyn.
"Aku gak mau merepotkan Jeslyn dan Edwin," kata Helena.
"Ma, Jeslyn sangat butuh mama. Dia ingin mama tinggal bersama dia, membantu dia untuk menjaga Mario," sahut Mona. "Ayolah, Ma!" ajak Mona. ''mona tahu, mama gak betah di sini. Mama terbiasa tinggal ditempat yang bersih," kata Mona.
"Kalau kamu gak mau tinggal di rumahnya, Jeslyn pasti sedih sekali," kata Papa Jeslyn."jika Jeslyn sedih, maka itu akan berpengaruh pada cara dia menjaga Mario," bujuk Papa Jeslyn.
Setelah di bujuk terus-terusan, Helena akhirnya mau untuk ikut ke rumah Jeslyn. Hanya saja dia mau tinggal selama satu bulan saja.
Sebenarnya Jeslyn ingin Helena ikut di rumahnya selamanya. Tetapi, Helena hanya mau satu bulan saja.
"Ma, kenapa hanya satu bulan saja?" tanya Jeslyn saat Helena sampai di rumahnya.
"Aku malu kalau merepotkan kamu dan Edwin. Terlebih sama Edwin, aku dulu sangat membenci dia," kata Helena.
"Ya ampun, Ma. Mama jangan seperti itu. Edwin sudah melupakan semua, mama tinggal ya di sini sama kamu, jangan hanya sebulan. Tapi sampai mama tua, sampai Mario besar dan punya adik," bujuk Edwin.
Helena terdiam, dia masih merasa malu karena dulu dia terlalu egois.
"Mama mau ya, tinggal sama kita," kata Jeslyn.
Helena masih berpikir, dia tak akan sanggup jika sering bertemu mantan suaminya. Dia menyesal dan telah merasa bersalah. Namun, bayangan kesalahannya dulu, masih saja membayangi dirinya setiap hari.
__ADS_1
"Mama...," belum sempat Helena menjawab, Mario menangis di kamar. Jeslyn segera mengambil Mario dan menyusuinya.
Helena melihat cucu keduanya, dia tanpa sadar mengeluarkan air mata.