Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Kemarahan Alex


__ADS_3

"Edwin...Edwin...," teriak Alex.


Helena segera keluar, dia kesal karena waktu istirahatnya terganggu.


"Edwin gak ada," ucap Helena kesal. "Cari sana di kantor suamiku," kata Helena.


Alex tak mau tinggal diam, dia segera ke kantor Edwin.


Sampai di kantor dia masuk ruangan Edwin di bantu dengan Paimin. Saat itu Edwin sedang berbicara dengan karyawan yang lain.


"Om Alex, ngapain ke sini?" tanya Edwin terkejut dengan kedatangan Alex.


"Maksud kamu apa? Kamu menyembunyikan hasil tes DNA yang asli," jawab Alex.


"Maksud Om Alex tes DNA apa?" tanya Edwin.


"Tes DNA milik Angel yang dilakukan Bara dan Marino," jawab Alex.


"Oh masalah itu. Lagian ngapain sih Om anak cacat gitu diakui," kata Edwin.


"Diam kamu," bentak Alex. "Sekarang kamu tanggung jawab, kasih tahu Marino yang sebenarnya. Dan aku harus mendapatkan hak asuh Angel," kata Alex.


Papa Jeslyn mendengar keributan itu langsung masuk ke ruangan Edwin.


"Ada apa ini?" tanya Papa Jeslyn.


"Menantu kamu telah menukar hasil tes DNA Angel. Angel itu anakku," jawab Alex lantang.


"Apa benar itu, win?" tanya Papa Jeslyn.


"I...iya, Pa," jawab Edwin.


"Kalau begitu ikut Alex dan selesaikan masalah kalian," ucap papa Jeslyn.


Edwin dan Alex ke kantor Marino. Mereka langsung menemui Marino.


"Ada apa papa Kemari?" tanya Marino.


"Baca ini," jawab Alex menyodorkan tes DNA yang dia bawa.


Marino menerimanya, dia terkejut melihat hasil tes itu 99% cocok dengan Alex.


"Angel anakku, aku mau minta Angel," kata Alex.


Bara yang baru saja masuk ikut terkejut.


"Mana mungkin bisa, hasil tes kan gak cocok," bantah Bara.


Marino memberikan hasil tes pada Bara. Bara ikut terkejut melihatnya.


"Kenapa bisa begini?" tanya Bara.


"Edwin, jawab pertanyaan Bara!" Perintah Alex.

__ADS_1


"Saya yang menukar hasil tes tersebut," ucap Edwin.


Mereka mengambil jalan tengah sebagai solusinya. Angel akan tetap di besarkan Marino. Tetapi Marino harus mengizinkan Alex untuk menemui Angel setiap saat.


Kabar Angel anak Alex sampai di telinga Amelia. Dia ingin menemui Alex tetapi diurungkan niatnya.


Amelia kini sudah tidak bekerja lagi. Dia membuka usaha jualan baju di mall. Amelia merasa sedih saat tahu hal yang sebenarnya. Namun, dia telah menyerahkan Angel pada Marino. Dia tak mungkin bisa mengambil Angel kembali.


"Aku gak nyangka Edwin keponakan Alex dan dia yang udah menukar hasil tes DNA itu," ucap Amelia. "Aku rindu dengan Angel tapi aku tak bisa menemui dia," sambung Amelia sedih.


**


Banyak orang yang tak menyangka jika Angel anaknya Alex. Mereka kira semua salah tapi itulah kenyataanya.


"Mas, bagaimana kelanjutan masalah Angel?" tanya Mona.


"Angel akan tetap bersama Kak Marino. Tetapi Kak Marino harus mengizinkan Papa untuk bertemu Angel," jawab Bara.


"Bagaimana kalau nanti Alex merebut Angel, Mas?" tanya Mona.


"Gak mungkin, dia udah melakukan perjanjian dengan Kak Marino," jawab Bara.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Mona lega.


Mona sebenarnya kasihan kalau sampai Angel akan ikut Alex. Dia takut Angel akan menuruni sifat jelek Alex.


**


Sampai di rumah, Edwin mendapat sindiran dari Helena.


"Kalau iya kenapa? Apa salahnya karena saat Alex sakit aku yang merawat dia," ucap Edwin. "Aku juga berhak dapat dong," kata Edwin.


"Malu aku punya menantu gila harta. Jangan-jangan kamu masuk ke rumah ini juga karena harta? Ya ampun! Miris sekali hidupmu," ejek Helena.


"Stop, Ma! Jangan memperpanjang masalah," tegur Jeslyn. "Mas Edwin baru pulang kerja, dia pasti capek. Jadi jangan diajak debat," kata Jeslyn.


Entah sejak kapan Jeslyn memanggil Edwin dengan sebutan Mas.


Jeslyn menarik tangan Edwin ke kamar. Dia tak mau jika Edwin di pojokkkan.


"Kenapa kamu membelaku?" tanya Edwin.


"Bukankah kamu suamiku, jadi pantas jika aku bela. Oh ya itu kalau kamu anggak aku istri sih. Kalau tidak ya gak apa-apa," jawab Jeslyn.


Edwin terdiam, tak mau berlama-lama di kamar dia segera mandi.


**


Marino memeluk Angel, bersyukur Alex tak memaksa membawa Angel pergi. Jika tidak maka Marino akan kesepian.


Marino sudah kehilangan Khadijah, dia tak mau kehilangan Angel. Walau dia bukan anak kandung Marino tapi Marino sangat menyayangi dia lebih dari apapun.


"Den, aku denger Angel anaknya Alex," kata Liana.

__ADS_1


"Iya, Bi. Edwin keponakan Papa sudah menukar hasil tes DNAnya," jawab Marino.


"Tumben sekali Alex baik. Biasanya dia kan orang yang ngotot," kata Liana.


"Mungkin udah berubah, Bi," kata Marino. "Semoga ke depannya dia gak bikin masalah," sambung Marino.


**


Marino melihat ada undangan di mejanya. Dia tahu itu undangan pernikahan Khadijah.


"Harusnya aku yang ada di undangan itu, tapi aku menyia-nyiakan kepercayaan Khadijah," kata Marino.


Marino hanya bisa melihat foto prewedding Khadijah dan Umar yang tampak bahagia.


"Marino, bagaimana kamu hadir gak? Kalau hadir kita barengan ya," kata Saskia.


"Maaf aku datang sendiri saja," kata Marino.


"Ya ampun! Kalau kamu datang sendiri yang ada Khadijah mengejek kamu, dikira kamu gak laku," kata Saskia.


"Aku gak peduli dari pada pergi sama wanita ular seperti kamu," kata Marino. "Sudah sana kerja kalau gak mau aku pecat kamu," usir Marino.


Dengan kesal Saskia keluar dari ruangan Marino. Khadijah hari ini masih masuk kerja. Besok baru dia ajukan cuti.


Marino mendatangi ruangan Khadijah. Seperti biasa Khadijah tak merespon Marino. Dia memilih fokus pada layar leptopnya.


"Khadijah, maafkan aku!" ucap Marino.


"Hari ini ada rapat jam satu, Pak. Jangan lupa!" kata Khadijah sengaja tak merespon apa yang Marino katakan.


"Khadijah, apa sebenci itu kamu padaku?" tanya Marino.


Khadijah diam saja, dia memilih untuk tidak menjawab. Tiba-tiba Marino mendekati Khadijah dan berlutu di kaki Khadijah.


"Khadijah aku mohon maafkan aku!" ucap Marino.


"Pak jangan bikin malu bapak sendiri. Sekarang bapak berdiri dan kembali ke ruangan bapak. Jangan ganggu saya yang sedang bekerja," kata Khadijah.


"Aku gak mau sebelum kamu memaafkan aku," kata Marino.


"Maaf untuk apa? Aku sudah lupa semua. Anggap aja kita gak pernah dekat," kata Khadijah. 'Bapak sudah mengganggu kenyamanan saya bekerja. Kalau bapak terus begini mendingan saya mengundurkan diri." perkataan Khadijah yang terakhir membuat Marino terkejut.


Dia gak akan mau kalau Khadijah mengundurkan diri. Dia tidak akan bisa bertemu dengan Khadijah lagi.


"Baiklah aku pergi, terima kasih udah mau bicara denganku lagi," kata Marino berdiri.


Saat Marino hendak berdiri dia tiba-tiba terjatuh. Tak sengaja dia menarik Khadijah. Mereka berdua terjatuh bersama dengan posisi Khadijah di atas Marino.


"Assalamualaikum," Umar yang baru saja masuk terkejut saat melihat adegan tersebut.


"Waalaikumsalam, Mas Umar, Khadijah bisa jelaskan," kata Khadijah.


"Gak perlu Khadijah, pasti bos kamu ini yang ganggu kamu, kan?" tanya Umar. "Aku yakin dia memanfaatkan situasi, dia kira aku akan semudah itu percaya," kata Umar.

__ADS_1


Marino memilih pamit, dia merasa tak enak hati dengan Umar.


__ADS_2