
Alex marah, dia hanya mampu mengumpat dirinya sendiri dan orang-orang yang membuatnya terpuruk.
"Bodohnya aku mempercayakan semua pada Mona. Aku kira dia memang lupa ingatan, ternyata dia malah menipuku," ucapnya. "Eros yang aku bayar untuk menjaga Mona justru dia berhianat, sial...nasibku sial," umpat Alex marah.
Menyesal sudah karena dia percaya dengan Mona. Dia tak menyadari bahwa dirinya hanya dimanfaatkan saja. Dia tak bisa minta tolong pada siapapun.
"Aku bisa gila kalau begini. Melihat Mona menikah dengan Bara. Kalian jahat," omel Alex.
Sindi masuk mengantarkan makanan untuk Alex. Dia sedikit takut melihat Alex marah-marah sendiri.
"Sindi, apa kamu bisa bantu aku?" tanya Alex.
"Maaf, bantu apa, Pak?" tanya Sindi sedikit takut.
"Bantu aku gagalkan rencana pernikahan Mona dan Bara," jawab Alex.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa," tolak Sindi.
"Sindi, kamu tuh gimana sih. Tugasmu itu menjaga aku, aku minta apapun harusnya kamu turuti," bentak Alex.
"Kalau saya harus menggagalkan pernikahan Non Mona, lebih baik saya tidak kerja saja, Pak," kata Sindi.
"Ya udah sana mengundurkan diri saja," bantah Alex.
"Oke, aku doakan saja agar tidak ada yang mau jadi perawat Pak Alex setelah saya mengundurkan diri," kata Sindi. Dia sudah tidak tahan dengan kelakuan Alex. Meskipun dia lumpuh tapi dia sok berkuasa pada Sindi.
"Dasar gak tahu untung. Oke oke jangan mengundurkan diri," kata Alex. "Aku mau kamu bantu aku," kata Alex lagi.
"Bantu apa lagi, Pak?" tanya Sindi geram. Udang gak guna tapi masih aja banyak omong.
"Bantu puasin aku," jawab Alex.
"Ogah, ini makan kalau mau. Kalau gak mau aku pergi," ancam Sindi.
"Oke aku mau makan. Aku gal mau mati," kata Alex pasrah.
Di saat sakit Alex masih saja memikirkan nafsunya. Padahal dia sudah tidak bisa on lagi. Tapi ternyata nafsunya masih saja besar.
***
Bara dan Mona menyiapkan pernikahan mereka. Meskipun pernikahannya sederhana tapi mereka tetap membuat persiapan yang matang. Dia juga tak mau ada orang ketiga yang akan mengganggu mereka lagi.
"Aku yakin, Alex pasti marah sekali kita akan menikah," kata Mona.
"Biarkan saja," kata Bara. "Kalau perlu biarkan saja dia bosan hidup dan bunuh diri," sambung Bara.
"Iya biar gak nyusahin orang," kata Mona.
Mereka tak akan mengundang banyak orang. Hanya para saudara saja yang akan mereka undang.
Sementara itu, Amelia mulai melupakan anaknya. Dia tak peduli jika tidak dapat harta dari Alex. Apalagi dia tahu jika Alex saat ini sudah tidak memegang kekuasaan sama sekali.
Amelia menjadi simpanan orang-orang berduit. Dia tak ingin seperti dulu kecolongan dan hamil. Jadi dia sengaja KB agar tidak kebobolan kedua kalinya.
"Hidup begini lebih enak. Dari pada ngurusin anak cacat itu," ucap Amelia.
Selain Amelia, Maura juga frustasi karena Bara dan Mona akan menikah. Harapan dia untuk mendapatkan Bara sudah tidak ada lagi. Jadi dia memutuskan tetap menjalankan dunia gelapnya.
"Amelia, kamu di sini juga?" tanya Maura.
Mereka bertemu di bar di mana mereka biasa nongkrong bersama. Dengan profesi yang sama juga.
"Halo cantik, semalam berapa nih?" tanya Seorang pria.
"Kamu berani berapa?" tanya balik Maura.
Pria itu memberikan cek pada Muara, Maut segera ikut dengan pria itu ke kamar yang sudah dibooking sebelumnya.
Jika Maura dan Amelia frustasi berlari ke dunia gelap. Maka Alex justru berbeda. Dia hanya duduk sendirian di depan televisi. Entah kemana Sindi malam begini tak ada di rumah. Izin pergi sebentar tapi malah belum pulang.
"Anak ini kemana, aku kan capek di sini," kata Alex.
Alex berusaha mendorong kursi rodanya. Namun, dia tidak bisa. Akhirnya dia pasrah dan tertidur di kursi roda.
Saat dia terbangun, dia merasa tubuhnya sakit semua.
"Sindi...Sindi...," teriak Alex.
Sindi tak datang, Alex frustasi dia marah-marah tengah malah tak jelas.
"Sayang, ayo masuk!" Suara itu suara Sindi.
Alex melihat Sindi masuk dengan seorang pria. Alex merasa geram karena ternyata Sindi malah pergi bersenang-senang.
"Sayang, siapa pria cacat ini? Apa dia orang yang kamu rawat?" tanya pria itu.
"Iya, dia gak bisa On," jawab Sindi.
Alex ngiler saat melihat Sindi menggunakan baju yang sangat minim dan ketat. Bahkan gunung kembarnya menonjol.
"Sayang, dia ngiler lihat kamu sexy gitu. Sayangnya dia gak bisa On, kalau bisa kamu udah dilahap dia," ucap sang pria.
Alex geram, mereka malah bermesraan di depan Alex. Bukan hanya bermesraan tapi bercinta di depan Alex. Alex yang sudah lama tidak merasakan kepuasan hanya bisa menahan diri.
"Aaahh...aaahhh," kenikmatan yang mereka lakukan di saksikan oleh Alex yang hanya bisa meneteskan liur saja.
Bahkan Alex melihat betapa mulutnya tubuh Sindi yang selama ini dibalut dengan pakaian rapi itu. Andaikan dia masih bisa On, dia ingin meminta jatah.
"Sial aku gak bisa," umpat Alex.
Alex hanya bisa meneteskan liurnya saja. Sementara Sindi dan kekasihnya tak peduli dan masih saja asyik dengan dunia mereka sendiri.
__ADS_1
***
Sementara itu, Bara dan Mona justru belum berani untuk melakukan penyatuan meskipun mereka adalah suami istri sah. Mereka menunggu setelah akad nikah ulang di lakukan.
"Mona, semoga setelah ini hubungan kita langgeng," ucap Bara.
"Iya, Sayang. Aku juga berharap begitu," kata Mona.
Meskipun Alex sudah lumpuh dan tak bisa apa-apa tapi dia takut jika nanti ada orang lain yang menjadi penghalang rumah tangga mereka lagi.
"Mona, aku sedih kalau ingat kita kehilangan buah hati kita," kata Bara.
"Semoga setelah kita menikah lagi, kita kembali di beri momongan," kata Mona.
Mereka hanya bisa berharap ada kebahagiaan setelah pernikahan ulang mereka.
***
Sejak kejadian semalam, Alex frustasi. Malah dia sering mengomel sendiri seperti orang gila.
"Pak Alex kenapa ngomel sendiri?" tanya Sindi. "Nih makan biar seger," kata Sindi.
"Gak mau makan," tolak Alex.
"Ya udah aku tinggal aja makanannya. Lagi pula aku mau telfonan sama pacarku," kata Sindi meninggalkan Alex sendirian.
"Dasar perawat mesum," omel Alex.
Alex frustasi hingga dia tak mau makan. Dia memilih untuk terus saja berdiam diri di dalam kamar.
Mona pulang bersama Bara, mereka melihat makanan masih di meja dekat tempat tidur.
"Udah bosan hidup ya. Kok gak makan?" tanya Mona.
"Mungkin dia udah mau mati saja, Sayang," jawab Bara.
Alex marah, dia malah membuang makanan yang ada di atas meja. Dia sudah frustasi karena semua orang merendahkan dirinya. Padahal dulu dia yang selalu merendahkan orang lain.
"Ayo kita pergi saja, Sayang!" ajak Mona.
Mereka lalu pergi dari kamar Alex, berlama-lama di kamar Alex hanya membuat Mona merasa kesal.
***
Semakin hari tubuh Alex semakin kurus, dia sudah jarang makan.
"Pak Alex jangan menyiksa diri seperti itu. Kalau memang kamu mau mati jangan kaya gini caranya," kata Sindi kesal.
Setiap mengantar makanan jarang sekali di sentuh. Apalagi Alex terlihat frustasi sekali sudah seperti orang gila. Terkadang marah-marah gak jelas, terkadang diam tanpa kata.
Sindi mulai bosan juga merawat Alex. Di berencana untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini.
"Bu Mona, saya mau mengundurkan diri saja," kata Sindi.
"Aku mulai bosan merawat Pak Alex yang sudah seperti orang gila," jawab Sindi.
"Ya sudah, tapi nanti setelah acara pernikahan aku dengan Bara ya," kata Mona.
Pernikahan Bara dan Mona akan dilaksanakan esok hari jadi dia harus bekerja sampai besok.
***
Hari yang ditunggu tiba, Mona dan Bara tengah melangsungkan pernikahan ulang mereka di rumah Helena.
Di sana ada Marino juga, Eros dan para saudara.
Bara mengucapkan ijab qobul dengan lancar dan lantang. Kini mereka sudah sah menjadi suami istri kembali.
Sementara itu, Alex di rumah mulai frustasi dia tampak seperti orang gila.
"Pak Alex, besok aku sudah tidak ada di sini," kata Sindi. "Aku sudah mengundurkan diri dari pekerjaan ini," sambung Sindi.
"Terserah, aku juga sudah bosan hidup," ucap Alex. "Mona sudah tak lagi peduli padaku," sambungnya.
"Makanya jadi orang jangan terlalu jahat," ledek Sindi. "Itulah karma karena Pak Alex dulu jahat sekali," sambung Sindi.
Alex merenungi nasibnya. Dia sadar jika dirinya memang banyak salah pada orang-orang.
Sementara itu seorang pria tengah melihat ke arah rumah Alex. Dia seperti sedang mengintai. Saat dia melihat Alex di dorong Sindi dengan kursi roda di teras, dia terlihat sedih.
"Pak, saya tinggal ke belakang ya," kata Sindi meninggalkan Alex di teras sendirian.
Penampilan Alex sudah berantakan sekali. Dia sudah beberapa hari tak mau mandi. Di saat Alex merasa susah, Mona dan Bara tengah merasakan kebahagian mereka kembali.
Mereka sedang menemui para tamu yang tak lain adalah para saudara mereka sendiri.
Maura juga datang ke acara Bara. Dia ingin menunjukkan kalau dia bisa hidup tanpa Bara.
"Selamat Bara! Semoga pernikahan kalian yang kedua ini langgeng," ucap Maura.
"Eh Muara, kamu datang ya. Padahal kami gak mengundang kamu loh," sahut Mona. "Dasar gak tahu malu," sambung Mona.
Maura merasa malu karena Mona berbicara dengan keras dan lantang. Banyak orang yang melihat ke arah Maura.
"Ku sudah mempermalukan aku, Mona," ucap Maura.
"Bukan aku tapi dirimu sendiri. Seharusnya kalau gak diundang, jangan pernah datang," bantah Mona.
Maura memilih pergi, dia tidak mau dipermalukan semakin lama oleh Mona.
Sementara itu, Amelia tak pernah peduli dengan kehidupan Alex dan keluarganya lagi.
__ADS_1
"Amelia, kamu makin cantik," puji seorang pria.
"Tentu, bagaimana apa kamu mau booking aku?" tanya Amelia.
"Boleh, asal kamu mau seperti yang aku mau," jawabnya.
"Oke," kata Amelia.
Mereka masuk ke dalam kamar yang sudah mereka booking.
Amelia menikmati kehidupannya sebagai wanita panggilan.
***
Alex tak bisa berbuat apa-apa saat melihat Sindi pamit pada Bara dan Mona.
"Bu, saya pamit ya. Tugas saya sudah selesai," kata Sindi.
"Terima kasih, Sindi. Maaf jika selama kerja di sini kamu banyak makan hati," ucap Mona.
"Tidak masalah," kata Sindi.
Mona memberikan gaji Sindi, setelah itu dia pergi dari rumah Alex. Seorang pria yang berada tal jauh dari rumah Alex melihat Sindi pergi.
"Ini kesempatan aku masuk ke rumah itu," kata pria itu.
Setelah satu jam kepergian Sindi dan Bara sudah masuk ke dalam rumah bersama Mona, pria itu mengetuk pintu.
Tok tok tok
Mona melangkah membukakan pintu, "maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Mona.
"Bu, saya butuh pekerjaan. Apa ibu punya pekerjaan buat saya?" tanya Pria itu.
"Maaf, saya tidak memerlukan sopir," jawab Mona.
Pria itu masih muda, seumuran dengan Bara tak mungkin jika dia jadikan pengasuh Alex yang baru.
"Maaf ya, Mas," kata Mona menutup pintu.
Pria itu kecewa, namun dia sedikit berpikir kembali bagaimana agar bisa masuk ke dalam rumah Alex.
Akhirnya dia punya ide untuk melakukan penyamaran. Dia menyamar seperti pria tua yang berkumis dan sudah beruban.
Esoknya dia kembali ke rumah Alex. Sejak menikah dengan Bara, Mona dan Bara kembali ke rumah itu termasuk Bik Murni.
Tok tok tok
"Maaf cari siapa?" tanya Murni.
"Saya mau cari pekerjaan, Bu," jawab pria itu."Kenalkan, saya Jalal," sambungnya.
"Sebentar biar saya panggilkan nyonya," kata Murni lalu masuk ke dalam rumah.
Mona ke luar menemui pria bernama Jalal tersebut.
"Maaf ada apa ya, Pak?" tanya Mona.
"Saya mau melamar kerja, Bu. Sekiranya ada pekerjaan yang cocok buat saya. Mau bersih-bersih rumah atau kebun saya bisa. Nyupir juga saya bisa," jawab pria itu.
Mona menelfon Bara, dia setuju saja jika Mona mempekerjakan orang untuk bantu Murni. Jadi Mona menerima Jalal sebagai pembantu di tempat Mona.
***
Jalal merupakan orang yang rajin, Bara dan Mona suka dengan pekerjaan Jalal.
"Jalal, kamu bisa menyupir?" tanya Mona.
"Bisa, Bu," jawab Jalal.
"Tolong antar saya kerja ke tempat mama saya. Setelah itu kamu pulang lagi gak apa-apa," kata Mona.
Jalal mengantar Mona ke rumah Helena, diam-diam Jalal menyenlidiki Mona dan Bara.
"Jalal, kamu dulu kerja di mana?" tanya Mona.
"Di rumah majikan yang dulu saya jadi supir, Bu. Berhubung beliau pindah jadi saya di berhentikan," jawab Jalal.
"Kenapa gak ikut pindah, Pak? Apa bapak masih punya keluarga?" tanya Mona.
"Iya, saya masih punya tapi mereka tinggal di kampung, Bu," jawab Jalal.
"Pulangnya tiap tahun berarti, Pak?" tanya Mona.
"Tidak, Non," jawab Jalal.
Setelah mengantar Mona ke rumah Helena. Jalal segera kembali karena nanti Mona akan di jemput oleh Bara.
***
Sampai di rumah, Jalal masuk ke kamar Alex. Alex terkejut melihat Jalal.
"Kenalkan, saya Jalal. Saya orang yang bantu-bantu di sini," kata Jalal.
"Kamu pasti sama seperti mereka, kamu ingin aku mati secara perlahan," ucap Alex.
"Apa kamu tidak mengenaliku?" tanya Jalal.
"Siapa kamu?" tanya Alex balik.
Pria itu lalu membuka kumis dan wignya. Seketika Alex tercengang melihat pria itu. Dia tidak menyayangi melihat siapa pria yang ada di depannya.
__ADS_1
"Kamu...," ucap Alex.
"Diam...jangan sampai ada yang tahu," kata Jalal. "Aku prihatin melihat keadaan kamu," ucap Jalal.