
Setelah kejadian waktu itu, Sarah jarang sekali mau bertemu dengan Alex. Dia juga sering menghindar jika Alex menemuinya.
Seperti sore itu, Alex datang ke rumah Sarah. Namun, yang menyambut hanya Ikbal saja.
"Bal, kemana ibumu?" tanya Alex.
"Sepertinya ibu ke rumah bude, Om," jawab Ikbal. "Om sama ibu marahan ya?" tanya Ikbal.
"Tidak, Bal. Memang ada apa?" tanya Alex penasaran.
"Kok ibu marah kalau Ikbal tanya kapan Om dan Ibu nikah," jawab Ikbal.
Alex berpikir jika Sarah pasti mulai ragu. Apalagi kalau bukan atas ucapan Mumun waktu itu.
Tak mau masalah berlarut -larut, Alex menunggu hingga Sarah pulang. Dia tentu tak mau jika hubungan dia dan Sarah renggang. Apalagi sampai terancam gagal menikah.
"Assalamu'alaikum," ucap Sarah.
Sarah masuk ke dalam rumah, saat mendapati ada Alex di sana dia langsung ke kamar.
"Ikbal, bilang sama ibu. Om mau bicara berdua," kata Alex pada Ikbal.
Ikbal mengetuk pintu kamar Sarah.
"Bu, Om Alex mau bicara," kata Ikbal.
Selang beberapa saat Sarah membuka pintu. Dia duduk di kursi lain yang tak jauh dari Alex.
"Sar, kenapa kamu menghindari aku?" tanya Alex. "Apa ini ada kaitannya dengan kejadian waktu itu?" tanya Alex lagi.
"Aku gak menghindar, hanya ingin sendiri dan memastikan pilihan aku salah atau benar," jawab Sarah. "Aku hanya butuh waktu," sambung Sarah.
"Apa kamu mulai meragukan aku? Karena kekuranganku?" tanya Alex.
Terdengar adzan magrib berkumandang. Tanpa menjawab pertanyaan Alex, Sarah mengajak Ikbal ke masjid terdekat.
Alex akhirnya memutuskan pulang karena merasa bahwa waktunya tidak tepat.
**
Jeslyn dan Edwin semakin mesra, namun tidak Helena dengan sang suami. Mereka tampak tidak saling menyapa saat makan bersama.
Helena makan sambil sibuk memainkan ponselnya. Sementara suaminya hanya diam dan sesekali memperhatikan Helena.
"Tuan, mau nambah lagi?" tanya pembantu Helena.
"Gak usah," jawab Papa Jeslyn.
Selesai makan papa Jeslyn segera berangkat kerja. Namun, ternyata Mona dan Bara datang. Mereka datang tanpa memberi kabar.
__ADS_1
"Loh kalian ke sini?" tanya Papa Jeslyn.
"Iya, Pa. Jangan ke kantor dong! Hari ini kita mau ajak papa dan mama pergi," jawab Mona.
Helena yang sudah menenteng tas terdiam.
"Mama bisa ikut kan? Please, Ma. Kali ini saja," pinta Mona.
"Emang mau kemana sih?" tanya Helena.
"Liburan, Mama mau kan?" tanya Mona membujuk Helena.
"Oke," kata Helena.
"Nanti Jeslyn juga menyusul," kata Mona.
Mendengar kata Jeslyn menyusul Helena yakin jika ada Edwin. Dia diam-diam menghubungi Mumun agar nanti menyusulnya.
"Jeslyn gak ikut bareng kita?" tanya Helena.
"Nanti dia sama Edwin," jawab Mona.
Mereka pergi ke puncak bersama, kali ini Bara dan Papa Jeslyn yang di depan. Sementara Mona, Kaisar dan Helena duduk di belakang.
Mona sengaja mengajak mereka liburan mendadak agar bisa menyatukan mama dan papanya. Semua sudah mereka rencanakan bersama Edwin dan Jeslyn.
Ada dua pelayan yang akan membantu mereka. Acara pagi adalah nonton filme bersama di salah satu ruangan. Mereka sengaja memilih film aksi. Helena suka film aksi.
Tiga pasangan sudah siap di ruangan dan tengah memulai menonton film. Jeslyn dan Edwin duduk.di dekat ranjang. Sementara Mona dan Bara di atas ranjang sambil menidurkan Kaisar. Sementara Helena dan suaminya di lantai beralaskan kasur kecil.
Saat melihat filme tanpa sengaja Helena memeluk sang suami karena terkejut.
"Ih jauh-jauh Napa sih," kata Helena pada suaminya.
Sang suami hanya diam saja, dia gak ingin merusak suasana. Beberapa kali Helena memeluk suaminya tetapi dia gak mau disalahkan.
**
Alex sedih sekali dia gak bisa menemui Sarah. Dia takut jika gagal menikah dengan Sarah. Oleh karena itu Alex berusaha untuk meminta pertolongan pada Ikbal.
"Pak Alex yang sabar, Bu Sarah kan butuh waktu untuk berpikir lagi. Jadi bapak harus kasih pengertian," kata Paimin.
"Tapi aku gak mau kalau sampai gagal nikah, Min. Aku sayang sama Sarah dan Ikbal,," kata Alex.
"Tapi kita gak bisa memaksa Bu Sarah, Pak. Dia berhak memilih, apa lagi dia tahu kekurangan bapak," kata Paimin.
"Nyesel aku Min udah jujur sama Sarah," kata Alex.
"Ya gak boleh gitu, kalau bapak gak jujur yang ada rumah tangga bapak nanti yang berantakan," kata Paimin. ''Mendingan beri waktu Bu Sarah buat sendiri dulu, kalau terkesan terlalu memaksa yang ada Bu Sarah malah merasa terganggu," nasehat Paimin.
__ADS_1
"Kamu benar juga, tapi sampai kapan?" tanya Alex. "Aku ingin menikah dengan Sarah segera," kata Alex.
"Ya sabar, Pak. Jangan buru-buru! Lagi pula kan nikah itu bukan perkara mudah," kata Paimin.
Alex mulai gundah, dia gak akan bisa jika harus menunggu dalam waktu lama. Dia butuh pendamping hidup saat ini.
Akhirnya Alex mengikuti nasehat Paimin. Memberikan waktu pada Sarah untuk sendiri dulu.
**
Selesai menonton Film, mereka makan siang. Beberapa menit kesukaan Helena dan suaminya tersaji. Ada juga masakan kesukaan Mona dan Jeslyn juga.
"Ma, ingat gak. Dulu aku sama Jeslyn rebutan makanan ini?" tanya Mona.
"Ingatlah, Samapi kalian menjatuhkan makanannya. Dan mama marah dan kalian mama jewer hingga nangis," jawab Helena. "Udah gitu papa mu malah marahin mama, jadi mama merajuk waktu itu," kata Helena.
"Iya, mama mogok masak buat kami selama hampir satu Minggu," sahut Jeslyn. "Kalau ingat tuh lucu ya, apa lagi saat kita main air terus salah satu dari kita ngompol gak ngasih tahu mama sama papa," kata Jeslyn.
"Kamu tuh dek yang sering ngompol," kata Mona. "Udah gitu kalau ngompol aku yang dijadikan kambing hitam," kata Mona.
"Emang kalian umur berapa?" tanya Bara.
"Kelas 4 SD waktu itu si Jeslyn," jawab Mona.
"Kalian kalau ngompol mana ada yang mau ngaku," kata Helena.
Suasana mulai mencair Helena juga sudah mau mengambilkan makanan untuk Papa Jeslyn.
"Kalian ajak mama ke sini pasti merencanakan sesuatu. Iya kan?" tanya Helena.
"Mama sok tahu deh," sahut Mona. "Kita kan udah lama gak kaya gini, Ma. Apa salahnya sekarang kita buat acara begini," kata Mona.
"Gak salah sih, tapi mama curiga saja," kata Helena.
Mereka tengah makan bersama tiba-tiba terdengar pintu di ketuk.
"Bik, bukain pintu!" Seru Jeslyn.
Pembantu yang menjaga villa mereka segera membuka pintu.
"Siapa, Bi?" tanya Jeslyn.
"Halo semua," tiba-tiba ada suara muncul dari belakang Bibi. Suara itu suara Mumun dan di sampingnya ada seorang pria yang tak asing bagi Jeslyn dan Mona.
"Dia kan pria yang...," ucap Mona terhenti. "ngapain kalian ke sini?" tanya Mona.
"Mama yang undang mereka," jawab Helena.
Seketika semua mata terarah ke Helena semua. Helena santai dan tak merasa bersalah.
__ADS_1