Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Salam Perpisahan


__ADS_3

"Khadijah," panggil Marino.


Ya yang datang pagi itu adalah Khadijah.


"Ada apa kamu ke sini? Kamu dengan siapa?" tanya Marino karena tak melihat Umar di belakang Khadijah.


"Saya sendiri, Pak," jawab Khadijah. "Boleh saya masuk!" ucap Khadijah.


"Boleh, silahkan!" ucap Liana dan Marino kompak.


Liana ke belakang untuk membuatkan minum tamunya.


"Pak, maksud kedatangan saya ke sini untuk memberikan surat ini," kata Khadijah menyodorkan surat di dalam amplop.


Marino mengambilnya dan membuka amplop itu. Marino terkejut saat melihat itu adalah surat pengunduran diri.


"Kenapa kamu mengundurkan diri? Apa itu karena saya?" tanya Marino.


"Bukan, Pak. Mas Umar akan pindah ke luar kota untuk mengelola pondok pesantren abahnya, jadi saya akan ikut suami saya pindah," jawab Khadijah. "saya mohon maaf jika selama saya bekerja di perusahaan bapak, saya banyak melakukan kesalahan," kata Khadijah.


"Kapan kamu pindah?" tanya Marino.


"Lusa, oh ya saya juga ingin mengembalikan ini," jawab Khadijah meletakkan tiket bulan madu yang Marino berikan. "kami tidak akan berbulan madu, jadi maaf bukan maksud kami menolak," kata Khadijah.


"Khadijah apa artinya ini terakhir kali aku melihat kamu?" tanya Marino.


"Maaf saya tidak tahu, Pak," jawab Khadijah. "saya pamit dulu!" Khadijah berdiri saat Liana ke depan membawa minum.


"Loh Non, ini baru mau saya kasih minum. Duduk dulu di minum, baru boleh balik," kata Liana setengah memaksa.


Akhirnya Khadijah duduk kembali dan meminum minuman yang Liana suguhkan.


"Oh ya, soal sisa gajimu nanti biar perusahaan transfer ya," kata Marino.


"Iya, Pak," jawab Khadijah. "Minumannya sudah saya minum, saya pamit ya, Bi," kata Khadijah pada Liana.


Saat Khadijah hendak berbalik, Marino menarik tangan Khadijah hingga wajah Khadijah berada di dada Marino. Saat itu juga Umar datang menjemput Khadijah.


"Sayang, sudah selesaikan," ucap Umar.


Seketika Marino melepaskan tangan Khadijah.


"Sudah, Mas," kata Khadijah lalu meninggalkan rumah Marino.


Dalam perjalanan pulang, Khadijah dan Umar sama-sama diam.


**


Marino tidak menyangka kalau tadi adalah salam perpisahan dari Khadijah. Dan yang paling dia benci karena Khadijah tak menerima kado darinya.


"Pasti Umar yang memintanya untuk mengundurkan diri. Dan menolak kado dariku," ucap Marino.


Sedih sekali akan berpisah dari sang pujaan hati. Namun, dia tak ada wewenang untuk menahan Khadijah pergi. Apalagi dia pergi bersama suaminya.

__ADS_1


Marino memilih untuk ikhlas menerima kenyataan jika Khadijah tak lagi miliknya. Dia akan berusaha melupakan Khadijah dari ingatannya.


**


Edwin dan Jeslyn telah pindah ke rumah baru mereka. Mereka bersama pembantu yang ditugaskan oleh Helena merapikan rumah.


Tiba-tiba ponsel Edwin berdering, ada panggilan dari Mumun.


"Kenapa gak diangkat? Berisik tahu," ucap Jeslyn.


"Ya aku angkat," kata Edwin mengambil ponselnya. "Ada apa?" tanya Edwin setelah mengangkat panggilan Mumun.


"Mas, saya di pecat bapak, tolong Mas! Carikan saya pekerjaan lagi," kata Mumun menangis sesegukan.


"Maaf, Mun. Saya udah punya pembantu," jawab Edwin.


Jeslyn yang mendengar Edwin menyebut nama Mumun langsung menoleh. Lalu kembali lagi menata bajunya di almari. Setelah itu keluar dari kamar.


"Mas, aku butuh uang tiap bulan buat ngirim keluargaku. Gimana kalau aku gak kerja?" tanya Mumun.


"Tapi maaf, Mun aku udah punya pembantu," tolak Edwin.


"Mas Edwin jahat sama kaya Pak Alex," bentak Mumun lalu mematikan panggilan telfonnya.


Sementara itu Alex tengah mendengarkan Mumun menelfon Edwin dibalik pintu. Alex sudah membawa pembantu barunya. Jadi Mumun dipecat karena sering keluar rumah semaunya.


"Mun, kamu nelfon Edwin ya," kata Alex.


"Emang kenapa? Apa urusannya sama bapak," sungut Mumun.


"Jangan sok peduli, Pak. Aku gak peduli, aku harus bisa dapatkan Mas Edwin kembali," ucap Mumun.


Mumun pergi dari rumah Alex. Dia melihat sinis ke arah pembantu baru Alex yang sedang menyapu halaman rumah.


**


Alex sebenarnya kasihan dengan Mumun tapi dia kecewa karena Mumun hanya memanfaatkan dirinya saja.


"Paimin, antar aku ke rumah Marino," kata Alex .


Alex pergi ke rumah Marino, sebelumnya dia mampir ke baby shop untuk membeli baju dan mainan buat Angel.


Sampai di rumah Marino, Alex menimang Angel. Dia membukakan mainan untuk si kecil .


Marino melihat ada banyak perubahan pada diri Alex. Mungkin sejak dia cacat jadi banyak berpikir positif.


"Marino, kok kamu gak kerja?" tanya Alex.


"Pengen libur, Pa," jawab Marino. "Lagi pula masih ada Bara," kata Marino.


"Bara kan istrinya sebentar lagi lahiran. Jadi dia harus sering di rumah berbeda dengan kamu. Lagian Angel sudah di rawat Liana," kata Alex.


"Gak apa-apa kalau, Pa. Libur sehari saja kan gak masalah," ucap Marino.

__ADS_1


"Apa kamu ada masalah?" tanya Alex.


Marino diam saja,"dia patah hati. Pujaan hatinya udah mengundurkan diri dari perusahan dan nikah sama pria lain," sahut Liana.


"Ya ampun, segitunya kamu. Kaya gak ada wanita lain saja yang lebih baik dari dia," kata Alex.


"Udahlah, Pa. Papa diam aja tahu apa papa soal cinta. Sama mama aja papa gak pernah cinta," bantah Marino lalu meninggalkan Alex dan Liana.


Alex menggelengkan kepala, meskipun dia memang tak pernah cinta dengan Sonya tapi dia tetap tidak sebucin Marino.


**


Sepulang dari rumah Marino, Alex mengunjungi Edwin. Alex meminta alamat baru Edwin.


Alex tak datang dengan tangan kosong. Dia membelikan Edwin beberapa barang yang sekiranya perlu di dalam rumah.


"Ya ampun, harusnya gak usah repot -repot," ucap Jeslyn saat melihat beberapa orang masuk membawa perabot rumah tangga.


"Tidak repot, Edwin hanya punya aku. Kalau tidak aku yang membantu siapa lagi," kata Alex. "Edwin kamu harus bahagiakan istrimu. Jangan seperti Om yang menjadi suami tak berguna," tutur Alex.


Jeslyn merasa kalau Alex sudah berubah. Cara bicaranya sekarang lebih baik dan bijak sekali.


Pembantu Jeslyn membawakan minuman untuk Paimin dan Alex.


"Kamu sudah punya pembantu?" tanya Alex.


"Iya, Mama Helena yang carikan, Om," jawab Edwin.


"Ya gak apa-apa istrimu kan hamil. Dia tak boleh kecapean," kata Alex.


Sekali lagi Jeslyn merasa kalau Alex tidak seperti dulu lagi.


"Silahkan di minum, Om, Pak Paimin!" kata Edwin.


Mereka minum setelah itu mengobrol. Tidak berapa lama Helena dan suaminya datang. Helena kesal melihat Alex sudah ada di sana.


"Ngapain si cacat ini di sini?" tanya Helena.


"Ma, jangan gitu. Biar bagaimanapun, Om Alex keluarga Edwin. Jadi pantas kalau dia ke sini," jawab Jeslyn.


"Jes, Win, Om pamit ya. Gak enak kalau nanti ada keributan di sini," kata Alex.


Mulut Helena terlihat manyun ke arah Alex. Helena melihat ada beberapa barang baru.


"Kamu beli perabotan?" tanya Helena.


"Bukan, itu dari Om Alex," jawab Jeslyn.


"Balikin aja sama orangnya. Kamu gak butuh sumbangan kaya gini," kata Helena.


"Ma, sudah biarkan saja. Yang ada kalau dikembalikan Alex tersinggung," tegur suami Helena .


"Gak bisa gitu, Pa. Aku gak mau terima barang dari Alex," kata Helena.

__ADS_1


"Yang dikasih itu aku, Ma. Jadi kalau aku terima mama mau apa? Lagian Om Alex ikhlas memberi semua ini ," ucap Alex yang sedari tadi diam. "Tolong hargai pemberian Om saya," kata Edwin.


Helena hanya bisa mencibir pelan mendengar ucapan Edwin.


__ADS_2