
Amelia bukan tipe wanita yang mudah menyerah. Dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Marino kembali. Sementara usahanya mencari anaknya belum menemui titik terang.
Dia rela mengeluarkan uang demi mendapatkan anaknya kembali.
Ternyata tidak hanya Amelia, tapi Saskia juga kembali mendekati Marino. Mereka menjadi rival untuk mendapatkan Marino lagi.
"Marino, ini ada makanan buat kamu," ucap Saskia memberikan makanan pada Marino.
"Maaf aku gak bisa menerima pemberian orang," kata Marino cuek lalu masuk ke dalam ruangannya.
Saskia kesal karena ditolak oleh Marino. Namun, dia terus berusaha mengambil hati Marino.
Saskia kembali ke megang, dia tak lagi mendi sekertaris Marino.
Tiba-tiba Amelia datang dan segera masuk ke ruangan Marino. Saskia yang melihat merasa geram.
"Halo, Marino," sapa Amelia. "Sebentar lagi waktunya makan siang, kita makan siang bersama ya!" ajak Amelia.
"Maaf aku banyak kerjaan, mendingan kamu pulang," usir Marino.
Amelia masih bergeming sehingga membuat Marino murka.
"Cepat keluar!" perintah Marino sambil membukakan pintu.
Marino sangat kesal dengan ulah Saiki dan Amelia yang selalu mengganggu dirinya.
***
Kehidupan Alex semakin membaik, meskipun dia masih lumpuh tapi dia sudah bisa menggerakkan tangannya.
"Edwin...kamu dari mana?" tanya Alex.
"Aku dari luar ada urusan," jawab Edwin.
"Apa kamu sudah tahu keberadaan Amelia dan anaknya?" tanya Alex.
"Belum, aku belum mencari mereka," jawab Edwin.
Edwin menggunakan uang Alex untuk kebutuhannya. Alex tidak masalah asal dia masih mau merawatnya.
Edwin segera ke kamar, dia malas jika harus ke rumah berbicara dengan Alex.
"Menyebalkan, kalau bukan demi mendapatkan hartanya aku gak akan mau mengurus dia," kata Edwin.
Edwin melakukan panggilan vidio bersama kekasihnya. Dia tidak peduli dengan panggilan Alex.
Sementara Alex di kamarnya geram karena Edwin tak segera datang. Padahal Alex ingin sekali meminta bantun Edwin.
***
Amelia kesal karena Marino kembali menolaknya. Namun, dia gak habis pikir karena dia masih punya banyak cara untuk mendapatkan Marino.
Diam-diam Amelia membuntuti Marino hingga ke rumah. Saat itu Amelia hanya berani melihat dari kejauhan.
"Aku udah tahu rumahnya, jadi aku harus ambil hatinya," kata Amelia.
Marino masuk ke dalam rumah, dia mencium Angel yang digendong Liana.
"Kesayangan Papa, udah besar aja nih," kata Marino.
Marino mengendong Angel ke kamar sementara Liana membuang sampah. Amelia yang masih mengintai rumah Marino melihat Liana.
"Jadi selama ini Liana ikut dengan Marino," kata Amelia.
Amelia hendak mendekati Liana, tetapi ponselnya berdering. Ada panggilan kerja untuk dirinya segera. Jadi Amelia tak jadi menemui Liana.
Sekilas Liana melihat Amelia, dia langsung masuk ke dalam rumah dan memberitahu Marino.
"Den, aku tadi lihat Amelia," kata Liana.
"Di mana, Bik?" tanya Marino.
"Di depan saat aku membuang sampah tadi," jawab Liana. "Sepertinya dia mengintai rumah ini, bahaya kalau sampai dia datang kemari lagi," ucap Liana.
Tak ada pilihan lain, Marino harus memindahkan Liana dan Angel. Jadi Marino sementara akan menempatkan mereka di apartemen Bara yang saat ini kosong.
Malam itu juga, Marino pindah ke apartemen Bara. Dia tidak mau Amelia menemukan Angel dan Liana.
***
Saskia mendatangi rumah Marino, tapi rumah itu sepi karena Marino sudah ke apartemen Bara sejak tadi. Saskia sangat kecewa sekali padahal dia sudah membuat makanan untuk Marino.
"Menyebalkan, malah orangnya tak ada," kata Saskia.
Makanan yang dia bawa akhirnya diberikan pada satpam yang ada di perumahan Marino. Dia pulang dengan perasaan kecewa.
Tak hanya Saskia, Amelia juga mendatangi rumah Marino satu jam setelah Saskia. Namun, Marino masih belum pulang.
"Kemana Marino? Rumahnya terlihat sepi sekali," kata Saskia.
Saskia tak kunjung pulang, dia malah duduk di dekat teras. Hingga akhirnya Marino pulang.
"Ngapain orang ini di sini?" tanya Marino kesal melihat Amelia duduk di dekat teras.
"Marino, dari mana aja kamu?" tanya Amelia. "Aku bawakan makanan untukmu," ucap Amelia memberikan makanan pada Marino.
Marino mengambil makanan itu dan membuang ke tong sampah yang ada di dekat pintu. Melihat makanan yang dia bawa, Amelia sangat kesal.
"Kenapa dibuang? Kamu gak menghargai aku, Marino," ucap Amelia kesal.
"Siapa suruh bawa makanan? Aku gak butuh. Pulang sana!" usir Marino. "DIni sudah malam, jadi segeralah pulang!" usir Marino lagi.
"Marino di mana Liana?" tanya Amelia. "Bukannya kamu tinggal bersama Bik Liana?" tanya Amelia. Dia nyelonong masuk ke rumah Marino setelah Marino membuka pintu.
"Aku suruh kamu pulang, bukan masuk ke dalam rumah. Cepat pulang! Aku gak mau terjadi fitnah antara kita!" usir Marino sambil mendorong Amelia pelan.
Bukannya pulang, Amelia malah masuk kembali ke dalam rumah dan nyelonong masuk ke kamar. Marino yang geram langsung saja ke luar rumah dan naik mobil.
__ADS_1
Amelia yang merasa ditipu Marino menjadi kesal. Dia keluar hendak mengikuti Marino tapi sudah terlanjur jauh.
"Sial!" umpat Amelia. "Aku malah di sini sendiri," kata Amelia.
Amelia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia tak mungkin tinggal di rumah Marino sendiri karena rumah itu tak ada Liana.
***
Marino terpaksa tidur di hotel, dia malas sekali untuk pulang. Takut masih ada Amelia di sana.
"Aku benci dengan mereka yang hanya gila harta," ucap Marino kesal. Direbahkannya tubuh yang mulai lelah hingga akhirnya dia tertidur pulas.
Paginya Marino baru pulang karena harus mandi dan ganti baju. Dia tak mungkin ke kantor dengan baju yang sama dengan kemarin.
Beruntung sudah tak ada Amelia di sana. Jadi dia bisa mandi dan mengambil baju ganti tanpa drama.
Setelah itu dia pergi ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu. Dia bisa delivery nanti saat di kantor.
"Kamu terlihat suntuk sekali," ucap Bara.
"Tentu, aku kesal dengan Amelia. Dia datang ke rumah, beruntung aku sudah pindahkan Angel ke apartemen kamu," kata Marino.
"Sepertinya dia terobsesi dengan kamu, apalagi kamu sekarang sudah di perusahaan ini lagi," kata Bara.
"Alah dia hanya mau uangku saja, dulu aja saat aku gak punya apa-apa dia tak mencariku. Aku malas dengan wanita macam dia," ucap Marino.
Marino sudah memesan makanan untuk sarapan. Setelah makanan datang, dia segera makan. Dia tak bisa bekerja jika tak sarapan terlebih dahulu.
Selesai makan, dia baru bisa bekerja dengan fokus. Namun, baru saja dia ingin memulai kerja malah Saskia datang dan mengganggu.
"Marino semalam aku ke rumah kamu. Tapi kamu malah tak ada," kata Saskia.
"Jangan datang lagi! Aku tidak suka kalai kamu datang," ucap Marino. "Kamu itu bukan tipeku lagi," sambung Marino.
"Hah...dulu kita bersama. Kenapa sekarang kamu bilang begitu?" tanya Saskia.
"Saya bukan orang yang bodoh yang mau dengan wanita macam kamu," jawab Marino. "Keluar! Kalau tidak kamu aku pecat!" bentak Marino.
Dengan rasa kesal, Saskia keluar dari ruangan Marino.
***
Marino kembali dibuat kesal karena Amelia datang lagi ke kantor. Dia ingin mengajak Marino makan siang.
"Marino, makan siang yuk!" ajak Amelia.
"Maaf aku gak bisa," jawab Marino.
"Ayolah sebentar saja!" ajak Amelia lagi.
Marino akhirnya mau pergi makan siang bersama Amelia. Mereka makan di restoran dekat dengan kantor. Melihat mereka pergi makan siang bersama Saskia kesal.
"Kamu yang traktir aku, ya," kata Marino pada Amelia saat ada pelayan memberikan buku menu.
"Oke gak masalah," ucap Amelia.
Bagi Amelia tak masalah modal dulu asal nanti Marino kembali padanya.
"Kalau saya cumi asam manis sama nasi plus es jus melon," kata Amelia.
"Udah itu aja?" tanya pelayan.
"Iya, " jawab Amelia.
Pelayan itu ke belakang, tidak berapa lama Marino izin ke kamar mandi. Ternyata dia tidak ke kamar mandi melainkan menyusul pelayan tadi.
"Kak, pesanan teman saya tolong tambahkan 50 nasi bungkus. Lauknya ayam ya," kata Marino.
"Baik, Pak," ucap pelayan.
Marino kembali ke tempat Amelia, Marino hanya menanti Amelia makan setelah itu dia akan kembali ke kantor.
"Senang ya kamu bisa kembali ke kantor itu lagi," kata Amelia.
"Itu makanan segera di habiskan! Kamu hanya mengajakku makan siang bukan mengobrol," ucap Marino.
Selesai makan, Amelia membayar. Dia terkejut saat melihat tagihannya.
"Ini 50 nasi bungkusnya, Mbak," kata kasir.
Amelia melongo, sementara Marino mengambil nasi itu dan segera pergi.
"Loh, dia pesan sebanyak itu?" tanya Amelia.
"Iya, Mbak," jawab Kasir.
Amelia dengan berat membayar semua makanan yanh sudah di total. Dia rugi besar siang ini.
Di kantor Marino membagikan makanan itu ke semua stafnya. Bara merasa aneh karena Marino tidak biasa membagikan makanan.
"Tumben amat bagikan makanan," kata Bara.
"Hasil nipu Amelia," kata Marino.
"Hahahah ya ampun! Pasti dia bingung karena kamu pesan nasi sebanyak itu," kata Bara.
"Marino...marino...," panggil Amelia.
"Aku mau kerja jangan ganggu aku," kata Marino masuk ke ruangannya san memgunci pintu.
"Marino...Marino...," panggil Amelia.
Amelia masih saja menggedor pintu ruangan Marino.
"Aduh, kamu gak tahu malu aja sih jadi mantan istri," kata Saskia. "Udah dibuang masih aja nempel," ledek Saskia.
"Eh jaga mulut kamu, aku pasti dapatkan Marino lagi. Buktinya tadi mau aku ajak makan," kata Amelia bangga.
__ADS_1
"Iya tapi ujung-ujungnya tekor, kan?" tanya Saskia setengah meledek.
"Biarin yang penting aku bisa makan siang sama Marino. Lha kamu mana? Gak ada hasil apa-apa," kata Amelia.
Mereka berdua malah adu mulut sehingga Bara terpaksa turun tangan.
"Amelia pergi, Saskia kerja lagi!" bentak Bara.
"Adik ipar, sampaikan salamku pada Marino ya. Bilang aku akan berusaha dapatkan dia," kata Amelia.
"Cepat pergi!" usir Bara.
Amelia segera pergi, begitu juga Saskia kembali ke mejanya.
Marino menggelengkan kepala mendengar kelakuan dua wanita yang sedang berusaha mengambil hatinya.
Marino menelfon HRD, dia minta sekertastis baru. Dengan syarat wajib wanita yang berhijab. Namun, syarat itu tidak boleh dicantumkan dalam syarat lamaran. Agar Marino benar-benar mendapatkan wanita berhijab yang sesungguhnya.
"Bosan aku lihat kelakuan mereka," ucap Marino.
***
Amelia ke bar setelah dari kantor Marino. Dia harus mendapatkan uang kembali.
"Halo cantik, siapa namamu?" tanya seorang pria. Dia adalah Edwin.
"Aku Amelia, siapa kamu? Sepertinya baru ke sini?" tanya Amelia.
"Iya ini pertama kalinya aku kemari," jawab Edwin. "Satu ronde berapa?" tanya Edwin.
"Dua juta," jawab Amelia.
"Boleh dong sekali," kata Edwin.
Mereka lalu masuk ke dalam sebuah kamar. Amelia tidak tahu siapa Edwin sebenarnya.
Setelah pergumulan mereka, Edwin hanya tersenyum pada Amelia.
"Kamu sudah pernah melahirkan?" tanya Edwin.
"Kenapa? Emang ada hubungan apa antara melahirkan denganku?" tanya Amelia.
"Rasanya udah beda," jawab Edwin.
"Iya aku udah melahirkan, tapi anakku cacat. Matanya gak berfungsi satu jadi aku tinggal di rumah sakit," kata Amelia.
"Ibu yang jahat," komentar Edwin.
"Aku sedang mencari dia, aku ingin dia kembali," kata Amelia.
"Kenapa? Apa kami menyesal?" tanya Edwin.
"Tidak, tapi aku akan manfaatkan dia untuk mendapatkan harta ayahnya," jawab Amelia.
"Matre juga kamu," kata Edwin.
"Hari gini gak matre gak akan makan," ucap Amelia. "Ngandelin kerja kaya gini gak cukup,'' sambung Amelia.
"Benar juga sih," kata Edwin. "Ini bayaran kamu," kata Edwin.
Setelah itu Edwin ke luar dari kamar itu meninggalkan Amelia sendiri.
"Ganteng juga, tapi apa dia pria berduit?" tanya Amelia.
Amelia memang wanita panggilan, tapi dia juga suka pilih-pilih orang untuk dia dekati. Nomor satu baginya adalah uang mereka.
Amelia kembali ke bar, dia menunggu tamu selanjutnya.
"Kamu makin cantik aja sih," puji Amelia pada temannya. Dia bernama Kiki.
"Aduh, kalau pengen laris sekarang harus penuh pengorbanan. Kamu tahu gak kalau aku pasang susuk," ucap Kiki.
"Kamu percaya hal begituan?" tanya Amelia. Selama ini dia tidak percaya hal mistik seperti itu.
"Ya iyalah, kamu tahu kan gak pernah ada cowok yang menolak aku. Kamu tahu Om Sanjaya, dia mau jadikan aku simpanan dia loh," jawab Kiki.
Sanjaya merupakan bos besar, jarang yang bisa dekat dengan dia hanya orang-orang tertentu.
"Aku jadi penasaran," kata Amelia.
"Kalau mau aku antar buat ke sana," kata Kiki. "Udah dulu ya, itu Om Sanjaya datang," ucap Kiki.
Dulu Kiki jarang mendapatkan tamu karena orang bilang pelayanan dia kurang oke. Tapi sekarang tamunya sampai antri dari dua hari sebelumnya.
"Aku jadi penasaran," kata Amelia. "Boleh sih di coba," kata Amelia.
Amelia melihat sekeliling, tidak ada tamu untuk jadi target dia selanjutnya.
"Bos,aku cari ternyata di sini," kata orang suruhan Amelia.
"Gimana ada kabar apa?" tanya Amelia.
"Kami sudah tahu siapa orang yang membawa anak kamu," jawabnya.
"Siapa dia?" tanya Amelia.
"Ini orangnya," jawabnya sambil menunjukkan sebuah foto.
Amelia terkejut saat melihat siapa wanita yang ada dalam foto.
"Kamu yakin dia?" tanya Amelia.
"Benar, saya sudah mendapat info dari sekitar tempat tinggal orang itu. Sayangnya, sekarang dia pindah. Mungkin dia dipecat majikannya karena kerja membawa anak kecil," jawabnya.
"Cari tahu di mana sekarang wanita itu berada. Aku gak mau kalau sampai dia bawa kabur anakku," kata Amelia.
"Kalau gitu kami butuh uang lagi," katanya.
__ADS_1
"Uang terus," ucap Amelia mengeluarkan uang dari Edwin tadi.
Amelia merasa aneh untuk apa mantan pembantunya itu membawa anaknya.