Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Kabar Bahagia


__ADS_3

Amelia ingat bahwa dia pernah melihat Liana di rumah Marino. Amelia pikir Marino tahu keberadaan Liana dan anaknya.


Amelia mendatangi rumah Marino mal itu. Dia ingin tahu keberadaan Liana.


"Marino, kamu pasti tahu kalau Liana membawa anakku. Bayi cacat dengan satu mata bermasalah," ucap Amelia.


"Oh itu anakmu ya, aku kira Bik Liana mencuri anak jadi aku pecat saja dia," kata Marino.


"Lalu di mana Liana sekarang?" tanya Amelia.


"Aku tak tahu," jawab Marino. "Kenapa kamu mencari anak itu?" tanya Marino.


"Tidak, aku hanya ingin menjaganya," jawab Amelia.


"Oh ya, kenapa malah bisa ada pada Bik Liana?" tanya Marino pura-pura tak tahu.


"Dia mengambil anakku dari rumah sakit," jawab Amelia.


"Di sini sudah gak ada anak kamu. Mendingan kamu pulang saja," kata Marino mengusir Amelia lagi.


Amelia segera pulang, dia meminta anak buahnya mencari keberadaan Liana. Namun, Amelia sebenarnya masih curiga dengan Marino.


"Aku yakin Marino tahu di mana Liana," ucap Amelia.


***


Liana tak pernah keluar dari apartemen. Semua kebutuhan selalu dibawakan Marino maupun Bara.


Terkadang Angel rewel sampai Liana tidak kuat menenangkannya.


"Angel, kamu jangan rewel lagi ya. Aku udah tua, jadi mudah capek," kata Liana.


Bayi kecil itu hanya tersenyum melihat Liana terlihat capek seharian merawat dirinya. Usia Liana tak lagi muda, dia mudah sekali lelah. Ponsel Liana berdering, panggilan dari Marino.


"Halo Den!" sapa Marino. "Bagaimana apa Angel rewel lagi?" tanya Marino.


"Tidak, Den," jawab Liana.


"Bik, Amelia sudah tahu kalau bibik yang membawa anaknya. Jadi dia tadi datang ke sini untuk tanya keberadaan bibik. Sementara waktu biar Bara yang mengantar makanan dan keperluan lainnya," kata Marino.


"Baik, Den," kata Liana.


Mereka harus waspada agar Amelia tak curiga. Setelah menghubungi Liana, Marino menghubungi Bara. Dia meminta Bara dan Mona sementara membantu Liana mengurus Angel.


"Kakak tenang saja, kami akan bantu jaga Angel," kata Bara.


"Terima kasih, Bara," ucap Marino.


Kehidupan Bara dan Mona terasa nyaman karena Alex tak lagi mengganggunya. Mereka ingin membina keluarga yang bahagia.


Mereka juga melakukan program hamil dengan Dokter kandungan terbaik. Mona ingin segera hamil setelah dia kehilangan bayinya akibat ulah Alex.


"Ada apa dengan Angel?" tanya Mona.


"Amelia sudah tahu anaknya bersama Bik Liana. Dia datang ke rumah Kak Marino karena pernah melihat Bik Liana di sana," jawab Amelia.


"Dia pasti mengincar harta bagian Alex makanya dia mencari anaknya," ucap Mona.


"Sepertinya begitu," ucap Bara.


Mereka juga masih harus waspada. Takutnya Amelia juga mencurigai mereka.


***


Setiap hari Mona menyiapkan makanan untuk Bara. Meskipun ada Murni dia tetap menyiapkan semuanya.


"Kamu kenapa?" tanya Bara.


Mona baru saja ke luar dari kamar mandi dengan memegang perutnya.


"Diare ya?" tanya Bara tampak khawatir karena Mona terus saja ke dalam kamar mandi.


"Aku mual terus," jawab Mona setelah keluar dari kamar mandi. "Padahal aku belum makan apapun," kata Mona.


"Ya uda, ayo makan setelah itu minum obat!" ajak Bara.


Mereka menuju meja makan bersama. Mona mengambil makanan untuk Bara. Baru saja mengambil satu centong nasi tiba-tiba dia merasa mual.


"Uwek...uwek...," Mona segera ke kamar mandi yang ada di sebelah dapur.


"Non Mona kenapa, Den?" tanya Murni.


"Entah sejak pagi dia bolak balik muntah," jawab Bara.


"Wah dia hamil berarti," kata Murni.


"Apa mungkin ya, Bik?" tanya Bara.


"Bisa jadi, Den. Mendingan suruh cek aja," jawab Murni.


Bara segera keluar rumah, dia menuju apotik yang dekat dengan rumahnya.


"Bik, Mas Bara ke mana?" tanya Mona. "Belum makan kok sudah pergi?" tanya Mona lagi.


"Oh itu ke apotik," jawab Murni.


Setelah berapa lama Bara datang, dia memberikan tespack pada Mona. Mona bingung bukannya membeli obat mau malah membeli tespack.


"Kok bukan obat mual sih, Mas," protes Mona.


"Coba aja tes, siapa tahu benar kata Bik Murni kalau kamu hamil," ucap Bara.


"Apa iya," kata Mona.


Mona membawa tespack ke kamar mandi. Sementara Bara makan sendiri karena Mona tak mau makan nasi.


Tiba-tiba ada panggilan di ponsel Bara, Marino bilang pagi ini ada rapat penting .


"Bik, aku berangkat dulu ya. Pamitin sama Mona, ternyata ada rapat pagi ini," kata Bara lalu pergi.


Setelah Bara pergi, Mona keluar dari kamar mandi.


"Bara kemana, Bik?" tanya Mona.


"Udah berangkat kerja, katanya pagi ini ada rapat," jawab Murni.

__ADS_1


Mona masuk ke kamar, dia tidak selera untuk makan nasi.


***


Bara sampai di kantor langsung rapat, dia tidak sempat menelfon Mona. Rapat berjalan hingga jam makan siang.


"Ya ampun! Aku lupa menelfon Mona!" ucap Bara.


Bara mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada Mona.


"Halo sayang! Maaf ya tadi pagi aku buru-buru. Ini aja baru selesai rapat," ucap Bara.


"Pantas aja gak ngasih kabar," kata Mona kesal.


"Ya maaf, kamu kan tahu kalau aku udah kerja jadi terlalu fokus," ucap Bara. "Oh ya gimana tadi hasilnya?" tanya Bara.


"Kepo, entar aja kalau sampai rumah aku beritahu," jawab Mona sengaja tidak memberitahu agar Bara penasaran.


"Iya deh, kamu udah makan belum?" tanya Bara.


"Belum, malas makan nasi. Mau makan empek-empek," jawab Mona.


"Ya udah nanti pulang aku belikan empek-empek," kata Bara.


"Aku maunya sekarang," kata Mona.


"Ya udah aku delivery ya," kata Bara.


Sebenarnya Mona ingin agar Bara yang pulang membawa empek-empek itu. Namun, dia takut merepotkan Bara.


Satu jam kemudian, seorang kurir mengantarkan empek-empek ke rumah Bara.


"Terima kasih ya, Mas," kata Mona pada kurir.


"Sama-sama, Mbak. Lagi nyidam ya," kaya kurir.


"Mas ini sok tahu," kata Mona. "Udah di bayar sama suamiku kan, Mas?" tanya Mona.


"Udah, Mbak. Malah dikasih lebih," jawabnya lalu pamit.


Mona segera memakan empek-empek tersebut hingga habis tak tersisa. Baru selesai makan empek-empek, mendadak Mona ingin makan bakso.


"Kalau ada Mas Bara pasti udah diajak beli bakso," kata Mona.


"Non Mona ingin bakso?" tanya Murni.


"Iya, Bik. Tapi Mas Bara gak bisa belikan pasti," jawab Mona.


"Ya udah biar saya yang carikan," kata Murni.


"Gak usah, Bik," kata Mona.


Mona harus bisa menahannya hingga Bara pulang nanti.


***


Keadaan Alex kian membaik, dia sudah bisa mendorong kursi rodanya sendiri.


"Edwin, kamu sudah ketemu Amelia?" tanya Alex.


"Sudah, tapi anaknya tidak ada sama dia," jawab Edwin. "Om tenang saja, aku akan awasi Amelia terus," kata Edwin.


"Di bar, dia masih kerja seperti dulu," jawab Edwin.


"Apa kamu memesan dia?" tanya Alex.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Edwin.


"Tidak, hanya saja kamu perlu berhati-hati dengannya. Dia wanita matre, takutnya kamu jatuh hati padang dan dimanfaatkan," jawab Alex.


"Tidak, aku justru yang akan memanfaatkan dia," kata Edwin.


"Terserah kamu, aku hanya ingin tahu apa anaknya adalah anakku atau bukan. Kalap bukan berarti dia bukan tanggung jawabku," kata Alex.


"Harusnya Om ambil semua bagian Bara dan Marino. Selama ini Om yang membesarkan usaha Sonya. Tapi mereka yang menikmati hasilnya," kata Edwin.


"Tidak, aku sudah cukup dengan bagianku itu. Aku gak mau mengganggu mereka lagi," kata Alex.


"Kalau Om tidak mau bagaimana kalau aku yang melakukannya," kata Alex.


"Edwin, kamu jangan cari masalah dengan mereka. Apa kamu gak lihat apa yang mereka lakukan padaku? Aku gak mau kamu bernasib sama dengan," tutur Alex.


"Aku gak peduli." Edwin keras kepala sekali. Dia tidak bisa dicegah sama sekali.


***


Bara pulang lebih awal, dia ingin tahu bagaimana hasil tes Mona tadi pagi.


"Tumben udah pulang, Mas," kata Mona.


"Iya, aku penasaran dengan hasil tesnya. Bagaimana hasilnya, Sayang?" tanya Bara penasaran.


Mona mengambil tespack yang dia simpan di laci.


"Ini hasilnya," kata Mona menunjukkan tespack tersebut.


"Garis dua," kata Bara. "Kamu hamil sayang," Bara langsung mencium pipi Mona.


"Mas, aku mau makan bakso!" pinta Mona.


"Oke kita beli, setelah itu kita pergi periksa ke dokter kandungan," kata Bara.


Bara segera mandi agar Mona tak lama menunggu. Setelah siap mereka pergi mencari bakso. Beruntung banyak warung bakso yang sudah buka. Bara membiarkan Mona memilih warung mana yang akan dia singgahi.


Setelah sampai di warung bakso tujuannya, mereka memesan dua porsi bakso dan es teh dua gelas.


Selera makan Mona mendadak jadi nikmat ketika apa yang dia mau terpenuhi.


Selesai makan bakso mereka ke dokter kandungan.


"Selamat ya , Bu, Pak. Bu Mona hamil, usia kadungannya 4 minggu," kata Dokter.


"Alhamdulillah, Dok," ucap Bara. "Lalu bagaimana dengan mualnya, Dok? Istri saya tidak mau makan nasi," kata Bara khawatir.


"Tidak masalah, nanti saya beri vitamin. Jangan lupa minum susu hamil juga!" pesan Dokter.

__ADS_1


Bara dan Mona keluar dari ruangan Dokter dengan rasa bahagia. Dia bisa merasakan hamil lagi.


"Ternyata usaha kita tidak sia-sia, Sayang," kata Bara.


"Iya, aku bersyukur banget," ucap Mona.


Mereka langsung ke rumah Helena. Mereka akan memberitahukan kabar bahagia ini pada mereka.


"Ma, aku hamil!" ucap Mona.


"Beneran?" tanya Helena.


"Iya, Ma," jawab Mona memeluk Helena. "Ini aku tadi habis periksa ke dokter," kata Mona menunjukkan hasil tesnya.


Helena senang sekali karena dia akan segera menjadi nenek. Dia berharap kebahagiaan ini tak segera usai.


***


Maura masih saja memantau Bara lewat media sosial. Jadi saat Bara menposting kabar kehamilan Mona, Maut langsung tahu.


"Wah, mereka bahagia di atas penderitaanku. Aku gak akan biarkan mereka bahagia," kata Muara. "Sakit hatiku pada Mona masih membekas," sambung Maura. "Biar dia sekarang bahagia, tapi saat aku sudah bertindak maka mereka akan menangis bombai," kata Maura.


Maura menyimpan dendam terhadap Mona. Dia tak suka dirinya dihina meskipun dia memang telah terhina.


"Maura, kamu mau ikut tidak," kata Amelia dan Kiki.


"Ikut kemana?" tanya Maura.


"Mau pasang susuk sama dukun," jawab Kiki.


"Wah gak ah takut aku," tolak Maura.


Akhirnya Kiki dan Amelia pergi ke tempat dukun itu tanpa Maura. Rumah dukun itu jauh sehingga memerlukan waktu perjalanan yang cukup lama.


"Kamu yakin kan mau pasang susuk?" tanya Kiki.


"Ya tentu," jawab Amelia.


"Kalau udah yakin jangan sampai nanti kamu nyesel," kata Kiki.


Amelia sudah mantap untuk datang ke rumah dukun tersebut. Dia ingin memikat Marino kembali agar dia menjadi istri pria kaya.


***


Bara dan Mona tengah merasakan kebahagiaan. Kehamilan Mona membuat mereka semakin sayang.


"Sayang, kamu mau makan apa? Nanti aku belikan," kata Bara.


"Aku mau makan sop daging," jawab Mona.


Akhirnya Bara menuruti apa yang Mona mau. Bara tidak mau jika anaknya nanti ileran.


Setelah mendapatkan Sop daging, Mona makan dengan sangat lahap.


"Mas, mau es degan," kata Mona.


Bara langsung mencari es degan. Sayangnya ea degan yang biasanya di dekat rumah tidak jualan. Bara terpaksa keliling mencari ea degan. Hingga Bara bertemu dengan Maura.


"Bara, ngapaim kamu di sini?" tanya Maura melihat Bara berdiri di deretan pedagang kaki lima.


"Mona ngidam es degan. Kamu tahu gak es degan mana yang buka?" tanya Bara.


"Kamu nurutin ngidamnya, Mona," jawab Maura. Bara mengangguk, " Ayo aku antar!" ajak Maura.


Maura ikut mobil Bara dan mencari penjual es degan. Tanpa Bara ketahui, Maura mengambil foto mereka saat membeli es degan.


Foto itu Maura kirim ke ponsel Mona. Mona yang tahu Bara membeli es degan dengan Maura langsung kecewa.


"Sayang, ini es degannya," ucap Bara membawakan es degan.


"Gak mau, kamu belinya sama Maura kan?" tanya Mona.


"Oh ya tadi dia yang nunjukin penjual es dengannya," jawab Bara.


"Aku gak mau minum, buat kamu aja," Mona malah ngambek gak jelas.


Bara merasa bersalah karena tadi mengajak Maura untuk cari es degan keinginan Muara.


"Sayang, maafkan aku!" ucap Bara.


"Aku gak suka kamu dekat sama dia lagi," kata Mona merajuk.


"Iya aku janji gak akan dekat sama dia," kata Bara.


Meskipun sudah memaafkan Bara tetapi Mona tetap tidak mau minum es degan itu.


***


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya Kiki dan Amelia sampai di rumah dukun itu. Rumahmu bagus, tidak seperti rumah dukun pada umumnya.


"Ini benar rumahnya?" tanya Amelia pada Kiki.


"Iya, dia dukun terkenal. Pantas kalau rumahnya bagus," jawab Kiki.


Tok tok tok


Kiki mengetuk pintu, tidak berapa lama seorang pria muncul.


"Dia dukunnya?" tanya Amelia berbisik.


"Bukan, dia asistennya," jawab Kiki.


"Silahkan masuk!" perintah asisten dukun. "Sudah janjian kan?" tanyanya.


"Iya, sudah," jawab Kiki.


Mereka di persilahkan masuk ke sebuah kamar. Kamar itu sangat bagus dan mewah. Ada ranjang besar, televisi dan ber AC.


"Selamat datang!" ucap seorang pria.


Amelia melihat pria yang baru saja datang. Dia terkejut hingga mulutnya menganga.


"Amelia...sadar!" Kiki mengguncang tubuh Amelia.


"Beneran dia itu dukun?" tanya Amelia tak percaya.

__ADS_1


"Iya saya dukunnya," jawab pria itu menatap Amelia.


Bagaimana Amelia tak melongo, dukun yang dia datangi bukan dukun tua dengan rambut gondrong dan ****** panjang melainkan pria muda yang tampan dan sangat gagah. Bahkan dia lebih tampan dari pada Marino.


__ADS_2