Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Kebaikan Bara dan Mona


__ADS_3

Jalal setiap hari membantu mengurus Alex. Apalagi Mona dan Baa sudah tak peduli dengan Alex lagi.


"pak Jalal, kasih Alex makan seperti biasa. Jangan lupa suruh minum obatnya," kata Mona.


Diam-diam Jalal menukar obat yang diberikan Mona. Dia tahu jika obat itu merupakan obat agar syaraf Alex tidak berfungsi. Jadi dia menukar obat tersebut dari dokter yang sebenarnya.


"Baik, Bu," ucap Jalal.


Mona dan Bara tak pernah curiga, Jalal sangat baik dan rajin. Bahkan dia sering menolong Bara.


Alex yang sudah tahu siapa Jalal sebenarnya merasa tenang. Dia tak lagi takut jika dia harus menghadapi Bara dan Mona.


"Kamu sedang apa, Pak Jalal?" tanya Mona.


Saat itu dia melihat Jalal tengah menelfon seseorang.


"Oh ini, Bu. Saya dapat panggilan dari keluarga di kampung. Mereka senang karena saya sudah dapat pekerjaan baru," jawab Jalal.


"Oh gitu, tolong antar saya ke salon!" perintah Mona.


"Baik, Bu," ucap Jalal.


Mereka lalu pergi ke salon, kali ini Mona meminta Jalal untuk menunggu. Jalal menunggu di parkiran.


Setelah hampir satu jam menunggu, Mona ke luar. Dia melihat Jalal berbicara dengan seorang wanita yang sangat cantik.


"Pak Jalal, siapa wanita tadi?" tanya Mona penasaran.


"Oh dia teman anak saya," jawab Jalal.


"Aku kira malah anak bapak," ucap Mona.


"Sudah selesai, Bu?" tanya Jalal.


"Sudah, ayo kita pulang!" ajak Mona.


Diam-diam Jalal selalu mengawasi Mona. Dia selalu ingin tahu apa yang Mona lakukan setiap hari.


Bara dan Marino sibuk mengurus perusahaan Alex. Mereka berencana untuk membagi warisan milik Sonya itu.


"Halo, Sayang," kata Mona saat di dalam mobil. Dia mendapat panggilan dari Bara. "Bagaimana rencana kita? Kapan pengacara keluarga kita akan membagikan semua warisan Mama?" tanya Mona.


"Besok, jadi Kak Marino juga akan ke sana," jawab Bara.


Jalal mendengar hal itu, dia sedikit geram. Tetapi dia masih bisa menahan diri.


Sampai di rumah, Jalal menemui Alex di kamarnya.


"Mereka besok akan melakukan pembagian warisan," kata Jalal.


"Biarkan saja, itu harta memang hak mereka karena itu milik mamanya," ucap Alex.


"Tidak boleh begitu, kamu juga harus dapat bagian," bantah Jalal.


"Kita lihat saja nanti," ucap Alex.


Keadaan Alex masih lumpuh, jadi dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Jalal tak suka jika Alex tidak mendapatkan bagian dari harta milik Sonya.


***


Amelia kini sudah mampu membeli rumah yang cukup baik. Namun, dia masih menyimpan dendam pada Alex.


"Kenapa Mona tidak membunuh saja Alex? Pria itu sudah membuatku menderita," kata Amelia.


Amelia mulai meneguk minuman alkohol yang ada di depannya. Dia sudah menghabiskan hampir setengah botol minuman beralkohol.


"Amelia, mabuk aja kerjaannya. Gak ada tamu?" tanya Maura.


"Gak ada, kamu sendiri gak ada kerjaan?" tanya Amelia.


"Lagi nunggu orang," jawab Maura.


Mereka mengobrol sampai seorang pria muda mendekati Maura.


"Tamuku udah datang, aku pergi dulu," kata Maura.


Maura pergi dengan pria itu, sementara Amelia menghabiskan minuman yang ada di gelasnya lalu pergi.


Di jalan Amelia bertemu dengan Marino. Dia tampak kaget karena Marino berpenampilan sangat rapi seperti dulu.


"Marino, kalau miskin jangan sok-sokan. Pakai jas segala," ledek Amelia. "Gak cocok," sambungnya.


Marino malas meladeni Amelia, dia masuk saja ke minimarket. Dia sudah menganggap Amelia tak ada jadi dia tak peduli dengan Amelia.


***


Bara dan Marino sudah mendiskusikan masalah pembagian warisan. Berapa bagian mereka berdua masing-masing.


"Siapa yang menelfon?" tanya Bara saat melihat Marino mematikan ponselnya.


"Saskia, biasa wanita itu pasti mau dekati aku lagi karena tahu aku sudah kembali ke sini," kata Marino. "Oh ya, aku tadi ketemu Amelia, dia tampak mabuk," sambungnya.


"Apa kamu masih peduli dengannya?" tanya Bara


"Untuk apa peduli pada wanita tak punya hati seperti dia?" tanya Marino. "Lebih baik aku cari wanita yang mau terima aku dan Angel apa adanya," sambung Marino.


Marino tak akan mau dekat lagi dengan wanita yang hanya gila dengan harta. Dia lebih baik hidup sendiri dati pada hidup dengan wanita gila harta itu.


"Kak, apa kita perlu melakukan tes DNA Angel dan Papa?" tanya Bara.


"Untuk apa? Aku tak peduli Angel anak siapa," jawab Marino.

__ADS_1


"Kalau kakak butuh tes itu, maka akan kai bantu," kata Bara.


"Tidak perlu, kalau mau aku bisa melakukannya sendiri," ucap Marino.


Sebenarnya Marino penasaran Angel darah daging siapa. Namun, dia tak ingin mengambil tindakan itu terlaku cepat.


***


Esoknya Marino datang ke rumah Alex, dia bersama pengacara keluarga. Alex juga di minta untuk menyaksikan pembagian harta itu.


"Pak Alex, saya sudah tahu semua masalah yang menimpa Bu Sonya. Pihak Pak Bara tidak akan melaporkan anda ke kantor polisi tapi anda harus setuju dengan keputusan ini nanti," kata pengacara.


"Babakan saja pembagian hartanya,' kata Alex.


Jalal menguping pembicaraan mereka, dia ingin tahu apa Alex masih punya jatah atau tidak.


"Pembagian harta akan di bagi 3, Pak Marino 40%, Pak Bara 45% dan Pak Alex 15%. Namun, jika Pak Alex mempunyai anak selain Pak Bara dan Pak Marino maka jatah Pak Alex 15% akan menjadi milik anak itu," kata pengacara.


Alex tidak menyangka Bara dan Marino masih berbaik hati pada dirinya.


"Rumah ini adalah milik Pak Bara dan Bu Mona. Jadi jika Pak Alex tidak keberatan bisa tinggalkan rumah ini," kata pengacara. "Pak Alex sudah mendapatkan rumah yang dibelikan Bu Mona," kata pengacara.


Alex mau tak mau harus pergi dari rumah itu. Dia tidak mau jika terus bersama Mona dan Bara. Baginya sudah cukup bagian durinya 15% itu.


"Baiklah, saya bersedih pindah," kata Alex.


Jalal yang melihat Alex pasrah saja dengan keputusan itu merasa geram. Dia ingin membantah tapi dia tahu posisinya saat ini sebagai apa.


Setelah semua anggota menandatangai surat pembagian warisan itu. Pengacara segera pergi begitu juga dengan Marino.


"Kenapa kamu mau saja dibodohi mereka?" tanya Jalal saat bersama Alex di kamar Alex.


"Aku sudah tak mau mencari masalah lagi. Lihat aku sudah tak bisa apa-apa. Aku sebenarnya tidak berharap mendapatkan bagian 15% itu tapi merrka justru memberiku, aku bersyukur," jawab Alex.


"Kamu terlalu bodoh, harusnya kamu minta paling tidak 25%," kata Jalal.


Mona datang, seketika mereka diam.


"Alex, kamu boleh berkemas. Kami akan mengantar kamu ke rumah baru," kata Mona. "Oh ya Pak Jalal, bapak juga berkemas. Mulai sekarang bapak akan alu tugaskan menjaga Alex," sambung Mona.


"Baik, Bu," jawab Jalal.


Alex di bantu Jalal membereskan bajunya. Mona dan Bara mengantar mereka ke rumah baru. Rumah itu tidak terlalu besar tapi sudah cukup jika hanya untuk berdua saja.


"Ini rumah kamu, terus kamu tanda tangani surat ini," kata Bara.


"Surat apa itu?" tanya Alex.


"Surat perjanjian kalau kamu tidak akan mengganggu kami lagi termasuk Kakak Marino,'' jawab Bara.


Jalal membantu Alex menandatangani surat tersebut. setelah itu surat di simpan oleh Bara.


"Ini ada buku tabungan dan kartu ATM. Punya sudah tertera di situ, jadi pembagian keuntungan dari perusahaan akan saya transfer ke rekening ini. Untuk biaya hidup kamu kami sudah lepas tangan karena kamu sudah dapat bagian 15%," kata Bara.


Jalal mengambil ATM itu dan tersenyum pada Alex.


***


Setelah pembagian harta, Marino kembali membeli rumah yang cukup layak. Dia tidak mungkin tinggal di rumah kecil lagi. Jadi dia membeli rumah.


"Angel, jaga papa ya nanti kalau papa tua," kata Marino membelai pipi Angel.


Bayi mungil itu mengeliat mendapatkan sentuhan dari Marino.


"Papa sayang kamu," kata Marino.


Ternyata Amelia tahu soal pembagian harta warisan itu. Dia bertemu Saskia di Bar.


"Amelia, anal kamu di mana?" tanya Saskia.


"Gak tahu udah hilang," jawab Amelia.


"Keluarga Alex udah bagi-bagi warisan. Aku dengar Bara dapat 45%, Marino 40% dan Alex 15%. Kalau anak kamu terbukti anak Alex, bagian Alex yang 15% bisa jadi milik anakmu," kata Saskia.


"Benarkah itu?" tanya Amelia.


"Benar, tapi sayang anak kamu hilang," ledek Saskia.


Amelia kembali berpikir untuk mencari anak cacat itu. Dia ingin menggunakan anak itu agar dapat harta Alex yang 15%.


Dia sangat berambisi memiliki harta bagian Alex kembali.


***


Jalal merawat Alex dengan baik, dia memberikan obat sesuai resep Dokter.


"Kamu harus rebut harta kamu kembali jika sembuh," kata Jalal.


"Aku tidak pantas merebutnya," kata Alex.


"Kenapa kamu adalah suami Sonya? Kamu berhak atas harta Sonya," kata Jalal.


"Aku tidak mau melakukannya," tolak Alex.


"Oh ya apa kamu punya anak selain Marino dan Bara?" tanya Jalal.


"Dulu aku selingkuh dengan Amelia, dia adalah mantan istri Marino. Amelia hamil tapi ternyata Dokter menyatakan bahwa Marino mandul. Kemungkinan anak yang dikandung Amelia adalah anakku," jawab Alex.


"Jadi, jika anak itu adalah anakmu, maka dia yang berhak mewarisi harta 15% bagian kamu?" tanya Jalal.


''Ya begitulah," jawab Alex. "Aku mau kamu selidiki di mana anak Amelia," kata Alex memberikan foto Amelia pada Jalal.

__ADS_1


Jalal melihat foto Amelia, dia sebenarnya malas untuk mencari keberadaan anak itu.


"Baiklah, akan aku cari," kata Jalal.


Sebenarnya Jalal ingin menguasai harta bagian Alex. Dia juga ingin membujuk Alex lagi agar merebut harta milik Bara dan Marino.


***


Amelia menyewa orang untuk mencari keberadaan bayinya. Dia tak mau jika orang lain yang akan menguasai hak anak itu.


"Kamu harus dapatkan bayi yang cacat salah satu matanya. Aku tidak punya fotonya tapi setahuku anak itu mata kirinya cacat," kata Amelia.


"Wah susah bos," kata Orang itu.


"Iya, tapi kamu harus temukan," kata Amelia.


Amelia berani membayar orang agar bisa menemukan anak itu. Dia harus segera menemukan anak itu dan membawa ke depan Alex.


***


Alex mempercayakan semua pada Jalal. Dia yakin Jalal bis di percaya. Sayangnya, Jalal tidak seperti yang Alex fikirkan. Dia.juga ingin menguasai harta Alex.


"Jalal...Jalal...," panggil Alex.


"Iya ada apa?" tanya Jalal.


"Untuk apa kamu masih memakai penyamaran kamu itu di sini. Aku sudah tahu siapa kamu jadi tak perlu menyamar," jawab Alex.


"Oh ya, aku hanya takut jika nanti ada orang yang datang," ucap Jalal.


Jalal membuka wig dan kumisnya. Dia terlihat tampan dan bergaya.


"Kenapa kamu datang kemari?'' tanya Alex.


"Papa sudah meninggal, dia ingin aku menemui Om," jawab Jalal.


"Sakit apa papamu?" tanya Alex.


"Dia stres karena istri keduanya membawa kabur semua hartanya sejak aku masih sekolah," jawab Jalal.


"Benarkah itu, Jalal? Eh siapa namamu?" tanya Alex.


"Namaku Edwin, Om Alex," jawab Jalal alias Edwin.


Edwin merupakan keponakan Alex. Dia sudah lama tidak bertemu dengan Edwin sejak papanya Edwin menikah lagi.


"Edwin, sekarang kamu adalah keluarga Om. Jadi tolong cari anak Amelia, lalu lakukan tes DNA. Kalau terbukti itu anakku maka aku akan memberinya bagian," kata Alex.


"Iya, Om Alex tenang saja dong," kata Edwin.


Edwin malas mencari anak itu. namun dia tetap mencari Amelia. Dia ingin tahu di mana Amelia menyembunyikan anak itu.


***


Bara dan Mona kembali bahagia. Mereka sebenarnya ingin tidak memberi bagian pada Alex. Namun, mereka masih punya rasa kasihan pada Alex. Biar bagaimanapun selama ini yang membuat perusahaan berkembang adalah Alex.


"Sayang, aku ingin kita tetap bahagia seperti ini," kata Bara.


"Tentu, aku juga," ucap Mona. "Aku ingin segera hamil lagi, Sayang," kata Mona.


"Yuk kita buat!" ajak Bara.


Akhirnya mereka memadu kasih bersama. Mereka ingin segera memiliki keturunan. Bara sudah ingin menimang bayi mungil dari rahim Mona.


"Aaahhh...aawhhh," pergumulan panas terjadi. Mona terlihat sangat agresif saat di atas ranjang.


"Lagi dong, Sayang," ucap Bara.


Semakin enak dan semakin enak hingga Mona melakukan pelepasan pertamanya. Kini gantian Bara yang mengambil peran. Hingga keduanya merasakan kepuasan bersama-sama.


***


Lagi asyik belanja di mall, Mona melihat Marino sedang belanja. Dia melihat Marino belanja di toko baju anak.


Amelia terkejut saat melihat Marino membeli baju bayi perempuan. Dia mendekati Marino.


"Mau beli baju anak perempuan buat siapa?" tanya Amelia.


Marino terkejut, namun dia segera menguasai diri agar Amelia tak curiga.


"Oh itu teman kantor ada yang habis melahirkan. Aku mau memberi kado," jawab Marino.


"Benarkah? Aku dengar kamu kembali ke perusahaan Alex lagi," kata Amelia.


"Ya begitulah," kata Marino. Dia bersyukur Amelia tidak membahas masalah baju lagi.


"Selamat ya akhirnya kamu kembali kaya," kata Amelia. "Apa masih ada kesempatan kedua untukku?" tanya Amelia.


"Hahahaha," Tawa Marino pecah. "Bagaimana aku memberi kesempatan pada wanita yang sudah aku buang? Rasanya mustahil," ucap Marino.


"Kamu yakin? Tidak akan menyesal telah menolakku?" tanya Amelia.


"Justru aku menyesal kalau terima kamu kembali," jawab Marino.


"Aku sedang cari anakku," kata Amelia. "Dia hilang," sambungnya.


"Lalu apa urusanku?" tanya Marino sinis.


"Bantu aku cari dia," jawab Amelia.


"Maaf aku tidak punya waktu," ucap Marino. Tak ingin berlama-lama, Marino segera pergi tanpa jadi membeli baju bayi.

__ADS_1


"Aku akan dapatkan kamu lagi, Marino," kata Amelia.


__ADS_2