Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Prahara Rumah Tangga


__ADS_3

"I...itu Kak," jawab Jeslyn gugup.


"Itu apa?" tanya Mona.


"Mas Edwin dapat kiriman foto," jawab Jeslyn.


"Yang jelas dong dek, foto siapa?" tanya Mona.


Papa Jeslyn mendekati mereka, "Ada apa ini?" tanya Papa Jeslyn.


"Itu Pa, Mas Edwin dapat kiriman foto mama sama laki-laki," jawab Jeslyn.


Edwin menyenggol lengan Jeslyn tapi Jeslyn gak mungkin berbohong karena ini masalah besar.


"Coba lihat, Win," kata papa Jeslyn.


Edwin mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Helena di bar bersama seorang berondong.


"Mama..," ucap Papa Jeslyn.


Tentu papa Jeslyn terkejut melihat sang istri bersama dengan pria lain. Dia tak mengira bahwa Helena akan melakukan hal itu.


"Ya ampun! Tega sekali dia," ucap Papa Jeslyn.


"Bentar, kenapa Mumun bisa bersama mama?" tanya Jeslyn.


"Benar, apa mungkin mama bersama dengan Mumun," jawab Edwin.


Papa Jeslyn langsung saja pergi. Jeslyn dan Mona mengkhawatirkan sang papa. Jadi Mona meminta Edwin untuk mengikuti papanya.


Entah kemana Papa Jeslyn pergi, tapi sepertinya dia mencari keberadaan Helena.


Hingga dia menemukan mobil Helena di sebuah bar. Papa Jeslyn langsung saja turun dan masuk. Sayangnya, dia tak mendapati Helena di sana.


Mumun yang melihat ada papanya Jeslyn langsung sembunyi. Edwin yang sejak tadi mengikuti papa Jeslyn ikut masuk ke dalam Bar.


"Pa, sepertinya tidak ada mama," ucap Edwin setelah melihat sekeliling. "Apa mungkin dia sudah menyewa kamar?" tanya Edwin.


Tanpa menjawab pertanyaan Edwin, Papa Jeslyn langsung bertanya pada salah satu bartender.


"Mas, saya mau sewa kamar. Sewanya sama siapa ya?" tanya Papa Jeslyn.


"Oh itu sama mami Meta," jawab bartender itu menunjuk seorang wanita berdandan glamor.


Papa Jeslyn langsung mendekati Mami Meta," Mami, apa ada penyewa kamar atas nama Helena?" tanya Papa Jeslyn.


"Ngapain cari orang yang nama Helena?" tanya Mami Meta sambil melihat Papa Jeslyn dari atas ke bawah. "Mendingan sama aku aja dijamin bagus servisenya," kata Mami Meta.


Mumun yang melihat Edwin langsung datang menemui Edwin.


"Cari aku ya," kata Mumun.


"Di mana mama?" tanya Edwin. "Kasih tahu aku cepat!" bentak Edwin.


"Santai dong, aku mau kasih tahu asal kamu mau ngamar sama aku," kata Mumun.

__ADS_1


Papa Jeslyn yang melihat Mumun berbicara dengan Edwin langsung menyusul.


"Mumun, di mana Helena?" tanya Papa Jeslyn.


"Aduh ngapain sih cari Helena, mendingan sama aku aja," jawab Mumun.


"Cepat katakan!" bentak Papa Jeslyn.


"Aku tadi sih lihat dia masuk kamar. Tapi ingat jangan kalian bilang kalau aku yang ngasih tahu," kata Mumun.


Papa Jeslyn memutuskan pulang, dia tak mau ribut di tempat umum. Jadi dia memilih pulang saja.


Hingga akhirnya Helena pulang, Papa Jeslyn langsung meluapkan emosinya.


"Oh gitu ya, sudah mulai berani main api," kata Papa Jeslyn.


"Katanya kamu bebasin aku, kenapa kamu sekarang malah ngurusin aku," kata Helena. "Biarin aja kamu cari kesenanganku sendiri, lagi pula kamu mana peduli dengan aku. Kamu hanya sibuk kerja dan kerja tanpa peduli dengan kebutuhan aku," bantah Helena.


Ya memang akhir-akhir ini Papa Jeslyn sibuk dengan pekerjaannya. Gak hanya sekedar jalan-jalan melakukan hubungan ranjang saja dia jarang. Mungkin itu yang membuat Helena berubah.


"Maafkan aku, aku kerja juga untuk kamu," kata Papa Jeslyn. "Dibicarakan dengan baik kan bisa, tidak dengan cara seperti ini," ucap Papa Jeslyn.


"Alah udah ketahuan salahnya aja baru sok baik. Kemarin-kemarin kemana aja, ngurus anak-anakmu? Mereka udah punya suami jadi tanggung jawab suaminya," bantah Helena.


Rasanya sedih sekali melihat keluarga yang mereka bina puluhan tahun kini berantakan. Hanya karena kurangnya komunikasi antara mereka berdua.


***


Sementara itu Edwin kembali ke rumah Mona.


"Papa udah pulang, karena saat kami ke sana mama udah masuk kamar," jawab Edwin.


"Kasihan sekali papa," ucap Mona. "Oh ya Jeslyn udah tidur di kamar tamu, mendingan kalian nginep saja. Kasihan kalau kamu bangunin," kata Mona.


Edwin menyusul Jeslyn yang sudah tertidur pulas. Dia memeluk sang istri dari belakang. Merasa di peluk, Jeslyn membuka mata.


"Papa gimana, Mas?" tanya Jeslyn.


"Papa pulang karena gak ketemu mama," jawab Edwin. "Udah kamu tidur aja, kita pulang aja besok," kata Edwin.


Edwin kembali memeluk Jeslyn, mereka akhirnya tertidur pulas.


***


Sementara itu, Helena dan Papa Jeslyn sudah pisah kamar. Papa Jeslyn di suruh tidur di kamar lain.


"Helena, maafkan aku jika aku salah. Sebelum terlambat mari kita perbaiki," kata Papa Jeslyn.


"Enak aja sih bilang gitu," ucap Helena.


Helena langsung pergi karena dia sudah siap dengan tasnya.


Ada rasa sakit saat melihat sang istri berubah drastis. Apalagi Papa Jeslyn masih ingin memperbaiki tapi Helena justru abai.


***

__ADS_1


Alex dan Sarah semakin dekat, namun Sarah belum tahu kalau Alex sudah tak bisa on lagi. Sebenarnya Alex ingin jujur tapi dia belum siap kehilangan Sarah.


"Sarah, aku mau bicara," kata Alex saat dia mengunjungi rumah Sarah siang itu.


Paimin sedang menjemput Ikbal di sekolahkan.


"Ada apa, Mas?" tanya Sarah.


"Sarah sebenarnya aku sudah gak bisa On, aku mengalami ejakulasi," jawab Alex.


Sarah melihat ke arah Alex. Namun, dia tak menemukan kebohongan di mata Alex.


"Aku pernah melakukan kesalahan fatal pada seseorang hingga dia membenciku dan membuat aku seperti ini," kata Alex. "Sebelum kita menikah, sebaiknya kamu pikirkan lagi, aku gak mau memaksa kamu," kata Alex. "Aku juga sudah berobat tapi belum sepenuhnya sembuh," sambung Alex.


"Apa kata dokter masih bisa sembuh?" tanya Sarah.


"Bisa asal aku rutin berobat," jawab Alex. "Tapi kalau soal kelumpuhan ku tidak bisa sembuh," ucap Alex.


"Nanti aku pikirkan lagi," kata Sarah.


"Aku harap kalau misal kita tak jadi menikah kita tetap berteman," ucap Alex.


"Ya," kata Sarah.


Ikbal pulang, dia membawa banyak makanan. Ternyata dia tadi mampir membeli makanan. Mereka berempat langsung saja makan siang bersama.


***


Helena dan Mumun kembali untuk bersenang-senang. Mumun senang karena Helena bisa dia manfaatkan.


"Suamiku bikin kesel aja," kata Helena. "Dia mulai melarang aku," kata Helena.


"Jangan takut, pria emang kaya gitu," kata Mumun. "Dia aja kalau selingkuh seenaknya sendiri, kira sebagai wanita juga bisa membalasnya," kata Mumun.


Mereka melanjutkan bersenang-senang tanpa dia sadari ada Edwin yang memperhatikan mereka.


"Ma, lebih baik mama pulang. Jangan bergaul dengan Mumun dia membawa dampak buruk buat kamu," kata Edwin.


"Eh sayang, kamu cari aku ya," kata Mumun.


"Ngapain aku cari kamu, aku cari mama," kata Edwin.


Edwin mendorong Mumun pelan, tapi malah Mumun pura-pura terjatuh.


"Kamu apa kan Mumun," ucap Helena marah dan menampar Edwin.


Mumun yang melihat hal itu merasa senang. Apalagi Mumun dibela oleh Helena.


"Ma, jangan bergaul dengan dia. Dia hanya manfaatkan mama untuk kesenangan dia. Selama ini mama yang membayar semuanya kan?" tanya Edwin.


Helena menoleh ke arah Mumun, tatapannya penuh pertanyaan.


"Apa benar yang dikatakan Edwin? Kalau kamu manfaatkan aku?" tanya Helena.


Mumun terdiam karena dia memang memanfaatkan Helena.

__ADS_1


__ADS_2