
Walaupun tidak diizinkan untuk datang ke rumah Helena, Bara tetap datang ke sana. Dia bertemu dengan Edwin namun Bara bersikap biasa saja.
"Bara, mau nginep di sini juga?" tanya Helena.
"Iya, Ma," jawab Bara. "Oh ya Ma ini ada makanan," ucap Bara memberikan makanan Pada Helena.
"Terima kasih ya," kata Helena. "Susul sana Mona di kamarnya," ucap Helena yang tahu kedatangan Bara.
Bara mengetuk pintu kamar Mona.
"Iya masuk aja," kata Mona.
Bara masuk, Mona terkejut melihat Bara.
"Ngapain ke sini?" tanya Mona langsung menutup pintu kembali agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Aku kan sudah bilang gak usah nyusul," proses Mona.
"Gak bisa, Mona. Semua harus di selesaikan. Aku gak bisa kalau kamu diemin kaya gini," kata Bara.
"Lalu mau kamu apa?" tanya Mona.
"Kita kembali seperti biasanya. Jangan ngambek lagi, Ya," bujuk Bara. "Aku janji gak akan ikut campur urusan keluarga kamu," sambung Bara.
"Kamu yakin bisa?" tanya Mona.
"Aku bisa asal kamu jangan marah padaku lagi," jawab Bara.
"Oke aku gak akan marah lagi. tapi ingat janji kamu tadi," ucap Mona.
"Iya aku ingat," kata Bara.
Meskipun sudah memaafkan Bara, Mona tak mau pulang. Dia ingin menginap jadi Bara juga ikut menginap.
Edwin pulang karena Mona sudah tak membutuhkannya. Mona meminta Edwin untuk membawa mobilnya pulang terlebih dahulu.
"Terima kasih, Bu. Apa tidak masalah jika mobil saya bawa pulang?" tanya Edwin.
"Tidak apa-apa dari pada kamu harus ke rumahku dulu," jawab Mona.
"Bagaimana dengan Pak Bara?" tanya Edwin.
"Oh dia gak masalah kok," jawab Mona.
Edwin pulang membawa mobil Mona. Bara sedang mengobrol dengan papanya Mona. Mereka membicarakan soal bisnis Bara.
"Papa, kapan ya Edwin nikahi aku?" tanya Jeslyn.
"Sabar Jeslyn. Jangan buru-buru," jawab papanya.
Bara yang mendengar hanya diam saja, dia masih ingat dengan janjinya pada Mona.
"Ngebet amat mau nikah," kata Mona.
"Ya kan udah ada calonnya," kata Jeslyn.
__ADS_1
"Kalau Edwin belum siap bagaimana? Kamu kan tahu nikah itu juga perlu biaya," kata Mona.
"Alah Kak Mona gak asyik, pasti ketularan Kak Bara yang gak suka sama Edwin," protes Jeslyn.
"Gak gitu, Jes," ucap Mona.
"Alah kalian sama aja, pasti udah dipengaruhi sama Kak Bara," kata Jeslyn masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kasar.
"Udah biarkan saja, kita kan pihak perempuan. Kalau Edwinnya belum mau melamar mau apa lagi," kata Papa Mona.
"Lagian kenapa sih tuh anak ngebet banget," kata Mona. "Nyebelin malahan," kata Mona berdiri meninggalkan Bara dan papanya.
***
Di dalam kamar Jeslyn marah, dia mengirim pesan pada Edwin.
"Kalau kamu emang serius denganku, lamar aku secepatnya," pesan Jeslyn.
Jeslyn tidak mau jika Bara mempengaruhi Mona dan orang tuanya. Dia tak mau gagal dilamar Edwin.
"Kalau sampai Kak Bara ikut campur maka aku akan buat dia menyesal," kata Jeslyn.
"Jes...ayo makan!" ajak Helena.
Jeslyn keluar kamar dengan enggan. Sampai di meja makan dia melihat Bara dan langsung melengos.
"Jes, kamu kenapa? Lihat Bara kok gitu?" tanya Helena.
"Dia udah pengaruhi Kak Mona supaya gak dukung aku sama Edwin lagi," jawab Jeslyn.
"Malas makan aku kalau kaya gini," kata Jeslyn hendak berdiri tapi tak jadi karena melihat papanya marah.
"Duduk dan makan! Sejak kapan kamu jadi orang seperti itu," kata Papanya.
Jeslyn kembali duduk dan diam saja. Dia masih takut jika papanya sedang marah.
***
Edwin bukan tidak mau segera melamar Jeslyn. Hanya saja dia masih memikirkan biaya yang akan dia gunakan. Uang yang dia ambil dari tabungan Alex tidak seberapa.
"Bagaimana caranya aku bisa melamar Jeslyn?" tanya Edwin. "Uangku tak akan cukup, mau pinjam tapi aku tak punya jaminan apa-apa," kata Edwin.
Edwin mencari cara agar bisa melamar Jeslyn secepatnya tanpa dia memikirkan biaya pernikahan.
"Jes, maaf bukannya aku gak mau melamar kamu. Aku belum punya cukup uang untuk biaya pernikahan kita," balas Edwin.
Edwin akan mencoba untuk memanfaatkan Jeslyn.
***
Selesai makan, Jeslyn langsung menarik Bara. Dia ingin berbicara berdua dengan Bara.
"Aku gak suka Kak Bara mempengaruhi Kak Mona ya. Kalau kak Bara gak suka sama Edwin terserah tapi jangan ikut campur," kata Jeslyn.
__ADS_1
"Aku gak akan ikut campur lagi. Mau nikah sekarang pun silahkan!" ucap Bara.
"Jangan sok deh kamu!" kata Jeslyn. "Awas saja kalau sampai Edwin gak jadi melamarku, maka kak Bara yang harus tanggung jawab," ancam Jeslyn.
"Udah selesaikan, aku mau ngobrol sama papa," kata Bara meninggalkan Jeslyn.
Jeslyn ke kamar ada balasan dari Edwin. Jeslyn seketika lemas mendengar jawaban Edwin.
"Aku akan minta papa buat biayai semuanya," kata Jeslyn.
"Gak usah, aku malah gak enak dengan keluarga kamu," kata Edwin.
"Gak apa-apa, aku akan bujuk papa," balas Jeslyn.
Cinta memang telah membutakan Jeskyn hingga dia tak tahu kalau Edwin punya niat jahat padanya.
Jeslyn menemui papanya, dia langsung mengatakannya.
"Pa, Jeslyn mau nikah sama Edwin. Tolong papa biaya pernikahan kami!" pinta Jeslyn.
Semua yang ada di sana melongo mendengar permintaan Jeslyn.
"Papa gak bisa dong, kalau misal patungan tidak masalah. Tapi kalau semua biaya dibebankan sama kita papa gak bisa," tolak Papa Jeslyn.
"Nah benarkan apa kataku. Edwin belum punya tabungan yang cukup. Kamu sih pakai ngebet nikah. Kalau mau nikah gak banyak biaya ya udah nikah di KUA aja. Gak usah pakai resepsi," kata Mona.
"Ide bagus," kata Jeslyn. "Tapi masa iya Jeslyn yang anaknya orang kaya nikah di KUA udah gitu gak resepsi apa kata teman-teman aku," kata Jeslyn.
"Ya aku gak tahu, itu terserah kamu," ucap Mona.
"Benar kata kakakmu, kalau mau nikah tanpa banyak biaya cukup ijab qobul aja tanpa resepsi. Itu kalau kamu mau," sahut Helena. "Kalau emang Edwin punya niatan untuk nikahi kamu, pasti dia akan usaha buat cari biayanya," kata Helena.
"Mama kok jadi ikut-ikutan Kak Mona sih," gerutu Jeslyn.
"Jes, nikah itu bukan masalah sekarang. Tapi harus dipikirin jangan panjangnya. Jadi gak asal nikah begitu saja," kata papa Jeslyn. "Sekarang kamu tantang aja Edwin, berani tidak melamar kamu. Paling tidak kalian tunangan dulu," kata Papa Jeslyn.
"Oke aku akan buktikan pada kalian kalau Edwin memang serius sama aku," kata Jeslyn lalu masuk ke dalam kamar.
"Kena setan apa sih kok mendadak dia pengen cepat nikah," kata Mona.
"Udah biarkan aja namanya juga bocah labil," kata Helena.
Sampai di kamar Jeslyn menelfon Edwin.
"Halo, ada apa sayang?" tanya Edwin.
"Sayang, papa nantangin kamu buat lamar aku. Paling tidak kita tunangan dulu kalau emang belum siap dengan biaya pernikahan," jawab Jeslyn.
Edwin seketika diam, dia tak langsung memberi respon.
"Halo Edwin...kamu dengar aku bicarakan?" tanya Jeslyn. "Buktikan sama mereka kalau kamu serius," kata Jeslyn.
"I...iya, aku akan buktikan," kata Edwin gugup.
__ADS_1
Edwin harus mengatur rencana lagi agar bisa bertunangan dengan Jeslyn.