
Sejak Alex patah hati dengan Sarah, dia berusaha agar cepat sembuh. Dia menjalani berbagai macam pengobatan. Dia ingin bisa on kembali agar tak ada wanita yang menyepelekan dirinya.
"Aku harus sembuh," kata Alex.
Alex memeriksakan diri ke dokter yang biasa dia kunjungi. Dokter bilang kalau Alex bisa sembuh, namun semua butuh waktu. Untuk kelumpuhannya memang Alex sudah tak bisa sembuh lagi.
"Pak Alex masih ada harapan untuk sembuh, jadi sering saja periksa dan makan makanan bergizi sesuai anjuran," kata Dokter.
"Baik, Dok," ucap Alex.
Sepulang dari rumah sakit, Alex menerapkan apa saran dari dokter. Dia tak mau dianggap pria lemah dan tidak bisa memuaskan wanita. Kalaupun dia lumpuh setidaknya dia masih bisa on.
Usaha Alex untuk sembuh sangat besar. Walaupun tidak ada yang memberikan semangat dan dukungan dia tetap ingin sembuh.
Hingga suatu hari Alex kembali dipertemukan dengan Sarah dan Marino di pusat perbelanjaan.
"Papa, kami akan menikah," kata Marino.
"Silahkan! Itu hak kalian tidak ada hubungannya denganku," kata Alex santai namun penuh dengan sindiran. "Takutnya kalian kalau gak nikah malah berbuat dosa," sambung Alex.
"Maksud kamu apa?" tanya Sarah.
"Kalian sudah dewasa, jadi kalian harusnya sudah tahu maksudku. Apalagi Marino pasti sangat faham sekali," jawab Alex melirik Marino.
"Sayang, sudahlah. Jangan hiraukan anjing menggonggong," kata Marino.
Awalnya Alex tak emosi namun saat dia dibilang anjing menggonggong tentu dia emosi.
Marino sudah pergi, padahal Alex ingin membalas ucapan Marino.
Alex kesal dengan Marino dia mendatang Bara di rumahnya malam itu.
"Papa tumben ke sini?" tanya Bara.
"Kakakmu keterlaluan, Bara. Dia merebut Sarah aku sudah mencoba Ikhlasin tapi apa balasannya dia malah mengataiku anjing. Aku memang pernah jahat tapi biar bagaimanapun aku tetap orang tuanya," jawab Alex.
"Masak sih, Pa? Sejak dekat dengan Sarah kami jarang ketemu," kata Bara.
"Mungkin Kak Marino masih menyimpan dendam sama papa. Jadi dia sengaja melakukan hal itu," sambung Mona yang sejak tadi diam.
"Kanapa dia harus dendam, aku juga ikhlas kalau Angel bersama dia. Kurang apa aku ini?" tanya Alex.
"Kita tidak tahu, Pa. Nanti akan coba Bara nasehati Kak Marino," kata Bara.
"Gak usahlah, dia sudah besar. Harusnya sudah faham. Tapi kalau memang dia ingin balas dendam seperti yang dikatakan Mona ya sudahlah. Dia juga sudah dapat Sarah," kata Alex pasrah.
Bara diam, dia tahu Alex pasti sakit hati dikatai anjing. Tapi dia masih berusaha untuk bersabar.
__ADS_1
Alex pulang karena dia akan ada acara. Jadi dia tak bisa berlama-lama di rumah Bara.
**
Marino dan Sarah memang selalu berdua. Kemanapun mereka pergi jarang mengajak Ikbal. Sebenarnya bukan mereka tak mau
tapi Ikbal yang gak mau ikut.
"Sayang, aku mencintaimu. Sebentar lagi kita akan menikah. Bagaimana kalau sekali saja aku menginap di rumah kamu," kata Marino.
"Menginap? Bagaimana kalau ada tetangga yang tahu?" tanya Sarah.
"Kalau gitu kita ke hotel saja," jawab Marino.
"Hah ngapain?'' tanya Sarah.
"Aku akan buktikan padamu kalau aku pria jantan bukan seperti Alex yang berdiri aja gak bisa," jawab Marino.
"Tidak perlu seperti itu," tolak Sarah.
"Ayolah! Sekali saja," kata Marino.
Saat itu mereka berada di parkiran sebuah mobil. Keadaan parkiran tampak sangat sepi. Marino mendekati Sarah dan langsung mencium Sarah.
Sarah yang awalnya malu-malu mulai mengimbangi. Bahkan dia merasa ingin lebih dari hal itu.
Mereka ke hotel, Sarah tak peduli lagi apa kata orang. Bagi dia yang penting hatinya bahagia.
**
Sementara itu Ikbal yang di rumah sendiri merasa was-was. Sarah belum juga pulang padahal sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Biasanya Sarah pulang jam sembilan malam.
"Ibu kemana sih, kok tumben sampai jam segini," kata Ikbal.
Sarah tak pernah membelikan Ikbal ponsel. Jadi Ikbal tak bisa menghubungi Sarah.
Karena terlalu menunggu sang ibu, Ikbal mulai ketiduran. Dia tak sadar jika Sarah sudah pulang sejak tadi. Dia terbangun pukul dua dini hari.
Ikbal hendak ke kamar tapi dia mendengar suara aneh di kamar sang ibu. Ikbal melihat ke depan lewat jendela, ada mobil Marino di sana.
"Apa ibu di kamar dengan Om Marino,' kata Ikbal.
Ikbal tak mau ambil pusing, dia segera masuk ke kamarnya. Dia melanjutkan tidur meskipun hatinya kepikiran sang ibu.
Paginya Ikbal yang bangun pagi untuk salat subuh ke masjid melihat Marino ke luar dari kamar sang ibu.
Ikbal tak bicara apa-apa, dia langsung saja ke masjid.
__ADS_1
Selesai salat, Ikbal segera pulang. Di jalan dia bertemu dengan ibu-ibu tetangganya.
"Bal, ibumu tuh janda. Masa nginepin laki-laki yang bukan suaminya. Bikin malu saja," kata tetangga Ikbal.
Ikbal tak peduli dan segera berjalan lagi agar Sampai di rumah. Namun, bau sampai di halaman rumah tetangga Ikbal yang lain menegurnya.
"Ibumu sejak kapan jual diri, Bal. Janda kok gak punya harga diri," kata tetangga Ikbal.
Ikbal kesal mendengar hinaan orang-orang. Walaupun dia yakin kalau ibunya memang salah.
"Udah pulang dari masjid, Bal?" tanya Sarah.
Ikbal tak menjawab, dia segera masuk ke kamar. Ada rasa kecewa dalam hati Ikbal karena Sarah tak bisa menjaga diri.
Sarah yang melihat perubahan sikap Ikbal pun heran. Namun, dia bersikap biasa saja dan tak ingin tahu apa yang dialami Ikbal.
**
Beberapa tetangga Sarah terus menggunjingkan Sarah. Apalagi sudah satu Minggu Sarah selalu pulang malam. Bahkan pernah tak pulang saat pergi bersama Marino.
"Baru pulang, Bu," kata Ikbal malam itu.
"Kamu lihat kan aku baru pulang, kenapa masih tanya," kata Sarah.
"Sejak ibu dengan Om Marino, ibu sudah berubah. Ikbal gak mengenal ibu lagi," ucap Ikbal.
"Maksud kamu apa? Bisa gak sih gak usah bikin ibu kesal. Ibu tuh capek mau istirahat," kata Sarah langsung masuk kamar.
Ikbal sangat kecewa pada Sarah. Ikbal menangis dan masuk ke dalam kamar. Si kunci pintu kamarnya rapat-rapat.
"Nyesel aku dulu merestui ini sama Om Marino," kata Ikbal.
Gak hanya di rumah, di sekolah juga beberapa teman Ikbal mengatakan kalau Ikbal anak pelacur. Awalnya Ikbal tak menghiraukan tapi setelah apa yang mereka lakukan keterlaluan Ikbal mulai protes pada Sarah.
Sore itu Ikbal menunggu Sarah. Namun, Sarah tak kunjung pulang. Ikbal marah dan sedih melihat ibunya sudah berubah.
Selang dua jam, Sarah pulang bersama Marino.
"Masih ingat pulang, Bu?" tanya Ikbal. "Aku kira ibu lupa kalau punya rumah dan anak," sambung Ikbal.
"Ikbal jaga ucapan kamu!" bentak Sarah.
"Ibu berubah, ibu sudah gak sayang Ikbal lagi. Om Marino udah bawa dampak negatif buat ibu. Karena ulah kalian, Ikbal jadi bahan ejekan di sekolah," kata Ikbal meluapkan apa yang dia rasakan selama ini.
"Jangan dengarkan kata orang! Om Marino udah beri kita semuanya. Kamu jangan buat dia kecewa," kata Sarah.
"Kalau Om Marino memang pria sejati. Nikahi ibu secepatnya!" ucap Ikbal lalu ke kamar.
__ADS_1