
Sampai di rumah, Jeslyn mengajak mamanya ke kamar. Dia mengatakan kalau Firza sudah diberitahu Edwin soal Jeslyn dan Edwin.
"Kamu tenang saja, biar mama yang jawab," kata Helena.
Mereka lalu kembali menemui Firza.
"Jeslyn jawab pertanyaan aku tadi. Apa benar kamu dan Edwin sudah melakukan hubungan terlarang?" tanya Firza.
"Nak Firza, siapa yang bilang? Jangan percaya Jeslyn tidak pernah melakukannya. Baik sama Edwin maupun sama lelaki manapun," jawab Helena. "Iya kan Jes?" tanya Helena pada Jeslyn.
"Iya, Za. Kamu jangan percaya sama Edwin. Dia hanya ingin kita batal bertunangan. Dia belum bisa move on dariku," jawab Jeslyn.
"Alhamdulillah, aku tenang jadinya," kata Firza.
Jeslyn merasa sedih karena dia terpaksa membohongi Firza. Dia sudah menyakiti Firza secara diam-diam.
"Tante, kita percepat saja pertunangan aku dan Jeslyn. Bagaimana kalau dua hari lagi?" tanya Firza.
"Bagus itu lebih cepat lebih baik," jawab Helena.
Firza lalu pamit dia akan memberi tahu saudaranya.
***
Sebenarnya Jeslyn merasa bersalah karena membohongi Firza tetapi dia harus melakukan itu demi nama baik keluarganya.
"Jangan sedih, mama nanti akan bantu meyakinkan Firza," ucap Helena.
"Ma, bagaimana kalau sampai akhirnya Firza tahu," kata Jeslyn.
"Itu akan jadi urusan mama," ucap Helena.
"Aku percayakan sama mama," kata Jeslyn.
Kabar pertunangan Firza dan Jeslyn sudah menyebar hingga sampai di telinga Edwin. Dia semakin kesal karena usahanya tidak berhasil. Dia akan membuat rencana baru.
***
Khadijah sudah tak mengharapkan Marino lagi. Bagi Khadijah Marino tidak pantas untuknya.
"Khadijah, bisakah kita makan malam berdua nanti malam?" tanya Marino.
"Maaf, Pak. Saya ada acara, abah meminta saya ikut kajian malam ini," tolak Khadijah.
Sebenarnya Khadijah tidak ada kajian hanya saja dia sudah tak mau berharap lebih dari Marino.
"Pak Marino, lebih baik makan malamnya sama saya aja. Saya malam ini free loh," kata Saskia.
"Benar, Pak. Mendingan bapak sama Saskia saja," sahut Khadijah.
"Gak, aku maunya sama Khadijah," kata Marino lalu meninggalkan Khadijah dan Saskia.
"Tumben kamu nolak ajakan Pak Marino, apa memang kamu udah nyerah?" tanya Saskia.
"Untuk apa berharap dengan orang yang tidak mau berjuang buat kita. Hanya akan dapat harapan palsu," jawab Khadijah sinis.
__ADS_1
Saskia tersenyum senang, dia merasa bahwa dia akan mudah mendapatkan Marino.
***
Marino merasa Khadijah semakin menjauhinya. Apalagi Marino tak mau menemui abahnya.
"Kenapa, Kak?" tanya Bara.
"Pusing, Khadijah kayaknya menjauh. Aku ajak makan malam saja gak mau," jawab Marino.
"Makanya kamu temui saja abahnya," kata Bara. "Wanita itu cari pria yang benar-benar serius. Nah kalau serius pasti mau ketemu orang tuanya," sambung Bara.
"Aduh, Bar. aku belum siap. Aku takut banget abahnya gak terima aku," kata Marino.
"Ah kamu mah gak bisa diharapkan, Kak," kata Bara.
Bara sudah menasehati kakaknya tapi masih saja tak berani. Jadi dia memilih untuk diam saja.
Bara menemui Khadijah di ruangannya.
"Khadijah, kenapa kamu menolak ajakan Kak Marino makan malam?" tanya Bara.
"Aku tak mau berharap lebih, apalagi Pak Marino gak mau berjuang buat aku," jawab Khadijah. "Sepertinya Pak Marino hanya main-main saja jadi untuk apa aku berharap," sambung Khadijah.
"Aku udah nasehati dia tapi dia masih takut. Katanya dia takut kalau abahmu menolak dia karena dia mandul dan punya anak," kata Bara.
"Ya sudah Pak Bara, gak etis di kantor bicara masalah pribadi," kata Khadijah.
"Kamu benar," kata Bara lalu pamit.
Khadijah kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.
***
"Firza, kenapa kamu tidak percaya padaku? Apa sebodoh itu dirimu?" tanya Edwin.
"Jangan mengarang cerita! Kamu dan Jeslyn sudah tak ada hubungan apa-apa jadi jangan ganggu kami," jawab Firza.
"Kamu kira aku akan menyerah," kata Edwin. "Jeslyn, sebaiknya kamu jujur sama dia kalau kamu itu udah pernah melakukannya denganku," kata Edwin.
"Edwin, jangan ganggu kami! Papa akan berbuat nekat kalau kamu masih ganggu aku," kata Jeslyn. "Papa akan laporkan kamu ke polisi,'' sambung Jeslyn.
"Hahahaha kamu kira aku takut, tidak Jeslyn. Kamu pasti akan mencariku setelah benih itu tumbuh di rahim kamu," kata Edwin lalu pergi.
Jeslyn malu sekali karena beberapa orang melihat dirinya dengan tatapan aneh.
"Tenang saja aku akan jaga kamu dari dia," kata Firza.
"Bagaimana kalau dia datang lagi?" tanya Jeslyn.
"Suruh aja papamu laporkan dia ke kantor polisi," jawab Firza. "Aku harap kamu tak membohongi aku, Jes. Karena jika itu terjadi aku akan sangat kecewa dan tidak akan memaafkan kamu," kata Firza.
Jeslyn mendadak sedih mendengar Firza mengatakan hal itu. Terlebih lagi dirinya memang tengah membohongi Firza.
"Kamu kenapa? Kok sedih?" tanya Firza yang menyadari Jeslyn sedih.
__ADS_1
"Oh tidak apa-apa," jawab Jeslyn.
Mereka kembali memilih cincin tunangan mereka.
***
Edwin marah karena Jeslyn berani mengancamnya. Sebagai pelampiasan dia mendatangi Mumun. Sayang, Alex berada di rumah.
"Kamu mendingan tinggal di sini lagi,' kata Alex.
Tanpa dia sadari bahwa meminta Edwin kembali ke rumahnya akan mempermudah Edwin untuk menemui Mumun.
"Apa boleh, Om?" tanya Edwin.
"Tentu, Win. Dari pada kamu kos," jawab Alex. " kamu sepertinya ada maslah," kata Alex.
"Benar, Om. Keluarga Jeslyn sudah tahu aku keponakan Om Alex. Mereka memutuskan pertunangan secara sepihak. Padahal demi bisa menikah dengan Jeslyn aku harus hutang pada rentenir," kata Edwin.
"Berapa kamu berhutang?" tanya Alex.
"Dua ratus juta, Om. Saya berjanji akan melunasinya dalam tiga tahun," jawab Edwin.
"Mendingan kamu balikin sisa uangnya," kata Alex.
"Gak bisa, Om. Harus dibayar dengan menyicil. Kalaupun bisa tetap dengan total yang sama cicilan," kata Edwin.
"Kamu pinjam pada siapa?" tanya Alex.
"Bang Roma," jawab Edwin.
"Aku sepertinya kenal, aku akan bantu bicara sama dia," kata Alex.
"Terima kasih, Om," ucap Edwin.
Mumun yang mendengar Edwin akan tinggal di rumah Alex merasa senang. Dia akan mudah untuk menemui Edwin.
Edwin ke belakang setelah Alex masuk ke dalam kamar.
"Mun, main yuk bentar!" ajak Edwin.
Mereka lalu masuk ke kamar Mumun. Baru beberapa menit mereka memulai permainan, pintu kamar Mumun di ketuk.
"Mun...Mumun...," panggil Alex.
Mumun dan Edwin terkejut, mereka segera mengakhiri permainan. Edwin sembunyi di balik pintu saat Mumun membuka pintu.
"Pak Alex, ada apa?" tanya Mumun.
"Mun, temani aku," jawab Alex.
"Ya udah kita ke kamar bapak saja ya," kata Mumun.
Mumun segera mendorong kursi roda Alex menuju kamar Alex. Sementara Edwin menahan kesal karena diganggu oleh Alex.
"Menyebalkan sekali," ucap Edwin lalu keluar dari kamar Mumun.
__ADS_1
"Mas Edwin, ngapain keluar dari kamar Mumun?" tanya Paimin.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya? Kepo lo," jawab Edwin kesal.