
Bayi yang Amelia lahirkan ternyata cacat sejak lahir. Salah satu matanya tidak berfungsi.
"Aku tidak mau bayi itu," teriak Amelia.
Mau tak mau Mona meninggalkan Amelia di rumah sakit seorang diri. Dia harus memberitahu Alex kondisi bayi Amelia.
"Mas, ternyata Amelia melahirkan bayi yang cacat," kata Mona.
"Cacat bagaimana?" tanya Alex penasaran.
"Salah satu matanya tidak bisa berfungsi," jawab Mona.
"Biarkan saja, itu akibatnya kalau dia durhaka sama aku," gerutu Alex.
Mona hanya diam saja saat Alex mengumpat Amelia yang telah memanfaatkannya.
Diam-diam Mona memberitahu Bara, bahwa Amelia melahirkan anak cacat.
"Bagaimana rencana pernikahan kita?" tanya Alex.
"Untuk apa menikah lagi, Mas. Bukannya kita sudah menikah?" tanya Mona.
Tentu Alex tak bisa menjelaskan pada Mona. Sama saja dia membongkar semua kalau dia cerita.
"Baiklah aku tidak akan memaksa kamu lagi. Yang penting kamu rawat aku sampai sembuh," kata Alex.
"Pasti itu, Mas," ucap Mona.
***
Amelia sama sekali tak mau menyusui bayinya. Bayi yang tengah menangis itu dibiarkan begitu saja di dalam box. Sampai akhirnya perawat memutuskan memberi susu formula pada bayi itu.
"Sebaiknya ibu susui bayinya, Asi ibu kan ada," kata perawat.
"Aku gak mau bayi cacat itu. Kalau perlu kasihkan orang saja," kata Amelia.
"Bu, jangan seperti itu! Itu anak ibu," kata perawat.
Kabar Amelia melahirkan anak cacat juga sampai ke telinga Marino. Marino merasa kasihan karena Amelia tak mau menerima bayi itu.
Amelia selalu saja marah jika anaknya menangis. Dia sama sekali belum menyentuh anaknya.
"Ibu yakin tidak mau anak ini?" tanya perawat.
"Iya, buang saja dia. Atau kasihkan saja sama orang yang mau rawat dia," kata Amelia.
Setelah masa pemulihannya selesai, Amelia pulang ke rumah yang baru di belikan Mona.
"Apa ini? Rumahnya kecil banget," omel Amelia.
Amelia langsung menelfon Mona, dia protes soal rumah yang di beli Mona.
"Mona, maksud kamu apa belikan aku rumah jelek begini? aku mau rumah yang besar," kata Amelia.
"Masih mending aku belikan, kalau gak mau ya udah ke luar aja dari sana. Lagi pula bayi kami butuh tempat berteduh," kata Mona.
"Aku gak mau bayi cacat itu. Aku tinggal dia di rumah sakit," kata Amelia.
"Dasar wanita gila," umpat Mona lalu mengakhiri panggilannya bersama Amelia.
Mona datang ke rumah sakit, sayangnya dia terlambat. Bayi Amelia sudah di adopsi orang lain.
"Dasar wanita gila! Itu kan anaknya sendiri kenapa gak mau merawat," omel Mona.
Mona mencoba menyuruh Eros untuk menyelidiki siapa yang mengadopsi bayi Amelia.
***
Sementara itu, Liana tengah membuat susu. Ya, bayi perempuan Amelia kini di adopsi Marino. Liana yang sementara menjaga bayi itu.
"Den, mau di kasih nama siapa?" tanya Liana.
"Angel aja, Bik," jawab Marino. "Semoga anak ini membawa rejeki untukku," kata Marino mencium bayi itu.
Amelia tak hati jika anaknya di adopsi Marino. Dia hanya tahu anaknya sudah diadopsi orang lain. Bagi Amelia, bayi cacat itu membuatnya malu. Apalagi dia lahir tanpa ayah.
Orang yang seharusnya bertanggung jawab adalah Alex tapi Alex justru tak mau dan lepas tangan.
Amelia tidak mau membesarkan bayi cacat yang bisa membuatnya sial. Padahal anak itu akan membawa rejeki untuknya.
"Amelia, kamu jahat sekali. Meskipun bayi itu cacat tapi dia darah daging kamu. Kenapa kamu suruh pihak rumah sakit untuk cari orang adopsi?" tanya Mona.
"Sudahlah, kamu bukan siapa-siapa jangan ikut campur. Lebih baik kamu kasih aku uang, aku mau rumah yang bagus," bantah Amelia.
"Tidak, keuangan Mas Alex ada ditanganku. Kamu tidak akan mudah mendapatkan itu semua," kata Mona.
"Dasar bajingan!" teriak Amelia. "Kamu juga otak harta,kamu menikah sama Alex karena uangnya," kata Amelia.
"Kenapa? Bukannya kita sama. Aku tahu selama ini kamu dn Maura yang selalu melayani nafsunya," ucap Mona. "Tapi aku tal masalah dengan hal itu," sambung Mona.
"Jangan banyak bicara kasih saja uangnya!" bentak Amelia.
"Mona...Mona..," panggil Alex.
Mona ke kamar Alex, ternyata Alex sudah terjatuh dari tempat tidur.
__ADS_1
"Ngapain sih sampai jatuh?" tanya Mona.
"Mona...Mona...mau aja kamu sama lelaki gak guna kaya dia," sahut Amelia. "Alex aku minta uang, rumah yang dibelakang Mona tidak layak," kata Amelia.
Alex marah, namun dia tak bisa apa-apa. Mona membantunya untuk naik ke atas ranjang.
"Aku gak akan kasih kamu," kata Alex.
"Ingat, anak yang aku lahirkan itu anak kamu Alex. Jadi aku berhak dapat sebagian harta kamu," kata Amelia.
"Tapi mana anaknya? Aku akan serahkan sebagian harta ku pada anak itu, kalau memang dia terbukti anakku," kata Alex.
Amelia tak bisa menjawab karena anak itu tak ada bersamanya. Amelia mencoba mencari tahu pada pihak rumah sakit siapa yang mengadopsi anaknya namun pihak rumah sakit bungkam.
"Bu Amelia, bukannya itu tak mau anak itu. Kenapa sekarang malah dicari? Maaf kami tidak bisa bantu. Lagian kasihan anak itu kalah bersama ibu seperti anda," kata Dokter.
"Dokter, aku ibunya. Aku berhak mengambil anakku kembali," bantah Amelia.
"Iya ibunya saat orang itu belum menandatangani hak adopsi, tapi sekarang ibu sudah bukan siapa-siapanya lagi," kata Dokter.
Amelia sangat kecewa, dia ingin meminta bantuan orang untuk mencari bayinya tapi terkendala biaya.
***
"Sayang, ada apa kamu ke sini?" tanya Bara saat Mona datang ke apartemennya.
"Alex akan memberikan hartanya sebagian ke anak Amelia yang cacat itu. Jika terbukti anak iti darah daging Alex," jawab Mona.
"Bukannya anak itu sudah tidak ada?" tanya Bara.
"Iya dia sudah diadopsi, pihak rumah sakit bungkus soal siapa yang mengadopsi," jawab Mona.
"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Bara.
"Masih sama," jawab Mona. "Sekarang tangannya makin gak bisa digerakkan. Sepertinya sebentar lagi kita harus bongkar semua. Aku curiga Amelia dan Alex tahu soal kematian Mama Sonya," kata Mona.
"Benarkah?" tanya Bara.
"Ya, Amelia tahu perbuatan Alex terhadap Mama Sonya. Dia mengancam Alex untuk mendapatkan uang," jawab Mona.
***
Marino dengan sabar merawat bayi cacat itu. Berbeda dengan Marino, dia justru yakin bayi itu membawa berkah untuknya. Apalagi dia dinyatakan mandul, setidaknya dengan dia merasa bayi itu dia bisa punya anak. Anak yang akan merawat dia jika tua nanti.
"Bik, aku dengar Bara sering bertemu dengan istri barunya papa. Apa ada kabar terbaru?" tanya Marino.
"Saya tidak tahu, Den. Setahu saya Mona datang hanya membujuk Den Bara untuk membantu dia mengurus perusahaan Pak Alex," jawab Liana. "Den, apa kita rahasiakan anak ini dari Den Bara juga?" tanya Liana.
"Tentu, Bik. Takutnya kalau Bara tahu nanti Mona tahu. Aku gak mau kalau ada yang merebut Angel dariku," jawab Marino.
***
Alex kesal, dia ingin ke kamar mandi tapi Mona tak ada. Erospun sudah beberapa hari tak datang ke rumahnya.
"Kemana mona?" tanya Alex. Dia mencoba meraih ponsel di dekatnya namun gagal.
Karena tak ada yang membantunya untuk ke kamar mandi akhirnya Alex buang air kecil di ranjang.
"Mereka menyebalkan," umpat Alex.
Alex tidak tahan karena badannya terasa bau sekali. Dia tak dapat mengambil ponsel di dekatnya.
Tidak berapa lama, Mona datang. Dia marah karena melihat Alex kencing di kasur.
"Aduh, kok kencing di kasur sih. Bikin repot aja. Aku tuh udah capek kerja di kantor, ini sampai rumah harus rawat kamu," omel Mona.
"Mona maafkan aku," ucap Alex.
"Besok aku akan cari perawat buat kamu," kata Mona. "Aku gak mau karena harus ngerawat kamu jadi urusan kerjaan berantakan," sambung Mona.
Benar saja, Mona langsung menghubungi sekretaris dia agar mencari perawat untuk Alex. Mau tak mau Alex harus mau, dia tak mau merepotkan Mona.
Setelah membersihkan Alex dan juga kasur yang Alex kencingi. Mona memakaikan pempres pada Alex, dia tidak mau kalau repot terus.
***
Amelia mendatangi Alex kembali. Dia ingin meminta uang. Tapi semua keuangan sudah di pegang oleh Mona.
"Mona, aku perlu uang untuk mencari anakku. Aku minta uang," kata Amelia.
"Kamu kira kita, Bank. Bisa kamu datang minta uang terus. Selama ini kamu melayani Alex emang gak dapat apapun ya," kata Mona.
"Sudah kasih saja uangnya," kata Amelia.
"Gak mau," tolak Mona.
Amelia marah, dia mendorong Mona hingga jatuh. Kepalanya terbentur meja, dia tak sadarkan diri. Eros terkejut saat melihat hal itu dan dia membawa Mona ke rumah sakit.
Mona tidak kenapa-kenapa, tapi mereka membuat seolah-olah ingata Mona sudah kembali. Namun, Mona tetap menjadi orang yang kejam dan sadis.
"Pak Alex, Non Mona di rawat. Kemungkinan besar kata Dokter ingatannya bisa kembali," kata Eros.
"Jangan sampai! Dia pasti akan melarikan diri dariku, apalagi semua sudah aku percayakan padanya. Dia bisa saja mengambil semua, Eros," Alex tampak ketakutan.
"Semua sudah terlambat Alex," kata Mona muncul dari balik pintu. "Aku sudah ingat semua kejahatan kamu, dan sekarang waktunya aku membalas semua," kata Mona.
__ADS_1
"Tidak, Mona. Kamu adalah milikku," kata Alex.
"Siapa yang mau dengan pria cacat seperti kamu, Alex. Kamu sudah tak menggairahkan lagi," ledek Mona.
Alex merasa hidupnya sudah tak bisa apa-apa lagi. Dia pasrah jika Mona membuatnya mati secara perlahan.
"Eros, buat Mona tidak bisa bertemu dengan Bara," kata Alex.
"Maaf, Pak. Non Mona sudah bertemu dengan Den Bara. Den Bara sudah tahu siapa Mona sebenarnya," ucap Eros.
"Eros, bantu aku," teriak Alex.
"Alexku sayang, kamu tahu tidak. Selama ini aku berpura-pura amnesia. Sampai aku rela operasi demi agar meyakinkan kamu. Dan akhirnya kamu menyerahkan semua padaku," kata Mona.
"Mona...apa maumu?" tanya Alex.
"Aku mau kamu menderita," jawab Mona. "Aku mau kamu mati secara perlahan," ucap Mona. "Alex, katakan padaku, apa yang kamu lakukan pada Mama Sonya?" tanya Mona.
"Aku tidak melakukan apapun," banyak Alex.
"Kalau kamu tidak mengaku, aku akan buat kamu mati saat ini juga," ancam Mona.
"Baiklah, aku mengaku," kata Alex pasrah.
Semua pengakuan Alex di rekam oleh Eros.
Flashback On
Malam itu saat Sonya sudan tertidur, Alex mendatangi kamar Amelia. Saat itu Marino sedang tugas ke luar kota. Seperti biasa mereka menjalani hubungan terlarang.
"Aaahhh," suara itu terdengar indah di telinga dua orang yang melakukan hubungan terlarang itu.
Namun, tidak bagi Sonya. Dia melihat sendiri bagaimana Alex menggagahi Amelia menantunya. Hal yang membuat Sonya kecewa ternyata hal itu sudah sering mereka lakukan.
Alex tahu jika Sonya sudah tahu hubungan dia dan Amelia. Dia selalu menukar obat Sonya dengan obat lain. Ya, obat yang bisa membuat Sonya mati mendadak.
"Sonya, maafkan aku!" ucap Alex.
"Alex, kamu yang sudah menukar obatku kan?" tanya Sonya.
"Pintar sekali kamu," jawab Alex. "Aku mau kamu buat surat untuk menyerahkan harta kamu semua ke aku bukan ke anak-anak kamu," kata Alex.
"Tidak mau," tolak Sonya.
"Apa kamu mau melihat mereka menderita seperti kamu," ancam Alex.
Sonya terpaksa membuat surat wasiat dadakan bahwa 75% hartanya milik Alex. Marino 12,5% dan Bara 12,5%.
Setelah memberikan surat wasiat itu pada pengacara. Alex kembali memberi obat pada Sonya. Hingga akhirnya Sonya tewas.
Amelia tahu hal itu, karena dia yang memberi ide untuk Alex.
Bara dan Marino tidak pernah tahu jika kematian Sonya adalah ulah Alex. Yang mereka tahu Alex selama ini menyayangi mereka.
Flashback off
"Oh jadi begitu," ucap Mona. "Terima kasih Alex atas kerja samanya," kata Mona lalu mengajak Eros pergi.
***
Amelia berusaha mencari keberadaan anaknya. Namun, hasilnya nihil. Dia semakin frustasi, jika tahu anak itu bisa membawa keberuntungan baginya tak akan dia buang begitu saja.
Sementara itu, Mona menemui Bara bersama Eros. Dia membawa rekaman pengakuan Alex.
"Bajingan! Papa yang selama ini aku anggap baik ternyata dalang pembunuhan mama," kata Bara. "Kak Marino harus tahu. Kita datangi saja rumahnya," kata Bara.
Mereka bertiga berangkat ke rumah Marino. Mona terkejut saat tahu Marino tinggal di tempat yang sempit.
"Tok tok tok," Bara mengetuk pintu.
Liana tampak membukakan pintu, dia terkejut saat melihat Bara datang bersama Mona.
"Siapa, Bik?" tanya Marino.
Hari itu sudah sore, jadi Marino sudah di rumah.
Marino terkejut melihat Bara datang apalagi dia bersama Mona.
"Kak, ada yang ingin saya bicarakan dengan kakak," kata Bara.
"Iya silahkan duduk!" perintah Marino.
Liana ke belakang membuat minuman. Tiba-tiba saja terdengar suara tangis bayi.
"Kak, itu aku dengar suara bayi di kamar. Anak siapa?" tanya Bara.
Marino gugup, dia tak tahu harus jawab apa. Liana segera ke kamar untuk menenangkan Angel.
"Kak Marino, dia anak siapa?" tanya Mona.
Mona yang tak sabar segera masuk ke kamar itu. Dia mendekati Liana yang sedang menenangkan bayi itu.
"Ini kan anak Kak Amelia," kata Mona.
"Maksud kamu apa manggila aku dan Amelia kak?" tanya Marino. Dia menoleh ke arah Bara untuk meminta penjelasan.
__ADS_1
"Mona itu sebenarnya adalah...," ucapan Bara terhenti karena anak itu menangis lagi.