Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Marino Pecundang


__ADS_3

Mereka kembali ke meja, setelah mengobrol sesaat mereka lalu pulang.


"Kamu kenapa?" tanya Bara.


"Gak ada apa-apa, Mas," jawab Mona.


Di kantor Marino sedang rapat bersama para direksi. Khadijah memperhatikan Marino yang tengah berbicara di depan.


"Andai dia mau perjuangin aku," kata Khadijah dalam hati.


Rapat selesai Khadijah kembali ke ruangannya.


"Khadijah, apa kita bisa makan siang bersama?" tanya Marino.


Khadijah hanya menjawab dengan anggukan. Dia tak mungkin menolak ajakan Marino sang pujaan hati.


"Abah kamu orangnya gimana?" tanya Marino.


"Abah orangnya simple, gak terlalu menuntut," jawabku. ''Kalau memang bapak mau sama saya, tolong temui Abah!" pinta Khadijah.


"Maaf Khadijah aku tak bisa," jawab Marino.


"Hanya pria pengecut yang gak mau berjuang," kata Khadijah.


Marino terdiam, dia sadar kalau dirinya memang pria pengecut yang tak berani memperjuangkan Khadijah.


Mereka makan siang dalam diam, setelah selesai makan Khadijah segera pamit.


***


Edwin dan Mumun masih saja menjalin hubungan terlarang. Di saat Edwin kalut karena Jeslyn sudah bersama Firza hanya Mumun tempat dia melampiaskan nafsunya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mumun.


"Aku lagi kesal sama seseorang," jawab Edwin.


"Jangan kesal sini kita senang-senang," kata Mumun.


Mereka melakukan hubungan terlarang kembali. Apalagi Alex tidak di rumah karena pergi dengan Paimin.


***


Bara semakin perhatian dengan Mona. Kehamilan Mona semakin besar dan dia sangat butuh diperhatikan.


"Sayang, mau minum jus," kata Mona.


"Biar aku buatkan," kata Bara lalu ke dapur membuat jus untuk Mona.


Setelah selesai dia memberikan jus itu pada Jesica. Ponselnya berdering, dia melihat panggilan dari Marino.


"Bara, aku bingung," kata Marino.


"Apa ada masalah di kantor, Kak?" tanya Bara.


"Tidak, Khadijah meminta aku datang menemui Abahnya," jawab Marino.

__ADS_1


"Bagus, dong. Jadi Khadijah memang suka sama Kakak," kata Bara.


"Masalahnya aku tak berani. Aku takut ditolak kamu kan tahu aku duda tapi punya anak. Udah gitu status mandulku itu yang bikin aku minder," kata Marino.


"Coba saja datangi abahnya Khadijah. Siapa tahu beliau mau menerima kekurangan kakak, jangan buat Khadijah kecewa, Kak," kata Bara.


"Khadijah mengatai aku pengecut karena tak berani menemui abahnya," kata Marino.


"Kenapa mesti takut? Semua orang punya kekurangan masing-masing. Kalau kakak gak segera temui Abahnya Khadijah bisa saja nanti abahnya Khadijah menerima lamaran orang lain," tutur Bara.


Bara sendiri tak mengerti, mengapa Marino seperti itu. Padahal Khadijah mengharapkan Marino mau datang menemui abahnya.


"Hilangkan rasa takutmu, Kak. Sebelum kamu nanti menyesal," kata Bara.


"Baiklah, akan aku coba," kata Marino.


Panggilan mereka segera di akhiri.


"Kak Marino ngapain, sayang?" tanya Mona.


"Itu, Khadijah minta Kak Marino menemui abahnya kalau memang niat serius dengan Khadijah. Tetapi Kak Marino gak mau karena takut ditolak," jawab Bara.


"Gimana sih Kak Marino ini, bikin malu aja. Gimana kalau nanti Khadijah malah di lamar orang?" tanya Mona kesal.


"Entahlah. katanya dia takut di tolak karena Kak Marino punya anak dan mandul," jawab Bara.


"Belum dicoba udah nyerah, Pecundang banget sih Kak Marino," kata Mona. "aku yakin Khadijah pasti kecewa," sambung Mona.


Mona langsung menghubungi Khadijah. Namun, tak diangkat karena Khadijah sedang ke toilet.


***


"Amelia, kamu gak kangen anak kamu?" tanya Maura.


"Kangen sih iya. Tapi gimana aku udah gak berhak atas anak itu. Aku udah menandatangi surat dari Marino," jawab Amelia.


"Kita tuh sama, wanita kesepian yang hidupnya gak tahu sampai kapan begini," kata Maura. "Sebenarnya aku pengen menikah dengan orang baik dan berhenti kerja. Tapi semakin hari kebutuhanku semakin banyak," ucap Maura.


"Cari aja calonnya dulu. seribu satu yang mau sama orang kaya kita," kata Amelia. "Kita kan hanya wanita pemuas nafsu yang didatangi karena pengen aja," kata Amelia.


Amelia menatap foto anaknya yang dia jadikan walpaper. Ada rasa sedih yang menyelimuti.


***


Marino tak berani bertemu Khadijah kecuali urusan pekerjaan dia ingin memantapkan dirinya terlebih dahulu.


"Marino, udah jangan dekat sama Khadijah. Kamu tuh bukan setara sama dia. Dia itu levelnya ustadz bukan pengusaha kaya kamu," kata Saskia. ''Mendingan kamu sama aku saja," ucap Saskia.


"Malas sama wanita mata duitan kaya kamu. Udah gitu kamu gak bisa apa-apa," bantah Marino.


"Aku pandai di atas ranjang loh, apa kamu lupa? Apa perlu kita praktek?" tanya Saskia.


"Sas, tolong keluar dari ruanganku!" usia Marino.


"Marino aku kan tetap menunggumu," kata Saskia lalu pergi dari ruangan Marino.

__ADS_1


Khadijah melihat Saskia dari ruangan Marino. Dia bersikap biasa saja.


"Marino akan kembali kepelukanku. Apalagi dia sudah tahu bagaimana goyanganku," kata Saskia.


"Bangga banget sih jadi selingkuhan. Kalau kamu mau ambil saja aku gak butuh pecundang seperti Pak Marini," kata Khadijah kesal.


"Yakin kamu menyerahkan Marino padaku?" tanya Saskia.


"Iya, kenapa? Kamu mau tidur sama dia mau nikah sama dia aku gak peduli," jawab Khadijah.


Saskia tersenyum senang melihat Khadijah sudah menyerah. Dia berhasil membuat Khadijah menyerah.


***


Jeslyn dan Firza berencana akan bertunangan. Helena dan suaminya senang melihat mereka bersama. Namun dibalik itu ada Edwin yang punya banyak rencana.


"Firza ya namamu, aku dengar kamu mau menikah sama Jeslyn. Apa benar?" tanya Edwin.


"Iya, Memangnya kenapa?" tanya Firza.


"Gak nyangka kalau kamu suka barang bekas," jawab Edwin.


"Maksud kamu apa?" tanya Firza tak mengerti.


"Aku dan Jeslyn sudah pernah melakukan ***-***. Bagaimana kalau Jeskyn hamil?" tanya Edwin.


"Alah kamu paling bohong agar aku tidak jadi bertunangan dengan Jeslyn. Aku tahu kamu belum bisa move on," jawab Firza.


"Kamu gak percaya? Tanya sama Jeslyn sendiri," kata Edwin. "Apalagi orang tuanya juga sudah tahu, tapi malah menjodohkannya dengan kamu. Kamu itu ditipu," kata Edwin.


***


Firza menjemput Jeslyn di kampus.


"Hai, Za. Kamu gak kerja?" tanya Jeslyn.


Firza tak menjawab pertanyaan Jeslyn. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan Edwin.


"Jes, aku mau bertanya sama kamu. Tapi kamu harus jujur jawabnya," kata Firza.


"Iya tanya apa, Za," kata Jeslyn.


Firza melihat ke arah Jeslyn, dia takut jika pertanyaan dia menyinggung Jeslyn. Tapi dia juga ingin tahu apa yang terjadi.


"Tanya apa, Za?" tanya Jeslyn.


"Apa benar kamu dan Edwin sudah pernah melakukan hubungan terlarang?" tanya Firza.


Deg


Pertanyaan Firza seketika membuat Jeslyn menutup rapat mulutnya.


"Maaf jika pertanyaanku menyinggung perasaan kamu. Semoga saja apa yang dikatakan Edwin salah," kata Firza.


"Sebenarnya...," Ucapan Jeslyn terhenti karena ada telfon dari sang mama yang meminta Jeslyn segera pulang.

__ADS_1


__ADS_2