Skandal Di Rumah Mertua

Skandal Di Rumah Mertua
Kunjungan Mona


__ADS_3

Dua hari setelah Jeslyn pindah, Mona mengunjungi Jeslyn. Mona membawa beberapa makana. Mona sengaja datang saat Edwin tak ada di rumah.


"Bagaimana kabar kamu dan Edwin?" tanya Mona.


"Baik, Kak," jawab Jeslyn.


"Tapi aku lihat kalian tidak baik-baik saja. Kalian tampak saling diam saat acara tujuh bulananku," kata Mona.


"Ya begitulah, aku masih berusaha membuat Edwin berubah. Agar dia bisa diterima keluarga kita," kata Jeslyn.


"Semoga saja Jes, Edwin segera berubah," ucap Mona.


Akhirnya mereka mengobrol hal lain. Mona akan membantu bara mengelola usahanya setelah melahirkan nanti. Jadi dia akan menyewa baby siter. Sementara Jeslyn memilih fokus pada anaknya nanti.


"Apa kamu tak ingin bekerja?" tanya Mona. "Setidaknya agar kamu tak mengharapkan uang dari Edwin saja," ucap Mona.


"Sementara ini tidak dulu, Kak. Aku ingin menghabiskan waktu bersama anakku. Mungkin nanti kalau dia sudah masuk sekolah aku akan buka usaha," kata Jeslyn.


Banyak sekali yang mereka bahas. Hingga waktu makan siang tiba. Mereka makan bersama.


"Apa Edwin tidak pernah menghubungi kaku saat di kantor?" tanya Mona.


Jeslyn menggeleng, dia tak mungkin bisa berbohong pada Mona. Karena kenyataannya memang Edwin tak pernah menghubunginya.


"Kalau kamu ngidam gimana?" tanya Mona.


"Aku harus memendamnya. Kalau gak gitu ya aku beli sendiri," jawab Jeslyn.


Mona merasa kasihan melihat Jeslyn. Di saat seperti ini Edwin tak mau menuruti apa yang Jeslyn idamkan.


"Kamu sekarang mau apa?" tanya Mona.


"Aku mau empek-empek, Kak," jawab Jeslyn.


"Yuk aku temani kamu cari empek-empek!" Ajak Mona.


Mereka lalu pergi mencari empek-empek, Mona tak ingin Jeslyn terus bersedih lagi. Dia berharap agar Edwin segera membuka hatinya dan mau berubah.


Mereka mendapatkan empek-empek. Mona menemani Jeslyn makan empek-empek. Tak mungkin Mona membiarkan Jeslyn makan sendiri.


Sambil makan mereka terus mengobrol. Hingga obrolan mereka terputus saat Bara menelfon Mona.


"Halo, Mas! Aku di luar dengan Jeslyn. Nih lagi makan empek-empek," kata Mona.


"Oh ya sudah, hati-hati ya," kata Bara.


Mona mengembalikan ponselnya ke dalam tas. Jeslyn berharap Edwin bisa perhatian seperti Bara. Namun, semua itu bagai mimpi.


"Jes, kenapa kamu diam aja?" tanya Mona melihat perubahan sikap Jeslyn.


"Gak apa, Kak. Setelah ini kita pulang ya. Aku takut kakak kecapean. Kakak kan hamil udah tua," jawab Jeslyn.


"Iya, tenang aja," kata Mona.


Saat mereka akan membayar tiba-tiba seseorang memanggil Jeslyn. Dia bernama Abi, teman di kampus Jeslyn.


"Jes, kamu habis makan?" tanya Abi.

__ADS_1


"Iya, Bi. Tapi aku udah mau balik," jawab Jeslyn.


"Ya udah biar aku sekalian bayar aja," kata Abi.


"Gak usah, Bi. Aku gak mau merepotkan kamu," tolak Jeslyn.


Namun, Abi tetap memaksa untuk membayar milik Jeslyn dan Mona.


"Terima kasih ya, Dek," ucap Mona.


"Sama-sama, Kak," balas Abi.


Jeslyn segera mengajak Mona pulang. Apalagi hari itu terasa sangat panas.


"Dia siapa?" tanya Mona.


"Dia Abi teman Jeslyn di kampus," jawab Jeslyn.


Sampai di rumah, Mona langsung saja pulang. Dia ingin segera istirahat. Sebenarnya bisa saja dia istirahat di rumah Jeslyn tapi dia takut jika ada Edwin.


**


Edwin fokus dengan pekerjaannya. Dia tak ingin mengecewakan keluarga Jeslyn. Dia ingin membuktikan kalau dia bisa.


Sejenak dia melihat ponselnya, ingin menghubungi Jeslyn tapi rasanya gengsi.


"Dia aja gak hubungi aku," kata Edwin.


Akhirnya Edwin kembali fokus pada pekerjaannya. Tanpa dia ketahui padahal Jeslyn menginginkan dia menghubunginya.


"Apa kamu sibuk di kantor?" tanya Jeslyn.


"Aku mau buktikan ke keluarga kamu kalau aku bisa," jawab Edwin. "jadi aku harus kerja keras," kata Edwin.


"Baiklah," kata Jeslyn.


"Apa ada masalah?" tanya Edwin.


"Tidak, kamu tenang saja," jawab Jeslyn.


Jeslyn memutuskan untuk tidak membahas apapun dengan Edwin. Dia masuk ke kamar dan memainkan ponselnya.


Edwin merasa kasihan dengan Jeslyn tetapi hatinya masih ragu untuk mencintai Jeslyn. Dia tak bisa melupakan bagaimana Helena terus memojokkannya. Jadi baginya sekarang yang terpenting adalah membuktikan kalau dia bisa pada keluarga Jeslyn.


**


Mona menceritakan soal Jeslyn pada Bara. Dia merasa kasihan pada adiknya itu.


"Biarkan saja. Itulah cobaan dalam berumah tangga," kata Bara. "Kalaupun Edwin gak perhatian, pasti suatu saat akan berubah," kata Bara.


"Kamu yakin?" tanya Mona. "Bagaimana kalau dia tetap sama dan malah bertambah kasar dengan Jeslyn?" tanya Mona.


"Berpikirlah yang positif, agar kenyataan mengikutinya," jawab Bara. "Dan yakinlah, Jeslyn bisa menghadapi semu," kata Bara.


"Aku hanya kasihan padanya, takut Edwin memperlakukan dia dengan kasar," kata Mona.


"Buang jauh-jauh pikiran negatif kamu," kata Bara. "Mendingan kamu fokus pada kehamilan kamu," kata Bara.

__ADS_1


Bara mengusap perut Mona yang terkadang terlihat menendang. Bayi dalam perut Mona sangat aktif. Mona belum tahu jenis kelamin anaknya karena dia meminta Dokter untuk tidak memberitahunya. Katanya biar surprise begitu.


"Lihatlah, anak kita sudah menendang terus. Dia pasti sudah tak sabar ingin bertemu mama dan papanya," kata Bara.


"Semua butuh waktu, Mas," kata Mona.


"Halo baby, lagi apa kamu di sana?" tanya Bara


Tiba-tiba bayi dalam perut Mona menendang.


"Adek, kok nendang terus sih. Lagi main apa di dalam?" tanya Mona.


Mereka terlihat bahagia saat berkomunikasi dengan sang buah hati. Walau hanya tendangan respon sang bayi tapi itu membuat mereka bahagia. Itu tandanya bayi mereka sehat di dalam sana.


"Udah malam, kita tidur saja," kata Bara karena lelah berbicara dengan sang buah hati.


Mona sudah tidur duluan karena dia mengantuk. Bara mengikuti Mona ke alam mimpi.


**


Pagi sekali Jeslyn menyiapkan sarapan. Walaupun dia dulu saat di rumah manja, namun sekarang dia sadar diri dirinya tak lagi sendiri.


"Sarapan dulu, Mas!" pinta Jeslyn saat melihat Edwin sudah keluar dari kamar.


Edwin duduk di meja makan. Jeslyn mengambilkan nasi dan lauk untuk Edwin.


"Kok banyak sekali," protes Edwin.


"Kamu kan akan kerja keras. Jadi harus banyak makan supaya tetap sehat," kata Jeslyn. "Ingat kesehatan itu sangat penting," kata Jeslyn.


Edwin tak henti menatap Mona. Sehingga membuat Mona salah tingkah. Hal yang tak pernah Edwin lakukan selama ini.


Edwin belum pernah diperhatikan oleh siapapun selama ini. Jadi dia sedikit tersentuh saat Jeslyn mengkhawatirkan kesehatan dia.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Jeslyn membuyarkan lamunannya.


"Oh tidak apa-apa," jawab Edwin.


"Apa melamunin aku, kelihatannya tadi melihatku," kata Jeslyn.


"Jangan GeEr kamu," bantah Edwin.


Edwin masih gengsi untuk mengakui kalau dia sejak tadi memperhatikan Jeslyn.


"Sudah ayo makan!" Ajak Jeslyn.


Mereka lalu makan bersama, sesekali Jeslyn melihat ke arah Edwin. Edwin yang merasa si lihat jadi tak nyaman saat makan. Maka Jeslyn memilih untuk fokus makan saja.


"Non...Bu Helena meminta Non datang ke rumah," ucap bibi.


"Ngapain, Bi?" tanya Jeslyn.


"Katanya ada yang mau dibicarakan penting," jawab Bibi. "Tapi kata ibu gak boleh ajak Mas Edwin," kata bibi.


Edwin menoleh ke arah Jeslyn.


"Urus tuh ibumu," kata Edwin.

__ADS_1


__ADS_2