
"Bu Helena jangan pernah percaya dengan Edwin, dia kan benci sama aku," kata Mumun. "Dia itu mencampakkan aku setelah menikah dengan Jeslyn," kata Mumun.
"Eh Edwin, jangan ngawur kamu! Kamu tuh yang manfaatin anakku," tuduh Helena.
"Aku gak melakukan itu, aku udah berubah," kata Edwin.
"Edwin, mana ada orang berubah ngomong? Kamu tuh emang manfaatin Jeslyn," kata Mumun.
"Udah kamu pergi sana, jangan rusak kesenanganku," usir Helena mendorong Edwin dengan kasar.
"Helena, aku gak ingin Jeslyn di sakiti jadi aku mohon suruh mereka bercerai," kata Mumun.
"Pasti, akan aku pastikan setelah Jeslyn melahirkan mereka bercerai," kata Helena.
Mumun benar-benar berhasil menghasut Helena sehingga Edwin tak bisa membela diri. Edwin lebih memilih pergi dari pada jadi bulan-bulanan mereka.
"Edwin itu tempramen Bu jadi pasti Jeslyn akan di sakiti terus," kata Mumun.
"Makanya aku gak setuju kalau Jeslyn sama dia. Tapi papanya Jeslyn malah menikahkan dia dengan Jeslyn," ucap Helena.
Mumun terus menghasut Helena sampai Helena benar-benar muak dengan Edwin.
***
Mona sedih karena orang tuanya masih belum akur. Padahal mereka sudah punya cucu dari Mona.
Mona melakukan panggilan Vidio pada Helena tapi tak dihiraukan. Mona hanya ingin menasehati agar mereka mau saling balikan. Tapi Helena memutus komunikasi dengan dirinya.
"Kasihan papa, Mas," kata Mona.
"Ya mau gimana lagi, mama kayanya sudah gak mau sama papa," ucap Bara.
"Apa gak bisa kita bantu mereka agar bersatu lagi?" tanya Mona.
"Bisa saja, asal mama juga ada niatan baikan sama papa," jawab Bara. "Kamu jangan banyak pikiran, sekarang kamu fokus sama Kaisar saja," ucap Bara. "Soal orang tua kamu nanti kita cari solusinya bersama-sama," kata Bara.
Mona menyusui Kaisar, dia sudah dapat baby sitter jadi besok dia akan membantu Bara di tempat usahanya.
***
Alex sedih, Sarah belum juga memberi jawaban sehingga dia kembali bertanya.
"Sarah, bagaimana? Apa kamu mau menerima aku apa adanya?" tanya Alex.
Sarah terdiam, ada Ikbal di sana. Sarah sangat menyayangi Ikbal dan tak ingin Ikbal sedih.
"Baiklah, aku terima kamu apa adanya, Mas," jawab Sarah.
__ADS_1
"Yes Om Alex akan jadi papanya Ikbal," ucap Ikbal girang.
Ikbal langsung memeluk Alex, Sarah tak ingin melihat Ikbal sedih jadi dia tak mau egois.
Sore itu mereka jalan-jalan. Mereka bertemu Mumun dan Helena di mall.
"Alex, siapa dia?" tanya Mumun tanpa memanggil dengan sebutan bapak lagi.
"Dia Sarah, calon istriku," jawab Alex.
"Calon istri? Hahaha," Mumun menertawakan Alex. "Mana dia mau sama kamu, kamu tuh gak bisa ngasih nafkah batin sama dia," ejek Mumun.
"Aku yakin akan sembuh," kata Alex.
"Sudah, Mas. Kita pergi saja," kata Sarah.
Tentu Sarah malu karena banyak pasang mata melihat ke arah mereka. Apalagi Mumun bicaranya sangat lantang sekali sehingga mengundang perhatian banyak orang.
Sarah mendorong kursi roda Alex menjauhi Mumun. Namun, ditahan oleh tangan Mumun.
"Eh wanita udik, kamu jangan mau nikah sama dia. Dia gak akan bisa muasin kamu," kata Mumun.
"Mbak ini siapa sih? Udah deh jangan ganggu kami. Biarkan kami pergi!" ucap Sarah.
"Eh wanita bodoh, aku tuh ngasih tahu kamu. Kok kamu malah gak mau dengar sih. Awas aja entar nyesel nikah sama dia," bentak Mumun.
Mumun mendorong Sarah, Sarah tak mau kalah. Dia ikut mendorong Mumun sebagai balasan.
Padahal Sarah mendorongnya pelan tapi Mumun sampai jatuh terjengkang dan tiduran di lantai.
"Dasar wanita jahat, pantas kalau kamu dapat Alex yang gak bisa apa," kata Mumun. "Tega kamu mendorong aku sampai begini," kata Mumun sembari berdiri di bantu Helena.
"Eh Sarah, kamu jangan sakiti Mumun. Dia itu hanya ngasih tahu kamu tapi kamu kok jahat banget," kata Helena.
Tiba-tiba Mumun menangis, dia memegangi perutnya.
"Kamu kenapa, Mun?" tanya Helena.
"Perutku sakit karena jatuh tadi," jawab Mumun. "Dia penyebabnya," ucap Mumun menuding Sarah tepat di wajahnya.
Mumun mengaduh terus, sehingga membuat beberapa orang khawatir. Akhirnya Helena marah dan menampar Sarah.
"Kamu jahat sekali, itu balasannya karena kamu nyakitin Mumun," kata Helena.
Sarah memegangi pipinya yang panas karena tangan Helena.
"Stop Helena, aku tahu Mumun gak sakit. Dia hanya drama saja supaya mendapatkan belas kasihan," kata Alex. "Sarah gak salah, masa di dorong pelan gitu sampai jatuh. Dasar Mumun tukang drama," bantah Alex.
__ADS_1
"Eh Alex kamu gak lihat Mumun kesakitan kamu masih ngelak," bentak Helena.
"Helena tolongin aku, sakit banget," kata Mumun.
Ada seseorang yang memberikan air mineral pada Mumun. Dia menerimanya lalu minum.
"Lihat dia baik-baik saja," kata Alex.
"Kamu gak lihat aku masih sakit walaupun tidak sesakit tadi," kata Mumun.
"Kalau memang semua salahku, aku minta maaf," kata Sarah. "ayo kita pergi!" Ajak Sarah pada Alex.
Sarah mendorong kursi roda Alex dengan cepat diikuti Ikbal.
Helena masih saja menggerutu, dia tak peduli dengan orang yang melihat dia.
"Sudah, Bu. Dia sudah gak ada juga percuma kita ngomel," kata Mumun.
Helena mengajak Mumun pergi, Mumun senang karena berhasil mempermalukan Alex dan Sarah.
"Wanita tadi bodoh banget mau nikah sama Alex. Mau buat apa nikah sama Alex, buat pajangan aja gak ada yang mau," kata Helena.
"Ya paling diporotin uangnya," kata Mumun. "Wanita tadi matre banget, nyatanya belum nikah aja udah ngajak belanja ke mall," kata Mumun.
"Mun, kamu sudah baikan?" tanya Helena.
"Sudah, aku baik-baik saja," jawab Mumun.
Sementara itu Sarah tak jadi belanja, dia langsung mengajak Alex pulang.
"Sar, kamu pasti malu tadi," kata Alex.
"Sudahlah, jangan dibahas," kata Sarah
"Maafkan aku, Sar. Aku memang gak ada gunanya dan hanya bisa bikin kamu malu," kata Alex.
Sarah tak menjawab, dia hanya diam saja. Dalam hati Sarah muak dengan kejadian tadi. Dia dipermalukan di depan umum. Apalagi Mumun membuka aib Alex.
"Bu, apa sih maksud wanita tadi," kata Ikbal. ''katanya Om Alex gak bisa ngasih nafkah batin. Nafkah batin itu apa?" tanya Ikbal.
Meskipun Ikbal sudah SMP kelas satu tapi dia belum faham dengan hal seperti itu.
Sarah menoleh, dia mendelik. Melihat tatapan Sarah, Ikbal langsung menunduk. Dia tahu kalau ibunya sedang marah dan gak mau jawab.
"Ikbal, kita beli makan dulu ya," kata Alex.
"Gak usah, kita langsung pulang saja. Di rumah aku udah masak nanti gak ke makan," kata Sarah.
__ADS_1
Semua orang terdiam, mereka tak jadi membeli makan dan memutuskan untuk pulang lebih cepat.