Suamiku Artis Terkenal

Suamiku Artis Terkenal
Belum berubah


__ADS_3

Di lobi Zee gak sengaja melihat seseorang yang terakhir kali ia lihat tak jauh dari tempatnya berjalan.


("Dia lagi".)


...❤️-------------------------------❤️...


"Zee ayo kenapa berhenti??". Ucap jenie saat melihat Zee yang berhenti dan menatap ke suatu arah.


"Zee, , Zeefanya".


"Hah".


Tubuh Zee tersentak saat jenie memegang tangannya dengan tiba tiba. Dari tadi dia hanya melihat sekeliling untuk mematikan tapi orang itu hilang ntah kemana saat Zee melihat kearah dia.


"Mikirin apa sih, ayo".


"Em". Zee masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang.


Tapi pikirannya masih tertuju sama orang itu. Orang yang sama saat di restoran.


"Lo kenapa??". Tanya citra heran melihat Zee gusar.


"Iya nih, dia aneh dari lobi tadi". Sahut jenie di kursi belakang.


"Gue baik baik aja, hanya kelelahan aja gue lupa minum vitamin semalam".


"Tuh kan kalau gue gak ngingetin lo pasti lupa". Omel citra.


"Semalam gue langsung tidur makanya lupa". Elak zee.


Tidak ada suara lagi yang keluar. Mobil itu menjadi hening dengan pikiran masing masing.


Citra dan jenie sibuk dengan ponselnya, sementara Zee menatap ke luar jendela menatap kota Seoul yang tidak pernah bosan Zee kunjungi. Apalagi disetiap jalan ada beberapa poster boy band asal Korea.


6 jam berada di lokasi pemotretan membuat Zee sedikit memikirkan orang itu. Dia berusaha memfokuskan kepada sekitar agar pekerjaannya berjalan dengan baik.


Tak lupa lihat citra memesan makanan untuk beberapa kru yang ada disana karena ini bukan pekerjaan pertama kali dia dengan mereka.


Selesai pemotretan Zee mengajak mereka untuk jalan jalan dulu ke salah satu mall sebelum kembali ke hotel sambil cari makan.


"Yakin mau ke mall, apa sebaiknya kita makan di restoran luar aja". Ucap citra ragu.


"Iya Zee tag yang ada di sosial media belum juga turun Lo masih banyak dicari wartawan untuk minta penjelasannya". Sambung jenie.


Zee diam memikirkan sesuatu lalu mengangguk setuju dengan ucapan mereka. Ia juga gak boleh egois karena dia datang gak cuma sendiri ke sana.


Setelah beberapa menit berdiskusi akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Myeongdong, mereka akan pergi secara terpisah dengan zee hanya berdua dengan citra menggunakan pakaian tertutup. Tapi tidak terlalu mencolok karena Zee tidak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang.


Zee juga memperbaiki riasan nya sedikit untuk penyamaran.


"Lo yakin??". Tanya jenie.


"Iya, gue bosen banget pengen jalan jalan".


"Ya udah kalau lo ada apa apa cepat hubungi kita, kita akan pantau dari belakang". Seru jenie.


"Tapi jangan lupa heppan oke".


Jenie mengangkat tangan berbentuk ok sebagai jawaban.


Waktu menunjukan pukul 4 sore waktu Korea Selatan. Zee bersenang senang di tempat itu masuk toko satu ke toko lain. Beberapa barang Zee beli tapi kebanyakan Zee membeli makanan halal yang dijual disana.


Sampai matahari akan digantikan dengan bulan, Zee memutuskan untuk pulang ke apartemen. Dia juga sudah puas jalan jalan sampai citra menghubungi yang lain untuk bergabung di salah satu restoran.


Berada di restoran menunggu kedatangan jenie dan 3 bodyguard Zee. Ia melihat orang itu lagi.


("Dia lagi??". Batinnya.)


Saat ini Zee sedang duduk di restoran yang ada didekat jendela. Dia memilih tempat itu karena lebih nyaman dibanding dengan tempat yang lain.


"Zee lo kenapa??". Tanya citra melihat Zee yang menatap ke arah luar dengan sangat intens.

__ADS_1


"Cit lo liat orang yang duduk di bangku depan toko es krim-".


Belum selesai berbicara citra ingin menyantap ke arah sana tapi langsung Zee pukul tangannya dengan pelan.


"Jangan nengok dulu bego, gue belum selesai bicara". Keluh Zee kesal.


Setelah berbicara seperti itu, Citra menatap keliling dengan hati hati sementara Zee menatap ke arah ponsel.


"Ck, kenapa sih emangnya??". Ucap citra bingung setelah melihat orang itu.


"Lo inget inget tu muka di manapun kita berada pasti ada".


"Hah maksud loh dia ngikutin kita". Ucap citra kaget.


"Berisik bego". Zee langsung menutup mulut citra yang sangat berisik membuat beberapa pengunjung restoran menatap ke arah mereka.


"Hehe maaf gue kelepasan". Cengir citra tanpa dosa. "Tapi dilihat lihat muka itu gue pernah lihat, tapi dimana ya". Pikir citra.


Zee hanya menatap citra yang sedang berpikir sesuatu. Sedari kemarin dia memang tidak membahas orang itu yang mencurigakan menurut Zee.


"Ah gue inget. Orang itu yang gue lihat saat kita di toko LV yang saat lo cobain pakaian di ruang ganti dan satu lagi saat kita beli makanan". Ucap citra setalah ingat apa yang dia lihat.


"Lo yakin". Ucap Zee meyakinkan.


"Gue yakin 100 persen tapi karena ini tempat umum makanya gue santai aja. Mungkin kebetulan. Tapi kalau dia sekarang disana gue jadi curiga sih".


"Nanti gue cerita sama lo di hotel semuanya gak bisa disini".


"Ya udah kita pulang sekarang kita lanjut makan di hotel saja". Ajak citra yang mulai takut apalagi mereka sekarang hanya berdua.


Gak lama setalah memutuskan itu jenie datang dengan beberapa belanjaan. Mereka emang sengaja makan di meja terpisah beberapa deret dari tempat duduk Zee. Jenie mendatangi meja itu juga untuk mengajak Zee pulang karena ada hal yang harus dibahas.


"Kita pulang ke hotel yuk, udah puas kan belanjanya??". Ucap jenie yang baru datang.


"Udah".


Zee menatap wajah jenie yang khawatir. Dia bisa melihat bahwa saat ini jenie sedang tidak baik baik saja. Seperti ada pikiran yang mengganggu dia.


Citra dan jenie sedang berkumpul di kamar Zee dengan belanjaan yang dibiarkan begitu saja dilantai.


"Ada apa?? Kenapa muka lo tegang gitu dari restoran sampai ke hotel?". Tanya Zee membuka suara.


"Saat tadi gue awasi lo dari jauh ada beberapa orang yang mencurigakan". Ucap jenie membuat Zee mengerutkan kening.


"Maksud lo ada orang yang ngikutin Zee gitu". Sahut citra.


"Iya, nih lihat disetiap tempat ketiga orang ini pasti ada disana tapi yang lebih menonjol hanya orang ini". Ucap jenie menunjukan banyak photo dari ponselnya yang dia ambil saat di Myeongdong tadi.


"Gue juga lihat orang ini tiga kali".


"Makanya saat di restoran gue ajak kalian pulang. Karena mereka juga ada disana". Seru jenie.


"Tapi gue gak lihat 2 orang itu dari tadi??". Tanya Zee menunjuk dua orang lainnya.


"Karena dia sedikit jauh dari kalian. Mereka mungkin gak ngira kalau gue ngikutin dari belakang". Jawab jenie membuat Zee mengerti bahwa ketiga orang itu memang mengikuti kemanapun Zee pergi.


"Kenapa mereka mengikuti gue??". Tanya Zee polos.


"Astaghfirullah polos benget si lo,, Lo kan artis ya pantas lah mereka ngikutin lo". Seru citra geram lalu menunjukan beberapa postingan di media sosial dengan akun pack.


Beberapa photo Zee yang ada di Myeongdong tersebar di media sosial. Padahal ini adalah privasi Zee saat berada di luar.


Setiap pergerakan Zee ada di setiap photo itu. Saat berada di Thailand mungkin Zee tidak akan memikirkan itu tapi ini Korea banyak hal yang Zee tidak tahu.


"Lo jangan pikiran apapun, Lo istirahat aja kekuatannya Lo capek". Ucap citra saat melihat Zee yang terus melamun menatap layar iPad.


Apa yang akan dibicarakan Zee akhirnya gak bisa dia ceritain. Dia urungkan karena takut mereka menjadi lebih khawatir lagi.


"Gue sama jenie kekamar dulu. Ingat gak usah dipikirin". Citra mengelus tangan Zee dengan halus. Ia merasakan apa yang terjadi dengan Zee sekarang. Dia juga harus terus menjaga Zee agar baik baik saja sampai tour ini selesai.


Zee mengatur posisi dari duduk menjadi tiduran. Sepeninggalan citra dan jenie, Zee berusaha menutup matanya. Tapi gak bisa. Pikirannya pergi ntah kemana.

__ADS_1


Untuk saat ini pergerakan Zee terbatasi, tidak seperti biasanya yang bebas jalan kemanapun dia mau.


Tangannya perlahan pengambil ponsel yang dia letakan di atas nakas samping tempat tidur. Ia mencari kontak Yeonjin untuk menghubunginya membicarakan apa yang sedang dia alami.


Untuk saat ini hanya Yeonjin yang ingin menjadi tempat Zee mencurahkan semuanya. Namun panggilan itu tidak bisa dihubungi. Hatinya sangat sakit, perlahan air matanya mengalir begitu saja. Kenapa saat seperti ini Yeonjin selalu tidak ada disisinya padahal dulu dia janji gak akan hilang begitu saja.


"Mana janji kamu, kenapa kamu selalu pergi disaat aku membutuhkan kamu, aku gak punya siapa siapa lagi yang aku percaya". Gumam Zee dengan air mata yang terus mengalir. Sampai lama kelamaan matanya terpejam menuju alam mimpi.


...*******...


Bandara Incheon airport, Korea Selatan.


Evan yang berjalan keluar membawa satu koper berjalan menuju palkiran menemui anak buahnya yang sudah menunggu.


Setelah berbagai cara akhirnya Evan bisa pulang ke Korea. Banyak masalah yang menghalanginya saat di Amsterdam, dia juga tidak tahu kenapa.


Tapi instingnya mengarah kepada Novita, anak salah satu kolega yang bekerjasama dengan perusahaan Yeonjin yang mendekatinya beberapa bulan yang lalu.


Novita sangat selalu berbuat apapun demi dekat dengan Evan. Tapi ternyata dia melakukan itu hanya untuk mendekati Yeonjin.


Beberapa bukti sudah ada ditangan Evan. Photo, Chat, video dan beberapa file dari anak buah yang Evan tugaskan di Seoul.


Karena pergerakannya yang tidak bebas, Evan hanya bisa mempercayakan semuanya kepada anak buah yang ada di Seoul. Apalagi hyungnya tidak bisa dihubungi.


"Pak kita langsung ke apartemen xxx".


"Baik tuan".


Mobil melesat menuju apartemen yang Evan ucapkan. Gak lama mobil itu berhenti lalu Evan langsung masuk tanpa menunggu apapun.


Pertama yang Evan tuju adalah tempat kerja. Dia ingin masalah ini cepat berlalu. Apalagi ini menyangkut keselamatan orang yang dia sayangi.


3 jam berkutat di depan komputer membuat Evan tersenyum lebar. Apa yang dia lakukan berjalan dengan lancar.


Saat ini media sosial sedang ramai dengan bukti bahwa Zee dan Yeonjin sedang baik baik saja. Sedangkan wanita yang bernama Novita dihujat habis habisan oleh netizen.


"Ini balasan karena sudah main main dengan orang yang salah, setelah bersenang senang sekarang terimalah balasannya yang lebih besar dari apa yang Lo perbuat". Gumam Evan dengan senyum devil dan tatapan yang sangat tajam.


...*******...


Kembali ke kamar Zee.


Gadis yang baru bangun dengan mata sembab berjalan ke arah kamar mandi untuk cuci muka semalaman dia nangis sampai akhirnya tertidur ntah jam berapa.


Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Di meja makan sudah ada beberapa jenis sarapan yang mungkin sudah citra/jenie siapkan saat Zee masih tidur.


Tidak ada niatan untuk sarapan. Zee malah pergi ke balkon untuk menghirup udara segar.


Saat ini tidak ada schedule apapun yang akan Zee lakukan. Dia hanya ingin menghabiskan waktu di kamar saja.


"Hufh, , dulu gue ingin ada dititik seperti ini tapi saat gue udah jadi apa yang gue inginkan,, ternyata tidak enak juga". Gumam Zee menatap ke depan.


Ya, dulu Zee ingin sibuk agar melupakan kesedihannya setiap saat. Bahkan saat bekerja di caffe dia berusaha melakukan apapun yang dia suka dan dia menutupi kesedihannya dengan tertawa bersama orang lain.


Yang dia pikirkan hanyalah uang. Banyak tekanan yang di rasakan sendiri. Dan ingin pergi jauh. Saat dirumah yang terdengar hanyalah uang uang dan uang.


Hal itulah kenapa Zee memutuskan untuk pergi jauh.


Zee tidak gampang percaya kepada siapapun dan hanya bergaul biasa saja tanpa percaya untuk menceritakan kisah hidupnya. Di manapun Zee berada, dia selalu dianggap wanita yang ceria tapi itulah cara Zee menutupi lukanya. Hanya beberapa orang yang mengerti dengan apa yang Zee alami tapi mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Mengingat itu, air mata Zee mulai menetes lagi tanpa ada suara isakkan yang keluar dari mulutnya. Hatinya sangat sakit. Inilah yang konsisi yang paling Zee benci.


Disaat menangis tapi tidak keluar suara.


Zee ingin berteriak saat itu juga tapi dia sadar dimana tempat dia berada saat ini.


...----------------...


...TBC...


...Happy Reading,,, Babay!!!...

__ADS_1


__ADS_2