Suamiku Artis Terkenal

Suamiku Artis Terkenal
Chapter 78


__ADS_3

...Sifat manja saat sedang sakit...


..._____...


Karena pelukan hangat yang diberikan Yeonjin membuat Zee perlahan tertidur. Elusan lembut di kepala Zee dari Yeonjin berasa mantra ampuh menuju alam mimpi.


Ntah berapa jam ia tertidur. Tapi tidak membuat Zee enggan untuk bangun. Apalagi saat yeonjin bangun ia merasakan hawa panas dari leher yang menyentuh tangan.


"Bee kamu demam". Seru Yeonjin terus mengecek keadaan Zee. Tapi Zee hanya menggeliat di pelikan Yeonjin.


Perlahan Yeonjin bangun. Lalu menggendong tubuh Zee menuju kamar. Citra yang berjalan dari dapur melihat Zee digendong langsung kaget. "Zee kenapa??"


"Dia demam. Aku minta tolong buat ambilkan air hangat dan lap bawa ke kamar". Pinta Yeonjin.


Tubuh Zee penuh dengan keringat. Yeonjin merasa merasa kasihan ingin menggantikan pakaiannya agar nyaman tapi tentu saja dia tidak bisa.


"Bisa minta tolong gantiin pakaian Zee dan lap tubuhnya.. gue ke tunggu diluar".


Citra mengangguk dan mendekat ke arah Zee yang sedang tertidur. Sedangkan Yeonjin menunggu di luar.


Setelah citra selesai baru Yeonjin kembali masuk dan menempelkan pereda demam di kening Zee.


"Kalian tinggal dimana??". Tanya Yeonjin pada citra.


"Di hotel samping apartemen ini".


"Kamu ambil semua barang kalian dan akan tinggal disini nanti diantar Evan ke sana".


Citra ingin membantah tapi ia tidak bisa berbuat apa pun apalagi saat ini Zee sedang sakit.


" Tapi kalian disini berdua gak papa". Ucap citra ragu.


" Gue gak bakal ngapa ngapain lo tenang aja,, lagian disana kalian gak seharian juga". Kata Yeonjin meyakinkan.


Yeonjin menelpon Evan yang ada dikamar nya karena tidak ingin meninggalkan Zee. Sampai Evan datang dengan wajah baru bangun tidur.


"Ada apa Hyung??". Tanya Evan membaringkan tubuhnya di samping Zee.


"Kamu temani citra ke hotel ambil semua barang barang bawa kesini".


"Hm".


"Sekarang". Pekik Yeonjin dengan tegas.


Evan bangun diikuti citra dari belakang.


Tinggallah Yeonjin sendirian menemani Zee sedang tertidur pulas. Saat ini Yeonjin hanya duduk memandang wajah Zee yang sangat pucat.


Jika demam di tubuh Zee tidak kian turun, barulah Yeonjin akan memanggil dokter. Tidak mungkin ia akan membawa Zee ke rumah sakit yang akan membuat kehebohan di media sosial.


Bukannya yeonjin egois tapi ini usaha dia terlebih dahulu mencegah semuanya terjadi. Karena Yeonjin dan Zee bukanlah orang sembarangan.


..


Beberapa jam kemudian mata Zee perlahan dibuka. Pertama yang ia lihat adalah Yeon-jin yang duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur dengan memangku laptop.


"Yeon,,!!". Seru Zee pelan.


Mendengar namanya dipanggil, Yeon perlahan mengangkat kepala untuk menatap sang ke kasih. "sayang ada apa??apa yang kamu rasakan". Kata Yeonjin khawatir.


"Kepala aku pusing". Rengek Zee memegang kepala.


"Kamu minum dulu aku ambilkan bubur sebelum kamu minum obat ya".


Yeonjin memberi Zee minum dengan perlahan, lalu pergi ke dapur untuk menghangatkan bubur yang ia buat beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Berjalan kembali ke kamar dengan nampan ditangan, ia mendudukkan Zee perlahan menyandarkannya di tempat tidur.


Yeonjin menyuapi Zee dengan telaten tapi hanya beberapa suap Zee menolak untuk makan lagi karena lidahnya terasa pahit.


"Ya udah kamu minum obat, lalu kembali istirahat". Kata Yeonjin lembut mengelus kepala Zee sayang.


"Citra kemana??". Tanya Zee dengan suara lemah.


"Citra ambil barang barang kamu di apartemen sama Evan". Jawab Yeonjin.


Setelah meminum obat, Zee kembali istirahat dengan Yeonjin yang duduk di sampingnya. Zee tidak ingin jauh dari Yeonjin dan ingin tidur dengan memeluknya. Tapi Yeonjin tidak sampai berbaring di atas tempat tidur, dia hanya duduk membiarkan Zee memeluk dirinya.


Yeonjin mengelus kepala Zee sampai orangnya tertidur kembali. Tapi gak lama pintu terbuka dengan perlahan.


2 orang masuk membawa koper dan beberapa paper bag. Yeonjin mengisyaratkan untuk tidak berisik karena Zee baru tidur.


"Zee bangun". Isyarat citra membuat Yeonjin menganggukkan kepala pertanda iya.


Evan yang ada disana pergi keluar kamar dan kembali dengan membawa laptop. Tanpa persetujuan siapapun Evan naik ke atas tempat tidur membuat Yeonjin menatap tajam takut mengganggu Zee.


Melihat tatapan yang tidak bersahabat membuat Evan mengangkat kedua tangannya dengan nyengir tanpa dosa.


Tujuan Evan membawa laptop ke sana untuk mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang belum selesai. Tidak pergi ke kantor bukan hanya bermalas malasan tapi dia juga harus kerja jika tidak pekerjaan itu akan kian menumpuk dan membuatnya pusing.


Ketiga orang berada di satu ruangan menemani Zee yang sedang sakit. Mereka tidak ingin meninggalkan Zee sendiri apalagi saat tidur Zee selalu mengigau berbagai hal. Contoh nya ingin dipeluk ibunya dan mengeluh tentang kepalanya pusing.


Citra yang tahu sedikit menceritakan semuanya kepada Yeonjin. "Apa setiap dia sakit selalu kaya gini??". Tanya Yeonjin.


"Iya.. gue jadi korbannya karena dia gak mau memeluk siapapun. Orang sekeliling kita di Thailand kebanyakan cowok. Walaupun Zee selalu manja ke semua orang tapi kalau sedang sakit dia tidak berani". Kata citra menatap wajah Zee yang tidur pulas.


"Kenapa??". Tanya Evan yang diam diam mendengarkan.


"Tidak tahu,, tapi Zee selalu bilang karena pada sahabatnya/temannya orang penting yang setiap hari kerja, dia gak mau penyakitnya menular sama mereka".


"Dia ada kerjaan di Thailand mana bisa tinggal disini". Jawab Yeonjin.


"Oh ya bukannya eonni bukan asli Thailand??".


"Zee asli Indonesia".


Evan mengerutkan kening heran mendengar jawaban dari kakaknya. Dia tidak pernah mencari tahu siapapun. Apalagi ini pertama kali mereka bertemu langsung.


Saat asik ngobrol tiba tiba terdengar isakkan tangis yang membuat semua orang kaget.


"Hiks, , hiks , , hiks, , ".


Pelukan Zee tambah erat memeluk Yeonjin membuatnya khawatir apalagi Zee terus menangis mengucapkan kata yang dia tidak mengerti.


"Hiks , , ibu, ibu,, hiks".


"Dia manggil ibunya dalam bahasa Indonesia". Ucap citra melihat 2 pria yang kebingungan.


"Sayang,, kamu tenang ya ada aku disini".


"Zee kamu tenang ok". Sambung citra menenangkan mendekatkan wajahnya ke telinga Zee.


Mendengar ucapan citra, Zee diam tapi masih terisak. Saat ini suhu tubuhnya sudah mulai turun tapi Zee terus berkeringat membuat Yeonjin tambah khawatir.


"Pada kita panggil dokter aja". Pinta Yeonjin menatap citra.


"Aku telpon dulu sebentar". Sahut Evan.


"Gak usah,, suhu tubuhnya udah turun dia gak papa kok kalian percaya sama aku". Cegah citra dengan terus meyakinkan mereka berdua.


"Tapi gue gak tega". Kata Yeonjin mengusap kepala Zee.

__ADS_1


"Gue tahu,, awal Zee sakit juga gue seperti ini tapi kelamaan gue paham. Zee akan begini saat dia sakit".


"Kita telpon ibunya aja,, tadi eonni panggil panggil loh". Ucap Evan dengan wajah lucu menatap Yeonjin dan citra bergantian.


"Jangan,, itu malah akan membuat keluarganya cemas, Zee gak akan pernah telpon rumah jika keadaannya sedang sakit". Kata citra.


Keheningan kembali menyerang mereka. 2 pemuda itu menatap ke arah Zee yang tertidur di pelukan Yeonjin.


...


Pukul 8 malam waktu Korea. Semua orang duduk di meja makan untuk makan malam bersama.


Saat ini keadaan Zee sudah lumayan membaik. Demamnya sedikit turun dan hanya pusing sedikit. Zee meminta untuk makan malam di maja makan karena ia memang tidak suka makan di atas tempat tidur.


Dengan keras kepalanya Zee membuat Yeonjin mau tidak mau mengizinkannya.


Yeonjin memastikan Zee memakai pakaian hangat. Ia tidak mau Zee kedinginan dan akan berakibat demam kembali.


Meja makan yang bisanya hening sekarang ramai dengan Zee yang kekeh ingin makan steak yang ada di atas meja makan. Padahal Yeonjin sudah memasakkan bubur untuk Zee tapi ditolak.


"Bee kamu jangan makan itu dulu.. kamu makan bubur aja kalau udah sehat aku janji izinin kamu makan steak sesuka kamu". Bujuk Yeonjin.


"Gak mau aku mau sekarang. Aku udah baik baik aja kok". Kekeh zee dengan cemberut.


"Zee dengerin lah kata Yeonjin sedikit aja.. kamu belum bisa makan makanan ini dulu". Sambung citra yang ikut membujuk.


Tidak ada yang membela dirinya membuat Zee ingin menangis. Air matanya sudah berlinang ingin jatuh.


Melihat itu Yeonjin langsung mendekat ingin memeluk Zee tapi langsung dijauhkan olehnya.


"Sayang jangan nangis".


Yeonjin ingin memegang pipi Zee tapi Zee langsung untuk pergi dari sana.


"Aku gak mau makan".


Zee pindah ke sopa ruang keluarga dengan merajuk. Bahkan air matanya sudah jatuh ke pipi chubby nya. Hal itu membuat Yeonjin ketar ketir.


"Ya udah kamu boleh makan apa yang kamu mau tapi jangan nangis". Kata Yeonjin duduk di samping Zee.


"Gak mau kamu bohong".


"Aku gak bohong".


"Janji".


Zee mengangkat kelingkingnya dan Yeonjin menautkan kelingkingnya dengan milik Zee membuatnya langsung tersenyum senang.


Yeonjin menghapus air mata Zee yang masih tersisa di pipi dan sudut matanya. Lalu membawa Zee kembali ke meja makan untuk makan bersama.


Akhirnya mereka makan dengan lahap. Zee yang sedang sakit tidak mengontrol makanan yang ia makan saat ini membuat Yeonjin ketakutan.


Sedangkan citra biasa aja. Bertahun tahun dia bersama zee, dia udah paham semuanya. Semua itu cukup untuk mereka saling memahami satu sama lain. Sedari awal bertemu citra dan Zee selalu curhat satu sama lain.


Setelah makan mereka semua duduk di sopa untuk menonton film Yeonjin yang sedang ditayangkan di televisi Korea. Walaupun zee cemburu tapi ia sudah paham akan pekerjaan mereka.


Setelah Yeonjin mualaf, dia tidak mengambil job yang ada adegan kiss dengan lawan mainnya. Sekedar pelukan atau sentuhan tangan tidak masalah karena Zee juga sama.


Duduk dengan menyandarkan tubuhnya kepada Yeonjin dengan nyaman membuat citra tersenyum manis menatap Zee.


(" Semoga kamu selalu bahagia dengan apa yang kamu pilih,, aku selalu ada buat kamu sampai kamu ingin melepas aku sendiri. Aku ikut bahagia liat kamu bahagia. Aku sayang sama kamu Zee,, aku udah anggap kamu sodara dari dulu. Aku hanya punya kamu yang selalu ada buat hidup aku". Batin citra.)


...---------...


...Happy Reading.,...

__ADS_1


__ADS_2