Suamiku Artis Terkenal

Suamiku Artis Terkenal
Pertama kali


__ADS_3

Hari dimana Zee, Yeonjin dan Evan pergi ke Indonesia untuk menemui kedua orang tua Zee sekalian liburan.


Dibandara banyak fans yang mengantarkan. Zee tidak tahu mereka dapat informasi dari mena membuat Yeonjin meminta anak buahnya untuk menjaga mereka sampai masuk ke dalam bandara.


Mereka berangkat di antar oleh supir Zee dan citra.


Sebelum masuk Zee menyapa para fans nya bersama Yeonjin sedangkan untuk Evan dia ditemani oleh citra dibelakang.


Evan yang emang identitas nya ditutupi tidak akan membiarkan dirinya diekspos oleh media apalagi disana ada beberapa wartawan dari media Korea.


Itu juga atas perintah Yeonjin agar Evan bisa melakukan apapun dengan nyaman tanpa harus diikuti wartawan saat pergi kemanapun dia inginkan.


Walaupun parah terciduk beberapa kali tapi Yeonjin sudah bisa membereskan nya sengaja baik.


"Untuk semuanya yang gak bisa Zee sapa. Maaf karena Zee datang dalam waktu mepet jadi gak bisa lama lama. Makasih semuanya sudah datang menghantar Zee dan Yeonjin". Seru Zee kepada para fansnya.


"Terimakasih dan maaf semuanya". Sahut Yeonjin melambaikan tangan.


Beberapa fans memberikan hadiah untuk Zee dan Yeonjin tapi Zee memberikannya kepada citra untuk dibawa pulang karena tidak mungkin ia bawa ke Indonesia.


Mau bentuk makanan, barang ataupun uang. Citra akan mengurusnya semua sampai Zee pulang kembali ke Thailand.


Mereka masuk saat jam sudah menunjukan pukul 7 dimana saat nya mereka masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi pesawat akan landing.


5 jam lebih akhirnya mereka sampai di bandara Soekarno Hatta, Jakarta.


Mereka membawa koper masing masing keluar dari bandara. 3 koper besar dan 2 koper kecil yang isinya kebanyakan oleh oleh yang mereka beli. Karena ukurannya yang besar menghabiskan banyak ruang di dalam koper.


Dipalkiran Zee sudah melihat supir yang Zee kenal untuk menjemput mereka.


"Pak apa sudah lama menunggu??".


"Beberapa menit yang lalu baru sampai soalnya kejebak macet saat berangkat". Jawab pak supir itu.


Zee menganggukkan kepala. Lalu mereka memasukan koper ke dalam bagasi dengan dibantu supir Zee.


Mereka sampai di Jakarta pada siang hari jadi mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang.


Zee memutuskan untuk langsung pulang menuju kampung halamannya hari itu juga. Tapi sebelumnya Zee akan mampir di rumah Angga terlebih dahulu untuk membawa beberapa barang miliknya yang ada disana untuk ia pakai.


Bukan apa, Zee melakukan itu karena banyak barangnya yang belum sama sekali dipakai yang ia beli atau dikasih sama fans.


"Evan mau makan apa??". Tanya Zee.


Saat ini mereka sudah ada didalam mobil yang sedang terjebak macet.


"Apa aja Evan ikut". Jawab Evan dari bangku depan samping supir.


"Em, kamu??". Lanjut Zee bertanya kepada Yeonjin yang sedang menatap ponselnya.


"Aku juga ikut aja". Yeonjin mengelus kepala zee dengan sayang sambil tersenyum.


Itulah kebiasaan Yeonjin yang selalu mengelus kepala Zee dengan lembut. Apalagi ditambah tatapannya yang sangat tulus kepada Zee. Hal itu membuat jantung Zee selalu berdetak kencang saat mendapatkan tatapan seperti itu.


Tapi bukan Yeonjin namanya jika tidak jahil.


Zee meminta pak supir untuk berhenti di restoran acak aja, toh dia sendiri tidak tahu tentang negara nya sendiri. Karena kelamaan berada di negara orang.


Sampai di rumah makan mereka semua memesan makanan khas Indonesia. Zee yang diapit dengan dua pemuda tampan membuatnya menjadi pusat perhatian semua pelanggan.


Style mereka juga sama serba hitam tapi bedanya Zee ada putihnya sedikit membuat pakaian mereka bertiga lebih mencolok.


Hanya Zee yang tidak memakai kacamata hitam diantara mereka.

__ADS_1


Dari jalan sampai ketempat duduk, semua orang tidak lepas dari pandangan mereka semua. Beberapa pengunjung juga ada yang mengambil photo dan video yang kepastian mereka akan unggah ke media sosial.


"Apa gak masalah makan disini??". Tanya Zee menggunakan bahasa Inggris.


"Tidak apa asal mereka tidak mengganggu". Jawab Yeonjin.


"Mba". Zee mengangkat tangan memanggil pelayan restoran.


"Iya mba mau pesan apa". Ucap pelayan itu langsung memberikan buku menu pada mereka.


"Eonni yang pesan, apapun Evan akan makan". Ucap Evan meletakan buku menu kembali. Ia bingung ingin memakan apa saat baru melihatnya juga dia berasa ingin mencobanya semua. Tapi juga dipesan semua makanan itu gak bakal habis.


Zee menganggukkan kepala lalu menatap buku menu kembali. Untuk Yeonjin jangan ditanya lagi dia juga menyerahkan semuanya kepada Zee, sang pujaan hatinya.


"Sate ayam sama kambing, nasi goreng, sup buntut, ikan gurame dan ayam goreng". Ucap Zee menyebutkan makanan yang ia pesan.


"....". Pelayan itu mencatat apa yang Zee sebutkan.


"Tambahan nasi putih 2 porsi saja, dan minumnya es teh manis sama air mineral".


"Apa ada yang lain lagi nona?". Tanya pelayan itu menatap ke arah Zee.


"Gak ada itu saja".


"Baiklah nona, tuan bisa ditunggu sebentar. Kami akan menyiapkan pesanannya secepat mungkin". Ucap pelayan itu lalu pamit pergi.


Drrrttt, , drrrttt, , drrrttt.


Ponsel Evan berdering membuat Zee dan Yeonjin menatap Evan yang tidak kunjung diangkat membuatnya heran apalagi wajahnya kesal.


"Kenapa??".


"Gak papa". Jawab Evan kesal.


"Angkat siapa tahu penting". Pinta Zee.


Evan mengangkatnya dengan sedikit menjauh. Hal itu membuat Yeonjin tambah heran lagi. Dia tidak pernah melihat Evan mengangkat panggilan menjauh dari nya mau penting ataupun tidak. Tapi sekarang.. berbeda.


Waktu sudah mulai siang. Setalah mengambil beberapa barang di rumah Angga, mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman Zee.


Evan sangat antusias diantara mereka karena ini pertama kali dia datang ke negara kelahiran calon kakak iparnya. Ia sedari dulu ingin pergi ke sana tapi tidak pernah terwujud. Berbeda dengan Yeonjin, dia pernah ke Jakarta tapi belum pernah berkunjung ke kampung halaman kekasihnya langsung.


"Eonni apa perjalananya masih jauh??". Tanya Evan yang duduk di bangku bagian depan samping supir.


"Jauh, mungkin kita akan sampai nanti malam, kurang lebih 8 jam, itu pun jika jalannya lancar". Jawab Zee tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.


"Lama juga ya". Gumam Evan yang masih Zee dengar.


8 jam kemudian


Mobil mulai memasuki area kampung halaman Zee yang ada di pegunungan. Evan maupun Yeonjin sangat ketakutan saat melewati tanjakan yang sangat terjang. Dilihat oleh Zee bahkan Evan sampai gemeteran yang ada di bangku paling depan. Apalagi suasana nya sangat gelap gulita hanya ada lampu dari mobil mereka dan beberapa kendaraan juga jarang lewat area sana.


Zee hanya bisa tersenyum melihat reaksi mereka berdua. Sampai mereka masuk ke pemukiman bisa dilihat Evan mulai tenang.


Mobil berhenti setelah berada pas di depan rumah. Zee membuka sabuk pengaman untuk segera turun. Sama halnya dengan yang lain.


Zee melihat orang tuanya keluar dari rumah menyambut dirinya padahal ini sudah jam 10 malam tapi mereka belum juga tidur karena menunggu kedatangan Zee dan yang lain. Setiap Zee pulang pasti membawa rombongan dari sana tidak pernah sendiri.


"Ibu belum tidur". Ucap Zee memeluk sang ibu. Lalu bergantian dengan Yeonjin dan Evan.


"Belum, ibu nunggu kamu datang".


Keluarga Zee sudah kenal dengan Yeonjin dan Evan hanya saja mereka belum pernah datang ke kampung halaman Zee.

__ADS_1


"Yuk sekarang masuk pasti capek kan langsung istirahat aja atau mau makan??". Tanya ibu Zee mengajak mereka masuk. Sementara supir dan sang ayah menurunkan barang barangnya dari bagasi mobil.


"Zee lapar tapi udah malam". Ucap Zee sambil tersenyum.


"Gak ada kata malam kalau lapar ya makan".


"Ah iya bu emangnya ada makanan apa??".


"Lihat sendiri di dapur. Ajak Yeonjin dan Evan juga".


Mereka pergi ke dapur untuk langsung makan. Di perjalanan tapi mereka tidak makan karena memilih untuk tidur. Zee sudah mengajak mereka makan tapi ditolak dengan alasan ingin tidur saja karena tidak kunjung sampai.


Sang ibu menghangatkan setiap makanan yang akan mereka makan bersama.


"Non saya mau pamit langsung pulang aja. Kalau ada apa apa tinggal telpon saja". Ucap pak supir yang datang ke ruang makan.


"Makan dulu pak baru pulang".


"Gak usah non".


"Ada yang jemput gak??".


"Nanti hubungin anak saya non".


"Ah ini udah malam, mendingan bapak pakai motor aja yang didepan gak usah hubungi anaknya". Usul Zee.


"Gak usah non saya tunggu dijemput saja".


"Mending nginep disini apa pulangnya pakai motor pak".


"Baik non saya pakai motor saja. Besok saya langsung kembalikan kesini lagi".


"Iya,, Zee juga tau rumah bapak kok jadi tenang saja". Canda Zee membuatnya mendapat teguran dari sang ibu.


"Nih pak kuncinya beneran gak mau makan dulu" sahut ibu Zee.


"Nggak Bu terimakasih saya pamit dulu nona zee dan semuanya".


"Iya pak hati hati dijalan".


Setelah kepergian supir itu mereka kembali melanjutkan makan yang belum selesai.


"Ibu sama ayah tidur aja udah malam, biar Zee yang bereskan semuanya". Ucap Zee kepada orang tuanya karena sudah malam.


"Ya udah kalau ada apa apa panggil ibu aja ya".


"Iya Bu".


"Good night mam". Ucap Evan dengan ceria.


"Night to". Balas ibu Zee mengelus pundak Evan. Evan yang masih berumur 22 tahun masih seperti anak kecil kalau bersama dengan orang yang dia sayang. Setelah Zee menjadi artis terkenal di beberapa negara membuatnya sedikit paham akan bahasa Inggris umum.


Apalagi setelah berhasil Yim dan Yeonjin, ibu Zee sering mengirim pesan atau hanya sekedar berbincang di telpon.


Tinggallah Zee, Yeonjin dan Evan di meja makan. Mereka makan dengan tenang setelah selesai Zee langsung mencuci piring kotor sementara Yeonjin dan Evan mengangkat koper ke kamar yang ada dilantai 2.


Kamar yang akan dipakai Yeonjin berada di lantai dua di dekat kamar Zee. Rumah Zee dikampung halaman nya hanya minimalis tapi sudah ia renovasi penuh dengan milik sang nenek yang ada disamping.


Orang tuanya memilih untuk merenovasi nya daripada membuat ulang dengan membeli tanah yang lain. Toh yang tinggal disana hanya orang tuanya berdua. Sementara kakak perempuan Zee sudah memiliki rumah sendiri bersama suaminya gak jauh dari sana.


Untuk Zee, mereka tahu pasti dia tidak akan tinggal disana. Apalagi setelah Zee menikah pasti akan ikut suaminya.


Sebelum nikah pun Zee sudah tinggal di negara lain dia hanya akan pulang beberapa tahun sekali karena tuntutan pekerjaan yang sangat padat. Mau tidak mau sang ibu harus paham dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak bungsu nya yang jarang bertemu.

__ADS_1


To be continued, , ,


__ADS_2